SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 274 Sebuah Pemikiran



Setelah lenyap dari pandangan para anggota dan tetua Perguruan Tengkorak Merah, maka sekejap kemudian Suro telah muncul di Perguruan Pedang Surga. Dia hendak bertemu dengan Dewa Pedang. Tetapi setelah dia berpikir sebentar, akhirnya Suro memutuskan untuk membatalkan niatnya tersebut. Dia kemudian berbalik arah memilih untuk menemui gurunya terlebih dahulu.


Tujuannya tentu saja adalah kediaman Dewi Anggini. Walaupun dia sempat ragu untuk menuju ke arah itu. Karena dia bakal bertemu dengan Mahadewi yang masih marah dengannya. Dan alasan kemarahan itu masih tidak dapat dimengerti oleh Suro


Walaupun sebelumnya Kolo weling sudah menjelaskan, jika Mahadewi marah karena ada hubungannya dengan surat yang dia terima dari Kerajaan Champa.


"Jika diingat-ingat dan dipikir-pikir perilaku adinda Mahadewi itu ada yang salah. Apa perlu aku ruwat juga dengan menggunakan Sastra Jendra? Mungkin ada sesuatu yang salah didalam alam kesadarannya, karena sering tanpa ada alasan jelas mulai mengamuk dan menyerangku."


"Seperti terakhir kali saat dia mengamuk menyerangku, apa yang telah aku lakukan? Padahal aku tidak melakukan apapun."


"Kata paman Kolo weling karena aku menerima surat dari tuan putri Dwarawati. Tetapi setelah aku pikir-pikir tidak ada yang salah dengan surat itu. Isinya tidak menyinggung dirinya sama sekali. Lalu mengapa Mahadewi harus marah-marah dengan hal itu? Apa bagimu itu tidak terasa aneh, Maung?"


"Goooaaaarrrr!" Maung menjawab pertanyaan Suro dengan gerungannya yang keras.


Suara itu membuat dara-dara murid perguruan yang ingin menyapa Suro lebih dekat harus kabur tunggang langgang tanpa menoleh lagi. Suro tidak menyadari kejadian itu, sebab dia masih berkonsentrasi memikirkan alasan apa yang membuat Mahadewi marah kepadanya.


"Nah benar aku setuju dengan ucapanmu Maung. Begitulah wanita sangat susah dimengerti. Padahal aku yang menerima suratnya, aku juga yang membaca isinya, lalu mengapa Mahadewi yang marah-marah? Sungguh memusingkan." Suro menepuk-nepuk jidatnya lalu menggeleng-gelengkan kepala. Agaknya beban pikirannya terlalu berat membuat dia harus menghela nafas panjang beberapa kali.


"Tau tidak, Maung? Padahal isi dalam surat yang dikirim tuan putri Dwarawati, sesuatu yang sangat biasa sekali tidak ada yang istimewa. Sesuatu yang lumrah, sama seperti yang kamu katakan jika aku pergi cukup lama. Bukankah itu suatu hal yang wajar, jika ada sahabat ingin berjumpa dengan sahabatnya yang lama tidak dijumpai, benar tidak Maung?"


"Hooooaaargggghhh! Hooooaaargggghhh!" Maung dengan semangat membenarkan pendapat sahabatnya itu.


"Nah, kamu saja yang seekor harimau bisa memahami jika isi suratnya itu adalah sesuatu hal yang sangat wajar tidak ada yang aneh. Putri itu ingin bertemu denganku saja. Apa yang salah dari hal itu? Tidak ada yang salah. Ah sudahlah Maung. Sepertinya cara berpikirmu lebih dewasa dibandingkan wanita itu."


Suro masih menggaruk-garuk kepalanya masih memikirkan cara agar jurus amukan Batari Durga dapat dia redam. Dia kembali mengingat-ingat bagian dari isi surat putri Dwarawati yang membuat Mahadewi mengamuk, tetapi berkali-kali Suro mengingat seluruh isi surat itu bolak-balik tetap tidak menemukan hal yang aneh.


"Benar aku yakin ada yang salah dalam alam kesadarannya, karena jika pikirannya normal tidak ada alasan bagi Mahadewi untuk marah-marah kepadaku, bukan begitu Maung?"


"Hooaarrr!"


"Benar sekali Maung, percuma jika aku harus menjelaskan hal tersebut. Berbicara dengan wanita itu lebih menyusahkan, mending aku berbicara dengan dirimu saja Maung yang enak diajak bertukar pikiran. Apalagi jika dia sudah mengamuk seperti terakhir kali bertemu denganku?”


"Urusan jadi runyam. Gawat pokoknya Maung. Sungguh wanita itu membuatku pusing."


"Tetapi sudahlah paling dia akan melengos lagi saat bertemu denganku." Suro kemudian memantapkan niatnya untuk pergi ke rumah Dewi Anggini. Meskipun itu artinya akan bertemu dengan Mahadewi.


"Selain itu kalau ada gurunya, semua akan terkendali. Itu artinya ada pawangnya. Ah, aman pokoknya semua masalah ada jalan penyelesaiannya, benar tidak Maung?" Mereka berdua terus menyelusuri jalan Perguruan Pedang Surga, Suro dengan nyaman duduk diatas punggung Maung sambil bersiul-siul.


Sesekali dia menganggukkan kepala kepada para murid yang menyapanya. Sejak dia dikenal sebagai tetua muda yang memiliki hubungan dekat dengan pemimpin perguruan mereka, membuat namanya sangat akrab ditelinga seluruh perguruan. Walapun sebenarnya Suro bisa dikatakan sangat jarang ada diperguruan.


Dari ucapan para tetua sendiri yang menyaksikan pertarungan diperguruan cabang itu, kekuatan Suro sudah melewati para tetua. Bahkan mereka mengakui jika pada pertempuran itu karena keberadaan Suro lah yang telah menyelamatkan nyawa mereka semua.


Para tetua yang melihat langsung pertempuran di Banyu Kuning dan di perguruan cabang Pedang Bayangan segera mengetahui kekuatan Suro sudah tak sama lagi seperti langit dan bumi. Karena itulah para tetua berceletuk, jika Suro bukan lah anak manusia. Tentu saja semua itu ada kaitannya dengan tingkat kekuatannya sekarang.


Salah satu alasan itulah kini para dara muda yang bagian dari anggota perguruan semakin menjadikan Suro sebagai idola baru paling dicari. Apalagi wajahnya yang sekarang seperti Raden Arjuna(salah satu tokoh dalam cerita Mahabarata). Mereka dulu mengidolakan Widura yang kini juga seorang tetua muda. Namun namanya kini telah tenggelam, setelah segala tindakan Suro yang sangat mencenggangkan.


Para murid wanita yang masih berumur belasan itu berebut mencoba mencuri perhatian Suro, beruntung makhluk menakutkan dari Gunung Arjuna menjadi tunggangannya. Sehingga mereka semua harus menelan ludah dan tidak ada yang mencoba berani terlalu dekat dengannya.


Maskipun bagi Suro maupun eyang Sindurogo, Maung sangat jinak seperti kucing rumahan, namun reaksinya akan berubah menjadi terlihat begitu buas, jika dia tidak mengenal dekat. Karena alasan itulah mengapa Maung dianggab momok menakutkan bagi para dara-dara cantik.


Sikap para anggota perguruan yang mengagumi Suro, sebenarnya adalah sangat beralasan. Salah satunya adalah karena kabar kekuatan tingkat surga yang telah dicapai Suro, sehingga membuat setiap orang terkesima.


Pencapaian itu tentu saja sesuatu hal yang sangat mengesankan. Mengingat didalam perguruan itu tidak ada yang pernah meraih tingkat kekuatan itu, termasuk juga Dewa Pedang ketua perguruan. Karena sampai saat ini kemampuannya masih di tingkat langit.


Tingkat kekuatannya yang begitu tinggi, membuat para tetua semakin menaruh hormat kepada Suro. Walaupun bukan karena itu saja para tetua cukup menghormati Suro, meskipun dia terlihat begitu muda.


Alasan mengapa mereka begitu menaruh hormat, tentu saja karena tindakannya yang telah berhasil menyelamatkan para tetua dan juga murid yang hendak dijadikan pasukan kegelapan oleh Batara Antaga.


Para tetua yang diselamatkan diantaranya adalah tetua eyang Baurekso. Dia merasa telah banyak berhutang budi dan juga nyawa kepada Suro. Karena bagi dirinya bukan sekali itu saja Suro telah membantunya.


Pada pertempuran di Banyu Kuning dengan andil besar dari Suro akhirnya perguruan cabang miliknya dapat diselamatkan. Dan pada pertempuran di perguruan cabang Pedang Bayangan, tanpa Suro dirinya bersama tetua lain dan juga para murid kemungkinan akan berakhir menjadi bagian pasukan kegelapan.


Mereka semua dapat bersukur, karena usaha dari Suro lah mereka berhasil disadarkan dan dapat terlepas dari rantai pemasung jiwa. Meski dalam membebaskan ilmu sihir, Suro juga dibantu oleh Geho sama, siluman yang menyebut dirinya sebagai abdi dari Suro.


Dengan kekuatannya telah mencapai tingkat surga, maka itu artinya dia adalah pendekar terkuat di dalam Perguruan Pedang Surga. Dengan kata lain dia telah melampaui kekuatan ketua Perguruan, yaitu Dewa Pedang. Bahkan dari cerita yang tersebar saat peperangan di Perguruan Pedang Bayangan, justru tetua muda merekalah yang telah menyelamatkan ketua mereka dari pembantaian.


Pencapaian Suro adalah sebuah sebuah kemustahilan yang terjadi. Karena sampai sekarang pun, para tetua saja masih berada di tingkat shakti. Pencapaian para tetua yang masih ditingkat shakti inilah yang sebenarnya hendak dia bicarakan Suro dengan gurunya.


Karena para tetua kekuatannya terpaut jauh tingkatannya dengan para manusia bertanduk. Setelah beberapa kali menghadapi mereka, Suro segera mengetahui jika para pengabdi Dewa Kegelapan rata-rata telah mencapai kekuatan tingkat langit.


Apalagi belum lama ini, dia bertempur dengan makhluk yang diciptakan oleh Tongkat iblis. Entah bagaimana caranya makhluk itu bisa memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar tingkat langit.


Melihat hal itu Suro cukup khawatir. Karena itu artinya para tetua cabang juga tidak akan sanggup melindungi orang-orang yang berada di perguruan cabang, tempat yang seharusnya dia lindungi.


Kondisi itu tentu akan sangat membahayakan seluruh perguruan cabang yang harus dilindungi para tetua. Oleh karena itu dia mencoba meminta pendapat gurunya untuk mengatasi masalah tersebut. Apalagi dia adalah manusia yang memiliki umur yang sangat panjang, tentu dia punya banyak cara agar dapat membantu para tetua untuk meningkatkan kekuatannya.


Suro berharap para tetua mampu dia tingkatkan kekuatannya, minimal mereka dapat meraih kekuatan tingkat langit.