
"Bisa nakmas jelaskan! Bagaimana caranya menyembuhkan luka dalam, dari muridku ini?"
Mereka bertiga Tetua Dewi anggini, Mahadewi, Suro duduk bersimpuh berhadapan ditengah ruangan. Mahadewi yang duduk disamping gurunya sejak kedatangan Suro hanya terdiam tidak sekalipun menatapnya. Hanya sekali bergerak dari tempat dia duduk yaitu saat menyuguhkan minuman. Perubahan sikap yang begitu drastis membuat Suro menjadi terasa canggung.
"Tahap awal saya akan memperlancar jalur nadi kecil terlebih dahulu. Setelah lancar akan diteruskan dengan penanganan pada jalur nadi utama yang terhubung dengan jalur pengerahan tenaga dalam. Setelah itu, Suro rasa tinggal meminum ramuan untuk memperlancar peredaran darahnya. Dan untuk penanganan luka memarnya cukup dibalur dengan beberapa tanaman obat yang ditumbuk."
"Dua kali pengobatan saja saya rasa sudah cukup. Mungkin besok sore Suro akan datang lagi untuk memastikan kembali luka adinda Mahadewi sudah benar-benar sembuh ."
"Untuk tahap awal Suro akan mengunakan jarum-jarum kecil ini untuk memperlancar peredaran darah di nadi kecil. Ada tehnik khusus untuk mengunakan jarum-jarum ini. Karena harus tepat ditancapkan pada titik meridian."
"Sepertinya aku mengenal tehnik yang nakmas jelaskan! Itu adalah tehnik pengobatan tusuk jarum yang berasal dari negeri dimana diriku berasal."
"Benarkah tetua? Suro diajarkan tehnik ini tetapi tidak diceritakan dari mana tehnik ini berasal!"
"Dulu ada seseorang yang berpetualang sampai dinegeriku. Dalam petualangannya itu dia sempat belajar mendalami ilmu pengobatan. Setelah kembali dia banyak menyebarkan ilmu pengobatan itu. Tetapi itu sudah terjadi cukup lama sebelum keberadaannya menghilang seperti ditelan bumi."
"Eyangmu mungkin termasuk yang diajari tehnik ini." Dewi berpikiran bahwa Eyang Sindurogo yang seorang Maharesi tidak mungkin menikah dan punya cucu seperti Suro. Apalagi saat terakhir dia menghilang dia sempat mengucapkan sesuatu yang sampai sekarangpun dia masih mengingatnya.
"Mungkin saja tetua. Tetapi setau saya Eyang Suro sangat jarang bepergian jauh. Hanya kadang kala saja dia bepergian untuk mengobati penduduk disekitaran dia tinggal. Apa perlu Suro bantu mencarikan seseorang yang tetua ceritakan itu?"
"Tidak mengapa nakmas aku hanya teringat saja dengan dirinya. Sudahlah, dia menghilang sudah cukup lama juga. Mungkin sudah meninggal? Kalaupun masih hidup entah dimana dia sekarang?" Dewi Anggini terdiam seperti dia mengingat sesuatu yang tak ingin diingat tetapi tak ingin dilupakan. Sebuah kenangan yang terlalu indah sekaligus juga terlalu sakit untuk diingat.
"Tetapi apakah ey...? Sudahlah tidak perlu dibahas." Tetua Dewi Anggini ingin mengorek lebih dalam tentang Eyang dari Suro. Tetapi niat itu dia batalkan karena hal yang mustahil bahwa Eyang dari Suro mengetahui keberadaan Eyang Sindurogo yang biasa dia panggil dengan sebutan tersendiri yaitu kakang Sindu.
Dia sudah berusaha mengubur angan-angannya untuk bisa hidup dengan orang yang dicintai melebihi apapun itu. Tetapi setiap berusaha melupakan hanya akan membuatnya semakin merindukannya. Bahkan hal apapun akan kembali mengingatkan dia kepada kakang Sindu nya itu.
"Sepertinya seseorang yang tetua maksud adalah seseorang yang sangat istimewa dalam hidup tetua?"
"Uhuk! Uhuk..!" Dewi Anggini langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Suro yang begitu polos.
"Sepertinya tenggorokanku agak gatal. Nakmas teruskan saja pengobatannya. Aku akan keluar sebentar." Suara Dewi Anggini memang terdengar agak parau seperti orang yang sakit tenggorokannya tetapi sebenarnya lebih mirip orang yang sedang menahan tangis. Sebab sekilas dari kedua matanya mengembang airmata yang tinggal jatuh saja.
"Tapi tetua? Ak..!" Suro yang mencoba menahan Dewi Anggini. Tetapi sepertinya dia tidak mendengarnya karena langsung keluar.
Tinggal Suro dan Mahadewi yang berada diruangan itu. Tak ada suara apa-apa. Mahadewi yang sedari tadi menunduk tidak sedikitpun menatap Suro. Mereka berdua terdiam membisu. Suro yang mencoba membuka percapan justru kehilangan kata-kata.
Mahadewi yang mencoba mencuri pandang ke arah Suro membuat mereka saling pandang dalam beberapa saat sebelum mereka menyadari itu.
Suro yang tertangkap sedang memandang Mahadewi menjadi salah tingkah. Dia segera mengalihkan pandangannya ke atas langit-langit ruangan sambil jarinya mengetuk-ngetuk kotak jarum yang ada didepannya dengan irama tidak jelas.
Tuk! Tuk! Tuk!
Mahadewi yang ketauan telah menatap Suro tak kurang salah tingkahnya. Mukanya memerah, dia semakin tertunduk malu. Semua kembali sunyi, hanya suara binatang malam terdengar dari luar kediaman. Lama mereka terdiam. Semua serba terasa canggung tak ada satu patahpun yang keluar dari mulut mereka berdua.
Sebenarnya Suro sedang mencoba merangkai kata tetapi semua ambyar tidak jelas entah kata apa yang akan dia rangkai serasa dia lupa semua kata-kata. Hanya jantungnya saja yang terasa berdegup lebih keras. Dia terlalu gugup untuk menyusun kata.
Waktu bergerak terasa begitu lambat. Bahkan jantungnya yang berdegub keras seharusnya irama jantung juga berubah cepat. Tetapi entah mengapa seakan waktu berhenti membuat degubnya yang keras itu bergerak dengan irama yang terasa lambat.
Suro akhirnya kembali menatap Mahadewi. Penampilannya kini agak berbeda sebab rambutnya disanggul dengan konde yang berukir indah dengan dihiasi batu-batuan mulia. Dia mengenakan kemben yang ditutup selendang semacam sutra halus. Suro paham apa yang dikenakan Mahadewi bukanlah sesuatu yang murah, hanya putri para bangsawan yang bisa memilikinya.
Tetapi agak janggal ada putri bangsawan belajar ilmu olah kanuragan sampai setinggi ini. Entah mengapa putri seorang bangsawan seperti dia harus ikut mengejar posisi tetua muda sebuah perguruan beladiri.
Suro masih menunggu tetua Dewi anggini kembali. Tetapi sepertinya sudah lebih dari lima seperminuman teh dia belum kembali juga.
Ada hal yang agak susah dia ucapkan kepada Mahadewi karena luka yang dipunggung itu harus terlihat dan tidak boleh tertutup kain. karena dia akan kesulitan mencari titik-titik meridian yang akan dilancarkan peredaran darahnya dengan tehnik tusuk jarum yang sebelumnya sudah dikatakan kepada tetua.
Dia mencoba menyusun kata sebaik mungkin agar putri kedaton yang berada didepannya tidak malih rupo jadi makhluk buas lagi.
Ehem! Ehem!
Suro berdehem mencoba memecahkan kesunyian sebelum mulai menyusun kata-katanya. Dengan nada pelan dan sehalus mungkin Suro menjelaskan kepada Mahadewi.
"Adinda Mahadewi apakah pengobatan kepada adinda bisa dimulai?"
"Bisa kakang." Suara Mahadewi terdengar lembut bahkan nyaris tak terdengar.
"Mohon maaf sebelumnya adinda Mahadewi pengobatan ini mengharuskan diriku merunut jalur nadi yang terluka. Jarum-jarum ini harus aku tancapkan pada titik meridian dipunggung adinda di sekitar luka. Karena titik-titik nadi kecil itu terhubung dengan jalur besar yang cidera."
"Titik-titik meridian ini begitu halus sehingga agak sulit mencarinya jika tertutup kain. Jika tidak keberatan dibagian luka yang berada dipunggung adinda, jangan tertutup kain."
Sampai dikalimat itu Suro terdiam menunggu reaksi Mahadewi. Dia kembali berdoa kepada para Dewata agar putri kedaton didepannya tidak triwikromo berubah menjadi makhluk buas.
Mahadewi tidak berkata hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Mukanya bertambah bersemu merah. Beruntung lampu dari minyak buah jarak tidak begitu terang. Sehingga mampu menyamarkan reaksi Mahadewi yang begitu malu.
Suro merasa lega perkataannya yang meminta bagian punggungnya dibuka tidak membuat Mahadewi marah.
Cukup lama Suro mencari titik-titik meridian dipunggung Mahadewi yang tertelungkup. Titik meridian itu terhubung langsung dengan nadi besar yang cidera. Dengan gerakan pelan jarum-jarum itu ditancapkan. Tidak menancap dalam, hanya seperti sekedar menempel saja dipunggung Mahadewi. Dengan cara menancapkannya seperti gerakan diputar-putar sambil dialiri tenaga dalam.
Cukup lama Suro mencari titik-titik meridian yang tersebar disekitar punggung bagian atas.
Sambil menancapkan setiap jarumnya Suro akan sekaligus mengalirkan chakra melalui ujung jarum tersebut. Tetapi tehnik pengaliran chakra keujung jarum itu sedikit berbeda. Karena tehnik yang digunakan adalah tehnik pengaliran chakra mengikuti tehnik kitab air. Air memiliki daya penyembuh yang luar biasa dibandingkan dengan unsur lain.
Pengerahan chakra yang dilakukan Suro bukan hanya bersumber pada unsur air saja. Tetapi dia secara bersamaan mengunakan unsur listrik dalam pengalirannya.
Karena ada unsur listrik dalam aliran chakra diujung jarum membuat tubuh Mahadewi seperti tersengat. Membuat tubuh Mahadewi seperti mengejang. Terdengar beberapakali Mahadewi mencoba menahan sakit sambil mencengkram erat bale tempat dia berbaring tertelungkup diatasnya.
Bahkan akibat pengerahan tenaga dalam secara terus menerus membuat tubuh Suro mandi keringat. Keringat itu bercucuran diwajahnya yang berwarna kulit kecoklatan akibat sering bersemedi dibawah terik matahari. Sebelum peluh keringat itu menetes dipunggung Mahadewi, Suro mengelapnya dengan ujung lengan bajunya.
Urat nadi yang sebelumnya sedikit terjadi pembengkakan akibat pengerahan tenaga dalam saat menyerang Suro mulai mengempis.
Suro masih menunggu tetua Dewi anggini yang tadi sempat keluar entah mengapa belum balik ke kediaman. Dia sempat mengingat-ingat kembali ucapan terakhir sebelum tetua itu keluar.
"Sepertinya tidak ada yang salah dengan ucapanku tadi." Batin Suro sambil kembali mengerahkan chakra kepunggung Mahadewi melalui ujung jarum yang tertancap.
Semua titik meridian yang dikehendaki Suro telah tertancap jarum diatasnya. Beberapa kali dia mengulang proses mengaliri tenaga dalam dari ujung jarum. Sambil mengalirkan chakranya dia menggerak-gerakan jarum dengan memutar pelan.
Setelah semua jalur nadi kecil yang berada disekitar titik-titik nadi kecil telah lancar. Kemudian dia mulai mencabut satu persatu jarum tersebut.
Tahap berikutnya yang dia lakukan sesuatu yang menajubkan. Beruntung Mahadewi tidak melihat apa yang dilakukan Suro. Dia hanya merasakan sesansi hangat disepanjang tulang belakangnya.
Dari ujung telunjuk jari Suro memancar sinar yang menembus kedalam kulit Mahadewi. Itu adalah bentuk tehnik pengerahan chakra mengikuti ilmu tapak Dewa Matahari.
Tidak banyak yang tau bahwa tehnik tapak Dewa Matahari dapat digunakan untuk pengobatan. Sinar yang memancar dari jari telunjuk Suro menembus kulit Mahadewi mengikuti jalur nadi. Tetapi sinar yang memancar tidak menyakitkan hanya terasa hangat bagi Mahadewi.
Sinar yang memancar dari ujung jari Suro menelusuri sampai kebagian bawah Mahadewi. Bergerak sepanjang tulang belakang mengikuti jalur nadi utama sampai tulang ekor. Sinar itu mampu menembus kain yang masih menutupi punggung bagian bawah.
Hebatnya pengerahan yang dilakukan Suro tidak membuat kain-kain itu terpotong-potong. Pancaran chakra itu bahkan menekan seperti sebuah semburan udara yang bertekanan tinggi dengan lubang yang kecil.
Setelah beberapa kali gerakan itu dilakukan Suro memastikan jalur nadi yang cidera sudah pulih.
"Adinda Mahadewi saya rasa sudah cukup pengobatannya. Silahkan merapikan pakaian adinda saya akan keluar mengambil obat yang saya taruh dipelana kuda." Suro segera bangkit dari duduknya menuju keluar.
Setelah keluar Suro sempat menoleh kanan kiri mencari tetua Dewi anggini yang sebelumnya keluar. Disekitaran rumah dia juga tidak menemukannya.
"Tadi katanya batuk kenapa dia justru keluar. Aneh? Bahkan kalau dia ingin minum sudah ada didalam rumah. Kemana tetua itu pergi?" Setelah agak lama diluar sambil menunggu Mahadewi merapikan pakaiannya. Sambil mengaruk-garuk kepala karena tidak menemukan sang tetua. Akhirnya dia kembali masuk kedalam.
"Ini ramuan yang perlu adinda minum untuk memperlancar peredaran darah adinda Mahadewi." Suro menyerahkan sebotol ramuan obat yang dia bawa kepada Mahadewi yang sudah duduk bersimpuh.
"Silahkan nanti adinda minum setiap pagi saja sampai habis. Dan daun-daun ini bisa ditumbuk terlebih dahulu sebelum dibalurkan diluka memar bekas tapak itu."
"Mohon maaf tetua Dewi anggini pergi kemana ya? Karena pengobatannya sudah selesai dan aku ingin berpamitan kepada tetua terlebih dahulu sebelum balik pulang."
"Saya kurang tau kakang. Karena Mahadewi baru pertama kali ini berkunjung ke sekte pusat." Perkataan Mahadewi terdengar begitu lembut. Sangat berbeda sekali saat pertama kali bertemu dengannya di kediaman Dewa Pedang.
Suro mangut-mangut mendengar perkataan Mahadewi.
"Terimakasih kakang Suro sudah mengobati Mahadewi yang justru telah bersikap kasar kepada kakang."
"Tidak mengapa jangan terlalu dipikirkan hal itu terjadi karena salah paham saja."
"Sudikah kakang Suro lain waktu berlatih tanding kembali. Sepertinya kata-kata kakang yang memberi koreksi atas gerakan Mahadewi terbukti benar-benar membuat jurus yang aku kerahkan menjadi lebih baik."
"Tadi setelah sampai dikediaman ini tanpa mengerahkan tenaga dalam aku berlatih mengikuti saran kakang. Bahkan membuat guru terkesima dengan jurus yang aku gelar."
"Tentu saja tidak masalah kakang bersedia menemani adinda berlatih jika itu bisa membantu kemajuan berlatih adinda. Tetapi bukan sekarang-sekarang ini karena kakang sedang mencoba mengembangkan satu jurus. Bahkan tujuanku datang ke kediaman Dewa pedang tadi sore juga dalam rangka memecah kebuntuanku dalam melatih jurus yang coba kakang latih."
Kembali Mahadewi merasa bersalah karena mengingatkan dia telah menyerang Suro yang datang ke kediaman Dewa pedang dengan begitu brutal. Untungnya tidak ada yang terluka dengan kejadian tersebut.
"Maafkan adinda yang sudah menyerang kakang!" Mahadewi kembali meminta maaf sambil menundukan kepalanya menahan malu karena orang yang dia serang dengan begitu mengerikan justru telah menolongnya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan aku sudah melupakan. Itu hal yang sepele anggab saja itu latihan bersama kita untuk pertama kalinya." Perkataan Suro semakin membuat wajah Mahadewi bersemu merah kembali.
"Jangan khawatir adinda saat aku melatih teman-temanku dikediaman biasanya secara berkeroyokan. Karena jumlah mereka banyak tentu sangat menyita waktu jika harus melatih tanding satu persatu. Biasanya aku meminta dua puluh orang sekaligus untuk mengeroyokku."
"Satu sisi aku melatih mereka, satu sisi lain justru kesempatan itu juga aku gunakan untuk melatih ilmu meringankan tubuhku agar terpacu bergerak lebih cepat."
"Pantas saja kakang Suro bergerak begitu cepat saat aku serang!"
"Kalau mengenai itu aku rasa karena kebiasaanku berlatih dengan guruku yang mampu bergerak dengan begitu cepat. Sehingga menuntutku bergerak mengimbangi kecepatannya."
Mahadewi menganguk-angukan kepala mendengar cerita Suro. Dia yang baru pertama kali berbincang-bincang dengan lelaki sebayanya merasakan sebuah pengalaman baru untuk hidupnya. Bahkan merubah pandangannya yang sebelumnya membenci semua sosok laki-laki karena kebenciannya kepada Ayahandanya.
"Tentu saja kecepatanku dibanding dengan guru kakang tak ada seujung kukunya." Guru yang dimaksud Mahadewi adalah Dewa pedang. Dia tidak memahami bahwa kata guru yang dimaksud dengan Suro adalah Eyang Sindurogo.
"Ya tentu saja gerakannya memang begitu cepat. Jika dia bergerak dengan kecepatan maksimal aku rasa sangat sulit mencari tandingannya."
"Sebaiknya aku harus kembali pulang sudah terlalu larut malam. Salam untuk tetua jika beliau kembali."
"Baik kakang akan adinda sampaikan salam kakang jika guru sudah kembali nanti. Terimakasih sebelumnya kakang sudah repot-repot datang kesini untuk mengobati adinda."
"Tidak mengapa aku tidak merasa direpotkan justru senang akhirnya bisa berbincang-bicang dengan adinda."
Kembali muka Mahadewi bersemu merah mendengar perkataan Suro.
"Baiklah saya pamit dulu salam untuk tetua." Segera Suro bangkit dari duduknya dan bergegas keluar. Karena memang malam sudah melingkupi seluruh kademangan dimana Perguruan Pedang Surga berada.
Suara-suara serangga malam menemani langkah kaki kuda Suro yang berjalan santai pulang menuju ke kediamannya dipinggiran kota kademangan. Ada perasaan senang yang menyelimuti hatinya menyertai perjalanan pulangnya.
***
Terimakasih buat reader yang telah mendukung novel ini dengan mengunakan poinnya untuk mem "vote" novel ini di novel toon.
Ditunggu partisipasi reader lain untuk ikut mem vote novel ini di novel toon.
Terimakasih semuanya suwun