
Mahadewi kemudian melesat setelah mendapatkan penjelasan dari Suro. Mereka berdua kali ini tidak melewati lorong-lorong yang merupakan celah diantara gunung batu yang berada dibawah.
Mereka kali ini lebih memilih berlari melewati jalur atas. Mereka berlompatan dari satu puncak gunung batu ke puncak gunung batu lainnya.
Karena Suro belum mampu melihat dengan menggunakan matanya, maka dia memilih berlari dibelakang Mahadewi. Menurut penjelasan Xiao Fang, jika markas mereka berada dibawah gunung batu yang memiliki bentuk seperti sebuah kepala rubah.
Dengan mengikuti penjelasan Xiao Fang yang cukup jelas, Mahadewi berhasil menemukan gunung batu yang dimaksud. Namun semakin mereka
mendekat ketempat itu, maka serangan dan juga jebakan yang mencoba menghalangi langkah mereka sudah tidak terhitung jumlahnya. Serangan itu silih berganti terus mengikuti pergerakan mereka.
Akhirnya mereka sampai di gunung batu mirip kepala rubah. Saat mereka sampai didekat gunung batu itu, mereka justru tidak menemukan siapapun. Bahkan para pasukan pembunuh yang sedari tadi mencoba menghabisi mereka berdua, kini sudah tidak terlihat lagi.
“Apakah kakang tidak merasakan keganjilan? Jika mengikuti perkataan
kakang seharusnya di sinilah markas mereka berada. Tetapi ketika kita sampai
ditempat ini, justru tidak ada seorangpun yang nampak.” Mahadewi menatap
kesekeliling mencari musuh yang mungkin saja bersembunyi.
“Entahlah kakang juga tidak merasakan ada pergerakan seseorang disekitar puncak gunung batu ini.”
Mahadewi mencoba menelusuri seluruh tempat di atas gunung batu itu dengan waspada. Dia mencoba mencari jalan rahasia sesuai dengan petunjuk yang dikatakan Suro sebelumnya kepadanya, setelah berhasil mengorek informasi dari Xiao Fang.
Tetapi meski telah mendapatkan bantuan petunjuk dari Xiao Fang, untuk mencari markas rahasia milik kelompok pembunuh Mawar Merah tetaplah tidak semudah yang dipikirkan. Setelah tidak menemukan satupun petunjuk saat mencari disekitar puncak gunung batu yang menyerupai kepala musang, maka mereka berdua melanjutkan pencarian ke badan gunung.
Sekali lagi mereka berdua tidak menemukan petunjuk disekitar badan gunung. Mereka kemudian melanjutkan pencarian kekaki gunung, tepatnya di lorong labirin yang mengelilingi gunung-gunung itu.
“Adinda sebaiknya mencari bekas telapak kaki di sekitar lorong ini,” Suro mencoba membantu Mahadewi mendapatkan petunjuk untuk menemukan markas Mawar Merah.
“Apa yang dikatakan lelaki berjuluk pisau kilat itu memang terbukti kebenarannya, termasuk telapak kaki yang kakang sebutkan. Sebab seluruh area ini memang dipenuhi bekas telapak kaki kakang."
"Walaupun kita belum menemukan secara pasti dimana lokasi pasti dari markas mereka, tetapi ini sudah menjelaskan jika disekitar sinilah markas mereka berada."
“Sebentar...kakang sepertinya merasakan ada sesuatu di sebelah timur.” Suro dan Mahadewi segera bergegas menuju tempat yang dimaksud.
“Guru..? Benarkah itu adalah guru?” Mahadewi terkejut, sebab dari kejauhan dia seperti merasa mengenal pakaian yang dikenakan sesosok yang tergeletak di tengah lorong.
Mahadewi yang hendak bergegas justru ditahan oleh Suro ”jangan gegabah, kita harus tetap waspada. Aku juga mengetahui jika pakaian yang digunakan sosok itu mirip sekali dengan tetua Dewi Anggini. Tetapi apakah kau tidak merasa aneh mengapa dia sendirian di lorong ini?”
Mereka berdua lalu berjalan perlahan dengan penuh waspada. Sebab mereka mencoba mengantisipasi sewaktu-waktu ada serangan mendadak atau jebakan yang telah disiapkan musuh untuk
membantai mereka berdua.
Tetapi sampai mereka berdua berada cukup dekat dari sosok yang tergeletak ditengah lorong itu tetap tidak terjadi serangan apapun.
“Guru...guru apa yang terjadi?” Mahadewi segera berteriak histeris setelah memastikan sosok dihadapannya saat dia pastikan adalah gurunya.
Apalagi setelah mengetahui kondisi sosok yang ada didepannya, dia semakin khawatir. Sebab sosok yang memiliki wajah seperti gurunya itu tertelungkap dengan bersimbah penuh darah.
“Guru apa yang terjadi?” Mahadewi segera merengkuh dan memeriksa kondisi tubuh yang tertelungkup itu.
“Mahadewi? Benarkah ini Mahadewi muridku?” suara tetua Dewi
Anggini terdengar begitu lemah. Kedua matanya menatap Mahadewi yang memeluk tubuhnya dengan begitu sayu.
“Benar guru..ini Mahadewi muridmu...”
Mahadewi tidak mampu menahan tangisnya melihat gurunya terluka di beberapa tempat seperti ditusuk pedang. Dia segera memeriksa urat nadinya, karena Mahadewi begitu khawatir dengan kondisi gurunya yang terlihat begitu lemas seakan tidak memiliki tenaga.
“Cepat kakang Suro berikan obat yang mampu membuat guru kembali pulih dengan cepat. Luka yang dia derita sudah membuat dia kehilangan darah cukup banyak."
"Benar nakmas memang aku telah kehilangan darah cukup banyak dari lukaku ini. Bisakah nakmas memberikanku Pill yang dapat memulihkan tubuhku ini dengan cepat.” Dewi Anggini
menjawab perkataan Suro dengan terbata-bata dan terdengar lemah.
Suro yang masih berdiri sedikit curiga dengan keberadaan tetua Dewi Anggini yang menurut perasaannya seperti ada yang aneh. Namun mendengar permintaan Mahadewi, akhirnya di memulai memeriksa nadi dari guru Mahadewi itu.
“Aku rasa tetua Dewi Anggini akan baik-baik saja setelah meminum pill tujuh bidadari, tetua hanya kekurangan darah karena beberapa luka yang diderita.
Suro bergegas mengobati luka-luka yang diderita tetua Dewi Anggini dengan obat luar. Dia juga segera membuka botol dari balik bajunya.
“Apakah pill tujuh bidadari milik tetua telah dirampas?” Suro bertanya seperti itu karena jika dia memiliki pill tersebut, maka luka itu dapat segera pulih dengan cepat.
Tetua Dewi Anggini tidak menjawab pertanyaan Suro, sebab dia
kekuatannya segera pulih kembali. Dia kemudian mulai bersemadhi untuk menyerap khasiat obat yang dia telan barusan.
Sambil menunggu gurunya menyelesaikan samadhinya, Mahadewi
berusaha memeriksa situasi disekitar tempat tersebut. Namun entah bagaimana dia tidak menemukan hal yang ganjil atau keberadaan pintu masuk menuju markas Mawar Merah.
Beberapa saat kemudian tetua Dewi anggini menyelesaikan samadhinya. Sebuah senyuman menyiratkan tubuhnya telah segar bugar kembali.
“Aku tidak mengira nakmas dan Mahadewi datang ke negeri ini, bahkan sampai mampu menemukan markas kelompok Mawar Merah.”
Suro dan Mahadewi segera bertanya kepada tetua Dewi Anggini mengenai alasan dia tergeletak ditempat tersebut. Dewi Anggini menyebutkan jika setelah membantu menemukan apa yang dicari, dia dilukai dan ditinggalkan ditempat tersebut agar mati secara perlahan.
“Mengenai persediaan obat yang nakmas Suro tanyakan itu telah dirampas semua oleh pemimpin pasukan Mawar Merah. Mereka tentu tidak ingin aku dapat memulihkan luka di tubuhku.”
Tetua Dewi anggini juga menyebutkan sebagian besar pasukan milik kelompok pembunuh itu pergi bersama ketuanya menuju ke sebuah daerah yang
disebutkan dalam peta yang mereka temukan didalam harta penyimpanan kaisar Gong yang tidak lain adalah ayahandanya sendiri.
Dengan alasan itulah mengapa saat ini pasukan kelompok Mawar Merah tidak terlihat. Karena sebagian telah meninggalkan tempat itu sebelum mereka sampai di tempat tersebut
“Sebaiknya kita menolong kakang Sindu dan Dewa Rencong, sebab mereka berdua berhasil di racuni dengan menggunakan tipu muslihat.”
Tetua Dewi Anggini tidak menjelaskan bagaimana eyang Sindurogo dan Dewa Rencong berhasil diperdaya dan dapat diracuni. Karena dia segera bergegas bangkit untuk dapat segera menolong mereka yang berada didalam penjara markas Mawar Merah.
Sambil berjalan dia menjelaskan, jika dia mengetahui jalan rahasia menuju markas Mawar Merah. Suro maupun Mahadewi bergegas mengikuti tetua Dewi Anggini dibelakangnya.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya jika dia mengetahui jalan menuju markas Mawar Merah, sebab sebelumnya dia telah memasuki tempat tersebut dan mengetahui cara untuk memasukinya.
“Pantas saja sedari tadi kita tidak mengetahui dimana sebenarnya keberadaan jalan menuju markas Mawar Merah. Ternyata harus melewati
lorong yang ini. Apakah Pisau Kilat yang kakang tanya tidak mengatakan hal ini?”
“Mungkin saja dia menyebutkan hal ini, tetapi agaknya aku yang salah mengartikannya ucapannya. Sebab ucapannya saat berbicara seperti merancau. Sebab pill yang aku paksakan untuk dia telan, telah membuat dia tidak ubahnya seperti orang yang dalam kondisi mabuk berat.”
Setelah sampai diujung lorong yang buntu itu Dewi Anggini segera memutar sesuatu tombol yang tersembunyi dibelakang batu.
Sesaat kemudian ujung lorong yang buntu didepan mereka membuka dengan sangat lebar.
“Luar biasa ternyata pintunya besar sekali.” Suro cukup takjub melihat sebuah gerbang terbuka begitu lebar bergerak dengan sendirinya. Tetapi dia sedikit curiga, sebab setelah gerbang itu membuka dia tidak menemukan seorangpun yang menjaga tempat tersebut.
"Kemana pasukan Mawar Merah, mengapa tidak satupun yang menjaga tempat ini?"
"Kemungkinan mereka pergi mengikuti ketuanya," ucap tetua Dewi Anggono menjawab pertanyaan Suro.
Setelah mereka semua masuk kedalam, maka pintu gerbang itu segera menutup kembali. Ternyata gerbang batu itu bukan hanya satu, tetapi terdiri dari beberapa lapis yang membuat siapapun akan kesulitan menghancurkan susunan pintu tersebut.
Setelah beberapa saat mereka mengikuti tetua Dewi Anggono yang berjalan didepan melewati lorong panjang, mendadak perempuan itu berlari melesat dengan sangat cepat.
"Guru, mengapa tiba-tiba berlari?" Mahadewi kebingungan melihat gurunya mendadak berlari meninggalkan mereka.
"Cepat kita ikuti gurumu sepertinya aku memiliki firasat buruk." Suro yang melihat gelagat aneh dari tetua Dewi Anggini segera mengajak Mahadewi berlari mengikutinya.
“Ada apa tetua mengapa mendadak berlari?” Suro juga berteriak ke arah tetua Dewi Anggini, namun wanita itu tidak menjawab.
"Kali ini kalian harus mati!" Perempuan itu justru melemparkan ke arah Mahadewi dan Suro dengan sebuah serbuk, sebelum tubuhnya menghilang.
Duuum! Duuuum!
Sebab, sesaat kemudian persisi didepan Suro maupun Mahadewi dari atas dinding batu menghantam dengan keras. Beruntung Suro sempat menarik tubuh Mahadewi kebelakang sebelum tubuhnya tergencet dinding batu yang bergerak secara beruntun itu.
Bukan hanya didepan mereka dinding itu turun dengan cepat, tetapi dinding bagian belakang juga ikut menutup.
“Kurang ajar, sepertinya kita telah dijebak. Sosok yang menyerupai gurumu itu kemungkinan besar palsu!” Suro segera menyimpulkan situasi kepada Mahadewi yang masih terkejut tidak memahami apa yang terjadi.
“Tetapi apa yang dia katakan tentang tempat ini bukanlah bohong. Ini memang markas Mawar Merah,” sebuah senyuman cukup lebar menghiasi
wajahnya.
Suro bisa mengetahui hal tersebut, sebab saat itu dia sedang membaca seluruh tempat tersebut menggunakan tehnik perubahan tanah miliknya.
"Cepat minum obat penawar racun milikku, wanita yang kemungkinan gurumu yang palsu itu sempat melemparkan serbuk racun pelumpuh tulang."