
Setelah Geho sama mengerahkan ilmunya bersama eyang Sindurogo mereka telah lenyap dan muncul disuatu wilayah didekat gunung Ararat.
Saat ini tahun 602 Masehi daerah itu dibawah kekuasaan kekaisaran Persia. Sedangkan dibagian barat tepatnya di konstantinopel kekaisaran lain menguasai wilayah itu, yaitu kekaisaran Romawi yang saat itu dibawah kekuasaan kaisar Yustinianus I.
Gunung Ararat berada di bagian timur, sehingga kawasan itu masuk kekuasaan kekaisaran Persia. Saat ini kekaisaran Persia dipimpin oleh Shahriyar.
Nanti setelah Shahriyar ini meninggal akan digantikan oleh anaknya Yazdegerd III. Pada kekuasaan Yazdegerd III inilah kekaisaran Sasaniyah ini berakhir, karena penyerbuan ke wilayah kekaisaran Persia oleh pasukan muslim. Bahkan penyerbuan itu akhirnya berhasil merebut kota kekaisaran, yaitu kota Ctesiphon.
Dikemudian hari, kota itu masuk dalam wilayah negara Irak. Tepatnya sebelah selatan dari kota Baghdad. Kala itu abad ke 6 masehi kota Ctesiphon merupakan salah satu kota terbesar di dunia. Kota Ctesiphon juga disebut Tusfun atau Thaysafun. Di kemudian hari kota itu lebih dikenal dengan nama lain, yaitu kota Al Madain.
Pada masa kaisar Yazdegerd III inilah pasukan muslim berhasil mengalahkan bangsa Persia tepatnya pada tahun 642 Masehi. Dua pertempuran besar diantaranya, adalah perang Qadisiyah dan perang Nahawan yang dimenangkan pasukan muslim. Semua itu terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Saat itu pasukan muslim dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqqash.
Kaisar Yazdegerd III memerintahkan panglima perangnya, yaitu Rustam Farrokhzad untuk menghadang pasukan muslim. Akhirnya kedua pasukan ini bertemu di sebelah barat sungai Eufrat di desa yang bernama Al-Qadisiyyah (barat daya Hillah dan Kufah). Dalam pertempuran inilah Rustam akhirnya tewas.
Kemenangan di Qadisiyyah inilah awal jatuhnya kota Ctesiphon dan seluruh wilayah Persia ditangan pasukan muslim.
**
Setelah tiba di dekat gunung Ararat Geho sama bersama eyang Sindurogo lalu melanjutkan perjalanan untuk mencari Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan.
Dalam perjalanan itu mereka justru melihat banyak kota dan pedesaan yang hancur. Mereka terbang diketinggian, sehingga mampu melihat kondisi wilayah yang berada dibawahnya.
"Tuan guru sepertinya kota itu sedang diserang pasukan kegelapan. Kita lanjutkan perjalanan atau kita bantu mereka menghadapi pasukan itu?" Geho sama bertanya ke arah eyang Sindurogo yang juga ikut menatap ke arah kota yang ada dibawahnya.
"Kita bantu mereka terlebih dahulu!"
Eyang Sindurogo langsung melesat ke bawah, setelah melihat penampakan makhluk kegelapan yang terbang mengitari wilayah disekitar kota itu.
Para makhluk kegelapan itu langsung dihabisi oleh mereka berdua. Serangan yang dilakukan mereka berdua membuat pasukan kegelapan akhirnya dapat dipukul mundur. Dengan mundurnya mereka, akhirnya kota itu dapat diselamatkan.
Para penduduk berterima kasih kepada mereka berdua. Seandainya para penduduk tidak melihat makhluk kegelapan yang menyerang mereka sebelumnya, tentu penampakan Geho sama akan membuat mereka ketakutan.
Dari mereka diketahui jika berbagai kota telah diserang oleh makhluk seperti yang baru saja menyerang kota mereka. Banyak pendekar yang berusaha menghentikan serangan makhluk yang menyerang itu namun tidak ada yang sanggup melawan mereka. Sebab makhluk kegelapan itu tidak mampu dibunuh oleh mereka.
Justru banyak para pendekar yang akhirnya terbunuh dan ditangkap, lalu dijadikan bagian dari pasukan kegelapan. Kejadian penyerangan itu jika dihitung kemungkinan beberapa minggu setelah Dewa Kegelapan berhasil membebaskan raganya.
Menurut penduduk, para pasukan kegelapan yang berhasil kabur kemungkinan berkumpul di wilayah milik Perguruan Lembah Petir disisi timur dari kota yang baru saja mereka selamatkan. Dari mereka juga diketahui posisi Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan berada disisi lebih ke timur melewati Lembah Petir.
Menurut mereka Lembah petir itu kini menjadi sarang pasukan kegelapan terjadi belum lama baru beberapa purnama yang lalu. Semua itu diawali dengan langkah Perguruan Lembah Petir yang entah alasan apa mendadak mereka seluruhnya kini telah menjadi bagian dari pasukan kegelapan.
Mendengar penjelasan para penduduk kota, mereka berdua akhirnya memutuskan mengejar pasukan kegelapan ke arah Lembah petir. Apalagi arah tujuan perjalanan mereka memang melewati tempat itu. Sehingga tidak ada salahnya mereka akan menghancurkan tempat yang menjadi salah satu sarang pasukan kegelapan.
Setelah keluar dari kota itu mereka sampai disebuah lembah yang kemungkinan adalah Lembah Petir, seperti yang ditunjukkan oleh para penduduk.
"Mengapa kita tidak melihat penampakan pasukan kegelapan?" Eyang mengawasi dengan tajam ke arah lembah dibawahnya.
"Mungkinkah mereka sedang bersembunyi didalam hutan ini tuan guru!"
Mereka terus melanjutkan perjalanan dan terbang lebih rendah lagi. Mereka menjadi bertambah penasaran sebab setelah melewati lembah cukup jauh tidak juga menemukan keberadaan musuh. Bahkan setelah terbang sebegitu rendah, mereka tidak juga menemukan musuh diantara rimbunnya pepohonan.
Sebelum mereka memutuskan untuk turun memeriksa lebih lanjut diantara rimbunnya pepohonan di lembah itu, justru serangan beruntun langsung menghajar mereka berdua. Sehingga membuat mereka secepatnya menghindari serangan mendadak itu. Karena pada saat itu serangan berupa kilat petir tak terhitung jumlahnya telah menerjang ke arah mereka.
"Kurang ajar kita ternyata sengaja dijebak masuk ke perangkap mereka!" Eyang Sindurogo berteriak kesal sambil mencoba menghindari rentetan kilat petir yang menyerang dirinya.
Kilat yang menghantam itu bukanlah dari alam tetapi dari pengerahan tenaga dalam yang sangat kuat. Geho sama dapat menghindarinya dengan Langkah Semu miliknya. Eyang Sindurogo lah yang justru tidak dapat menghindari petir yang terus mengejar dirinya. Meskipun kecepatan terbang yang dia kerahkan sangat mengagumkan. Namun kilat yang menghantam itu dapat mengejar tubuhnya, Sehingga sulit untuk dapat dihindari.
Dia mencoba memberikan serangan balik ke arah lawan dengan jurus kedua ilmu tapak Dewa Matahari. Karena formasi petir yang dikerahkan lawan dalam jumlah begitu besar, maka serangan balasan dari mereka berdua tidak cukup berarti. Hal itu disebabkan serangan balasan yang mereka berdua lakukan hanya dalam sekala kecil.
Setelah cukup lama mencoba menghancurkan formasi serangan lawan dengan dibantu Geho sama, akhirnya eyang Sindurogo membuat keputusan untuk menghancurkan formasi serangan lawan dengan cara yang lebih cepat. Alih-alih turun ke bawah dan mencari satu persatu lawan yang bersembunyi di balik rimbunan pepohonan hutan, eyang Sindurogo justru memilih melesat naik keatas semakin tinggi.
Entah rencana apa yang akan dia lakukan. Tetapi jika dia memaksa turun kebawah seperti sebelumnya, maka serangan petir akan kembali menghajar dirinya. Bahkan karena begitu banyaknya dan dahsyatnya formasi serangan itu, kemungkinan jika terus bertahan, maka serangan itu tidak dapat ditahan oleh perisai energi yang membentengi tubuhnya. Bahkan saat tubuhnya melesat keatas langit semakin tinggi, serangan petir dalam jumlah banyak masih terus mengejar tubuhnya.
Sesaat setelah naik ke atas mendadak langit yang berada disekitar daerah tersebut mulai terbentuk gumpalan awan hitam seperti akan terjadi badai. Awan hitam yang terbentuk dengan begitu cepat semakin membesar. Terlihat juga kilat petir menghantam kesegala arah dari dalam awan hitam itu.
Geho sama yang melihat ada gelagat tidak baik setelah melihat pengerahan yang dilakukan eyang Sindurogo, dia kemudian menghentikan serangan ke arah musuh yang tersebar didalam wilayah hutan luas itu. Dia segera menyingkir sejauh mungkin, karena dia merasa guru dari tuannya itu akan melepaskan kekuatan yang sangat dahsyat.
Benar saja setelah awan gelap yang semakin meluas itu, maka mendadak semuanya menggulung dan mengerucut ke arah bawah seperti sebuah tornado raksasa. Diujung dari pusaran awan itu sosok eyang Sindurogo terlihat. Dibelakangnya rentetan petir sahut bersahutan seperti mengiringi lesatan tubuh lelaki itu yang hendak menghujam ke bumi.
Dibagian paling ujung sebuah energi yang mengerikan telah terbentuk semakin lama semakin membesar. Bentuknya sekilas mirip kepala naga raksasa yang diselimuti api biru dan petir.
"Kalian ingin beradu kekuatan petir denganku, akan aku kabulkan! Kita lihat seberapa kuat petir kalian menahan jurus ketiga dari ilmu tapak Dewa Matahari milikku!"
Duuuuuum!!
Ledakan hebat dalam sekala besar menghantam keseluruh dataran dimana formasi serangan petir yang mengepung mereka berdua berasal.
Geho sama langsung mendekat ke arah eyang Sindurogo yang masih melayang diudara, setelah melepaskan jurus barusan.
"Aku sudah berjanji kepada muridku untuk tidak berlama-lama. Jadi tidak ada waktu bagi kita untuk melayani mereka." Eyang Sindurogo masih menatap ke arah daratan dibawahnya yang sekarang diselimuti api biru. Hutan yang luas tempat bersembunyi musuhnya telah amblas menjadi lengkungan kawah.
"Aku rasa serangan pasukan kegelapan telah menyebar ke seluruh tempat yang ada di bumi ini tuan guru." Geho sama yang berada disamping eyang Sindurogo menatap kawah yang terbentuk dari serangan barusan dengan ngeri.
Dia tidak membayangkan seberapa kuat kekuatan manusia disampingnya yang mampu membuat kawah sebesar itu. Penampakan itu hampir mirip seperti sebuah kawah akibat jatuhnya benda dari langit yang memiliki ukuran cukup besar.
"Kita lanjutkan perjalanan menuju Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan. Aku yakin disana akan ada kejutan lain yang sudah menunggu."
"Apakah harus aku kejar dan aku habisi pasukan kegelapan yang melarikan diri itu tuan guru?" Geho sama menatap ke arah timur dimana terlihat beberapa naga yang dinaiki manusia terbang melesat dengan sangat cepat.
"Tidak, biarkan saja. Justru kita akan menjadikan mereka penunjuk jalan untuk memudahkan kita menemukan sarang mereka. Aku yakin mereka sedang menuju Perguruan yang sedang kita cari. Sebab sesuai arah yang ditunjukkan, Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan berada di timur sama dengan arah terbang pasukan kegelapan yang melarikan diri itu."