
Suro setelah membakar habis pepohonan dia harus berpindah tempat berkali-kali. Sebab setiap kali berhenti, maka ada saja yang menyerang dirinya.
Entah itu makhluk hidup ataupun sesuatu yang seharusnya tidak bisa menyerang, seperti semak-semak atau pepohonan yang hidup di tempat itu.
"Sebenarnya ini didunia mana, mengapa apapun yang nampak berubah menjadi makhluk mengerikan ?Aku yakin ini bukanlah dunia nyata. Tetapi mengapa semua terasa nyata?" Suro menggerutu dan kebingungan, sebab serangan yang berdatangan ke arahnya tidak juga ada habisnya. Dan bentuknya bermacam-macam sangat tidak lazim.
Semua terus berdatangan silih berganti menyerang dirinya. Bahkan serangga kecil yang ada di dunia nyata berubah menjadi sesuatu yang mematikan.
Seperti sekelompok makhluk yang mulai mendekat ke arahnya. Jika tanpa melihat ukurannya, maka sesungguhnya makhluk itu dapat dipastikan adalah semacam belalang sembah.
Tetapi kepalanya itu terlihat tidak seperti lazimnya seekor belalang, karena memang kepalanya milik seorang manusia. Apalagi ukurannya setinggi sekitar satu tombak, tentu sesuatu yang sangat janggal.
Mereka terus berdatangan dari arah yang berbeda-beda. Kini para makhluk itu telah mengepungnya dan seluruhnya tidak kurang dari lima puluh ekor.
"Sialan, Geho sama tidak dapat aku hubungi."
Suro masih tidak mampu memahami, mengenai kesadarannya dengan Geho sama dan Lodra mendadak tidak dapat terhubung tanpa sebab. Selain itu kondisi alam membuatnya seperti orang yang tidak tentu arah.
Dia sedari tadi seperti berputar-putar disatu tempat, tetapi entah bagaimana alam itu dapat berubah bentuknya secara terus menerus. Keadaan itulah yang semakin membuatnya kebingungan.
"Kavacha apakah kau menyadari sesuatu hal dengan segala hal yang ada di alam ini?"
'Aku tidak terlalu memahami tuan Suro, tetapi sebaiknya, tuan Suro jangan pernah membiarkan serangan yang datang melukai tuan.
Kondisi ini sepertinya akan berlangsung cukup lama. Sebab aku yakin kita sepertinya telah terjebak di dalam sebuah alam yang diciptakan dengan suatu sihir yang sangat kuat.'
"Benar yang kau katakan Geho sama makhluk-makhluk ini pasti adalah sesuatu yang berhubungan dengan sihir atau justru mereka sesungguhnya para siluman yang ikut terjebak di alam ini seperti nasib yang kita alami?"
Suro kembali mengerahkan puluhan pedang terbang miliknya untuk memukul mundur para belalang siluman itu. Namun serangan pedang itu tidak membuat makhluk aneh itu mundur.
Begitu pedang itu melesat menghajar tubuh mereka, maka dengan tangan-tangannya yang seperti sambit besar itu dengan gesit dapat menangkis setiap pedang milik Suro.
Setelah itu Suro sampai mengernyitkan dahinya mendegar para belalang itu dapat berbicara.
"Kalian jangan bersantai-santai, ini kesempatan kita mendapatkan makanan lezat, cepat habisi manusia itu!" Salah satu makhluk memberi perintah kemungkinan dia adalah pemimpin kawanan belalang siluman itu.
Mereka lalu bergerak memutari Suro dan berebut hendak mencabik-cabik tubuh pemuda itu. Mereka tidak menganggap serangan pedang milik Suro. Tingkah makhluk mirip belalang itu seperti orang kalap.
"Sudah aku katakan, kali ini kita bisa memakan daging manusia, ternyata dugaanku benar adanya."
Pemimpin dari para belalang siluman itu terus memerintahkan anak buahnya maju menyerang Suro.
"Kurang ajar, mengapa semua hal yang ada di alam ini menganggap ku seperti makanan?" Suro mendengus kesal, dia lalu mengerahkan tehnik api hitam yang digabungkan dengan jurus telunjuk dewa mencari kebenaran.
Hal yang terjadi kemudian saat api hitam dan sinar yang melesat membelah udara, maka para belalang siluman itu lari kocar kacir dibuat kalang kabut. Mereka tidak mengira serangan Suro dapat melukai tubuh mereka.
Sebab energi pedang dan tebasannya pada serangan pertama dengan luar biasa dapat ditahan oleh kerasnya kulit luar mereka. Namun begitu sinar itu menghantam, maka tubuh mereka langsung hancur berantakan.
Begitu juga api hitam yang kobaran apinya memiliki bentuk seperti seekor serigala berkepala tiga itu berhasil membakar tubuh para siluman belalang. Setiap yang terkena kobaran api itu tidak lagi dapat menyelamatkan diri lagi.
Hampir setengah dari seluruh kawanan siluman itu berhasil dihabisi. Sedangkan sisanya segera melarikan diri.
"Kemana makhluk bernama Kurama Tengu itu bersembunyi? Ah, mumpung para makhluk itu tidak menyerangku, sebaiknya aku melacaknya dengan menggunakan ilmu empat Sage. Mungkin saja aku dapat menemukannya."
Suro merasakan jika energi alam di tempat ini begitu besar. Meskipun dia juga merasakan ada aura sesat yang meliputi seluruh alam. Hal itulah yang membuatnya ragu untuk menyerap energi yang ada di alam tersebut.
"Apa mungkin kekuatan ini yang telah merubah seluruh alam menjadi sesuatu yang tidak biasa seperti ini?"
Diantara berbagai pertanyaan Suro yang memenuhi pikirannya, tanpa menunda lagi dia segera mengerahkan tehnik empat Sage. Angin mulai berputar melingkupi tubuh Suro sebab semua energi yang berada disekitar terserap olehnya.
Sebaiknya aku memperluas jangkauan penyerapan ku, mungkin saja aku bisa menemukan makhluk itu, jika memang dia sedang bersembunyi dan mengamatimu dari jauh.'
Bersama gumamannya itu pusaran angin yang melingkupi tubuh Suro semakin membesar.
"Ini sangat janggal bagaimana aura kekuatan miliknya dapat aku rasakan, walaupun terasa sangat samar. Tetapi aura itu hampir meliputi seluruh tempat yang aku jelajahi.
Bahkan aku merasa dia selalu berada di dekatku...atau jangan-jangan?"
Kali ini Suro mengerahkan tehnik empat Sage secara penuh. Kekuatan tingkat surga yang melambari kekuatan serapnya itu begitu kuat, bahkan secara mengejutkan seluruh makhluk dan pepohonan yang berada cukup jauh terhisap dan lenyap amblas ke dalam telapak tangannya.
**
"Apakah Karuru tidak pernah menceritakan bagaimana kekuatanku yang sesungguhnya? Kau terlalu naif hendak mengalahkanku!"
Meskipun Geho sama tidak membunuh makhluk tinggi besar dihadapannya, tetapi kekuatan serangan yang dia kerahkan telah membuat makhluk itu harus berjibaku begitu kerepotan menghindarinya.
Geho sama menyerang Kurama Tengu dengan menggunakan sebuah kipas besar. Setiap sapuannya akan mengirimkan ribuan lesatan energi tebasan pedang yang sanggup membelah tubuh musuhnya itu dengan mudah.
Berkali-kali makhluk itu menggunakan tehnik lipat bumi. Serangan yang menghujaninya tidak berhasil melukainya.
Sebab makhluk itu terus menggunakan tubuh palsu. Sehingga setiap kali serangan Geho sama mengenai tubuhnya, maka semua akan berubah menjadi seperti asap.
Geho sama melakukan itu hanya bertujuan untuk melemahkan kekuatan lawan. Dia tidak punya pilihan lain, sebab dia khawatir akan membahayakan Suro, jika dia menghabisi Kurama Tengu.
Kurama Tengu berupaya mengecoh Geho sama dengan kembali memecah tubuhnya menjadi begitu banyak.
"Kepalamu benar-benar bebal, sudah aku katakan jurusmu itu tidak akan berguna terhadapku!"
Namun sebelum Geho sama menyerang makhluk itu, mendadak sekian banyak tubuh palsu yang melayang mengepung Geho sama berteriak keras seperti orang yang kesakitan.
Setelah itu semuanya meledak dan berubah menjadi asap. Tinggal satu Kurama Tengu yang tetap berdiri diantara awan.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Makhluk itu terlihat menjadi begitu panik.
Geho sama segera menyadari mengapa musuh bertingkah menjadi aneh, sebab tubuhnya mengecil dan mulai mengering.
Geho sama segera menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi pada tubuh lawannya itu. Dia lalu menyingkir dan tidak lagi berniat menyerang Kurama Tengu.
"Kau terlalu meremehkan pemuda itu, sepertinya kau terkena batunya. Lihatlah apa yang terjadi jika tidak melihat musuh yang kau hadapi. Akhirnya tubuhmu terhisap oleh ilmu pembantai siluman."
Kurama Tengu melotot ke arah Geho sama, dia segera menyadari jika musuh yang di hadapi adalah Geho sama yang asli. Sebab jurus pembantai siluman atau dengan nama lain ilmu empat Sage adalah salah satu ilmu yang hanya dimiliki Geho sama.
Tetapi semua itu sudah terlambat, sebab tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan dirinya. Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya sudah tidak tertahan lagi.
Suara keras menggelegar keluar dari mulut Kurama Tengu. Kerasnya teriakan itu sudah dapat menggambarkan betapa sakitnya rasa yang diderita oleh Kurama Tengu.
"Benar itulah ilmu empat Sage yang paling ditakuti oleh Karuru. Dia saja ketakutan dengan ilmu itu, tentu saja kau tidak akan selamat darinya.
Apalagi yang melakukan adalah tuan Suro, aku yakin Karuru sekalipun tidak akan dapat bertahan lama darinya!"
Kurama Tengu yang terus berteriak matanya mendelik mendengar ucapan Geho sama.
"Tidak akan ada yang sanggup menyelamatkanmu, sebab pemuda itu telah menyerap seluruh kekuatanmu dan juga tubuhmu...daaaa..da..da!" Geho sama tertawa kecil sambil melambaikan tangan ke arah Kurama Tengu yang tubuhnya semakin kecil dan menghilang tidak beberapa lama kemudian.
"Selesai sudah, tamat riwayatmu...tetapi sayang sebenarnya. Sebab itu adalah salah satu dari jenisku."