SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 95 PERTEMPURAN DIKADEMANGAN KALINYAMAT



Lelaki yang memiliki kumis tebal itu masih tetap tidak berpindah tempat sambil berdiri menantang. Dia semakin jumawa melihat teman-temannya yang sebelumnya sedang duduk bersamanya, kini ikut berdiri mengerumuni mereka bertiga.


Dewa Rencong masih mencoba bersabar saat lelaki itu menghalangi langkahnya. Sebab lelaki yang memakai pakaian berwarna hijau tua itu adalah satu dari sembilan racun dari pasukan pembunuh Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Dewa Rencong tidak takut hanya saja dia mencoba menghindari masalah, karena dia memikirkan keselamatan Mahadewi dan Made pasek yang berada dibelakangnya.


"Akhirnya tanpa perlu bersusah payah aku mencari pendekar gemblung yang telah membunuh para siluman, tidak dinyana justru pelakunya datang sendiri menyerahkan nyawanya. Meskipun engkau adalah seorang Dewa Rencong yang sudah tersohor itu, belum tentu kami kalah denganmu! Aku pasti akan menghabisimu. Hahahahak!"


Begitu mengetahui maksud dan tujuan kehadiran para anggota perguruan aliran hitam yang ada dihadapannya itu, tanpa menunggu dia selesai berbicara, Dewa Rencong langsung menghabisi lelaki itu.


Lelaki itu tidak menyangka serangan Dewa Rencong begitu cepat bahkan dia tidak sempat menghindar. Walaupun dirinya sudah berada ditingkat shakti tahap awal. Tetapi tentu bukan lawan yang seimbang, jika berhadapan dengan pendekar dari Swarnabhumi itu.


Dewa Rencong begitu terkejut mendengar penuturan lelaki yang barusan dihabisinya. Ternyata kehadiran pasukan aliran hitam di Kademangan Kalinyamat dalam rangka memburu seseorang yang bernama Pendekar Gemblung yang merupakan nama samaran si Suro. Dia tidak menyangka nama Pendekar Gemblung ternyata sudah menyebar sampai ke kuping Medusa. Hal itu diketahui dari penuturan lelaki yang barusan dihabisinya.


Beruntungnya para pasukan aliran hitam itu tidak mengetahui latar belakang dan nama asli dari Pendekar Gemblung yang sedang mereka buru. Sebab orang yang sedang mereka cari, justru sedari tadi sudah berada didalam warung sedang tenggelam dalam kesibukannya menghabiskan makanan yang sudah dia pesan. Suro begitu kalap seperti orang yang sudah berpuasa tujuh hari tujuh malam. Dia tidak peduli dengan suara pertempuran yang begitu riuh diluar.


Melihat temannya telah dihabisi Dewa Rencong, maka hampir dua ratus orang yang sejak tadi ikut mengerumuni langsung menyerang balik ke arah mereka bertiga.


Begitu suara pertarungan pecah, delapan orang yang berada didalam warung yang sebelumnya menatap Suro dengan tajam, kini ikut keluar dari dalam warung dan langsung bergabung bersama kelompok yang menyerang Dewa Rencong.


Mereka adalah delapan dari sembilan anggota pasukan pembunuh milik Perguruan Sembilan Selaksa Racun yang sudah melegenda itu. Tetapi kini tinggal delapan orang, sebab satu orang anggotanya yang berkumis tebal itu sudah dihabisi Dewa Rencong.


Pertarungan itu tetap berlangsung begitu sengit. Walau jika dilihat seperti berat sebelah, karena jumlah penyerang dan yang diserang sangat berbeda jauh. Pasukan penyerang itu lebih dari dua ratus orang. Sedang Dewa Rencong hanya ditemani Mahadewi dan Made pasek.


Tetapi jangan ditanya bagaimana mengerikannya serangan yang dilakukan pendekar dari Swarnabhumi itu. Dengan kekuatannya yang berada pada tingkat shakti dan mendekati tahap puncak, tentu saja sangat mengerikan. Dalam sekali tebas bilah rencong milik pendekar terkuat di tlatah Swarnabhumi itu memakan korban yang tidak sedikit. Para anggota perguruan aliran hitam yang ikut dalam perburuan pendekar gemblung tidak sepenuhnya mengetahui siapa lawannya kali ini.


Begitu gelegar suara tebasan dari bilah rencong itu mengamuk, maka mereka segera menyadari lawan yang sedang dihadapi, seseorang yang tingkat kekuatannya sudah jauh dari mereka semua. Meskipun rata-rata mereka sudah berada pada tingkat tinggi.


Energi tebasan yang dilambari kekuatan shakti mendekati tahap puncak begitu mengerikan, satu tebasannya bahkan sampai menghancurkan bagian warung sisi sebelah kanan yang berjarak lebih dari lima tombak.


Mereka semua berlompatan menghindari kuatnya terjangan energi tebasan milik Dewa Rencong. Tidak semua mampu menghindar cepatnya serangan yang dilakukan Dewa Rencong. Sebagian yang tak sempat menghindar langsung merenggang nyawanya. Melihat lawan yang memiliki kekuatan yang begitu mengerikan, membuat mereka memilih menyerang dari jarak jauh.


Jarum dan segala macam senjata rahasia segera menerjang ke arah mereka bertiga. Dewa Rencong tidak bisa mengejar dan menghabisi lawan, satu demi satu. Sebab jika dia meninggalkan Mahadewi dan Made Pasek kemungkinan mereka tidak akan selamat menerima serbuan senjata yang tidak ada habisnya itu.


Dia bertahan didekat mereka berdua. Mahadewi yang sudah merasa kewalahan berteriak sekencang-kencangnya memangil Suro.


"KAKANG SURO!! PENDEKAR GEMBLUNG CEPAT BANTU ADINDA!!"


Mahadewi sengaja memangil Suro dengan Pendekar Gemblung untuk memecah konsentrasi para musuhnya itu. Sebab mereka semua memang sejak awal diperintahkan untuk menghabisi seseorang yang bernama Pendekar Gemblung. Begitu nama itu dipanggil Mahadewi mereka langsung berpandangan dan menyadari bahwa pendekar gemblung yang dimaksud tidak diantara mereka bertiga, yang artinya Dewa Rencong atau mereka melihatnya sebagai monster berwujud manusia itu bukan pendekar gemblung yang dimaksud.


Suro yang mendengar namanya dipanggil Mahadewi buru-buru dia segera melesat keluar. Tangan kanan dan kirinya masih memegang paha ayam yang belum sempat dimakan. Mulutnya juga tidak jauh berbeda, masih penuh makanan yang belum sempat ditelannya. Dia begitu kaget saat melihat mereka bertiga telah dikeroyok begitu banyaknya pendekar.


'Apa yang dilakukan orang tua gila itu? Baru aku tinggal sebentar sudah membuat kerusuhan sebesar ini. Benar-benar orang tua ini, sudah tua masih saja jadi biang kerok.' Melihat situasi seperti itu mulut Suro yang sudah penuh dengan makanan itu, dikunyah dengan kecepatan cahaya agar bisa segera ditelan.


Tetapi setelah melihat Dewa Rencong mampu mengatasi semua lawan yang sebegitu banyaknya, Suro justru kembali memakan dua paha ayam yang belum sempat dihabiskannya.


Sebelumnya satu tebasan angin milik Dewa Rencong menghajar dengan begitu kuat memaksa semua orang yang berada didepan Warung berjumpalitan menjauh. Suro yang berada dibekas tebasan masih belum menyadari, jika orang-orang yang ada disebelah kanan dan kirinya adalah para pembunuh bayaran yang menginginkan kepalanya. Mulutnya belum sempat bertanya karena masih sibuk dengan dua paha ayam yang ada dikedua tangannya.


"Bocah gemblung, benar-benar gemblung!" Dewa Rencong meruntuk melihat Suro masih asik memakan paha ayam.


"Kakang cepat bantu kami!" Mahadewi terlihat sibuk menangkis berbagai senjata rahasia yang menerjang ke arahnya.


Salah satu orang yang termasuk dari anggota pasukan pembunuh sembilan racun segera menyadari Suro adalah Pendekar Gemblung yang dicari. Dia yang berada disisi kiri Suro segera menyelinap dalam satu gerakan cepat sudah berada dibelakang tubuh Suro.


"Hahahaha! Akhirnya aku mendapatkan kepala Pendekar Gemblung! Dewa Rencong menyerahlah kalau tidak aku habisi bocah ini!" Golok iblis yang dipegang lelaki itu menempel dileher Suro siap menggorok. Tetapi entah kenapa Suro tidak memperdulikan keselamatan jiwanya sendiri, dia justru masih sibuk menghabiskan paha ayam ditangannya.


Tetapi begitu mendengar ucapan selanjutnya dari mulut orang yang sedang menyandera dirinya, roman muka Suro langsung berubah menakutkan.


"Aku tau harga kepalamu Dewa Rencong. Jika aku berhasil membawa kepalamu kepada Ratu Medusa pasti dia akan berani membayarnya dengan harga yang sangat tinggi. Hari ini aku pasti akan untung banyak. Selain kepala pendekar gemblung ini, aku juga bisa menikmati gadis cantik yang ada dibelakangmu itu. Hari ini aku benar-benar mujur. Hahahahah!"


Tawa lelaki itu menjadi suara terakhir yang keluar dari mulutnya sebab tanpa disadari semua orang Suro telah mengerahkan jurus Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi. Sinar itu langsung memengal kepala dan tangan lelaki itu secara bersamaan.


Melihat rekannya telah mati dengan mengenaskan tujuh dari anggota pasukan pembunuh sembilan racun yang tersisa, segera memperintahkan para anak buahnya untuk menyerang Suro.


Hal yang terjadi selanjutnya adalah kematian setiap orang yang mendekat ke arah Suro dalam jarak lebih dari setengah tombak. Mereka semakin terkejut dengan jurus yang telah menghabisi rekan mereka semua hanya dalam sekejap itu. Karena jurus yang dikerahkan Suro terasa tidak asing bagi mereka semua. Bagaimana tidak, jurus itu sudah sangat melegenda karena pemiliknya adalah pendekar terkuat dikolong langit Benua Timur selama ratusan tahun yang lalu.


"Jurus Tapak Dewa Matahari!" Mereka semua terkejut dan secepatnya menjauh dari jangkauan jurus yang dikerahkan Suro. Mereka sudah mengetahui kedahsyatan jurus milik Eyang Sindurogo itu. Mereka semakin dibuat terkejut setelah menyadari, bahwa yang mengerahkan jurus itu masih terlihat begitu muda. Mereka masih terpana dengan pengerahan jurus yang dilakukan Suro.


Beberapa saat kemudian yang terjadi, sebagian dari mereka segera tunggang langang meyelamatkan dirinya masing-masing. Karena setelah itu, Suro ganti menyerang balik ke arah mereka. Dengan gerakan cepat menerjang ke arah mereka bersama sepuluh larik sinar yang bergerak sekan sepuluh cemeti yang ketajamannya mampu merontokkan seluruh senjata tajam yang mereka pergunakan.


Kesempatan itu juga dipergunakan dengan baik oleh Dewa Rencong, semua musuh yang sedang mencoba melarikan diri itu segera dihabisi semua tanpa menyisahkan satu pun.


Suro bahkan sampai tertegun menyaksikan Dewa Rencong mengamuk seperti Banteng Ketaton(terluka).


"Mereka orang-orang yang tak pantas hidup. Karena aku masih mengenali dengan senjata rahasia yang mereka pergunakan. Salah satu atau beberapa senjata itu masih menancap ditubuh prajurit Gelang-gelang yang semalam dibantai. Mereka bukan manusia lagi membunuh dengan cara yang begitu kejam. Mereka memperlakukan manusia lain seperti sampah."


Kemarahan yang dia tunjukan barusan adalah akibat dari kemarahannya yang tertahan. Setelah dia melihat tumpukan para prajurit yang dibantai. Dia bisa mengetahui bahwa sebelum dibunuh para prajurit itu telah disiksa terlebih dahulu. Kemudian dihabisi dengan cara dipotong-potong lalu ditumpuk ditengah jalan seperti sampah.


Dewa Rencong hanya menepuk-nepuk pundak Suro, setelah dia melihat tindakkannya menghabisi seluruh pasukan aliran hitam yang sebelumnya telah menyerangnya.


"Seperti ini lah kejamnya dunia persilatan nakmas. Entah siapa diantara mereka atau justru kita yang lebih kejam. Tetapi jika mereka dibiarkan tetap hidup, setiap langkah kaki mereka hanya akan membawa bencana dibumi ini. Biarlah urusan benar atau salah tindakanku, aku yang menanggungnya. Tugasku adalah mengirim mereka semua menuju penciptanya."


"Karena manusia seperti mereka akan membantai banyak nyawa manusia hanya sekedar untuk bersenang-senang."


"Selain itu paman tidak membiarkan mereka mengetahui bahwa pendekar gemblung yang mereka cari adalah nakmas Suro. Apalagi mereka sudah menyaksikan nakmas menggunakan jurus Ilmu Tapak Dewa Matahari. Aku rasa belum saatnya dunia persilatan mengetahui, bahwa Eyang Sindurogo telah menurunkan ilmunya kepada satu-satunya murid yang dia punya. Jika mereka mengetahuinya aku yakin nakmas akan menjadi buruan mereka semua. Mereka pasti tidak membiarkan nakmas hidup lebih lama lagi, karena bagi mereka nakmas dianggab sebagai batu sandungan kedepannya oleh aliran hitam."


"Salam hormat kepada Dewa Rencong dan nakmas Suro." Tiba-tiba seorang yang berpakaian layaknya petani menjura kepada mereka berdua dan sembilan orang yang ada dibelakangnya juga segera ikut menjura hormat.


Suro mengenali orang-orang yang menjura kepada dirinya dan kepada Dewa Rencong itu adalah orang-orang yang duduk di seberang meja saat dia makan didalam warung. Sebab dia sempat melihatnya beberapa kali, orang-orang ini memandangi dirinya sambil terus berbisik-bisik pelan diantara mereka. Seakan ingin menyapa tetapi ragu-ragu.


"Mohon maaf jika tuan pendekar sekalian tidak mengenal kami. Saya adalah Senopati Aryo Seno salah satu senopati Kerajaan Kalingga. Saya diutus untuk mencari Pendekar Gemblung atas perintah paduka Mahapatih Lembu Anabrang. Tetapi setelah melihat kejadian barusan dan mendengar apa yang terjadi, saya tidak menyangka jika Pendekar Gemblung yang dimaksud ternyata nakmas Suro."


Suro hanya bisa mengaruk-garuk kepala sambil melihat Dewa Rencong yang justru tertawa melihat reaksi Suro yang begitu kaget. Dia baru mengetahui ternyata nama Pendekar Gemblung sudah menyebar kemana-mana.


Demi menjaga kerahasian identitas mereka semua, maka pembicaraan mereka oleh Senopati Aryo Seno diteruskan di kediaman Demang Kalinyamat.


Warung yang sebagian telah hancur terkena efek tebasan angin milik Dewa Rencong diberikan ganti rugi yang tidak sedikit oleh Suro. Berkali-kali Suro meminta maaf kepada pemilik warung sambil memberikan ganti rugi yang begitu banyak. Tetapi pemilik warung itu justru ketakutan setengah mati melihat Suro begitu baik kepadanya. Tangan dan kakinya mengigil tidak kuat berdiri. Sebab dia melihat sendiri bagaimana Suro menghabisi puluhan orang dengan sangat mudahnya.


Mayat-mayat itupun sudah dibersihkan oleh pasukan Kademangan yang segera bergerak. Ki Demang segera melaksanakan perintah yang dititahkan kepadanya, setelah menyadari yang memerintahkannya adalah Senopati Aryo Seno.


Dari ucapan Senopati Aryo Seno mereka kemudian mengetahui kondisi Pasukan Kalingga yang harus menyingkir jauh sampai di daerah Tajug. Karena serangan balik dari pasukan Medusa Hitam yang dibantu para siluman sangat susah dihadapi.


"Jadi apakah nakmas Suro bersedia bergabung dalam pasukan kami?"


Suro tidak segera menjawab tetapi justru menoleh kepada Dewa Rencong.


"Tentu saja kami akan memberi hadiah kepada nakmas dan juga pendekar Dewa Rencong jika bersedia bergabung didalam pasukan Kerajaan Kalingga melawan pasukan yang berada dibawah bendera Medusa Hitam."


Akhirnya Dewa Rencong yang menjawab dan memberi jalan tengah yang lebih baik. Mengingat dia bersama Suro menuju Kadipaten Banyu Kuning secara tidak langsung titik akhirnya adalah melawan Medusa Hitam. Maka dia mencoba membuat keputusan yang saling menguntungkan bagi semua.


"Aku punya solusi yang lebih baik jika Senopati Aryo Seno berkenan, karena kami juga punya misi untuk membantu Perguruan Pedang Halilintar yang juga sedang diserang pasukan Medusa Hitam."


"Posisi Perguruan Pedang Halilintar kebetulan juga berada di Kadipaten Banyu Kuning yang berada di utara dari Gunung Retawu."


(Gunung Retawu sekarang lebih dikenal dengan nama Gunung Muria. Nama Gunung Muria sebenarnya berasal dari nama bukit Moria yang berada di 'Al-Quds atau palestina. Nama itu juga yang kemudian hari dijadikan nama pengganti daerah Tajug. Sebab nama Kudus diambil dari kata Al-Quds.)


"Oleh sebab itu saya bersama nakmas Suro sengaja sejak awal melewati jalur perjalanan dari Tanjung Para menuju Kadipaten Banyu Kuning melewati Kalinyamat ini. Dengan tujuan menghindari jangkauan dari Medusa Hitam yang berada di Kadipaten Banyu Kuning."


"Jika Mahapatih Lembu Anabrang berkenan saya bersama nakmas Suro akan bergabung, jika pasukan Kerajaan Kalingga mau mengikuti jalur perjalan kami. Kemudian bersama-sama menuju Kadipaten Banyu Kuning. Tetapi sebelum menyerang Perguruan Ular Hitam saya mengajukan syarat untuk membantu Perguruan Pedang Surga membebaskan salah satu perguruan cabang yang sampai sekarang masih diserang siluman. Setelah masalah di perguruan cabang selesai tentu Dewa Pedang dengan senang hati akan ikut membantu Pasukan Kerajaan Kalingga membumi hanguskan Medusa Hitam bersama Perguruan Ular Hitam miliknya."