SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 486 Jangan Khawatir Ada Aku



"Jangan khawatir, meskipun musuh berjumlah sebanyak itu dan memiliki kekuatan yang diperkuat dengan benih iblis. Tetapi di pihakmu ada diriku."


"Benar pendekar, tetapi kekuatan pendekar tentu ada batasnya. Bukankah jurus mengagumkan yang tuan pendekar kerahkan akan menguras tenaga dalam dengan jumlah sangat besar?"


"Jika itu yang kau khawatirkan tidak perlu khawatir. Sebelum aku datang ke sini aku sudah mempersiapkan semuanya. Mumpung pertempuran belum mulai. Ini bagikan kepada pasukan pilihanmu."


Dewa Obat menyerahkan sekantong penuh kepada Jendral Yuwen Shiji.


"Jangan menganggab enteng dengan apa yang aku berikan, sebab ini adalah pill tujuh nirwana. Seharusnya dirimu pernah mendengarnya. Banyak pendekar demi pill ini akan rela menyembah diriku agar bisa mendapatkannya.


Mengenai harga jangan tanyakan seberapa banyak kantong emasmu harus terkuras demi mendapatkan satu butirnya."


Mata jendral itu sampai melotot tidak percaya dengan pemberian yang tidak disangka. Mulut Jendral Yuwen Shiji seperti terkunci masih tidak mempercayai melihat pill Tujuh Nirwana sebanyak itu berada ditangannya.


"Te..te..terima kasih yang tidak terukur banyaknya. Pemberian tuan pendekar sangatlah berharga, aku yakin ini akan mampu merubah jalannya pertempuran hari ini. Akan aku ingat budi yang telah tuan pendekar Dewa Obat tanam."


Jendral Yuwen Shiji tanpa sungkan segera menjura kepada Dewa Obat sebagai tanda terima kasih yang tak terukur. Setelah itu dia membagi-bagikan pill kepada para pasukan yang sudah berada ditingkat surga, langit dan yang terakhir tingkat shakti.


Dia memberikan pill yang jumlahnya terbatas itu kepada orang-orang yang kekuatannya dapat merubah jalannya pertempuran yang sebentar lagi akan dimulai.


"Aku juga sudah lama tidak bertempur dengan kekuatan penuh. Sepertinya hari ini aku bisa melampiaskan segala kekesalanku yang telah aku pendam." Dewa Obat mulai merentangkan kaki, tangan dan pinggangnya.


Dia mencoba melemaskan otot-otot tubuhnya. Seakan tanpa beban pertempuran yang akan dia lewati bagi dirinya seperti sebuah hiburan.


Dikejauhan pasukan musuh sudah bergerak mendekat dengan cepat. Melihat hal itu Jendral Yuwen Shiji mulai memberi aba-aba kepada para pemanah untuk bersiap melesatkan anak panahnya.


Pandangan mata jendral itu mulai menyipit saat ditangan Dewa Obat mendadak muncul sebuah Gandewa.


'Dari mana pendekar itu mendapatkan gandewa sebagus itu? Bukankah sebelumnya dia tidak membawa apapun? Pendekar itu selalu saja membuat kejutan.'


Kening Jendral Yuwen Shiji mulai mengerut. Tangannya mulai menggaruk-garuk kepala. Dia merasa ada yang salah dengan perilaku Dewa Obat. Sebab pendekar itu membawa sebuah busur panah, tetapi tidak memiliki satupun anak panah yang hendak dilesatkan.


"Apakah pendekar membutuhkan anak panah?" Jendral Yuwen Shiji lalu mengambil satu wadah penuh anak panah dan diberikan kepada Dewa Obat.


Justru Dewa Obat mulai mengernyitkan dahi melihat Jendral Yuwen Shiji memberinya anak panah.


"Apakah kau tidak pernah mendengar tentang Gandewa Wijaya milikku ini? Gandewa Wijaya yang sakti ini tidak memerlukan anak panah seperti itu untuk membunuh musuh."


Dewa Obat lalu merentangkan tali busurnya. Seketika dari tengah-tengah busur muncul seberkas sinar. Secara sekilas itu membentuk sebuah anak panah.


"Cerita ayahanda tentang pendekar dulu terasa tidak masuk akal. Tetapi sekarang mulai terbukti kebenarannya. Ternyata busur sakti dalam dongeng itu memang benar-benar ada."


Jendral Yuwen shiji hanya bisa terpana dengan apa yang dia lihat. Beberapa kali dia menggeleng-gelengkan kepala melihat sesuatu yang mengagumkan didepan matanya.


Musuh yang sudah masuk ke dalam jarak bidik disambut dengan hujan anak panah. Seperti pada setiap awal pertempuran, pemandangan menarik dari pasukan Khan Langit adalah tersibaknya jalan, ketika Jendral Ulagan memimpin seluruh bawahannya yang sekujur tubuhnya berwarna hitam seperti pimpinannya.


Para prajurit yang lain segera menepi untuk memberi jalan. Sebab Jendral Ulagan akan memimpin pasukannya menyerang musuh dengan berlari kecil.


Yel-yel khusus pasukan Jendral Ulagan juga terdengar. Biasanya setelah berlari-lari kecil dia akan melesat keatas benteng yang menjulang tinggi. Kemudian mulai mengamuk bersama pasukan yang mengikutinya.


"Janus Sahasra!"


Tetapi kali ini dia justru seperti terhipnotis menyaksikan apa yang ada didepan matanya. Diatas benteng musuh, dia melihat seorang lelaki dengan rambut sepenuhnya putih.


Bukan penampilannya yang membuat dia tertegun. Tetapi kemampuannya yang tidak dimasuk telah menyita perhatiannya. Lelaki itu mampu melesatkan ribuan anak panah.


Setiap anak panah yang melesat itu juga lain dari pada biasanya. Sekujur batang anak panah itu bercahaya melebihi penampakan kunang-kunang yang mampu bercahaya di malam hari.


Setiap anak panah yang terlepas dari busurnya akan mengganda diri sampai jumlah teramat banyak. Kemungkinan jumlahnya mencapai angka ribuan.


Bukan hanya Jendral Ulagan yang menatap penuh rasa terkejut. Pasukan gabungan yang lain juga ikut terkejut dan pastinya diliputi rasa ketakutan yang tidak dapat ditutupi.


Mereka memang pantas untuk merasakan ketakutan saat melihat serangan yang dikerahkan Dewa Obat. Sebab tidak satupun dari anak panah yang melesat itu akan meleset dari sasarannya.


Hasilnya pasukan gabungan yang bergerak hendak menyerbu dan menjebol gerbang langsung terjungkal begitu panah chakra melesat dan menembus dada mereka.


Prajurit biasa tidak ada yang mampu menahan panah chakra yang terus dilepaskan oleh Dewa Obat. Dalam sekali tarik panah yang melesat itu berhasil membantai ribuan pasukan musuh.


Hasilnya dalam waktu yang tidak berlangsung lama ribuan mayat dari pasukan gabungan langsung bertebaran di garis terdepan. Beberapa prajurit berlarian mencoba menghindar, tetapi setiap anak panahnya seperti memiliki nyawa.


Anak panah itu terus mengejar dan akhirnya tetap berhasil membantai mereka. Setiap anak panah itu menyasar jantung musuhnya, sehingga tidak akan ada yang selamat jika terkena. Ribuan pasukan gabungan bertumbangan dengan cepat setiap kali Dewa Obat melepaskan serangannya.


Jendral Ulagan meskipun merasakan kengerian menyaksikan serangan yang menyerang dirinya saat dalam pertarungan sebelumnya, tetapi dia tidak membiarkan pembantaian terus berlangsung.


Akhirnya Jendral Ulagan melihat celah kelemahan lawan, yaitu saat Dewa Obat menelan Pill Tujuh Nirwana setelah beberapa kali mengerahkan ribuan panah chakra yang menghujani pasukan gabungan.


Jendral Ulagan segera mengetahui, jika Dewa Obat telah mencapai batas kekuatannya. Pill yang dia telan memang menjadikan dirinya memiliki tenaga dalam yang tidak terbatas. Tetapi bagi Jendral Ulagan musuh tetaplah manusia biasa yang memiliki keterbatasan dan artinya dia juga bisa dibunuh.


"Apa yang sedang kau tunggu Ulagan? Apa kau menginginkan seluruh pasukan kita dibantai manusia itu?" Lelaki gemulai yang bernama Yim Lan muncul didekat Ulagan.


Di samping Yim Lan muncul Chagatai, mereka berdua adalah dua orang kepercayaan Khan Langit yang jabatannya setara dengan Ulagan. Jika Jendral Ulagan bergelar Utusan Utara, maka Jendral Chagatai dan Yim Lan adalah Utusan Selatan dan Utusan Timur.


Melihat dua utusan bergerak menyerang ke garis terdepan, Jendral Ulangan segera menyadari Khan Langit telah menganggap serangan Dewa Obat sebagai musuh yang harus segera dihabisi.


Kali ini Jendral Ulagan segera menyusul meloncat ke atas tebing menyusul dua utusan yang lebih dahulu terbang ke arah Dewa Obat. Pasukan Jendral Ulagan yang sebelumnya masih menunggu perintah pimpinannya, kini mereka juga ikut berlesatan naik ke atas benteng kota He Bei.