
Setelah terbang cukup lama, akhirnya Suro melihat sebuah kota dari kejauhan. Dia segera turun, karena dia juga tidak mengetahui dimana letak perguruan tempat Dukun Sesat dari Daha berasal. Selain itu dia juga belum pernah pergi ke Dahanapura, maka dia akan mencoba mencari tahu terlebih dahulu letak perguruan yang akan dia tuju.
"Aku lupa mengapa tidak aku tanyakan saja pada kaca benggala. Kali saja akan membuatku mudah untuk menemukannya." Suro baru teringat dengan pusaka yang belum lama dia miliki yang mampu menunjukan tempat atau apapun yang ingin dilihatnya. Dia segera mengambil pusaka itu dari balik bajunya.
"Kaca Benggala dimana letak Perguruan Racun Neraka?" Suro terlihat serius menatap pusaka yang sedang dia genggam itu.
Sesaat kemudian didalam pusaka terlihat sebuah penampakan yang membuat Suro harus menggaruk-garukkan kepalanya beberapa kali.
"Bagaimana aku bisa tau ini dimana? Bayangan di dalam cermin ini hanya memperlihatkan papan nama perguruan." Suro kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Sebenarnya pusaka ini bisa membantu atau tidak? Kalau papan nama aku juga bisa baca, tetapi letaknya dimana tidak ditunjukan. Apa pertanyaanku yang kurang pas?" Dia masih memandangi pusaka itu, berharap kaca benggala memberikan petunjuk lain.
Setelah agak lama tidak ada penampakan lain hanya memperlihatkan sebuah papan nama yang bertuliskan Perguruan Racun Neraka. Maka Suro mulai berpikir untuk mengubah kalimat pertanyaannya
Dia mencoba berkali-kali pertanyaan yang berbeda kepada pusaka yang digengamnya, setelah itu akhirnya Suro berhasil membuat kepalanya bertambah pusing.
Entah cara bertanyanya yang salah atau pusaka Kaca Benggala yang salah mengartikan pertanyaan yang dibuat Suro?
Jika dia bertanya jalan menuju perguruan itu, maka kaca benggala akan memperlihatkan bebatuan jalan didepan perguruan itu. Jika dia mengucapkan kalimat meminta petunjuk menuju Perguruan Racun Neraka, maka kaca benggala akan kembali memperlihatkan papan nama digerbang perguruan itu.
"Sebaiknya aku bertanya langsung saja kepada orang-orang yang ada di kota Dahanapura. Bertanya kepada pusaka ini hanya membuat darahku naik!" Suro kemudian menaiki Maung dan mulai memasuki kota Dahanapura.
Penampilannya yang mencolok berjalan diatas punggung seekor harimau besar telah menyita semua perhatian penduduk kota yang kebetulan ada dijalan yang dilewati Suro. Semua orang terkagum-kagum dengan besarnya harimau yang ditunggangi Suro dan reaksi berikutnya yang dirasakan para penduduk itu, tentu saja adalah ketakutan yang amat sangat, sehingga membuat mereka segera menjauh.
Dengan penampilannya seperti itu membuat setiap orang tidak berani mendekat apa lagi bersimpangan dengannya. Semua orang memilih menjauh.
Berkat Suro beberapa kereta kuda yang sedang berada dipinggir jalan, akhirnya berhasil dibawa kabur oleh kudanya sendiri. Setelah merasakan kehadiran Maung, kuda-kuda penarik kereta itu merasakan ketakutan yang luar biasa.
Sehingga meringkik keras kemudian seperti kesetanan berlari sekencang mungkin. Para kusir kereta itu tersentak kaget, kewalahan menenangkan kuda miliknya.
Tak terhitung banyaknya para kuda tunggangan berubah menjadi liar dan membuat pemiliknya terjatuh. Entah sudah berapa gerobang milik pedagang atau penduduk yang dibawa kabur oleh sapinya sendiri.
Sebuah pasar hewan didekat jalan yang dilewati Maung berakhir menjadi kacau balau, karena banyaknya hewan peliharaan yang akan dijual mendadak menggila dan berusaha kabur dari ikatannya.
Di sepanjang jalan akhirnya banyak terjadi kejar-kejaran antara pemilik dan peliharaannya sendiri yang berhasil kabur dari ikatannya.
Setiap jalan yang dilewati Suro terjadi keributan besar, karena semua hewan tunggangan maupun hewan ternak yang dibawa penduduk, termasuk pemiliknya ikut berlari mengejar atau ikut berlari karena ketakutan.
Suro masih dalam kesibukannya sendiri, terus mencoba bertanya kepada pusaka Kaca Benggala. Sehingga tidak menyadari kekacauan besar yang telah dia perbuat. Dia masih penasaran dengan tata cara meminta tolong kepada kaca benggala agar dapat membantu dirinya mencari petunjuk yang diinginkannya. Suro masih mempelototi sedari tadi pusaka pemberian Nagatatmala itu.
"Bagaimana ini tidak ada satupun dari pertanyaanku dipahami oleh kaca benggala seperti apa yang aku inginkan?"
Suro terus menatap pusaka yang dia gengam sambil membolak balikkannya. Setelah berkali-kali bertanya, tetapi tidak mendapatkan petunjuk seperti yang diinginkan. Membuat dia begitu kesal. Ingin rasanya pusaka itu dia banting. Tetapi niatan itu dia batalkan. Karena dia teringat, jika itu adalah pemberian Sang Hyang Anantaboga.
"Perasaanku saja atau memang sedari tadi di sepanjang jalan tidak ada orang yang lewat? Sebab sepanjang jalan tidak ada seorangpun yang berjalan berpapasan denganku?" Dia melihat kekanan kekiri yang ternyata memang tidak ada seorang pun. Sebab dia sekarang justru sudah sampai dipinggiran kota Dahanapura, selain itu orang-orang yang melihat penampakan harimau besar dijalan yang akan mereka lewati memilih kabur.
"Benar, memang bukan perasaanku. Ternyata memang tidak ada seorangpun yang bisa aku tanya."
Selenting aroma yang begitu menggoda membuat Suro mengendus-enduskan hidungnya secara tidak sadar.
"Aroma apa ini? Aroma ini membuat perutku langsung terasa begitu lapar. o, iya..aku baru ingat sudah berhari-hari perut ini belum diisi. Waduuh ternyata aku sedang kelaparan berat! Maung antar aku ke warung itu!"
Setelah berjalan cukup lama akhirnya Suro baru tersadar, jika perutnya perlu diisi makanan. Hal itu disadarinya ketika dirinya telah sampai didepan sebuah warung. Sebab dari dalam warung itu menyebar aroma masakan yang sangat mengundang selera. Sehingga membuat perut Suro yang lama tidak diisi langsung berontak.
Sejak menyelesaikan samadhinya yang lebih dari dua puluh hari perutnya belum diisi makanan, meski itu hanya sesuap nasi.
Entah karena pikirannya yang sedang pusing dengan pusaka yang baru saja dimilikinya atau dia tidak menyadarinya, sehingga dengan tanpa bersalah dia masuk ke dalam warung itu tanpa turun dari tunggangannya.
Dalam satu hembusan nafas saat Maung menggerung keras semua orang langsung tunggang langgang kabur dari dalam warung. Termasuk diantaranya adalah pemilik warung sendiri.
"Aku lupa Maung, jika tampangmu yang begitu tampan ini begitu menakutkan buat orang lain." Suro mengaruk-garuk kepalanya melihat semua orang didalam warung sudah bubar semua. Tinggal dia sendiri bersama Maung.
"Apa yang terjadi saat aku tadi melewati jalanan Dahanapura? Gawat, apa aku sudah membuat kekacauan besar? Aku lupa sejak tadi yang aku naiki ini adalah seekor harimau taring pedang sebesar sapi!" Suro menepuk-nepuk jidatnya berkali-kali.
Setelah beberapa kali meyakinkan bahwa dirinya tidak akan dilukai harimau tunggangannya, baru kemudian si pemilik warung berani masuk dan melayani pesanan Suro.
Tentu saja tidak serta merta pemilik warung itu mau, hal itu dikarenakan beberapa koin emas milik Suro telah berpindah tangan dalam gengamannya. Suro juga harus membayar tagihan seluruh langanannya yang telah kabur. Karena kehadirannya bersama Maung telah membuat mereka semua ketakutan setengah mati.
Tetapi dengan kondisi itu justru membuat Suro leluasa bertanya kepada pemilik warung mengenai keberadaan Perguruan Racun Neraka.
"Perguruan Racun Neraka!" Pemilik warung itu terkejut ketika tiba-tiba Suro bertanya tentang letak perguruan itu.
"Iya paman dimana persisnya letak perguruan itu, paman?"
'Maaf nakmas saya tidak berani bersinggungan dengan perguruan itu, mengatakannya saja sudah tabu nakmas. Nyawa saya bisa jadi taruhannya.' Suara pemilik warung itu begitu lirih hampir mirip orang berbisik.
'Kalau taruhannya saya tambahi dengan ini bagaimana paman?' Suro membalas perkataan pemilik warung sambil menyodorkan satu kepeng emas.
'Mohon maaf nakmas saya tidak berani.'
'Jika seperti ini bagaimana paman? Apakah paman sudi memberi tahu dimana keberadaannya?' Suro kembali berbicara sedikit berbisik sambil menyodorkan lima keping emas miliknya diatas meja.
Mulutnya terus sibuk mengunyah ayam goreng, meski matanya masih menatap reaksi dari pemilik warung. Didepannya satu baskom penuh ayam goreng telah disediakan sesuai pesanan hanya untuk dirinya. Sedangkan untuk Maung entah berapa ekor ayam yang sudah masuk ke dalam perut harimau itu.
Satu keping emas setara pendapatan bersihnya selama dua bulan, maka enam keping emas yang disodorkan Suro setara pendapatannya selama satu tahun..
"Baiklah jika nakmas memaksa. Meskipun taruhannya nyawa paman sendiri, tetapi demi menolong nakmas paman akan memberi tau.' Pemilik warung itu dengan cepat meraih enam keping emas yang ada diatas meja.
Setelah itu matanya tidak lupa untuk melirik kanan kiri, memastikan tidak seorangpun selain mereka berdua yang akan mendengar perkataannya.
Suro mendengarkan penjelasan pemilik warung sambil terus menghabiskan ayam goreng didepannya. Maung tak mau kalah dengan tuannya seluruh ayam yang disediakan untuknya telah dihabisi semua.
Setelah perutnya cukup kenyang dan informasi yang diinginkan sudah didapat, Suro kemudian keluar dari warung itu.
Suro lalu meneruskan perjalanannya mengikuti petunjuk yang diberikan pemilik warung. Sesuai petunjuk yang ada, tempat yang dituju ternyata berada dipinggir kota Daha.
Sebuah papan nama didepan gerbang terlihat dengan jelas sama seperti yang diperlihatkan kaca benggala.
"Ada urusan apa kisanak datang kemari?" Dua penjaga gerbang mendadak muncul saat Suro hendak memasuki gerbang itu. Maung kebetulan berada dibelakang beberapa puluh langkah tidak disadari oleh para penjaga.
Dua Penjaga itu segera menghadang Suro dengan dua tombak yang ada dalam gengamannya.
"Hooooargh!" Melihat tuannya dalam ancaman bahaya Maung langsung meloncat menghadang sambil mengaum dengan keras.
Melihat penampakan harimau yang begitu besar, dua penjaga itu langsung meloncat kebelakang cukup jauh. Mereka meski terkejut dan ketakutan, tetapi tetap mengacungkan tombak miliknya dengan tangan gemetar.
Namun begitu Maung menggerung dengan keras, maka dua penjaga itu langsung kabur kocar-kacir masuk kedalam perguruan tanpa menoleh lagi.
"Perguruan diserang! Perguruan diserang!" Dua penjaga itu berteriak-teriak dengan begitu kalut, sehingga membuat setiap orang yang mendengar langsung siaga menyongsong datangnya serangan.
**
Terus ditunggu dukungannya. Kalau sampai akhir minggu SB masuk 20 besar saya akan kasi bonus crazy up.