SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 269 Pulau Di Tengah Danau



Mengapa Suro sebelumnya bergegas melesat setelah Mbah Wiro selesai bercerita, sebab lelaki berambut putih dan hampir seluruh giginya ompong itu sempat menyebut nama seseorang yang dia kenal.


Dari nama itulah yang membuat Suro semakin yakin, jika ada pergerakan pengikut Dewa Kegelapan di sekitar daerah tersebut. Mbah Wiro sampai kaget dengan reaksi yang di perlihatkan Suro, setelah dirinya menyebut nama tersebut. Mata Suro melotot seperti penuh kemarahan mendengar nama itu disebutkan.


Sebab sejak pertanyaan tentang kabar penyerangan makhluk mengerikan disekitar daerah tersebut dibenarkan oleh Mbah Wiro, maka Suro dibuat begitu antusias untuk mendengarkan seluruh ceritanya.


Lelaki tua itu membenarkan adanya serangan di daerah tersebut. Namun dia tidak mengetahui makhluk apa yang telah melakukan penculikan itu. Dia kemudian bercerita.


"Jadi begini tuan pendekar, memang benar telah terjadi serangan penculikan, namun yang diculik adalah bayi-bayi. Kejadian itu tentu saja membuat seluruh masyarakat ketakutan."


"Tetapi bukan hanya desa ini saja, justru telah melanda seluruh daerah yang mengelilingi danau besar yang berada di pinggir desa ini. Dan itu sudah berlangsung sejak beberapa purnama yang lalu. Mungkin hampir tiga purnama yang lalu."


"Kejadian demi kejadian itu sebenarnya terasa sangat janggal sekali. Bahkan sampai sekarangpun tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya yang telah melakukan penculikan itu. Pelakunya sendiri tidak diketahui wujudnya seperti apa?"


"Kejadian itu telah membuat kehebohan dan memicu ketakutan yang menyelimuti seluruh wilayah yang mengelilingi danau besar itu tuan pendekar. Sebab setiap ibu yang melahirkan bayi diwilayah sekitar sini, harus menangis karena kehilangan bayinya."


"Namun yang membuat seluruh masyarakat kebingungan, adalah kapan bayi itu diambil? Bagaimana cara mengambil bayi milik mereka? Dan dibawa kemana bayi yang telah berhasil diambil itu?"


"Sebab bayi itu akan raib secara cepat tanpa dapat lagi diketahui jejaknya. Semua kebingungan entah bagaimana caranya, bahkan saat itu terjadi tidak ada satupun yang melihat pelakunya."


"Sudah puluhan bayi yang menjadi korbannya. Bahkan ada yang menyebut, jika saat ini sudah mencapai angka ratusan bayi yang telah hilang menjadi korban penculikan."


"Tidak ada yang mengetahui dibawa kemana hilangnya para bayi sebanyak itu? Namun ada peristiwa yang mungkin saja dapat menjadi petunjuk bagi tuan pendekar untuk menyelidikinya."


"Hanya saja sebelum tuan pendekar menyelidiki tempat yang akan aku sebutkan ini, sebaiknya tuan pendekar mendengar sampai selesai penjelasanku."


Menurut Mbah Wiro setelah kabar kejadian kehilangan bayi mulai merebak, para nelayan yang mencari ikan didanau, beberapa kali mendengar tangisan bayi dari pulau yang berada ditengah danau.


Pulau ditengah danau itu bagi penduduk sekitar terkenal wingit atau angker. Sehingga memang sangat jarang ada yang berani mendekati apalagi memasuki pulau tersebut.


Setelah beberapa kali banyak yang mengalami hal sama, yaitu mendengar tangisan bayi, maka beberapa orang akhirnya memberanikan diri untuk mencoba mencari tau hal tersebut.


Namun saat mereka mendekati pulau tersebut, terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara mendadak tubuh mereka langsung menggelepar-gelepar seperti ikan yang diangkat dari dalam air. Mulut mereka kemudian berbusa warna hijau. Setelah itu mereka mati hampir secara serempak.


Tubuh mereka kemudian membiru dan membusuk, meskipun orang yang mati itu belum ada satu hari. Bahkan orang-orang yang memegang tubuh mereka justru ikut mati keracunan.


Akhirnya mereka yang mati di atas perahu terpaksa dibakar atau dimusnahkan bersama perahunya. Kejadian itu sangat membekas bagi para nelayan. Sejak kejadian itu maka tidak ada satupun orang yang berani mendekati pulau tersebut.


"Karena kejadian itulah mengapa paman memiliki kecurigaan jika dalang dibalik penculikan bayi itu berada di pulau tersebut. Jika tuan pendekar ingin mengetahui siapa dibalik penculikan itu, paman sarankan untuk mendatangi pulau itu. Hanya saja tempat yang paman sebutkan itu sangatlah berbahaya."


"Apakah ada hal lain yang mungkin saja dapat membantuku menyelidiki penculikan bayi sebanyak itu, paman? Sesuatu yang mungkin saja berhubungan dengan makhluk kegelapan?"


"Sebentar tuan pendekar, mendengar istilah makhluk kegelapan, sepertinya paman pernah mendengar seseorang menyebutnya?"


Mbah Wiro kemudian mengingat kejadian hampir dua purnama yang lalu saat tak sengaja dia mendengar perbincangan beberapa orang yang sedang makan diwarungnya. Menurut penjelasan Mbah Wiro tamunya itu memakai pakaian yang memiliki gambar tengkorak berwarna merah.


"Dari mereka lah paman mendengar istilah yang tuan pendekar sebutkan barusan, yaitu makhluk kegelapan. Paman juga mendengar mereka menyebutkan nama seseorang yang membuat mereka terpaksa harus datang ke daerah ini."


"Siapa nama seseorang yang membuat mereka terpaksa harus mendatangi tempat ini , paman?"


"Jika paman tidak salah mengingat mereka menyebutkan nama? Eeeee...Tongkat iblis."


"Iya benar paman ingat sekarang, mereka menyebut nama Tongkat iblis aku yakin nama itu yang mereka sebut."


Suro sangat terkejut, seperti tersambar petir. Dia tidak mengetahui rencana apa yang sedang dikerjakan lelaki bernama Tongkat iblis didesa yang berada di pelosok ini. Tetapi Suro menyadari satu hal, jika musuhnya itu sedang membuat sebuah rencana jahat.


Suro setelah mendengar nama Tongkat iblis disebut Mbah Wiro, dia yakin jika kabar yang diterima ketua Tohjaya terbukti kebenarannya. Dia kemudian berpendapat sama dengan kecurigaan Mbah Wiro, jika Tongkat iblis sedang berada di pulau yang berada ditengah-tengah danau besar."


Suro langsung dapat memastikan, jika dalang dibalik semua kejadian yang diceritakan Mbah Wiro ada sangkut pautnya dengan seseorang yang bernama Tongkat iblis itu.


Oleh karena itu, setelah Mbah Wiro selesai bercerita, maka Suro langsung memberikan begitu saja sepuluh keping emas ke tangan lelaki tua itu. Kemudian Suro langsung melesat pergi, karena dia sudah tidak tahan untuk segera menghabisi lelaki yang bernama Tongkat iblis itu.


**


Suro segera melesat bersama Maung mengikuti petunjuk dari Mbah Wiro. Dia melesat menuju ke tengah danau yang sangat luas. Dari kejauhan Suro segera melihat sebuah pulau kecil ditengah danau.


"Ketemu!"


Untuk menyingkat waktu lalu Suro mengerahkan langkah Maya miliknya. Sekejap itu juga dia telah sampai dipinggir pulau.


"Waduuuh! Cilaka!"


Sesaat setelah dia menginjakkan kakinya, mendadak dia segera merasakan bahaya. Serta Merta Maung yang berada disampingnya disambar dan diangkat ke atas pundaknya. Sekejap kemudian dia segera melesat kembali menjauhi pulau tersebut terbang tinggi ke atas.


"Apa tadi itu? Aku sepertinya merasakan aura kegelapan yang sangat sesat berasal dari dalam hutan ditengah pulau ini."


"Selain itu sepertinya aku juga menemukan penyebab, mengapa para penduduk yang hendak menyelidiki suara tangisan bayi dari dalam pulau ini semua berakhir dengan kematian. Pasti kabut itu yang menjadi penyebab kematian para penduduk."


"Kabut itu sangat beracun sekali. Entah mengapa kabut ini terasa tidak asing bagiku?"


Saat Suro menatap dari ketinggian itulah Suro segera menyadari, ternyata pulau itu sangatlah luas, meski sebelumnya dari kejauhan Suro melihatnya hanya seperti sebuah pulau kecil.


"Buka mulutmu Maung!" Suro melemparkan dua butir Pill ke dalam mulut harimau tersebut.


Setelah tidak beberapa lama Suro kembali melesat ke bawah. Dia menuju ke pinggir pulau yang kondisi kabutnya masih sangat tipis. Beruntung keduanya segera menelan obat penawar racun yang kuat, sehingga tidak terkena efek racun, seperti nasib para penduduk yang mencoba mendekati pulau tersebut.


Suro bereaksi seperti sebelumnya, sebab dia menyadari jika racun tersebut sangat mematikan. Karena itulah dia segera menjauhkan harimau besar itu, agar tidak celaka terkena efek racunnya dan memastikannya dengan memberikan penawarnya. Setelah memberikan penawar itu maka dia yakin sahabatnya itu akan tetap aman untuk beberapa waktu kedepan.


"Tunggu disini Maung, jangan mencoba mengikutiku."


Setelah dapat memastikan harimau itu tidak mengikutinya, Suro mulai berlari ke dalam hutan yang memenuhi seluruh bagian pulau tersebut.


"Tongkat iblis! Aku tau kau sedang bersembunyi di pulau ini! Kali ini aku akan menghabisimu! Jangan bermimpi dapat kabur dariku!" Suro berteriak keras sambil tubuhnya berloncatan diantara cabang- cabang pohon yang sangat rimbun. Dia sengaja tidak langsung menuju ketengah pulau, karena hendak menelusuri seluruh bagian pulau tersebut.


Hutan yang memenuhi pulau itu sangatlah rapat, karena memang jarang dijamah manusia. Suro terus berusaha masuk lebih dalam menembus pepohonan. Dia sebenarnya penasaran bagaimana kabut beracun yang berada ditengah pulau bisa begitu pekat. Bahkan membuat kabut itu menyebar ke seluruh pulau dan udara yang berada diatas perairan danau yang berdekatan dengan pulau tersebut.


Saat dia bergerak cepat, mendadak seberkas sinar menghajar ke arah Suro.


Bldaaar!