SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 48 Wedar Kaweruh Ilmu Pedang



"Nakmas Suro saya tunggu kedatangannya dikediaman."


"Tentu saja tetua, sehabis dari sini nanti saya akan pulang untuk mengambil obat-obatan terlebih dahulu. Baru setelah itu Suro akan menyusul ke kediaman tetua. Berhubung sekarang sudah sore mungkin nanti malam Suro baru bisa sampai dikediaman tetua. Apakah tetua tidak keberatan dengan hal itu?" Suro membalas perkataan Dewi Anggini dengan menjura sambil tetap memperlihatkan barisan giginya yang miji ketimun(biji ketimun).


"Selama tidak berpengaruh dengan luka muridku, aku rasa tidak keberatan jika memang nakmas baru bisa datang sedikit malam!"


"Baiklah tetua Suro akan menyusul tetua secepat mungkin. Mengenai luka yang diderita adinda ee..??


"Mahadewi!" Mahadewi menjawab dengan sedikit malu sambil menundukkan kepala. Sepertinya hilang sudah kegarangan yang dia perlihatkan sebelumnya. Mukanya bersemu merah terlihat jelas dikulitnya yang begitu putih bersih.


"Iya adinda Mahadewi selama adinda tidak mengerahkan tenaga dalam sampai lukanya selesai aku sembuhkan pasti tidak akan menjadi masalah. Jadi sebaiknya jangan sampai adinda Mahadewi mengerahkan tenaga dalam terlebih dahulu."


"Apalagi mengerahkan tenaga dalam dengan jor-joran untuk menyerang orang lain itu sangat berbahaya untuk keselamatan adinda Mahadewi sendiri!" Kembali Suro menjura kearah Dewi Anggini. Walaupun perkataan Suro pelan, tetapi yang terasa pada Mahadewi seperti hantaman godam.


"Baik kakang, maaf sebelumnya sudah menyerang kakang Suro dengan membabi buta." Mahadewi semakin tertunduk malu sekali membuat wajahnya semakin bertambah merah.


Tetua Dewi Anggini kemudian pamit untuk kembali kekediamannya bersama muridnya Mahadewi karena urusannya dengan Dewa Pedang telah selesai. Tidak lupa dia mengingatkan Suro sekali lagi untuk segera datang menyusul setelah urusannya dengan Dewa pedang selesai. Mahadewi ikut berpamitan kepada Suro dengan anggukannya lebih dalam dibarengi satu senyum ke arahnya.


'Sukurlah, akhirnya dara itu pergi juga.' Suro mengangguk pelan membalas senyuman dara itu.


Satu senyuman biasa entah mengapa terasa berbeda. Seperti bukan lagi jelmaan Batari Durga dan maleh rupo(berubah wajahnya) menjadi putri kedaton(keraton). Dengan senyuman itu membuat Suro lupa, jika dara itu adalah wujud yang sama dengan sosok sebelumnya, yaitu makhluk yang menginginkan tubuhnya terpotong tipis-tipis.


Setiap tetua cabang memiliki kediaman sendiri di Perguruan pusat meskipun tidak setiap saat ditinggali. Pembangunan yang diprakarsai tiga kerajaan telah selesai dilakukan. Mereka telah membangun kembali seluruh bagian perguruan. Kalaupun ada pengerjaan hanya bagian-bagian kecil saja. Termasuk seluruh kediaman yang diperuntukan untuk semua tetua cabang telah selesai dibangun.


Mereka para tetua cabang sangatlah jarang berada di perguruan pusat. Hal itu juga yang menyebabkan kediaman para tetua cabang jarang ditinggali. Biasanya hanya para pengurus rumah yang terlihat di kediaman para tetua itu.


**


Setelah mereka berdua pergi Suro kemudian mengutarakan niatnya.


"Paman guru aku ingin meminta tolong untuk bersedia wedar kaweruh (menjabarkan pengetahuan) mengenai pengetahuan dan pemahaman ilmu pedang."


"Memang ada apa nakmas tiba-tiba datang meminta menjabarkan pengetahuan tentang ilmu pedang? Selain itu nakmas sudah beberapa hari ini tidak berkunjung? Apa begitu serius latihannya sampai tidak sempat datang kesini? Aku dengar juga nakmas memborong begitu banyak bilah pedang. Apakah itu benar nakmas?"


"Benar paman guru mengenai kabar itu."


Suro kemudian menceritakan tentang kegiatan barunya yang ingin menciptakan jurus seratus pedang terbang. Dia juga ingin mendapatkan pencerahan tentang pemahaman pedang, karena dalam prosesnya justru mengalami kebuntuan.


"Karena itulah semoga paman guru mau membantu Suro dengan memberikan wedar kaweruh tentang ilmu pedang."


"Berharap dengan bekal wedar kaweruh(menjabarkan pengetahuan) yang paman berikan bisa membantu Suro keluar dari kebuntuan latihan."


"Tidak masalah aku akan wedar kaweruh jika memang itu bisa membantu nakmas."


"Tetapi mengenai seberapa tinggi kemajuan ilmu pedang yang nakmas dapatkan dari wedar kaweruhku tergantung dari seberapa sempurna pemahaman dan tingkat spiritual yang nakmas miliki."


"Tidak mengapa paman guru. Sebisa mungkin Suro akan berusaha menyerap sebanyak mungkin dari wedar kaweruh yang akan paman guru jabarkan. Kalaupun tidak bisa membuahkan hasil kemajuan dengan pesat, Saya rasa kedepannya tetap akan membantu mempercepat kemajuan dalam memahami ilmu pedang."


"Kalau memang seperti itu nakmas baiklah aku akan mulai menjelaskan sampai tahap tertinggi dalam ilmu pedang.


"Tehnik pedang memiliki beberapa tahap pertama tahap dasar, selanjutnya tahap hawa pedang, tahap hati pedang, tahap raga pedang, tahap jiwa pedang, tahap alam pedang, tahap bersatu dengan pedang, tahap pedang langit, tahap pedang surga, tahap pedang Dewa."


"Pemahaman yang akan nakmas raih itu bergantung pada diri nakmas sendiri."


"Pemahaman pedang berhubungan erat dengan kepandaian akal, pemahaman spiritual dan tingkat kekuatan spiritual yang nakmas miliki."


"Karena untuk mencapai tahap pedang yang lebih tinggi tidak cukup hanya dengan kepandaian berpikir dan berlogika. Ada faktor lain yang ikut menentukan tingkat kemajuan ilmu pedang seseorang. Yaitu pemahaman dan tingkat kekuatan spiritual. Faktor itu yang menjadi salah satu penentu kemajuan praktek ilmu pedang."


"Itulah mengapa banyak orang yang harus bersemedi dalam waktu yang sangat panjang hanya untuk memahami sesuatu ilmu atau mencari ilham dari Para Dewata. Karena dari jiwa yang bersih akan sanggub memahami sesuatu ilmu dengan lebih mudah."


"Tetapi bagi golongan hitam justru tidak diperlukan pembersihan jiwa terlebih dahulu. Karena mereka untuk mencapai tingkat tertinggi justru bersumber dari sesuatu yang berlawanan arah."


"Dalam ilmu pedang aliran putih tingkat tertinggi yang dapat dicapai disebut tahap Dewa pedang. Berbeda dengan ilmu pedang golongan hitam yang bersumber dari jalan yang berlawanan dari golongan putih. Pada tahap tertinggi mereka menyebutnya tahap pedang iblis."


"Aku akan memulai menjelaskan dari tehnik yang nakmas sudah kuasai untuk mempersingkat waktu."


"Dalam tehnik pedang yang akan aku jelaskan ini dalam menghadapi lawan seorang ahli pedang harus bereaksi lebih cepat terhadap hal-hal yang bergerak.'"


"Kebanyakan para ahli pedang dan ahli beladiri lain juga mengunakan tehnik ini.


Mereka sering mengandalkan penglihatan pinggiran mata. Karena jika kita hanya mengandalkan manik mata( pupil )untuk fokus ke pedang yang dipegang lawan, justru itu hanya akan membuat dirinya mengalami kekalahan fatal."


"Seorang pendekar pedang tidak akan memfokuskan pandangannya hanya pada satu bagian lawan. Dia akan memperluas sudut pandangnya. Dengan begitu akan membuatnya memiliki respon yang cepat dibandingkan dengan hanya melihat satu bagian tubuh saja."


"Dengan kecepatan respon itu akan membuatnya bisa memprediksi gerakan lawan atau membaca gerakan selanjutnya. Sehingga pada langkah berikutnya kemenangan sudah ada ditangan."


"Itu adalah salah satu tehnik pedang satu tebasan. Salah satu tehnik pedang yang pastinya kamu sudah membacanya di dalam tehnik dasar Dewa Pedang."


"Sebenarnya tehnik ini bagi sebagian orang yang mendalami seni berpedang memerlukan waktu seumur hidupnya untuk memahami dan membuatnya tertanam didalam jiwa mereka."


"Untuk membuat mereka dalam kondisi seperti itu dibutuhkan latihan dan ketabahan mental yang luarbiasa. Sehingga memungkinkan tubuh mereka akan mampu merespons gerakan lawan tanpa perlu lagi menebak-nebak arah gerakan berikutnya."


"Tetapi seperti yang telah kamu perlihatkan pada pertarungan dengan murid Tetua Dewi tangan seribu kamu sudah mampu melakukan itu. Walau dengan kondisi nakmas sudah menghafal dan memahami jurus itu terlebih dahulu. Tetapi itu juga mengambarkan kemampuan nakmas sudah sampai pada tahap tersebut."


"Pada tahap tersebut sudah disebut telah berada pada kemampuan tahap hati pedang."


"Sebenarnya itu sudah termasuk tingkat tinggi dalam ilmu pedang. Karena setau paman rata-rata para murid utama hanya sampai pada tahap hawa pedang. itupun karena bantuan penguasaan jurus pamungkas kitab Dewa pedang."


"Walaupun nakmas sudah sampai tingkat itu tetapi sesungguhnya pemahaman nakmas pada tingkat itu belumlah sempurna. Tetapi tidak mengapa dengan memperbanyak latihan aku rasa nakmas bisa menyempurnakan tahap tersebut."


"Setelah mampu melakukan dengan sempurna aku yakin nakmas bisa dengan cepat menuju tahap berikutnya yaitu tahap raga pedang."


"Pada tahap itu kemampuan nakmas dapat menjadikan anggota tubuh nakmas menjadi bagian dari pedang sendiri."


"Bahkan hanya dengan mengunakan telapak tangan nakmas mampu memotong pohon."


Suro yang mendengar bahwa pemahamannya masih tergolongan dalam tingkat hati pedang menjadi bingung.


"Bukankah aku sudah bisa menciptakan jurus sejuta pedang paman pendekar. Bahkan paman guru tidak bisa melakukannya."


"Seperti yang sebelumnya paman jelaskan selain tingkat pemahaman yang berhubungan dengan kecerdasan berlogika dan berpikir juga diperlukan tingkat kekuatan dan pemahaman spiritual untuk mencapai tingkatan ilmu pedang yang lebih tinggi."


"Aku akui tingkat pemahaman kecerdasan logika nakmas sungguh luarbiasa. Sehingga hanya dengan kecerdasan logika nakmas itu sudah bisa memutar balikan pemahaman jurus seribu pedang menyatu. Bahkan aku dan Eyang Sindurogo sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu."


"Seperti yang aku katakan tingkatan yang nakmas capai sekarang walau masih masuk tingkat hati pedang tetapi bagi kebanyakan orang lain bahkan membutuhkan waktu seumur hidupnya. Itu bukan pencapaian yang rendah nakmas."


"Tetapi kemampuan anakmas sendiri sebenarnya sudah tidak bisa masuk dalam tingkat hati pedang. Hal itu dikarenakan dengan ilmu tapak Dewa Matahari. Kemampuan nakmas memunculkan wujud sinar adalah salah satu bentuk tingkat kemampuan yang masuk dalam tahap pedang langit."


"Tingkatan yang jauh dari tahap hati pedang. Jadi aku sebut saja kemampuan anakmas adalah salah satu bentuk penyimpangan dalam tingkatan-tingkatan ilmu pedang yang telah ditetapkan sejak dahulu."