SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 143 Kemampuan Kaca Benggala



"Bagaimana cara menggunakannya?"


Suro membolak-balik pusaka kaca benggala ditangannya.


"Apa aku harus mengunakan mantra tertentu?" Dia menatap ke cermin ditangannya, yang terlihat hanya bayangannya sendiri.


"Sekarang dimana Eyang Sindurogo berada? Terakhir aku melihatnya saat di Wilmana wahana terbang dibalik awan hitam waktu itu. Setelah itu menurut Hyang Kavacha diriku yang dikendalikan Lodra sempat bertarung dengannya." Suro berganti menatap Maung yang berada disampingnya. Dia menghela nafas panjang untuk mencoba mengurangi beban pikirannya.


"Tetapi sampai hari ini kabar tentang sisa pasukan Medusa yang berjumlah ribuan juga ikut raib. Sebenarnya apa yang terjadi? Mustahil jika mereka dibantai semua tanpa meninggalkan mayat satu pun. Apakah mungkin mereka dibawa ke alam lain? Bukankah tadi Sang Hyang Anantaboga menyebut keberadaan eyang guru tak lagi ada di alam ini."


Suro kemudian berdiri menatap sekitar hutan. Pada saat itulah tanpa sengaja Suro yang akan memasukan kaca benggala ke dalam bajunya, melihat sebuah penampakan yang sangat tidak asing olehnya. Sebab sebuah sosok yang berada didalam bayangan cermin itu adalah Eyang Sindurogo yang sedang dia pikirkan.


"Astaga ini eyang guru!" Suro terkejut tidak menyadari entah sejak kapan bayangan gurunya itu ada didalam cermin itu.


"Sebentar, tadi aku mengucapkan apa mendadak ada penampakan eyang guru didalam cermin ini?" Suro menatap cermin itu dimana bayangan gurunya terlihat sedang duduk diatas singgasana yang begitu megah. Dua orang yang ada didepannya juga sangat dikenalnya yaitu Batara Sarawita dan Hyang Antaga. Beberapa orang dibelakangnya tidak dikenal juga terlihat sedang duduk didekat singgasana yang diduduki gurunya.


Penampilan gurunya itu sangat beda sekali tidak seperti yang Suro lihat. Sebab sebuah jubah besar yang sangat mewah dia gunakan. Rambut panjangnya juga terurai tidak seperti biasanya digelung.


Hal lain yang terasa janggal adalah sosok yang berada disekeliling mereka. Begitu banyak sosok makhluk yang tidak dipernah dia lihat sebelumnya. Makhluk itu hampir dua kali lipat tinggi manusia normal. Berkulit seluruhnya hitam, bersayap seperti kelelawar, memiliki ekor dan juga tanduk.


"Makhluk apa yang ada disekitar mereka mengapa bentuknya begitu mengerikan. Sedikit mirip siluman Wewe gombel." Suro mencoba menerka-nerka jenis makhluk yang terlihat mengerikan.


"Mereka sepertinya berada didalam wahana terbang yang waktu itu."


"Mengagumkan sekali pusaka ini, cukup dengan mengucapkan nama orang yang ingin dilihat, langsung muncul dicermin ini." Suro mengangguk-angguk menatap kedalam cermin yang berada diatas telapak tangannya.


"Aku paham sekarang cara menggunakan pusaka ini. Mungkin sebaiknya aku kembali saja secepatnya ke Kademangan Cangkring. Aku rasa paman guru dan paman Maung sebentar lagi akan menyelesaikan latihannya."


Setelah Suro membawa serta kepeng emas didalam padepokan gurunya, maka kali ini dia benar-benar ingin menghilangkan jejak keberadaan padepokan gurunya itu dari siapapun.


Melalui ilmu yang diturunkan Sang Hyang Anantaboga dinding-dinding tanah bermunculan dan menutupi seluruh padepokan itu. Sehingga sekarang ditempat itu terbentuk sebuah bukit kecil.


"Aku yakin tidak akan mudah menemukan padepokan eyang guru, kecuali dia juga punya tehnik bumi tingkat tinggi sepertiku." Suro menatap bukit kecil didepan matanya sambil menepukkan kedua telapak tangannya, setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Maung tugasmu sudah lunas untuk menjaga padepokan eyang guru. Sekarang kamu akan ikut denganku atau ingin kembali bersama kaummu? Aku tidak akan memaksakan kehendak, semua kembali kepada keputusanmu!" Suro menatap Maung yang menjawab pertanyaan Suro dengan menyeringai lebar, memperlihatkan taringnya yang mengerikan.


"Baik jika itu keinginanmu, aku mengerti. Tetapi sekali lagi aku tidak memaksamu, jadi apa sudah yakin dengan keputusanmu itu Maung?" Seakan mengerti jawaban yang dikatakan Maung dia terlihat mengangguk-angggukan kepala. Entah apa yang diucapkan Maung kepada Suro. Sebab yang terdengar hanya suara gerungan keras.


Suro lalu melangkah mendekati Maung. Lalu suatu hal yang mengagumkan dia lakukan dengan cepat. Tubuh Maung yang begitu besar diangkat dengan begitu mudah oleh Suro. Terasa sangat lucu, sebab harimau besar itu di taruh dikedua pundak Suro seakan anak kambing.


Belum lama dia terbang dirinya menyaksikan kepulan asap yang tidak biasa. Dia bisa memastikan jika daerah itu berada di perkampungan sekitar pergunungan Arjuno, dimana biasanya bersama gurunya memberikan pengobatan secara cuma-cuma.


Asap mengepul begitu hebat dan bukan satu titik saja tapi ada beberapa titik. Suro segera menyadari ada yang salah dengan apa yang dia lihat itu.


"Apa yang terjadi dengan perkampungan itu?" Suro merasa curiga dia memutuskan meluncur turun ke bawah untuk memastikan apa yang terjadi. Dia sengaja mendarat agak jauh dari perkampungan, agar tidak terlalu mencolok jika dilihat para penduduk.


Mereka berlari menuju perkampungan itu. Kecepatan Maung dalam berlari sungguh luar biasa, meski Suro telah menggunakan langkah kilat, harimau itu masih tetap bisa menyamainya. Walaupun memang Suro tidak berlari dengan kecepatan maksimal.


Satu rumah dilewati dalam keadaan terbakar. Terlihat didepan rumah tergeletak beberapa mayat dengan tubuh bermandikan darah.


"Sepertinya kampung ini sedang diserang perampok. Jika siluman atau hewan buas tidak mungkin setiap rumah dibakar seperti itu!" Melihat beberapa rumah yang dilewati dalam kondisi terbakar dan juga jumlah mayat yang tergeletak semakin banyak membuat Suro semakin mempercepat langkah kakinya.


**


Ditengah halaman rumah Kamituwo atau kepala dusun, para penduduk telah berkumpul disana. Para wanita dan anak-anak dikumpulkan terpisah dengan para pria. Diantara mereka banyak orang-orang dengan tampang kasar, terlihat menyebar mengelilingi para penduduk.


Pakaian yang mereka gunakan juga tidak selayaknya para penduduk. Beberapa tengkorak monyet dan juga cula **** hutan bergelantungan dilehernya. Ditangan mereka tergengam golok yang sebagian sudah basah dengan darah. Jumlah mereka ada lebih dari seratus orang.


"Sudah aku katakan kepada kalian semua jika dalam satu purnama kalian tidak mampu memberikan upeti yang telah kita sepakati sebelumnya, maka akan aku bakar rumah-rumah kalian!" Seorang lelaki yang kemungkinan adalah pemimpin kelompok itu memaki dengan sumpah serampah ke arah lelaki yang tertunduk lesu didepannya.


"Ampuni kami den, bukannya kami tidak mau membayarkan upeti yang telah disepakati, tetapi kami ini hanyalah orang-orang miskin yang sekedar untuk makan saja kami kesulitan. Dari mana kami akan mendapatkan sepuluh kepeng emas?"


Brraakk!


Para wanita dan anak-anak menjerit keras, karena sebuah tendangan cukup kuat melemparkan tubuh lelaki yang baru saja berbicara didepannya. Kepala yang ditendang itu langsung pecah dan tak bergerak, mati seketika.


Tendangan lelaki itu cukup kuat karena memang dilambari tenaga dalam tingkat tinggi.


"Kamituwo(pemimpin kampung) kalian tidak berguna, seperti kalian semua!" Mata lelaki yang baru saja menendang Ki kamituwo melotot seperti mata seekor harimau menyapu keseluruh penduduk yang sebagian sudah diikat. Terutama para gadis-gadis yang dikumpulkan ditempat terpisah dari yang lain.


Para penduduk semakin menggigil ketakutan melihat kekuatan lelaki kekar dengan tampang menyeramkan itu.


"Aku ini adalah murid dari dukun sakti dari Daha. Jangan sekali pun membuatku marah. Para gadis kalian akan kami bawa sebagai kompensasi kesalahan kalian menolak tunduk dalam perlindungan kami!"


"Purnama kedepan jika kalian tidak mampu memberikan upeti yang aku tentukan jangan tanyakan padaku apa yang akan aku lakukan kepada kalian semua! Dan jangan berpikir kalian mencoba untuk melarikan diri! Aku akan membantai kalian semua jika mencoba melakukan itu!"