SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Tunggu Aku Kembali



"Aku telah kembali," ucap Suro Bledek yang mendadak muncul di hadapan Seluruh pendekar yang akan berencana melakukan penyerangan besar-besaran menuju puncak Gunung Mahameru.


Di tempat pertemuan itu ada juga gurunya Eyang Sindurogo yang memimpin pertemuan para pendekar dari seluruh Jawadwipa, Swarnabhumi, Kerajaan Champa, Funan dan juga dua pasukan besar dari Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Kalingga.


Mereka sebelumnya sempat mendengar kabar tentang kematian yang dialami Suro Bledek, tetapi setelah Eyang Sindurogo menjelaskan mereka menjadi tenang.


Mereka berkumpul ditempat di wilayah Medang Mataram sejak beberapa purnama yang lalu.


"Sukurlah anakku, engkau telah kembali," ucap Eyang Sindurogo langsung memeluknya dengan erat.


Dengan memeluk Eyang Sindurogo segera menyadari, jika kekuatan muridnya itu bukanlah kekuatan manusia lagi.


Itu setara dengan kekuatan dewa. Tentu saja kekuatan empat dewa perwakilan catur bhuta atau juga empat anasir pembentuk alam telah menyatu dengannya.


"Engkau semakin kuat saja, angger anakku," ucap Eyang Sindurogo tidak mampu menutupi keharuannya.


"Benar Eyang guru, ini demi menyelesaikan tugas yang aku emban sejak aku diutus turun ke bumi ini," ucap Suro Bledek dengan senyumnya yang menawan.


Senyumnya itu terasa menenangkan tetapi dipenuhi wibawa dan kekuatan yang mampu memaksa seluruh manusia yang hadir untuk menundukkan kepala.


Bahkan Luhcita tidak berani mendekat karena pesonanya kini dipenuhi wibawa yang seakan bukan milik manusia lagi.


"Berarti dirimu telah setuju dan ikut mendukung kami mencoba menggagalkan rencana Dewa Kegelapan hendak menuju Kahayangan Jongring Salaka?" tanya Eyang Sindurogo sambil berharap cemas.


Aura yang dimiliki muridnya itu membuat dia sedikit kikuk, bahkan Dewa Pedang, Dewa Rencong pun kali ini berubah penuh hormat.


Para petinggi-petinggi kerajaan yang hadir kali ini pun berdecak kagum dengan kehebatan wibawa dan juga aura dewa yang melingkupi tubuh Suro Bledek.


"Jangan sekarang eyang, aku harus menghajar dan memastikan Prabu Godakumara kali ini lenyap dari alam raya. Tunggu aku kembali secepatnya."


Tanpa menunggu jawaban, tubuh Suro Bledek menghilang dari pandangan semua orang.


Apa yang mereka lihat barusan seperti terasa tidak percaya.


Dewa Pedang, Dewa Rencong dan juga Dewa Obat sekalipun baru berani menghela nafas panjang setelah kepergian Suro Bledek. Tekanan aura kekuatan yang menebar milik Suro membuat lalat pun tidak berani terbang.


"Apakah Eyang Sindurogo yakin yang datang barusan adalah benar nakmas Suro Bledek?" tanya Dewa Pedang dengan ragu.


Eyang Sindurogo kali ini senyumnya terus mengembang setelah kedatangan Suro Bledek murid satu-satunya yang dia miliki.


"Tentu saja, itu dia. Siapa lagi yang memiliki wajah teramat tampan seperti Raden Arjuna?"


**


Suro Bledek kini telah sampai di suatu daerah yang berada ditengah hutan di negeri yang sangat jauh. Itu adalah bekas negeri para raksasa di Ngalengka.


"Gagak setan mengapa dirimu tidak muncul? Apa yang kau tunggu," tanya Suro Bledek menunggu kedatangan Geho Sama yang lambat.


"Ampun, tuanku. Aku hanya masih tidak percaya seakan masih dialam mimpi. Aku tidak menyangka diriku masih hidup," ungkapan penuh gembira terlihat jelas di wajah lelaki berwajah putih bersih dengan sebuah mahkota diatas kepalanya.


"Dapat darimana mahkota itu Geho sama?" tanya Suro Bledek sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Engkau hendak bertarung atau hendak menjadi anggota sirkus?" Imbuh Suro Bledek sambil mengerutkan dahi.


Geho Sama menghela nafas panjang, "setelah merasakan mati, aku baru sadar selama hidup aku tidak pernah hidup seperti seorang raja sesungguhnya yang hidupnya penuh kemewahan. Jadi aku ingin merasakan sebelum aku kembali mati," ucapnya.


"Memang siapa yang akan membunuhmu selagi aku ada di sampingmu?" tanya Suro sambil menautkan alisnya.


"Tentu saja itu dirimu gara-gara dirimu aku jadi takut mati, apa kau tau aku ini belum menikah!" hardiknya dengan kesal.


"Hahahaha! Setan gendeng. Sudahlah terserah kau saja hendak berdandan seperti ondel-ondel atau topeng monyet terserah kau saja. Kita kali ini akan menghabisi penguasa wilayah ini," ucap Suro Bledek menegaskan.


"Lalu apa urusannya denganku, bukankah itu urusanmu yang hendak menyelamatkan jodohmu?"


Suro Bledek mengangguk-anggukkan kepala, "jadi begitu, sekarang setelah aku hidupkan kau justru berani melawanku?"


Wajah Geho Sama seketika berubah cemas dan lalu mimiknya dibuat selucu-lucunya seperti monyet kena supit.


"Berani membantah, selesai urusan," balas Suro Bledek sambil mengalihkan pandangannya ke arah hutan lebat yang berada di depannya.


"Kamu pantau, dan teliti keadaan seluruh negeri para raksasa ini. Temukan dimana keberadaan Mahadewi."


"Baik, kakang prabu akan hamba laksanakan," ucap Geho Sama sambil menjura.


"Siapa suruh engkau menghormat dan berbicara aku selayaknya raja?"


"Lalu bagaimana?" tanya Geho Sama serba salah.


"Sudahlah sana pergi," balas Suro sambil mengaruk-garuk kepalanya kebingungan sendiri.


Tidak beberapa lama kemudian Geho Sama telah muncul. Dia lalu mengabarkan dan memberikan rincian sedetail mungkin.


"Jika tau keberadaan Mahadewi, mengapa engkau tidak membawanya saja?" tanya Suro heran.


"Sudahlah kau lihat sendiri sajalah nanti. Kau akan tau mengapa aku tidak membawanya dengan menggunakan ilmuku," ucap Geho sama.


Suro lalu menghilang dan segera muncul dihadapan Prabu Goda Kumara.


"Astaga! Apakah aku tidak salah melihat? Serbu habisi mereka!"


Di tengah kebingungannya Prabu Goda Kumara segera memberi perintah kepada para pasukannya yang sesnag berkumpul di depan Balairung kebesarannya.


"Geho Sama itu tugasmu, buat mereka agar tidak mengganggu pertarungan ku dengan prabu sialan ini!"


Geho Sama hanya menganggukkan kepala dan langsung menghilang dari hadapan. Setelah itu dengan kecepatan mengagumkan dia menyerang seluruh pasukan bersama sembilan tubuh kembarannya yang dia panggil.


"Kini kau akan menerima apa yang telah kau lakukan," ucap Suro langsung melesat menghajar Prabu Goda Kumara.


Dentuman keras menyertai setiap serangan mereka. Istana megah itu hancur luluh lantah tidak berbekas.


Amukan Geho Sama tidak kalah mengerikan pasukan Prabu Godakumara kini tidak berkutik dihadapan Geho Sama.


Setelah Suro mengalami peningkatan sampai kekuatan empat dewa, maka mustika siluman miliknya yang berada didalam tubuh Suro pun ikut menyerap kekuatan dewa yang memancar dengan kuat.


"Sialan, bagaimana engkau berubah menjadi sekuat ini?" Prabu Godakumara tidak mempercayai apa yang dia rasakan.


Makhluk itu seperti menghadapi seluruh pasukan dewa sekaligus saat menerima pukulan dari Suro.


Tubuhnya yang telah berubah menjadi besar dengan sepuluh kepalanya dan tangan sepuluh pasang beserta senjata dewa disetiap telapak tangannya tetap tidak mampu menghentikan kekuatan Suro.


"Akan aku perlihatkan kekuatan dewa yang sesungguhnya," ucap Suro sambil memanggil salah satu senjata dewa yang muncul di telapak tangannya bernama Chakra Sudarsana.


"Penggal seluruh kepalanya!"


Senjata yang awalnya sebesar cincin itu berputar cepat dan mulai membesar dengan sendirinya kini melebihi lebarnya lapangan bola.


Cras! Cras! Cras!


Segala rupa anggota tubuh Prabu Godakumara hancur lebur menjadi potongan tidak terhitung jumlahnya terkena senjata itu.


"Dengan serangan seperti ini kau pikir mampu mengalahkanku? Kau terlalu naif anak manusia!" teriak salah satu kepala yang menggelinding di tanah dengan raut penuh kesal.


"Aku belum selesai Bambang!" balas Suro kembali menghancurkan tubuh dan kepala itu dengan senjata Brahmastra milik Batara Brahma yang meledakkan tempat itu rata dengan tanah berikut seluruh tentara dan istananya.


"Bocah gendeng sialan, mengapa kau tidak memberitahu dahulu kalau kau hendak melepaskan senjata dewa yang teramat kuat itu?" teriak kesal Geho Sama.


"Kalau aku memberitahukan apa rencanaku musuh keburu kabur dasar siluman nying-nying!"


***


jika ada yang berkenan silahkan mampir dinov*lme baca karya ketigaku LEGENDA TITISAN DEWA (baca versi remake sura dengan rasa yang berbeda)