SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 167 Perguruan Tengkorak Merah part 9



Atap balairung telah hancur tebakar. Reruntuhan atap menimpa semua orang yang ada didalamnya. Kekacauan segera terjadi didalam balairung. Sebab mereka semua berebut keluar untuk menyelamatkan diri. Bahkan sebagian tetua menghancurkan dinding agar bisa segera keluar.


Pedang iblis bersama dua pengawalnya Wanawasa dan Kenana tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Mereka bertiga seakan sedang menunggu sesuatu. Keputusan itu membuat wakil ketua Dharmatungga dan beberapa tetua akhirnya terpaksa membatalkan niatnya untuk ikut keluar dari dalam balairung, seperti para tetua lainnya.


Ternyata yang ditunggu Pedang iblis telah datang. Sesosok pemuda turun dari atas atap yang hancur melesat cepat bersama pedang yang digengamannya.


Dia mendarat sejauh tiga tombak didepan Pedang iblis. Bersama turunnya sosok itu, api hitam yang telah menghancurkan atap secara mengesankan bergerak mengikutinya. Kini api itu berputar mengelilingi tubuh pemuda itu seakan hendak melindunginya.


Wanawasa dan Kanan melihat kedatangan pemuda tersebut langsung mendekat ke arah Pedang iblis.


"Orang inilah yang waktu itu kami ceritakan kanjeng junjungan. Pemuda inilah yang mengambil bilah Pedang Pembunuh iblis milik kanjeng junjungan."


Mendengar perkataan Wanawasa dan Kanana, Pedang iblis langsung menajamkan matanya menatap bilah pedang yang dipegang pemuda yang barusan datang. Dia terlihat mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap pemuda itu yang tak lain adalah Suro.


Jika dia tidak dibisiki perihal bilah pedang yang dipegang pemuda itu, tentu dia tidak akan mengetahuinya. Meskipun bilah pedangnya berubah tidak lagi hitam legam, tetapi ganggang pedangnya tetap lah sama.


Dari ganggangnya lah Pedang iblis bisa mengenali dan cukup yakin jika itu adalah pedang yang sama.


"Luar biasa aku baru menyadari sekarang. Ternyata waktu itu yang menolong Dewa pedang dengan jurus tapak dewa matahari adalah dirimu."


"Benar paman itu adalah diriku!" Suro nenatap lelaki yang barusan berbicara. Dia segera mengingat lelaki yang tidak memiliki lengan tangan kanannya itu. Dia mengenalnya sebagai seseorang yang telah dikalahkan Dewa Pedang sewaktu oeoerangan di Banyu Kuning. Dari dia lah bilah pedang yang sekarang dia genggam berasal.


"Aku tidak menyangka, jika api hitam dapat dikendalikan sedemikan mengagumkan! Dengan kedatanganmu disini berarti empat pengikutku yang hendak menghentikanmu telah kau habisi?"


"Dengan itu berarti lima pengikutku telah berakhir ditanganmu bocah! Wanadri, Jenggala, Baga, Wulusan, Welahan aku sendiri yang akan membalaskan kematian kalian!" Pedang iblis menatap ke arah Suro dengan begitu tajam.


Tekanan kekuatan kegelapan dan juga nafsu membunuh miliknya menerjang keluar bersama kemarahannya yang mulai terbakar. Hawa pembunuh yang begitu besar menekan ke segala penjuru arah. Dengan melihat sebegitu besarnya hawa pembunuh itu, entah sudah berapa ribu nyawa manusia melayang ditangannya.


Tekanan dan besarnya hawa pembunuh yang dikerahkan Pedang iblis begitu mengerikan, bahkan membuat para tetua Tengkorak Merah berkeringat dingin. Mereka segera mengerahkan tenaga dalam untuk menahan kuatnya tekanan yang terasa.


'Jadi orang ini yang begitu kau benci kanjeng Lodra? Mengapa aku merasa dirimu begitu membencinya seakan bertumpuk-tumpuk sampai menggunung?" Suro bertanya ke arah Lodra dengan penuh selidik. Sebab karena orang inilah tubuhnya diseret Lodra, karena jiwa pedang itu begitu murka setelah merasakan aura Pedang iblis dan hendak menghabisinya secepat mungkin. Karena pemilik aura kekuatan itu yang paling dia benci.


"Percayalah bocah, jangan biarkan manusia ini hidup lebih lama lagi. Sebab kemanapun kaki manusia ini melangkah, maka darah dari nyawa yang tidak bersalah akan tumpah mengiringi setiap langkahnya. Jumlah manusia yang telah dia bantai sudah tidak terhitung jumlahnya.'


'Selain itu, sumber kekuatannya berasal dari kekuatan iblis kalipurusha, membuat sifatnya semakin hari bertambah semakin kejam.'


Api hitam yang berwujud Naga taksaka terus berputar mengelilingi tubuh Suro sambil melindunginya dari puing-puing atap balairung yang berjatuhan.


'Ternyata bukan mataku yang salah melihat, tetapi api hitam yang membentuk seekor naga besar ini memang bergerak seakan memiliki nyawa sendiri. Seumur hidupku memegang pedang itu, tetapi baru kali ini mengetahui jika api hitam itu bisa dikendalikan sampai sejauh ini!' Pedang iblis menatap Naga Taksaka dengan begitu takjub.


Melihat tingkah laku Naga Taksaka membuat Pedang iblis begitu penasaran ingin mengetahuinya.


"Siapa sebenarnya kau bocah? Apa hubunganmu dengan Lelananging jagat? Bagaimana kau memiliki ilmu tapak dewa marahari?" Pedang iblis yang sedang murka masih menahan untuk mencari tau latar belakang bocah bau kencur didepannya itu. Sebab sampai kehilangan Pedang Pembunuh iblis miliknya, dia sendiri tidak mampu mengendalikan api hitam sedahsyat yang dia saksikan sekarang.


"Sejak kedatanganku di perguruan ini tidak satupun yang menawariku makanan ataupun minuman. Padahal aku disini sebagai tamu. Sebagai tamu justru aku disambut dengan pedang. Berkali-kali aku dicecar dengan berbagai pertanyaan, tetapi tidak sekalipun aku ditanya haus atau tidak? Padahal aku tamu disini. Hahaha...!"


"Tapi sudahlah tetap akan aku jawab, karena paman lebih tua dariku. Namaku adalah Suro Bledek. Aku adalah satu-satunya murid Eyang Sindurogo. Itu jika kalian mempercayainya, jika tidak, aku juga tidak ambil pusing."


"Lalu apa tujuanmu menghancurkan perguruan ini?" Wakil ketua Dharmatungga tidak mampu menahan kemarahannya dengan tindakan Suro telah mengobrak-abrik Perguruan Tengkorak Merah.


Mendengar pertanyaan dari arah lain Suro segera menoleh ke arah para tetua Tengkorak Merah berada. Mereka para tetua berada di sebelah kanan. Jika dari arah Suro mereka berada pada posisi berseberangan dengan Pedang iblis berada.


"Maaf paman, Suro sejak awal tidak ingin bertindak kasar tetapi murid-murid perguruan ini lebih menyukai berbicara dengan kaki dan tangan dari pada dengan mulut. Jika melihat cara berpakaian paman, sepertinya paman salah satu orang penting di perguruan ini. Jika memang paman petinggi perguruan ini silahkan tanyakan kepada orang-orang perguruan ini. Siapa yang telah memulai?"


Suro menghela nafas panjang setelah menjawab perkataan wakil ketua Dharmatungga. Dia terlihat tetap begitu tenang, meski sekarang sedang beradapan dengan begitu banyaknya musuh. Ketenangan Suro membuat seorang Pedang iblis sekalipun, dibuat takjub.


Padahal tidak mudah menahan tekanan kekuatan tenaga dalam dan juga hawa pembunuh miliknya. Apalagi hawa pembunuh miliknya, bahkan mampu membuat para tetua Tengkorak Merah terlihat begitu ketakutan.


Suro mampu bersikap setenang itu karena dia sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama pendekar yang kekuatannya jauh dibandingkan Pedang iblis. Bahkan selama waktu yang cukup lama Suro juga pernah bersama dengan Sang Hyang Anantaboga belajar suatu ilmu yang bersumber dari kitab bumi. Dengan kondisi itu membuat dia terlihat begitu tenang, seakan hawa pembunuh yang dimiliki Pedang iblis tidak mengganggunya.


"Lalu bagaimana caramu membuat api hitam itu bergerak, seakan memiliki jiwa?" Pedang iblis tidak mampu menahan rasa penasarannya dengan kemampuan Suro dalam mengendalikan api hitam miliknya. Dia tidak habis pikir bagaimana bocah bau kencur itu mampu melakukan pengendalian api begitu sempurna.


"Memang api hitam ini memiliki jiwa sehingga mampu bergerak seakan hidup."


Pedang iblis mengrenyitkan dahi mendengar penuturan Suro barusan.


"Hahahaha...! Selama puluhan tahun aku memegang pedang itu tidak mengetahui jika api itu punya jiwa."


"Sungguh sangat disayangkan, jika paman tidak mengenal jiwa api hitam ini. Padahal kicauanya yang merdu setara dengan burung kutilang! Hak, hahaha...!" Suro yang mencoba menahan tawanya, akhirnya tertawa lepas. Dia tertawa karena saat itu Lodra mulai merepet mendengar dirinya disamakan dengan seekor burung kutilang.


"Aku sangat kagum dengan sikapmu yang tidak takut sedikitpun padaku bocah! Tetapi sayang aku harus menghabisimu!"


Selesai berbicara dia memberikan kode ke arah dua Pedang sesat yang tersisa untuk segera menghabisi Suro.