
"Pelatihan untuk menembus tingkat langit ternyata tidaklah semudah yang kita berdua bayangkan. Bahkan setelah mengikuti petunjuk dari Eyang Sindurogo sekalipun, kita masih kesulitan." Dewa Rencong menatap Dewa Pedang dengan begitu bahagia.
Sebab mereka berdua kini telah memiliki kekuatan tenaga dalam tingkat langit yang sejak lama sudah mereka impi-impikan.
"Benar kakang jika tanpa ada kakang disampingku dan saling membantu mengalirkan tenaga dalam untuk memutar chakra sahasrara dengan kekuatan penuh, maka kemungkinan kita akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi." Dewa Pedang menjawab dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
"Benar adimas, memang kesulitan menembus granthi atau penghalang energi pada tingkat langit sangatlah besar. Pantas saja banyak yang berakhir dengan kematian dan kelumpuhan saat mencoba menembus tingkat langit ini."
Dewa Rencong kemudian mulai bangkit dari samadhinya. Dewa Pedang juga ikut bangkit tidak beberapa lama, karena latihan yang telah mereka lalui akhirnya berhasil mereka selesaikan.
"Jadi seperti ini rasanya seorang pendekar tingkat langit." Dewa Pedang menghela nafas panjang setelah merasakan tubuhnya terasa berbeda. Dia merasakan seluruh aliran nadi dan setiap jengkal tubuhnya penuh dengan tenaga, tubuhnya juga terasa begitu ringan.
"Benar sekali adimas Dewa Pedang, perasaan ini terasa begitu berbeda." Dewa Rencong ikut menghela nafas panjang sambil memejamkan mata. Agaknya dia sedang meresapi sensasi dalam tubuhnya yang terasa begitu berbeda.
"Sebaiknya kita keluar dari ruangan ini terlebih dahulu. Entah sudah berapa hari kita bersamadhi, aku merasa kita sudah menghabiskan waktu lebih dari satu purnama." Dewa Rencong mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu yang terkunci dari dalam oleh sebuah balok besar.
"Apa yang dilakukan nakmas Suro selama kita berlatih? Apakah dia sudah kembali dari gunung Arjuna?" Dewa Pedang menggumam pelan sambil mulai melangkahkan kakinya.
"Benar juga adimas, apa yang dilakukan bocah gemblung itu? Entah mengapa setelah mencapai tingkat langit aku merasa naluriku semakin tajam. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada bocah gemblung itu. Apakah saat dia pamit akan menuju ke gunung Arjuna dia mengutarakan sesuatu alasan, adimas?"
"Entahlah aku juga lupa dia mengatakan apa? Kalau tidak salah mendengar, dia akan melakukan sesuatu hal yang ada di pertapaan gurunya. Hal apa ya? Entahlah kakang."
"Semoga saja tidak terjadi apapun pada dirinya. Setelah sekian lama berjalan bersama dengan bocah gemblung itu, aku merasa dia terlalu sembrono atau justru memang tidak punya rasa takut. Salah satu alasan mengapa aku menyebutnya gemblung karena alasan itu juga. Agaknya dia tidak peduli siapapun lawan yang dihadapi." Dewa Rencong kemudian mulai mengangkat balok besar itu hanya dengan satu tangannya.
Tidak terlihat sedikitpun ada beban yang tersirat di wajahnya. Padahal dengan besarnya balok itu minimal dua orang dewasa baru bisa terangkat.
"Akhirnya...setelah menunggu lebih dari satu purnama setengah, ketua perguruan telah menyelesaikan latihannya." Di depan pintu besar yang digunakan dua pendekar itu berlatih, eyang Udan asrep telah menyambut.
Wakil ketua perguruan itu begitu mendengar suara balok pintu diangkat segera berjalan ke depan pintu untuk menunggu. Dua penjaga yang berada disamping eyang Udan asrep juga mendengar suara dari dalam yang sangat dia kenal. Mereka segera bersiap menyambut keluarnya ketua perguruan mereka dari latihan tertutup.
Sebenarnya eyang Udan Asrep hari ini datang ke tempat itu, seperti yang rutin biasa dia lakukan untuk mengontrol kondisi latihan ketua perguruan tidak terganggu dengan apapun. Tetapi dia tidak menyangka sama sekali, jika ternyata hari adalah hari dimana ketua perguruan telah menyelesaikan latihannya.
Setelah berbincang-bincang sebentar didepan pintu tempat latihan tertutup eyang Udan asrep mengajak mereka berdua meneruskan perbincangannya di pendopo yang tidak jauh dari mereka. Agaknya ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan.
"Kebetulan karena ketua Dewa Pedang sudah menyelesaikan latihan, kakang akan memberitahukan hal yang maha penting, terkait keputusan kami menerima perguruan luar yang ingin bergabung dengan aliansi Pedang Surga."
Dewa pedang menyipitkan mata mendengar ada perguruan baru disebut berita maha penting. Karena itu sudah hal lumrah dan tidak dianggap sebagai berita maha penting.
"Maha penting? Apakah itu tidak terlalu berlebihan kakang Udan Asrep?"
"Tentu saja, karena perguruan yang akan bergabung adalah pentolan aliran hitam yang termasuk ditakuti baik aliran putih maupun oleh aliran hitam. Karena perguruan yang aku maksud ini pasti tidak akan asing bagi ketua. Perguruan yang ingin bergabung itu bernama, Perguruan Racun Neraka!" Eyang Udan Asrep berbicara sepelan mungkin dan sejelas mungkin agar ketua perguruannya tidak salah memahami ucapannya.
"Apa...? Aku baru melakukan latihan tertutup kurang dari dua purnama, tetapi kalian sudah mulai membuat kekacauan! Bagaimana mungkin kalian membuat keputusan begitu bodohnya. Menjadikan aliran hitam segelap Perguruan Racun Neraka masuk ke dalam perguruan kita! Apa kalian ingin seluruh perguruan ini mati diracuni oleh mereka?" Dewa Pedang mulai mengoceh panjang lebar kepada orang-orang yang ada didepan mereka.
Sebab selain wakil ketua eyang Udan asrep yang berada dihadapan Dewa Pedang, para tetua lain juga telah mulai berkumpul. Mereka berkumpul karena tertarik oleh suara Dewa Pedang yang terdengar dari kejauhan. Suara itu tentu saja menarik perhatian para tetua itu, begitu mendengar suara itu mereka segera berjalan menghampiri mereka bertiga.
Niat para tetua berdatangan tentu saja untuk memberikan ucapan selamat kepada ketua perguruan mereka, karena berhasil menembus tingkat langit. Sebuah tingkatan tenaga dalam yang banyak diimpikan oleh para ahli beladiri.
Karena kekuatan yang dimiliki pada tingkat langit sangatlah mengerikan. Apalagi dengan kekuatan itu mereka dapat terbang laksana burung.
Para tetua yang mulai berdatangan mulai meruntuk menyesal, sebab suara Dewa Pedang yang mengomel cukup panjang tidak juga berhenti. Padahal awalnya mereka cukup senang melihat Dewa Pedang telah menyelesaikan latihan. Tetapi dengan omelan yang seakan tanpa jeda itu, tentu membuat kuping mereka terasa begitu panas.
"Memang siapa yang memberikan usul begitu bodoh, sehingga perguruan racun itu masuk dalam aliansi besar perguruan kita?"
Setelah mendengar pertanyaan barusan eyang Udan asrep langsung menghela nafas panjang sebelum menjawabnya. Agaknya dia ingin menyiapkan kupingnya, agar lebih siap mendengarkan kelanjutan omelan yang baru saja berhenti sejenak itu.
"Semua itu adalah usulan yang berasal dari tetua muda nakmas Suro."
Dewa pedang begitu mendengar ucapan eyang Udan asrep barusan, roman mukanya langsung berubah. Matanya yang sebelumnya melotot begitu lebar, kini mulai menyempit dan kembali pada ukuran normal. Dengusan kesalnya perlahan juga menghilang.
"Alasan yang dia utarakan menurut nakmas Suro, adalah akibat dari keinginannya mencari tau tentang hilangnya sisa pasukan Medusa. Kemudian dari tindakan yang dia putuskan itu, akhirnya membuat perguruan itu harus hancur lebur luluh lantah. Hampir seluruh perguruan itu akhirnya rata dengan tanah." Eyang Udan asrep sedikit bercerita mengenai latar belakang yang membuat Perguruan Racun Neraka ingin bergabung dengan aliansi Pedang Surga.
Wakil ketua perguruan Pedang Surga itu sudah menduga, jika bukan dia saja yang akan dibuat terkejut dengan kabar itu. Tidak juga para tetua, bahkan seluruh tetua setelah mendengar cerita lengkapnya sampai harus mengurut-urut kepala, karena berita itu terlalu mengejutkan bagi mereka semua.
"Apa yang sudah aku bilang, aku sudah dapat firasat tidak enak mengenai bocah gemblung itu. Baru saja bocah itu lepas dari pengawasanku sudah menghancurkan perguruan yang begitu besar. Akibat apa yang akan terjadi dari kejadian itu? Apakah kita akan kembali bertempur, setelah peperangan yang terjadi di Banyu kuning? Dasar bocah gemblung!"
"Nakmas Suro bukan saja menghancurkan, tetapi dia menaklukkan sisa dari perguruan itu. Mereka semua takluk dibawah perintahnya."
"Sebagai bentuk ketundukkan mereka, maka mereka secara sukarela menyerahkan pusaka paling berharga milik mereka!"
"Pusaka paling berharga milik Perguruan Racun Neraka? Apakah itu induk kitab segala racun yang pernah menjadi rebutan dunia persilatan? Kitab yang menjadi dasar diciptakannya jurus tapak selaksa dewa racun, apakah kitab itu yang dimaksud?" Dewa Pedang begitu mendengar ucapan eyang Udan Asrep menyebut pusaka milik perguruan Racun Neraka, pikirannya langsung tersangkut pada sebuah nama Kitab yang sangat dia kenal, yaitu kitab Dewa Racun.
Penyebab utama dia marah besar atas kabar yang disampaikan wakil ketuanya, adalah karena trauma pada peristiwa yang menimpa dirinya puluhan tahun yang lalu.
Peristiwa yang melibatkan jurus Tapak selaksa Dewa Racun yang hampir saja merenggut nyawanya. Sebuah keajaiban lah yang kemudian dapat menyelamatkan dirinya. Keajaiban itu berkaitan kanda miliknya yang mirip milik Suro dan juga ilmu tenaga dalam sembilan putaran langit. Berkat dua hal tersebut, akhirnya berhasil menyelamatkan dirinya dan tidak berakhir dengan sebuah kematian.
"Benar adimas, kitab itu telah dimiliki nakmas Suro. Dia juga sudah menguasai jurus yang hampir saja merengut nyawamu. Segala penawar racun milik perguruan itu juga telah dibawa serta olehnya."
"Edan, dasar bocah gemblung. Benar-benar bocah gemblung, sebenarnya sirep apa yang dipakai untuk membuat para ahli racun milik Perguruan Racun Neraka itu tunduk dengan ucapannya?" Dewa Rencong langsung menyambar ucapan eyang Udan asrep. Entah dia senang atau kesal atau kagum, sebab ucapannya itu seperti kagum tapi dengan nada meruntuk kesal.
"Kemungkinan karena nakmas Suro mau mengampuni nyawa mereka semua yang tersisa. Sehingga ketika nyawanya diampuni, maka mereka semua bersedia tunduk mengikuti kemauan nakmas Suro."
"Sebentar kakang udan asrep, aku ingat, bukankah didalam Perguruan Racun Neraka ada makhluk penjaga yang tidak akan mudah dikalahkan, meskipun seluruh pasukan kerajaan Kalingga dikalikan tiga kali lagi jumlahnya dan bersatu padu menyerangnya. Kalau tidak salah makhluk itu bernama Naga Vritria? Makhluk itu juga yang menggagalkan niat kita menghapus Perguruan Racun Neraka dari bumi Javadwipa, pada waktu itu."
Eyang udan asrep menghela nafas panjang sebelum memulai seluruh cerita lengkap sesuai yang dikatakan Suro kepadanya kala itu.
Dua pendekar yang baru saja menyelesaikan latihan itu dibuat terkejut bukan main. Setelah mengetahui jika bukan hanya Perguruan Racun Neraka yang telah dibumi hanguskan, tetapi Perguruan Tengkorak Merah ikut juga diporak porandakan. Untung saja perguruan itu tidak disuruh masuk dalam aliansi besar Perguruan Pedang Surga. Jika itu terjadi, tentu akan membuat kepala mereka bertambah pusing lebih dari tujuh keliling.
"Bocah gemblung, dasar bocah gemblung. Untung nyawanya ada sembilan, kalau tidak, sudah mati sejak peperangan di Banyu Kuning waktu itu. Sukuuur...sukur...sukur dia tidak kehilangan nyawa." Dewa Rencong terlihat mengurut-urut dada selama mendengarkan cerita dari eyang Udan Asrep. Dia tidak habis pikir dengan kenekatan yang dilakukan Suro selama mereka tinggal dalam latihan tertutup.
"Bagaimana keadaan nakmas Suro apakah dia baik-baik saja?" Dewa Pedang bertanya kembali untuk memastikan keselamatan Suro. Agaknya Dewa Pedang begitu khawatir dengan keselamatan Suro setelah mendengar cerita lengkap barusan.
"Aku melihatnya tidak kurang sedikitpun. Justru sekarang dia sibuk mempelajari kitab dewa racun."
"Bagaimana caranya dia bisa selamat oleh serangan Tapak selaksa dewa racun? Padahal tetua Tunggak semi saja tidak mampu selamat?" Dewa Rencong kembali mengurut-urut keningnya
"Jurus selaksa dewa racun belum lah seberapa, dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Pedang iblis. Karena aku sudah pernah merasakan sendiri seberapa mengerikan kekuatan yang dia miliki. Pentolan aliran hitam di Benua Tengah itu bukanlah orang yang bisa dipermainkan. Pada waktu itu, kekuatannya hampir menyamai kekuatan yang aku miliki. Aku tidak berbohong kekuatan ahli pedang dari negeri Bharata itu sungguh sangat mengerikan!" Dewa Pedang masih merasa seperti mengambang mendengar Pedang iblis akhirnya dihabisi oleh Suro sendirian.
"Entahlah bagaimana dia dapat melakukannya, tetapi saat peperangan di Banyu Kuning dia sudah melakukan hal terbodoh, tetapi justru menyelamatkan hampir seluruh pasukan perguruan ini. Jika tanpa dirinya mungkin sudah tidak ada lagi namanya Perguruan Pedang Surga. Karena berkat dirinya, seluruh pasukan siluman yang berada dibalik awan hitam, akhirnya mampu dihabisi sampai ke akar-akarnya." Dewa Pedang terdengar menghela nafas panjang.
"Benar dia menyuruhku melemparnya setinggi awan. Itu adalah tindakan paling gemblung yang pernah dia lakukan." Dewa Rencong ikut menimpali perkataan Dewa Pedang.
"Sudahlah luluskan saja permintaannya memasukkan Perguruan Racun Neraka dalam aliansi pedang Surga. Jika mereka berkhianat kita tinggal tumpas habis, bukankah kita juga sudah punya penawar racunnya , jadi tidak perlu khawatir. Apalagi kata Kakang Udan Asrep Naga Vritria sudah dihabisi. Jadi tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Alasan yang dia kemukakan juga terasa sangat masuk akal."
Mendengar ucapan Dewa Pedang barusan, membuat para tetua dan wakil ketua eyang Udan Asrep menjadi lega. Akhirnya keputusan mereka tidak lagi dipersalahkan oleh ketua perguruan mereka.
Setelah Dewa Pedang dan Dewa Rencong menyelesaikan latihan tertutup untuk menembus tingkat langit berakhir, Dewa Pedang kembali mengutarakan rencana awalnya, yaitu menuju Karang Ampel.
Semua rencana perjalanan itu, adalah dalam rangka menyelamatkan Eyang Sindurogo. Mereka akan mencari tahu terlebih dahulu penyebab hilangnya ingatan pendekar itu, yaitu dengan cara memasuki alam dimana pendekar itu pernah terjebak.
Mereka menyadari bahaya besar yang akan menunggu mereka di alam lain, karena alasan itulah mengapa dua pendekar harus memperkuat kekuatan mereka terlebih dahulu. Sebab kekuatan tingkat langit yang telah mereka kuasai kemungkinan akan siap menghadapi rintangan apapun yang menunggu.
**
**Ditunggu dukungannya dan silahkan tinggalkan komentar.
Terima kasih**