
Batara Karang bersama para tetua keluar, maka mereka segera disuguhi pertarungan para anggota perguruan melawan dua orang monster. Dengan lawan yang sebegitu banyaknya lebih dari lima ratus orang tidak membuat dua monster itu kewalahan.
Justru mereka yang terus berdatangan hendak menggeroyok mereka berdua itu, bagaikan para lalat yang menghampiri penepuknya. Dengan gerakan yang menghilang dan muncul ditempat lain, kemudian membantai lawan, membuat mereka berdua seakan tak terhentikan.
"Jurus Langkah Maya, ternyata ilmu itu sudah diberikan kepada Sindurogo!"
"Padahal sejak dulu aku menginginkan ilmu itu menjadi milikku, tetapi siluman sialan itu tidak membiarkan aku mencuri darinya!"
Setelah beberapa saat Eyang Sindurogo sibuk menghabisi lawan dengan jurus pedang cahaya miliknya, dia segera menyadari siapa yang memimpin rombongan pasukan musuh yang baru saja datang.
"Ternyata kau masih hidup! Aku tidak menyangka kau mampu selamat dari terjangan jurus ledakan matahari kembar milikku." Sambil menghabisi pasukan lawan yang terus menyerang dirinya, mata eyang Sindurogo menatap ke arah Batara Karang dengan terkejut. Sekaligus kembali menyulut kemarahannya.
Melihat Batara Karang telah muncul dihadapannya, sebenarnya Eyang Sindurogo sedikit tidak mempercayainya. Sebab jurus kelima yang dia kerahkan meledak dengan begitu dahsyat, kecil kemungkinan Batara Karang dapat selamat.
Tetapi melihat Batara Karang dapat menahan jurusnya, membuat Eyang Sindurogo berpikir untuk menggunakan taktik lain agar mampu menghabisi Batara Karang dalam pertarungan kali ini.
'Sepertinya hanya ilmu pembantai siluman, yaitu tehnik empat sage yang ampuh membinasahkan makhluk seperti mereka.'
Eyang Sondurogo bersama Geho sama masih sibuk menghadapi begitu banyaknya musuh yang mengeroyok dirinya. Batara Karang segera memanfaatkan kondisi itu.
Dia kemudian memulai memberikan rencana serangan dengan jurus Sapu jagat secara serentak. Kali ini dia merasa akan mampu mengalahkan musuh bebuyutannya.
Setelah selesai memberikan gambaran rencana yang dia berikan, Batara Karang kembali menatap jalannya pertempuran dari kejauhan. Dengan diawali sebuah senyum jumawa dia mulai berteriak keras ke arah lawannya yang masih disibukkan dengan lautan manusia yang mengepungnya.
"Ilmu Tapak Dewa Mataharimu bukanlah hal yang perlu aku takuti Sinduro..!" Sebelum Batara Karang menyelesaikan kalimatnya sesosok manusia telah muncul dihadapannya.
Eyang Sindurogo lah yang muncul dan langsung menghujamkan pedang cahaya miliknya ke arah jantung batara karang. Dia melakukan itu semua dengan kecepatan yang menakjubkan seperti hanya dalam sekejap mata.
Batara Karang tercekat, karena jantung miliknya berhasil ditusuk dengan begitu mudahnya. Namun serangan seperti itu tentu tidak akan membuat dirinya tewas.
"Aaaargggh!" Dia mengerang sakit sambil menendang ke arah tubuh eyang Sindurogo.
Dia berusaha menghindari serangan susulan dari eyang Sindurogo. Namun dengan tindakannya itu justru membuat pedang cahaya milik lawannya berhasil merobek hampir setengah tubuh Batara Karang.
Para tetua yang belum sempat bergerak membentuk formasi serangan dan masih berada didekat Batara Karang, tidak segera bereaksi. Mereka semua tidak menyangka dengan serangan yang begitu mengejutkan. Karena kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. Semua terjadi hanya dalam satu kedipan mata.
Mereka kini telah dibukakan mata, mengapa Batara Karang menyebut musuh bebuyutannya dengan sebutan monster, karena memang dia layak menyandang sebutan mengerikan itu.
"Apa yang kalian tunggu? Habisi makhluk sialan itu!" Batara Karang meruntuk sambil melesat ke arah kebelakang. Dia mencoba menjauh secepatnya, sambil mencoba memulihkan tubuhnya yang robek cukup panjang.
Para tetua yang berada didekat eyang Sindurogo segera mengerahkan Ajian Sapu Jagat untuk mencabik-cabik dan melenyapkan tubuh lawannya yang dikenal oleh mereka sebagai Monster dari tanah Javadwipa itu. Namun sebelum mereka memulai menyerang, justru serangan susulan menerjang kearah beberapa tetua.
Zzrrrraaaaaat! Zzrrrraaaaaat!
Dua lesatan sinar menghajar ke arah mereka. Serangan itu membuat para tetua panik dan mulai tunggang langgang. Masing-masing tetua berusaha menyusul Batara Karang untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.
Ketakutan yang dialami para tetua itu cukup beralasan. Sebab setelah sinar itu menghajar para tetua, maka mereka dengan cepat berubah menjadi archa batu.
"Mata Medusa!" Semua orang berseru saat menyaksikan akibat yang ditimbulkan dari serangan barusan. Mereka segera mengenali kekuatan mata yang dimiliki eyang Sindurogo.
Batara Karang yang masih tergeletak ditanah akhirnya berhasil memulihkan tubuhnya. Dia juga tak kalah terkejutnya melihat serangan yang dikerahkan eyang Sindurogo. Dia memukul tanah disampingnya dengan penuh kemarahan.
"Mustahil! Bagaimana dia mampu menguasai mata itu dengan begitu mudahnya? Apakah dia mengingat kejadian di hutan larangan saat dia masih menjadi wadak pecahan jiwa Dewa Kegelapan? Bagaimana dia mengetahui jika matanya telah diganti oleh mata Medusa!"
"Mustahil, itu pasti tidak mungkin! Kini dia telah berubah menjadi monster yang lebih susah dihadapi seperti sebelumnya!"
"Rencanaku membiarkan mata itu tetap tertanam pada tubuh Sindurogo, setelah jiwa Dewa Kegelapan keluar dari raganya, akhirnya menjadi bumerang. Padahal aku berencana menjadikannya sebagai pengganti bagi Medusa."
Masih dalam keterkejutannya Batara Karang kembali harus menghindari serangan yang ditujukan kepadanya. Kali ini dia berhasil menghindari serangan yang dilakukan eyang Sindurogo dari jarak dekat, karena para tetua bergerak serentak menyerang dirinya.
"Jika kalian tidak dapat dibunuh, maka akan aku lihat, apakah kalian dapat memulihkan tubuh kalian setelah aku jadikan sebongkah batu?"
Dia cukup cerdas mengetahui rahasia yang ada dari mata Medusa, yaitu memusatkan chakra dibagian mata. Kemudian dia akan memulai memutar chakra kecil yang ada di bagian matanya itu untuk dapat memancarkan chakra. Semua itu sedikit banyak, seperti pengerahan jurus pertama dan kedua ilmu tapak Dewa Matahari. Karena cara pengerahannya tidak jauh berbeda dengan yang biasa dia lakukan, sehingga membuat dia dapat mempelajari dengan cepat kekuatan mata yang dia miliki.
Kali ini dia menyerang lawannya tidak dari jarak jauh, sebab setelah menghilang dia akan muncul kembali didekat tubuh lawannya dan menghantamkan sinar dari matanya. Musuh yang berubah menjadi kaku langsung dia hancurkan dengan tenaga dalamnya yang luar biasa mengerikan.
Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, ternyata tubuh lawannya kali ini tetap teronggok dalam bentuk pecahan archa batu yang hancur.
Selama Eyang Sindurogo mengejar para tetua yang tunggang langgang menjauh dari dirinya, Geho sama terus menghabisi musuhnya dengan tehnik empat Sage. Tehnik itulah yang menjadi andalan dua monster untuk menghabisi lawannya.
Sebab dengan mengerahkan tehnik itu akan dengan cepat menyerap kekuatan lawan, sehingga membuat lawan mereka menjadi lemah selama pertarungan. Dengan itu menjadikan Geho sama semakin mudah menghabisi lawannya. Maka tidak aneh setelah melewati pertempuran yang panjang stamina mereka justru semakin bertambah kuat, begitu juga tenaga dalam mereka hampir tidak berkurang.
Mereka berdua menghancurkan seluruh pasukan seperti kesetanan. Dalam waktu yang cepat sebagian lenyap ditelan ilmu empat Sage, dan sebagian lagi hancur dalam bentuk bongkahan batu.
Batara Karang segera memerintahkan seluruh pasukan mundur, setelah ajian sapu jagat yang dia kerahkan untuk menghabisi dua monster itu gagal. Sebab bukan lawan yang tersedot dan lenyap, justru anak buahnya sendiri yang lenyap. Karena dua monster itu kembali dapat menghindari serangan lawan dengan mudah.
Sambil bergerak mundur Batara Karang beberapa kali masih berusaha menggunakan Ajian Sapu Jagat dan serangan menggunakan pengendalian api tingkat tinggi untuk menghabisi Geho sama dan Eyang Sindurogo.
Saat dua monster itu bergerak mengejar lawan, mendadak suara keras menggelegar dengan sebuah hentakan irama yang tidak biasa. Antara teriakan kemarahan dan juga bersenandung dengan citra rasa terburuk yang pernah didengar oleh manusia.
Bahkan jika tanpa dilambari kekuatan tenaga dalam yang begitu kuat sekalipun, suara senandung itu akan sangat menyakitkan bagi yang mendengarkannya.
Jreeeeeng!!
"Di mana kekasihku yang hendak meraup rinduku!!"
Jreng! Jreeng! Jreeeeng!
Ledakan kekuatan yang begitu dahsyat langsung menghajar ke arah pertempuran dimana eyang Sindurogo dan Geho sama terlibat.
"Pujangga gila!" Batara Karang tersenyum simpul setelah menyadari siapa yang baru saja datang.
Kedatangan lelaki kurus dengan penampilannya yang awut-awutan dan rambutnya yang gimbal segera disadari oleh para tetua yang lain.
Kali ini lelaki itu membawa sebuah alat musik yang bernama "buzuq". Nama itu berasal dari negeri Turki yang bentuknya menyerupai mandolin Arab.
Bersama permainan suara alat musik yang dia bawa mengalunlah suara yang jauh dari kata merdu. Bisa dikatakan sebagai siksaan dari segi buruknya kwalitas suara yang sanggup menggetarkan seluruh area pertarungan yang ada dihadapannya itu.
"Kekasihku pemilik rinduku kau seumpama mata air ditengah padang pasir...!"
Jreeeng...! Jreeng...! Jreeng...!
Hentakan teriakan dan kolaborasi bersama suara buzuq yang dia mainkan kembali menerjang ke seluruh area pertarungan itu. Tidak peduli jika diantara mereka ada pasukan dari pihaknya sendiri. Tubuh mereka langsung hancur luluh lantah terkena serangan dari Pujangga gila.
Eyang Sundurogo sendiri bergerak dengan cepat sambil memainkan sepuluh jarinya yang memancarkan sinar menahan suara yang dilambari tehnik perubahan angin. Sehingga hentakan suara itu seperti tebasan ribuan pedang. Pada saat bersamaan dia segera mengerahkan tenaga dalam miliknya untuk melindungi organ tubuhnya, terutama indera pendengarannya. Karena serangan itu bukan hanya keras dan membentuk tebasan pedang angin, tetapi serangan itu adalah bagian ilmu gendam yang dapat menyerang kedalam jiwa manusia.
Geho sama langsung membentuk perlindungan benteng terkuatnya yaitu sembilan tubuh ilusinya. Mereka semua mengelilingi tubuh aslinya.
Melihat musuh masih mampu menahan serangannya hentakan tahap berikutnya kembali menerjang.
"Akulah sang musafir yang sedang dahaga dan berharap mendapatkan seteguk air dari murni cintamu...!"
"Tanpamu aku hanyalah dataran yang kering kerontang menunggu hujan dari kerinduanmu...!"
Jreeng...! Jreeng...! Jreeng...!
"Ohhh... mata air cintaku!"
Ledakan kekuatan yang melambari serangan suara itu adalah setara pendekar tingkat surga. Sebuah peningkatan kekuatan yang dimiliki Pujangga gila jauh lebih kuat, dibandingkan saat menghadapi Suro sewaktu di hutan Gondo Mayit. Kemungkinan dia telah menyerap hawa kegelapan dalam jumlah yang sangat besar untuk meningkatkan kekuatan miliknya yang mengerikan itu.