SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 75 PERTEMUAN PARA TETUA part 3



"Tehnik Empat Sage?" Dewa Pedang mengumam lirih. Pandangannya menatap ke arah Suro yang masih berdiri untuk melanjutkan perkataanya.


"Menurut Eyang Guru tehnik itu diturunkan oleh gurunya sendiri."


"Apakah guru Kakang Sindu salah satu dari keempat satria langit yang aku ceritakan tadi, nakmas?"


Suro yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


"Saya kurang paham mengenai itu tetua. Beberapa kali Eyang Guru hanya menyebutnya pak tua. Tetapi pernah beberapa kali dengan nama yang berbeda salah satunya dia menyebut dengan nama sukma sejati. Pernah juga menyebutnya dengan sebutan Hyang apa ya? Hyang? Saya lupa tetua."


"Mengapa dia menyebutnya dengan Hyang?"


"Saya juga kurang mengetahui mengenai hal itu paman guru!" Suro menjawab pertanyaan Dewa Pedang sambil menggaruk-garuk pipinya.


"Hyang? Aku jadi teringat perkataan Kakang Sindu saat kami masih berada diwilayah kekaisaran Wei utara. Menurut kakang Sindu dia mendapat perintah dari gurunya untuk memburu dua makhluk entah dari jenis manusia atau bukan? Menurut ramalan gurunya dua makhluk tersebut akan menimbulkan kekacauan diseluruh marcapada."


"Tunggu dulu tetua, bukankah kejadian yang tetua ceritakan itu terjadi sekitar empat puluh tahun yang lalu. Berarti kemungkinan gurunya juga memiliki umur yang panjang seperti Eyang Sindurogo yang telah berumur lebih dari lima ratus tahun?"


Dewa Pedang menyela perkataan tetua Dewi Anggini karena menemukan sesuatu yang janggal.


"Mungkin saja ketua! Atau mungkin gurunya mendatangi saat Kakang Sindu sedang tengelam dalam samadhinya."


"Apakah guru Eyang Sindurogo juga masih hidup seperti muridnya yang memiliki umur begitu panjang? Makhluk apa sebenarnya yang akan kita hadapi ini? Mengapa makhluk-makhluk yang berhubungan dengan Eyang Sindurogo selalu bukan lumrahnya manusia biasa? Jangan-jangan kamu juga bukan manusia normal nakmas?" Eyang Kaliki menyahut perkataan Dewa Pedang dan tidak memberi kesempatan Dewi Anggini untuk menjawab pertanyaan Ketua Perguruan pusat, Dewa Pedang.


Hek!


Suro langsung tersedak mendengar pertanyaan Eyang Kaliki. Dia hanya mengaruk-garuk kepalanya sambil menoleh ke arah Dewa Pedang seakan meminta pendapatnya.


Bukan Suro yang menjawab pertanyaan Eyang Kaliki, justru Dewi Anggini yang bereaksi dengan pertanyaan itu. Matanya melotot menatap Eyang Kaliki yang menjadi jeri melihat kemarahan gadis pujaannya itu. Sebab baik dari jaman sewaktu dia masih muda, bahkan sampai sekarang pun Eyang Kaliki masih tergila-gila dengan Dewi Anggini. Makanya sebisa mungkin dia tidak ingin membuat marah wanita pujaannya itu.


"Mohon maaf tetua Dewi Anggini, tentu saja maksud pertanyaanku bukan saya tujukan kepada anda!" Giliran Eyang Kaliki yang kali ini gantian mengaruk-garuk kepala. Dia menjadi salah tingkah melihat Dewi Anggini yang masih saja memelototinya.


"Lalu siapa nama dua makhluk yang dikejar Eyang Sindurogo itu?" Dewa Pedang mencoba mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana.


Dewi Anggini lalu mengalihkan pandangannya ke arah Dewa Pedang. Sebelum menjawab dia menarik nafas panjang terlebih dahulu.


"Seingatku makhluk yang dia kejar bernama Hyang Antaga dan satunya lagi bernama Batara Sarawita."


"Benar tidak perkataanku barusan. Nama yang barusan disebutkan tetua Dewi khayangan ups,..maksudnya tetua Dewi tangan seribu. Nama-nama itu? Bukankah itu nama tokoh-tokoh yang ada dalam dongeng?Dongeng saat para Dewata mulai di ciptakan. Di dalam dogeng itu diceritakan, bahwa mereka makhluk yang menjelma menjadi manusia. Wujud aslinya adalah makhluk abadi yang sangat berbeda dari manusia lainnya."


"Berarti tidak salah bukan? Jika aku mengatakan Eyang Sindurogo memiliki hubungan dengan para makhluk yang bukan manusia. Bahkan makhluk-makhluk yang disebutkan Dewi Anggini itu di dalam dongeng memiliki kekuatan sebanding dengan para Dewata? Pasti nama gurunya yang bernama sukma sejati itu mempunyai nama lain Sang Hyang Ismaya! Hahaha...!"


"Nah! Benar itu, saya baru ingat nama dari guru Eyang adalah Sang Hyang Ismaya, tetua!"


Hek!


Eyang Kaliki yang mendengar perkataan Suro seperti tersedak ikan sebaskom. Bahkan hampir saja dia terjengkang kebelakang, setelah mendengar perkataan Suro yang justru membenarkan tebakan dirinya yang asal saja dia menyebutkannya. Sebenarnya maksud tebakan itu untuk mengejek, karena perkataan mereka mengenai makhluk-makhluk jaman dahulu semakin terasa tidak masuk akal saja.


Semua orang terkejut mendengar perkataan Suro, tidak terkecuali Dewa Pedang. Karena selama ini dia juga tidak mengetahui guru dari Eyang Sindurogo.


"Sebentar, sebentar! Mengapa pembicaraan ini justru ngalor-ngidul(tidak jelas). Pembahasan awal kita adalah mencari solusi untuk menyelamatkan Eyang Sindurogo. Kenapa kita justru berkutat dengan dongeng-dongeng kuno yang bercerita jaman sebelum dunia diciptakan? " Eyang Tunggak Semi akhirnya berdiri menyela pembicaraan mereka semua karena dia merasa pembicaraannya semakin ngawur.


Dewa Pedang yang mendengar protes tetua Tunggak Semi tidak bisa menyalahkannya. karena dia sendiri juga sudah mulai pusing mencari tau latar belakang musuh yang akan dihadapinya. Sejak dia mengenal Eyang Sindurogo memang dia merasa tokoh itu begitu misterius.


Tetapi dia tidak menyangka, begitu misteriusnya kehidupan tokoh itu melebihi penampilannya yang begitu aneh. Karena setelah melewati waktu beratus-ratus tahun fisiknya tetap muda. Tidak ada keriput sama sekali, selayaknya orang yang sudah berumur ratusan tahun.


Kini ada hal baru lagi yang terungkap, jika perkataan Suro dan Dewi Anggini benar maka kemungkinan Eyang Sindurogo memiliki hubungan dengan para makhluk kuno, sebab nama dari gurunya adalah Sang Hyang Ismaya salah satu Dewa kuno yang diperintahkan oleh Sang Hyang Batara Guru Raja para Dewa dikhayangan jonggring salaka untuk turun ke dunia manusia.


Selain itu jika dipikir ulang apa yang diceritakan Dewi Anggini dan Suro mengenai dongeng-dongeng itu tidak masuk akal tetapi entah mengapa terasa saling berkaitan. Justru saling menguatkan satu sama lain.


Ditambah perkataan Suro mengenai guru dari Eyang Sindurogo yang terdengar tidak asing lagi. Sebab nama itu tidaklah asing dikuping masyarakat di tanah Javadwipa.


Di tlatah tanah Javadwipa Sang Hyang Ismaya memiliki tempat sendiri karena diyakini sebagai pelindung seluruh marcapada. Nama lainnya bernama Badranaya,Nayantaka, Puntaprasanta, Janggan Asmarasanta, Bojagati, Wong Boga Sampir.


"Benar tetua, aku tidak menyalahkan pendapat tetua. Tetapi dari awal saat kita bertempur melawan Naga Raksasa sebesar gunung yang tidak mati meski sudah berkali-kali berhasil kita potong-potong, tetapi dengan menajubkan bisa pulih kembali. Bukankah itu juga terasa tidak masuk akal."


Dewa Pedang yang sebenarnya belum mempercayai sepenuhnya mengenai cerita Dewi Anggini dan Suro hanya saja entah mengapa, dari dua orang itu dia seperti menemukan benang merah yang saling berkaitan. Walaupun seperti mengada-ada. Karena memang semua tokoh yang diceritakan itu hanya ada dalam dongeng.


"Baiklah ketua jika memang cerita itu benar adanya siapa diantara kita yang ada disini pernah bertemu dengan salah satu tokoh yang diceritakan mereka berdua?"


"Saya tetua!"


Suro menjura ke arah tetua Tunggak Semi. Giliran tetua Tunggak Semi yang dibikin hampir terjengkang mendengar perkataan Suro.


"Si..siapa yang nakmas temui?"


Tetua Tunggak Semi begitu terkejut mendengar Suro mengaku pernah bertemu dengan makhluk yang selama ini diketahuinya hanya ada dalam dongeng itu.


"Sang Hyang Anantaboga! Sebenarnya aku dilarang untuk mengatakannya tetapi sepertinya saat ini, kondisi mengharuskanku untuk menceritakannya."


"Sang Hyang Anantaboga Ular raksasa yang dalam dongeng mampu melingkari sebuah gunung itu? Seberapa besar ular raksasa itu saat nakmas menemuinya?"


"Uhuk! Uhuk!"


Suro terbatuk mendengar pertanyaan tetua itu.


"Itu wujud tri wikramanya tetua. Saat Suro bertemu dengan Hyang Anantaboga dalam wujud manusia jadi saya kurang paham seberapa besar sebenarnya wujud triwikramanya. Eyang Guru mungkin yang lebih tau mengenai seberapa besar, karena menurut perkataannya telah bersahabat baik dengan Sang Hyang Anantaboga cukup lama, tetua."


"Bersahabat baik? Luar biasa aku baru mendengar fakta ini. Kehidupan pendekar yang menyandang gelar lelananging jagat itu selalu saja memberikan kejutan. Tidak aku sangka ternyata hidupnya dikelilingi para Dewata. Lalu mengapa Sang Hyang Anantaboga tidak menolong Eyang Sindurogo jika dia berteman baik dengan Dewa Penguasa bumi itu?"


"Saya kurang memahaminya tetua." Suro menjura ke arah tetua Tunggak Semi sebelum kembali duduk.


Dewa Pedang tidak segera bersuara, agaknya dia sendiri terkejut dengan perkataan Suro. Dia belum bisa mencerna dengan hal-hal yang mengagetkan ini.


"Apakah tehnik kitab bumi yang nakmas gunakan itu berasal dari Sang Hyang Anantaboga?"


"Benar paman guru, Sang Hyang Nagasesa sendiri yang telah mengajarkan ilmu itu kepadaku."


"Pantas saja ilmu itu begitu mengerikan, ternyata ilmu itu berasal dari para Dewa langsung. Jangan-jangan, Tapak Dewa Matahari juga berasal dari Dewa Surya? Bukankah dalam cerita Sang Hyang Ismaya merupakan ayah dari Sang Hyang Surya?"


Giliran kini Dewa Pedang yang dibuat terkejut dengan jawaban Suro.


"Mengenai hal itu saya kurang memahaminya paman guru!" Suro menjawab pertanyaan Dewa Pedang yang sebenarnya tidak perlu dijawab itu.


"Berarti kisah dalam dongeng itu kemungkinan benar-benar terjadi. Sebaiknya segala hal yang kita bicarakan disini jangan sampai keluar dari ruangan ini. Segala hal yang kita bicarakan akan sangat berbahaya jika sampai terdengar dan menyebar. Apalagi jika sampai terdengar para tokoh golongan hitam pasti akan terjadi kekacauan didunia persilatan. Sekaligus membahayakan keselamatan nakmas Suro."


Semua tetua menyanggupi permintaan ketua mereka untuk tidak membocorkan apapun yang sedang mereka bicarakan itu.


"Berarti lawan yang akan kita hadapi ini bukanlah makhluk sejenis manusia. Aku tidak menyangka, semua bertambah semakin rumit. Aku belum mengetahui cara untuk menyelamatkan gurumu nakmas!"


Dewa Pedang memandang kearah Suro yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia hanya menganggukan kepala.


"Mendengar cerita tetua Dewi Anggini dan penampakan yang aku saksikan sendiri, kemungkinan alam dimana Eyang Sindurogo terjebak, sekaligus tempat persembunyian dari sisa makhluk yang sebelumnya kita kenal sebagai Naga raksasa adalah alam dimana Geho sama disegel. Mengenai kekuatan yang mampu menyerap energi kehidupan, kemungkinan adalah kekuatan dari Sukmo Ngalemboro yang merupakan nafas dari Iblis kegelapan."


"Lalu bagaimana caranya kita nanti mengatasi kekuatan dari iblis kegelapan yang mampu menyerap energi kehidupan itu?" Wakil Ketua Udan Asrep akhirnya ikut berbicara mencoba mengingatkan kembali tentang kekuatan Iblis Kegelapan yang diceritakan Dewi Anggini terdengar begitu menakutkan.


"Apakah sudah ada cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kekuatan dari Iblis Kegelapan itu?"


"Entahlah kakang Udan Asrep aku tidak mengetahuinya. Tetapi tunggu sebentar, sebelumnya Dewi Anggini pernah mengatakan bahwa para ksatria langit setelah memiliki tehnik milik Iblis Kegelapan mereka mampu mengatasi ilmu tersebut. Bukankah begitu tetua?"


"Benar ketua, menurut cerita seperti itu. Tetapi bagaimana mereka mengatasi tehnik itu, tidak diceritakan secara jelas."


"Bukankah nakmas mengakui memiliki tehnik tersebut? Coba nakmas ingat-ingat mungkin nakmas memiliki solusi untuk mengatasi kekuatan Iblis Kegelapan."


"Selain itu coba nakmas latih kembali tehnik formasi sihir gerbang dimensi mulai dari sekarang. Karena kita akan memerlukannya nanti saat kita kembali ke alam kegelapan itu."


"Sendiko dawuh paman guru!" Suro menjawab sambil mengangguk sebagai pertanda dia akan menyanggupi permintaan Dewa Pedang.