
Setelah mendengar ucapan Dewa Rencong yang meminta mereka menyisir seluruh Kademangan Cangkring, maka mereka segera menyebar ke berbagai arah Dewa Obat ke arah selatan. Mahadewi ke arah Tenggara. Geho Sama ke arah barat.
Sedangkan Suro setelah berpisah ditengah jalan dengan Mahadewi bergerak ke arah utara dari perguruan. Sedangkan Dewa Rencong sendiri memilih menyisir ke arah timur.
Sedangkan Dewi Anggini sendiri mendapatkan tugas menyisir reruntuhan perguruan. Dia berharap akan mendapatkan sesuatu petunjuk atau hal berharga lain milik perguruan yang mungkin saja masih dapat diselamatkan.
Mengingat dia adalah salah satu pendekar yang diangakat menjadi sesepuh Perguruan Pedang Surga, sehingga dapat mengingat dengan baik bagian perbagian dari perguruan sebelum hancur lebur rata dengan tanah.
Setelah selesai menyisir mereka akhirnya kembali ke tempat semula dimana mereka muncul pertama kali, yaitu didepan reruntuhan gerbang.
"Aku tidak menemukan ada penduduk atau anggota perguruan yang masih tinggal disekitar sini. Aku juga tidak mendapatkan petunjuk yang dapat menyimpulkan siapa pelaku penyerangan yang menghancurkan Perguruan Pedang Surga dan juga seluruh kademangan Cangkring ini." Geho Sama berhenti sebentar untuk menghela nafas sebelum kembali meneruskan ucapannya.
"Meskipun begitu, dengan melihat dari bekas pertempuran yang menyebar keseluruh wilayah kademangan, aku dapat menyimpulkan serangan ini bukan dilakukan hanya oleh satu orang saja." ucap Geho Sama yang baru saja kembali, setelah selesai menyisir wilayah kademangan yang berada disisi barat.
Geho sama, Dewa Rencong, Mahadewi, Suro dan Dewa Obat memang sengaja menyebar selain ingin mendapatkan petunjuk, mereka juga mencari anggota perguruan atau penduduk yang mungkin saja ada yang dapat mereka temukan.
"Benar, aku juga setuju dengan ucapanmu Geho Sama. Perguruan ini memang tidak hancur hanya oleh serangan satu orang saja. Tetapi oleh sekelompok pasukan," timpal Dewa Rencong membenarkan ucapan Geho Sama.
Setelah mereka meneliti ke berbagai penjuru didapatkan petunjuk jika serangan itu pertama kali terjadi di Perguruan Pedang Surga. Selanjutnya pertempuran melebar keluar dari perguruan dan menyebar. Akhirnya musuh bukan hanya menyerang perguruan, tetapi juga ikut menghancurkan seluruh penjuru kademangan Cangkring.
"Aku merasa jika pasukan musuh yang menyerang itu dipimpin oleh seorang yang sangat kuat. Entah seberapa kuat, kemungkinan sudah melewati kekuatan tingkat surga.
Karena aku menemukan jejak pengerahan jurus perubahan tanah yang sangat dahsyat. Rengkahan tanah itu memanjang seakan hendak membelah wilayah kademangan Cangkring ini.
Bekas rekahan tanah itu memanjang sampai berpuluh-puluh tombak. Aku melihat bekas rekahan tanah itu memanjang hingga jauh ke pinggir kademangan. Entah dari bagian mana rekahan tanah itu mulai dikerahkan. Kemungkinan memanjang sampai didekat rumah Kolo Weling yang ada dipinggiran Kademangan," ujar Geho Sama melanjutkan ceritanya.
"Benar dengan apa yang Geho Sama katakan, kemungkinan ada satu musuh yang sangat kuat. Sehingga seorang Dewa Pedang sekalipun dibuat kewalahan.
Aku sempat menemukan di wilayah kota kademangan ada bekas pengerahan sebuah jurus. Tetapi bukan tehnik perubahan tanah seperti yang telah ditemukan Geho Sama.
Justru yang aku temukan adalah sebuah bentuk pengerahan tehnik pedang. Mirip sekali yang banyak tersebar didalam reruntuhan perguruan ini." Dewa Obat ikut menyambung pembicaraannya para pendekar.
"Disebelah tenggara aku juga menemukan perkuburan baru yang kemungkinan besar digunakan untuk mengubur mayat para penduduk yang ikut menjadi korban. Entah siapa, tetapi menurut Mahadewi dilakukan sekelompok orang yang juga telah menguburkan para anggota perguruan ini," sambung Mahadewi yang menyisir bagian tenggara.
"Aku juga tidak menemukan satupun kitab-kitab penting milik perguruan yang mungkin saja masih berserakan di reruntuhan perguruan. Entahlah, mungkin saja orang-orang yang menguburkan mayat-mayat korban peperangan itu yang telah menyimpannya.
Mungkin juga kitab-kitab justru telah dijarah oleh musuh atau bisa jadi justru dibakar habis bersama reruntuhan ini," ujar Dewi Anggini yang ikut mengabarkan hasil penyisirannya. Dia menghela nafas panjang setelah berbicara.
Dewi Anggini akhirnya menyerah mencari kitab-kitab berharga milik perguruan yang mungkin saja dapat dia selamatkan. Padahal dia telah menyisir beberapa kali seluruh reruntuhan perguruan.
Dia masih tidak bisa menerima kenyataan jika Perguruan pusat Pedang Surga akhirnya hancur tidak tersisa. Memang sebagian besar bangunan tidak menyisahkan apapun selain arang dan abu.
Kemungkinan dari itulah aku tidak menemukan satupun kitab yang tersisa. Sebab musuh telah menjarah seluruh kitab milik perguruan ini setelah berhasil membuat Dewa Pedang dan pasukannya yang terpaksa mundur meninggalkan perguruan ini." Dewi Anggini melanjutkan ucapannya.
"Jika hanya mencari kitab saja aku rasa itu tidak masuk akal." Dewa Rencong membalas ucapan Dewi Angini.
"Jika begitu, lalu apa yang sebenarnya dicari musuh?" Dewi Anggini tidak menyangkal ucapan Dewa Rencong, tetapi itu artinya ada hal lain yang harus mereka pecahkan.
"Entahlah aku juga tidak mengetahuinya," jawab Dewa Rencong dengan pandangan kosong.
"Entah sekuat apa serangan musuh yang telah menghancurkan perguruan ini? Tetapi dengan melihat bekas energi tebasan pedang yang memenuhi seluruh perguruan ini dapat dipahami, jika anggota perguruan telah melakukan perlawanan sengit." Dewa Obat berbicara sambil memandang kesegala penjuru.
Baik Dewa Rencong, Mahadewi, Geho Sama maupun Dewa Obat yang juga ikut membantu menyisir telah kembali, kecuali Suro yang juga belum datang.
"Ke arah mana bocah gendeng Suro menyisir?" Dewa Rencong bertanya ke arah Geho Sama. Karena saat mulai menyisir mereka Geho Sama, Mahadewi dan Suro pergi bersama dan memecah arah di tengah jalan.
"Kakang Suro sempat berbicara kepadaku sebelum berpisah jalan, jika dia hendak menelusuri jejak pertempuran yang mencurigakan. Jalur itu ke arah kediaman paman Kolo Weling.
Mungkin saja saat ini kakang Suro sedang mencari tau kondisi Maung dan lainnya dikediaman paman Kolo Weling. Dia begitu khawatir dengan kondisi Maung takut ikut terkena amukan serangan musuh yang telah menghancurkan seluruh Kademangan dan juga perguruan ini. Moga saja Maung dalam kondisi selamat." Mahadewi menjawab pertanyaan Dewa Rencong sambil menunjuk ke arah dimana terakhir dia berpisah dengan Suro.
"Mungkin muridku mendapatkan sebuah petunjuk, sebaiknya kita menyusul saja kesana," ucap Dewa Obat.
Tanpa menunggu lama mereka segera berlari ke arah yang ditunjuk Mahadewi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Mereka begitu penasaran dengan jejak pertempuran yang sempat diucapkan Mahadewi.
"Entah mengapa jurus musuh berkekuatan besar yang sempat aku katakan sebelumnya, agaknya menuju ke arah dimana muridku mengikuti jejaknya" ujar Dewa Obat sambil menatap ke arah kanan kiri jalan yang mereka lewati.
Memang sepanjang jalan yang mereka lewati merupakan jalur pertempuran. Kemungkinan adalah jalur dimana Dewa Pedang dan seluruh pasukannya berusaha menghindari serangan musuh.
Tubuh mereka terus berlesatan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Paling terdepan adalah Dewa Obat disusul Geho Sama. Bisa diketahui, jika tanpa Langkah Maya ilmu meringankan tubuh milik Geho Sama berada dibawah Dewa Obat.
Itu juga bisa diketahui, jika kekuatan tenaga dalam Geho Sama satu lapis dibawah Dewa Obat. Kemudian secara berturut-turut dibelakang mereka berdua adalah Dewa Rencong, Dewi Anggini dan yang terakhir adalah Mahadewi.
Meskipun Mahadewi masih berada ditingkat shakti, tetapi berkat ilmu saifi angin tingkat tinggi yaitu jurus Langkah Kilat membuat dara itu mampu mengejar para pendekar yang sudah ditingkat surga. Walaupun memang dia terlihat sedikit tertinggal dibelakang.
Dalam sekejap mereka telah melesat jauh meninggalkan meninggalkan reruntuhan Perguruan Pedang Surga. Terlihat jelas rumah penduduk kademangan Cangkring kebanyakan telah rata dengan tanah.
Rumah demang juga hancur lebur tidak ada bedanya dengan yang lain. Sebagian besar rumah-rumah itu juga telah hangus menjadi debu dan arang.
**