
Setelah mendengar perintah dai Sang raja Senopati memerintahkan para prajurit untuk membuka gerbang yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.
Setelah mereka masuk pemandangan mengerikan terpampang di depan mata mereka. Mereka yang tidak melihat bagaimana pertarungan itu berlangsung, sudah dapat dapat membayangkan betapa mengerikannya pertarungan itu dengan melihat kehancuran yang ditimbulkan.
Kobaran api yang membakar reruntuhan telah berhasil di padamkan ole Suro, sesat setelah selesainya pertarungan. Sehingga kebakaran itu tidak merembet ke seluruh kota kerajaan.
Terlihat Suro sedang duduk sambil bermeditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya yang terkuras untuk pertempuran barusan.
Geho sama berdiri di belakang Suro tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Senopati yang sebelumnya terlihat di atas tembok juga menunggu Suro menyelesaikan meditasinya. Dia sepertinya juga segan untuk bertanya kepada Geho sama sebab makhluk itu seperti tidak mengacuhkannya.
Setelah mereka menunggu beberapa saat mata Suro mulai membuka dan menatap ke arah depan. Dia terkejut melihat begitu banyak orang. Dia segera memaklumi karena di antara mereka ada raja dari kerajaan Champa yang berada ditengah-tengah mereka.
Para punggawa kerajaan dan para prajurit berjejer di belakang raja dan permaisuri. Terlihat juga pangeran dan putri yang sempat ikut diselamatkan oleh Suro. Mereka berdua berdiri di samping sang raja.
"Terima kasih tuan pendekar atas bantuan tuan pendekar berdua. Akhirnya kerajaan dan juga para penduduk diseluruh negeri ini dapat di selamatkan."
Suro menarik nafas panjang sebelum menjawab ucapan Raja Chambuwarman. Dia kemudian menundukkan badannya untuk menghormati raja yang masih berdiri di depannya.
"Ini memang sudah menjadi kewajiban yang disematkan pada pundak hamba Paduka Raja. Mohon maaf jika pertempuran yang baru saja selesai telah menghancurkan setengah dari kota raja."
"Tidak mengapa itu hanyalah kerusakan kecil pendekar. Bahkan jika karena pertempuran itu menghancurkan seluruh kota kerajaan beserta seluruh istanaku, tetap sesuatu yang tidak dapat disandingkan dengan jasa pendekar berdua yang menghentikan akibat buruk dari keputusanku yang dengan mudahnya mempercayai ucapan mereka untuk mengumpulkan seluruh penduduk negeri ini."
"Sebab jika tanpa kehadiran pendekar, aku yakin seluruh rakyatku akan musnah. Setelah dijadikan pasukan terkutuk itu. Entah mengapa aku begitu saja percaya dengan mereka."
Geho sama yang berdiri di belakang Suro hanya terdiam dan membiarkan Suro yang terus berbicara dengan sang raja. Sebenarnya raja Champa itu sedikit kebingungan melihat raksasa yang bentuknya begitu mengerikan seperti seorang pengawal bagi pemuda belia di depannya.
"Kalian berdua ucapkan terima kasih kepada dua tuan pendekar ini." Raja Chambuwarman memandang ke arah kedua anaknya yang berdiri di sampingnya.
"Terima kasih tuan pendekar atas pertolongan tuan pendekar kerajaan dan seluruh rakyat Champa dijauhkan dari segala malapetaka besar."
"Tidak mengapa tuan putri dan tuan pangeran itu sudah menjadi tugas hamba."
Suro masih duduk bersimpuh didepan mereka dengan terus tersenyum.
Tuan putri yang ditatap oleh Suro menjadi salah tingkah. Wajahnya mulai bersemu merah.
Raja Chambuwarman mendekati Suro yang masih duduk merendah sebagai bentuk penghormatan dirinya yang hanya seorang rakyat jelata.
"Kami tidak pantas mendapatkan penghormatan setinggi itu oleh tuan pendekar yang telah menyelamatkan negeri kami. Mohon tuan pendekar bersedia bangun." Dengan tangannya sendiri Raja Chambuwarman membangunkan tubuh Suro yang masih duduk bersimpuh.
Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan ke dalam istana yang terlihat kosong dan tidak terurus. Sebab selama tiga Minggu seluruh istana, bahkan seluruh kota raja tidak ada penghuninya.
Bahkan para prajurit pengawal raja yang waktu itu dibantai tidak terlihat mayatnya.
Setelah sampai didalam istana mereka kembali melanjutkan pembicaraan. Kali ini Suro duduk di kursi kehormatan.
"Nama hamba adalah Suro Bledek dari Perguruan Pedang Surga tempat dimana Dewa Pedang menjadi ketuanya. Dan rekan hamba ini bernama Gagak setan."
Suro memperkenalkan dirinya kepada raja dan juga kepada para punggawa Kerajaan Champa sebelum menjelaskan semuanya.
Suro kemudian mulai menjelaskan kepada mereka, tentang musuh yang telah menguasai kota kerajaan Simhapura atau kota singa selama beberapa minggu yang lalu.
Dia juga menjelaskan kedatangan dirinya yang jauh-jauh datang ke Kerajaan Champa adalah dalam rangka mencegah kehancuran dunia yang disebabkan bangkitnya Dewa Kegelapan secara penuh. Salah satunya terkait dengan gurunya yang harus dia selamatkan terlebih dahulu, agar dapat membantu melawan pasukan kegelapan.
"Sampai beberapa hari kedepan Suro meminta ijin kepada paduka untuk diperbolehkan tetap tinggal. Karena salah satunya hendak memastikan mereka kembali ke kerajaan ini atau tidak. Selain itu hamba merasa jika guru hamba masih berada di sekitar negeri Champa ini. Tetapi hamba tidak dapat memastikan di belahan mana dia sedang berada."
**
Negeri Champa bagi sejarah Nusantara bukan sesuatu hal yang tidak asing sebab sudah dari berabad-abad yang lalu sudah ada hubungan diplomatik.
Bahkan menurut cerita legenda Aji saka yang ada di tanah Jawa memiliki hubungan dengan negeri Champa. Bahkan dalam salah satu dongeng yang berasal dari negeri Champa ada kisah yang menceritakan tentang seorang tokoh yang baik nama maupun ceritanya memiliki alur cerita yang mirip dengan cerita Aji saka yang ada di tanah Jawa.
Nama tokoh cerita itu adalah Raja shaka dia berasal dari Gujarat yang berada di Jambudwipa atau India. Jika di tanah Jawa tokoh itu berasal dari negeri antah berantah yang bernama Bumi Majeti. Sebagian menafsirkan jika Bumi Majeti berada di Jambudwipa. Kemungkinan dari suku Shaka atau Sycthia. Karena itulah ia bernama Aji Saka atau Raja Shaka.
Jika merunut pada sejarah yang ada di India sendiri terjadi suatu peristiwa yang memiliki hubungan dengan cerita Aji saka. Pada tahun 78 Masehi terjadi perebutan kekuasaan di sebuah Kerajaan Sakas. Perebutan kekuasaan itu kemudian menjadi penetapan tahun saka.
Negeri Saka sendiri meliputi wilayah Rajastan, Madya, Paradesh, Gujarat dan Maharashtra. Sehingga ada kesesuaian dengan cerita yang ada di negeri Champa tentang Raja Shaka yang berasal dari Gujarat, sama seperti yang ada di tanah Jawa.
Penanggalan tahun saka ini kemudian hari digunakan di tanah Yawadwipa atau Javadwipa. Menurut cerita penanggalan saka di tanah Jawa dimulai sejak kedatangan Aji Saka.
Aji saka dalam cerita yang ada di tanah Jawa disebutkan, jika dia datang dari negeri atas angin. Tetapi sebelum sampai ke tanah Yawadwipa Aji saka bersinggah di negeri Annam atau Vietnam. Kemungkinan negeri tempat Aji Saka itu adalah Kerajaan Champa.
Negeri atas angin adalah sebutan untuk negeri India atau Jambudwipa. Karena pada masa silam para laut saat akan berlayar menuju India mereka akan menunggu musim hujan. Dimana saat itu angin atas yang bertiup dari barat daya menuju ke Utara.
Setelah singgah di negeri Champa dia berhasil menentramkan kerajaan yang selalu dilanda peperangan. Di negeri Champa, Aji saka diceritakan menikah dengan Puteri Prabawati yang memiliki seorang putera bernama Pangeran Prabakusuma.
Peninggalan yang masih ada hingga sekarang terkait cerita Aji saka di Champa, adalah aliran Sungai Mekong yang berada di Vietnam Selatan. Bagian bawah Sungai Mekong masih mempertahankan namanya sebagai Sungai Ba Saka.
**
Suro setelah pertempuran itu beristirahat di dalam istana kerajaan. Bahkan disebut sebagai tamu kehormatan bagi Raja Chambuwarman. Selama beristirahat itu Suro terus mencari keberadaan gurunya, yaitu Eyang Sindurogo. Melalui pusaka Kaca Benggala dia tetap tidak mampu menemukan keberadaanya.
Kondisi itu membuat Suro bertahan di kerajaan Champa semakin lama. Pasukan kegelapan yang ditakutkan akan kembali menyerang sampai beberapa hari Suro ada disana tidak muncul kembali.
"Mengapa saat pertempuran waktu itu tuan Suro tidak bertanya saja kepada salah satu pasukan kegelapan yang masih berwujud manusia?"
Mendengar perkataan Gagak setan yang sedang bersila di dekatnya, Suro hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
"Mengapa kamu tidak bertanya kepada salah satu dari mereka waktu itu?"
"Karena tuan Suro tidak memerintahkan hal itu kepada hamba."
Jawaban Geho sama hanya membuat Suro kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa tidak kita kejar saja ke duania lain tuan Suro? Bukankah itu suatu hal yang mudah jika tuan Suro menghendaki?"
"Benar Gagak setan jika itu memang bukan hal yang sulit. Tetapi dunia kegelapan itu begitu luas. Dan kita tidak tau dia ada di sebelah mana. Apalagi wilmana milik mereka sudah kita hancurkan, tentu mereka tidak akan melepaskan diriku dengan mudah."
"Selain itu kekuatan Dewa Kegelapan yang telah mampu membebaskan raganya tentu bukan lawan yang dengan mudah dapat ditaklukan."
"Jika tuan Suro kalah kuat, mengapa tuan Suro tidak menyerap kekuatan kegelapan yang ada di alam itu sebanyak mungkin. Bukankah tuan Suro pernah bercerita, setelah melalui jalan arhat jiwa yang dimiliki tuan tidak akan terpengaruh oleh kekuatan kegelapan. Apakah hal itu tidak pantas dicoba?"
"Selain itu hamba curiga melihat peningkatan kekuatan pasukan kegelapan yang meningkat pesat, hamba yakin itu ada andil besar dari Dewa kegelapan yang telah berhasil membebaskan raganya."
"Walaupun kekuatannya masih disegel, tetapi seperti kita ketahui kekuatan itu telah bocor dan meracuni seluruh alam yang menjadi tempat kekuatan itu di segel. Bahkan tidak ada makhluk hidup yang wajar di dalam alam tersebut."
"Selain itu tuan Suro mungkin saja dapat menyelamatkan para penduduk yang banyak dibawa ke dunia kegelapan. Jika tuan Suro mau datang ke alam kegelapan itu."
Mendengar ucapan Geho sama membuat Suro merenung untuk membuat keputusan yang tepat. Antara mementingkan menyelamatkan para penduduk, memperkuat dirinya dengan menyerap kekuatan di alam kegelapan atau mencari keberadaan gurunya.