SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 106 PERTEMPURAN MELAWAN PASUKAN MEDUSA part 3



"Hati-hati kalian semua dengan wanita yang terlihat masih belia di dekat Medusa. Karena untuk saat ini dia adalah ahli racun terkuat. Jarum beracun miliknya benar-benar sangat mematikan. Dialah yang memiliki julukan Dukun Sesat dari Daha!" Tetua La Patiganna begitu melihat dari jauh dia sudah mewanti-wanti kepada seluruh orang yang ada disekitarnya.


"Jadi ini, tokoh yang ditakuti baik golongan putih maupun golongan hitam. Aku pikir dia itu seorang nenek-nenek, ternyata parasnya begitu cantik." Tetua Datuk Rajo Mustiko terkejut dengan paras cantik dari seseorang yang disebut Dukun sesat dari Daha itu. Karena jika dilihat parasnya mengingatkan kepada seorang gadis yang masih belia. Bahkan terlihat lebih muda dibandingkan Mahadewi sekalipun.


"Jangan tertipu dengan parasnya yang terlihat masih begitu muda. Dia adalah wujud iblis yang sedang membo (menyerupai atau meniru) dalam wujud manusia. Karena ilmu sesat miliknya yang bernama ilmu Setan Pemangsa Jasad membuat dirinya terlihat selalu lebih muda. Jangan sampai jasadmu dihisab sebagai tumbal ilmunya." Tetua Eyang Sinar Gading yang berasal dari Perguruan Lemah Abang menimpali perkataan tetua Datuk Rajo Mustiko.


"Kalau begitu, aku serahkan dia padamu sahabatku Sinar Gading! Lebih baik aku mengoda gadis cantik yang satunya itu." Selesai berbicara dirinya langsung melesat kedepan bersama lima tetua lainnya. Sasaran yang dia tuju tentu saja Medusa Hitam. Lima tetua cabang dari Perguruan Pedang Surga secara bersamaan juga ikut menyerang lawannya yang merupakan para pentolan dari aliran hitam.


Hampir seluruh perguruan cabang telah datang mengirimkan pasukan ke Banyu Kuning dari ujung Swarnabhumi hingga perguruan cabang milik tetua La Patiganna yang berada di pulau besi atau Sulawesi. Mereka bergerak cepat setelah medapatkan perintah dari Dewa Pedang. Kecuali perguruan yang berada ditempat yang jauh seperti di Kerajaan Champa, mereka tetap mengirimkan pasukan. Tetapi karena begitu jauhnya tempat dimana mereka berada, maka kemungkinan masih dalam perjalanan menuju Banyu Kuning.


Dengan bantuan dari begitu banyaknya perguruan cabang, ternyata tidak mampu mengimbangi jumlah kekuatan pasukan yang berada dibawah panji-panji milik Medusa. Selain pasukan dari berbagai perguruan aliran hitam, dia juga mendapatkan tambahan pasukan yang tidak sedikit dari beberapa kadipaten yang mendukungnya.


"Nyawamu ternyata ada seratus berani menghadapiku!" Medusa yang sedari tadi menahan kemarahannya akhirnya mendapatkan tempat untuk menumpahkan segala amarahnya.


"Mengapa aku harus takut jika lawan yang aku hadapi secantik dirimu. Tetapi pertama-tama aku harus mencukur habis rambutmu dulu. Agar penampilanmu yang cantik tidak dirusak oleh makhluk yang menempel dikepalamu. Karena itulah mengapa sejak dulu aku ingin sekali memotong rambutmu yang menjijikan itu!" Suara dari Tetua Datuk Rajo Mustiko yang diucapkan sambil tertawa membuat daun telinga Medusa memerah seperti kepiting rebus dan umbun-umbunnya kembali mengebul. Tanda-tanda kemarahannya sudah tidak mampu lagi ditahan.


"Setan laknat akan aku jadikan dirimu arca batu dan akan aku hancurkan tubuhmu...!"


Bersamaan dengan teriakan keras dari Medusa, dia kemudian menyerang ke arah musuhnya dengan sinar yang keluar dari kedua bola matanya. Sinar itu segera menghajar ke arah tetua Datuk Rajo Mustiko Alam.


Tentu saja serangan itu dengan mudah dia hindari. Sambil tertawa keras dia melompat dengan begitu lincah. Umpan yang dia gunakan telah termakan oleh lawannya. Dia memang sengaja membuat kemarahan Medusa meledak-ledak, sebab dengan itu dia lebih mudah untuk dihadapi.


Pertarungan mereka berlangsung cepat puluhan jurus sudah di lewati. Bahkan berkali-kali serangan Medusa yang keluar dari matanya meleset, justru mengenai orang-orang yang ada disekitar pertarungan. Begitu terkena serangan miliknya, orang itu langsung berubah menjadi arca batu.


Gerakan tetua Datuk Rajo Mustiko yang menyerupai seekor harimau dengan cakar baja dikedua tangannya mampu mengimbangi kekuatan Medusa. Dia terlihat begitu lincah menghindari setiap serangan Medusa yang menerjang semakin membabi-buta seiring kemarahannya yang meledak-ledak.


Tidak jauh dari pertarungan mereka Eyang Sinar Gading terlihat sibuk menangkis semua jarum beracun dari tehnik perubahan es milik Dukun Sesat dari Daha. Serangan jarum milik Dukun Sesat itu hampir tidak jauh berbeda dengan tehnik yang dipakai Narashinga maupun Narashoma yang mengubah kabut air menjadi jarum kristal es.


Perbedaanya hanya pada perubahan kabut beracun yang menyelimuti tubuh Dukun sesat itu menjadi ribuan jarum yang sangat kecil, tetapi sangat mematikan. Karena begitu beracunnya jarum maupun kabut yang menyelimuti dirinya, membuat pasukan dari pihak Medusa sekalipun, memilih menjauh sejauh-jauhnya.


"Berbahagialah karena matimu akan sangat membanggakan dengan jurus mautku ini, Jurus Cakar Seribu Racun!" Cakar ditangannya itu memiliki kekuatan yang menyerupai kerasnya baja.


Pedang milik Eyang Sinar Gading segera memapak kuku-kuku hitam yang berbau seperti rendaman mayat itu. Terjangan serangan berupa kuku setajam pisau itu berputar dan mencoba mencabik-cabik dirinya.


Untuk membunuh lawannya Dukun sesat itu tidak memerlukan luka yang memanjang dan parah, tetapi cukup satu goresan kecil. Jika itu terjadi, maka Sang Hyang Yamadipati dipastikan akan menyambangi dirinya sebentar lagi.


'Sial meskipun terlihat begitu cantik ternyata jika mendekat baunya mirip mayat berumur seminggu. Baunya benar-benar membuat perutku menjadi mual serasa ingin mutah. Belum lagi kabut beracun yang selalu menyelimuti tubuhnya benar-benar merepotkan.' Eyang Sinar Gading merutuk dalam hatinya sambil menangkis serangan yang menghujaninya.


Menghadapi terjangan serangan kuku yang begitu dahsyat tidak membuat Eyang Sinar Gading terlihat kesusahan. Justru dia terlihat kerepotan harus berkali-kali menahan nafas saat kelebat lawannya mendekatinya.


Sebab bersama gerakan tubuhnya itu kabut racun yang dia kerahkan ikut menyertainya. Tehnik perubahan air, es dan racun saat digabungkan kekuatannya sangatlah mengerikan. Bahkan lalat yang berdatangan karena mencium aroma mayat dari kuku panjang milik Dukun itu, langsung berjatuhan. Mati seketika begitu terkena kabut racun yang melingkupi tubuhnya.


Beberapa kali Eyang Sinar Gading harus tersurut karena paru-parunya harus dibiarkan bernafas. Jika dia tetap bertahan dalam kondisi seperti itu, hanya ada dua pilihan didepan matanya. Mati karena kehabisan nafas atau mati karena menghirup racun.


Tetapi sepertinya dua-duanya bukan pilihan yang dia ambil. Segera dia mengubah pola serangannya dengan menggunakan pedang jalasutra miliknya. Bentuk dari pedang itu lebih mirip sebuah cemeti panjang dari pada sebuah pedang. Dengan pedang jalasutra ditangan kanannya dia menghajar Dukun Sesat dengan jurus pedang uniknya itu.


Dengan taktik serangan yang dia lakukan sekarang, maka ada jarak sekitar satu tombak dari lawannya. Dengan kondisi itu memberikan keluasan dirinya untuk menghirup udara segar. Kesempatan itu juga dia gunakan untuk segera menelan pil penawar racun. Dia tidak tahu seberapa hebat pil yang dia telan mampu menawarkan racun milik Dukun Sesat. Tetapi dia tetap menelannya karena hanya pil penawar racun itu yang dia punya.


Jdaar!


Permainan pedangnya yang unik itu membuat ledakan suara setiap menghajar Dukun Sesat. Tangan kirinya kemudian mencabut pedang pendek miliknya untuk menangkis serangan jarum yang terbentuk dari kabut beracun milik Dukun Sesat.


"Aaaakkk...!"


Dalam satu serangan yang mengerikan tangan kanan Dukun Sesat dari Daha itu terpotong menjadi dua bagian.


"Setan Laknat akan aku jadikan mayatmu musnah!" Teriakan keras dari si Dukun menjadi pertanda kemarahannya yang meledak. Ribuan jarum beracun yang dibentuk dari kabut beracun miliknya langsung menghajar Eyang Sinar Gading.


Dua potongan tangannya yang tergeletak ditanah itu dia pungut. Lalu tanpa kesulitan dia mulai menempelkan bagian yang terpotong itu pada tempatnya semula.