
Selagi Suro sedang berusaha menyelamatkan Mahadewi, maka pada saat yang sama para pendekar yang berada di Gunung Mahameru sedang bertarung dengan pasukan Dewa Kegelapan salah satunya dari aliran hitam.
Hal yang membuat Eyang Sindurogo terkejut adalah penampakan dari Batara Karang atau Batara Antaga dan juga Batara Sarawita.
Seharusnya mereka berdua telah dihabisi oleh Suro dalam pertempuran beberapa tahun yang lalu. Selain itu ada keanehan yang terjadi. Sebab mereka muncul bersama kembarannya yang menjaga keempat sisi Gunung Mahameru.
Batara Sarawita dan Batara Karang membentuk pagar betis mengelilingi Gunung Mahameru menghalangi siapapun yang berkehendak naik
kepuncaknya. Selain keempat sosok Batara Sarawita dan juga Batara Karang, maka
pasukan aliran hitam dari berbagai daerah yang jauh telah muncul dan dengan
tampilan juga kekuatan yang baru.
Terlihat Tengkorak Merah dan juga pasukan yang berasal dari Champa Iblis Seribu Racun. Juga para dedengkot aliran hitam lainnya yang bergabung dalam pasukan besar menghadang
pasukan aliran putih yang hendak menggagalkan rencana Dewa Kegelapan yang
berupaya menuju khayangan.
“Ini tidak aku bayangkan sama sekali, jika kita akan melakukan pertempuran sebesar ini!” ujar Eyang Sindurogo kepada Dewa Obat. Mereka berdua terbang di langit mencoba menjebol pertahanan yang telah digelar oleh Dewa
Kegelapan
Terlihat ditangan Eyang Sindurogo Pedang Kristal Dewa tergenggam erat ditangannya. Dia bersiap menghadapi salah satu dari dua Batara
Karang yang menjaga puncak Gunung Mahameru. Dia melindungi tempat ritual yang
dilakukan Dewa Kegelapan.
Rupanya segala daya telah diperhitungan sematang mungkin oleh Dewa Kegelapan, sehingga ritualnya tidak terganggu. Baik di udara maupun di darat telah ditutup jalannya, sehingga itu akan membuat siapapun tidak dapat melewatinya.
Para pendekar terbagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh para pendekar pilihan. Mereka adalah Dewa Obat, Eyang Sindurogo, Dewa Pedang, Dewa Rencong, termasuk juga Dewi Anggini.
Selain para pendekar pasukan dari Kerajaan besar ikut mendukung dan mengirimkan pasukan besar mereka. Pasukan dari Kalingga,Tarumanegara dan juga pasukan dari Galuh.
Mereka setidaknya mengirimkan pasukan
lebih dari seratus ribu pasukan. Termasuk pasukan dari Prabu Jayaranu dari Kerajaan Sambhara ikut bergabung bersama kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
“Kalian para manusia makhluk rendahan hendak melawanku! Aku adalah makhluk langit yang tidak akan mampu kalian bunuh!” teriak Batara Karang.
“Mau makhluk dari langit atau makhluk dari got kau pikir kami perduli? Kami pasti akan menghabisimu!” dengus Eyang Sindurogo langsung menebaskan Pedang Kristal Dewa.
Pada saat bersamaan Dewa Obat atau bernama Maharesi Acaryanandana itu segera melesatkan anak panah dewa yang bernama Brahmastra.
Seketika itu juga cahaya merah menyala menerjang bersama api hitam yang dikerahkan Eyang Sindurogo ke arah Batara Karang. Lesatan serangan mereka berdua langsung dihadang oleh pusaran angin hitam milik Batara Karang.
Duuuuuuuuum!
Ledakan yang terjadi diatas udara itu menggelegar begitu mengerikan. Karena kekuatan yang dikerahkan itu sudah setara kekuatan para dewa. Gelombang api yang dikerahkan Eyang Sindurogo tidak ada yang tersisa oleh pusaran hitam yang tidak juga hancur oleh serangan anak panah Brahmastra milik Maharesi Acaryanandana.
Angin hitam yang melesat itu terus menerjang hendak menghantam Eyang Sindurogo, beruntung Maharesi Acaryanandana telah mengerahkan kembali anak panahnya. Kali ini anak panah yang dia lesatkan bernama Indrastra.
“Kita lihat apakah pusaran Angin Hitammu bertahan dari senjataku Dewa Indra atau tidak!” ucap Maharesi Acaryanandana.
Duuuuuuuuum!
Indrastra yang dikerahkan oleh Maharesi Acaryanandana akhirnya berhasil membuat serangan dari Batara Karang berhasil dihancurkan. Namun serangan itu bukanlah serangan satu-satunya, sebab kemudian dari tangannya berlesatan rantai hitam yang hendak menjangkau tubuh Eyang Sindurogo dan juga Maharesi Acaryanandana.
“Aku rasa setelah melihat kemampuan kalian, aku sangat menginginkan kalian menjadi mainanku!” seringai Batara Karang terlihat begitu menakutkan.
Serangan kali ini membuat Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryanandana harus tersurut menjauh kebelakang. Terlihat Maharesi Acaryananda harus melepaskan anak panah yang tidak terhitung jumlahnya untuk menghentikan rantai hitam yang jumlahnya entah mengapa terus bertambah banyak.
“Kalian akan aku ruah menjadi makhluk lain agar mampu aku jadikan sebagi pasukanku untuk melawan para dewa di langit!” ucap Batara Karang yang semakin gencar melesatkan rantai hitam miliknya.
“Gawat, jangan sampai Maharesi terkena serangan rantai itu! aku pernah merasakannya, dan sangat sulit untuk terlepas. Beruntung aku waktu itu bisa melepaskannya. Hanya saja musuh yang aku hadapi tidak sekuat ini,” ucap Eyang Sindurogo sambil melesat mundur.
Maharesi Acaryananda tidak menjawab karena terus melesatkan anak panah dewa yang berupa lesatan cahaya. Sehingga terlihat di bawah oleh para pasukan pendekar aliran putih dan juga pasukan kerajaan seakan sebuah
hujan cahaya yang begitu indah, meskipun itu sebenarnya sangat mematikan.
Bldaar! Bldaar! Bldaar!
Ledakan berturut-turut terdengar setiap kali anak panah dewa milik Maharesi Acaryanandana menghajar rantai yang melesat terbang mengejar mereka berdua. Namun secara mendadak Batara Karang yang terbang diatas puncak Gunung Mahameru yang telah berhasil mengusir Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryananda kini merubah lesatan rantainya.
“Semua menjauh!” teriak khawatir Eyang Sindurogo dengan dilambari kekuatannya yang kini setara kekuatan dewa tingkat awal.
Tentu saja dia berubah khawatir, sebab rantai yang sebelumnya mengejar dirinya kini justru berubah menyerang ke arah pasukan aliran putih dan para prajurit dari berbagai kerajaan.
“Kalian ingin melawanku! Mimpi, justru aku akan membuat kalian semua berada di pihakku! Hahahahaha!” teriak Batara Karang.
***
“Ini dimana?” suara Mahadewi terdengar begitu Suro berhasil memulihkan kesadarannya dari ilmu milik Prabu Godakumara yang telah membuatnya tidak mengingat apapun.
“Ini di ruang rahasia Eyang Sindurogo,” jawab Geho Sama.
Mendadak Mahadewi terkejut ada seorang pemuda tampan yang memandangi dirinya selain Suro. Mahadewi bergegas tersurut.
“Ini aku Geho Sama,” ucapnya sambil membuat pose seakan hendak memamerkan ketampanannya yang terbaru.
“Siluman kampret sialan! Apa yang kau lakukan? Ingin aku rubah menjadi makhluk buruk rupa!” hardik Suro.
Geho Sama mendengus kesal mendengar makian Suro.”Bocah sinting sialan, aku tahu kau merasa tersaingi dengan ketampananku,” ujar Geho Sama dengan bersungut-sungut.
Suro lalu mendekat ke arah Mahadewi utnuk memastikan, jika kesadaran Mahadewi benar-benar telah pulih. Beberapa hal ditanyakan Suro kepada Mahadewi, gadis itu dapat menjawab semua pertanyaan Suro dengan baik.
“Aku rasa kesadaranmu telah pulih Dewi,” ucap Suro yang lalu mengajak mereka menuju Gunung Mahameru dimana semua pendekar telah berkumpul.
Namun Suro meminta Mahadewi dan Geho Sama untuk menunggu sebentar, tanpa di duga Suro membuat ruangan rahasia yang berada di dalam tanah itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
Dia mengerahkan teknik perubahan tanah. Ruangan dari batu giok yang menurut cerita adalah bahan bagi senjata para dewa kini dirubah menjadi sebuah kapak besar setinggi tubuhnya, selebihnya dia rubah menjadi
zirah perang yang menutupi tubuhnya.
***
terima kasih yang masih menunggu semoga bisa menyelesaikan secepatnya