
Setelah pertarungan Suro melawan Narashinga masih menyisahkan dua sesi pertarungan lagi pada tahap ini. Empat peserta yang tersisa antara lain Bayu Aji, Datuk Bandaro Putih, Arimbi dan Mahadewi.
Selang tidak beberapa lama Bayu Aji dan Datuk Bandaro Putih dipanggil namanya oleh Dewa Rencong. Setelah dua orang itu dipanggil maka dapat dipastikan peserta yang akan menjadi lawan Mahadewi untuk pertarungan sesi berikutnya adalah Arimbi.
"Kakang! Bagaimana cara menghadapi lawanku nanti?"
Suro menoleh dan menatap Mahadewi kemudian ke arah Arimbi yang duduknya agak berjauhan dari mereka.
"Kebetulan aku kurang paham dengan tehnik yang dia gunakan. Sebab saat dia bertarung pada babak sebelumnya aku tidak datang melihatnya."
"Bisakah adinda ceritakan seperti apa tehnik dan kemampuan yang dia punya. Mungkin aku bisa menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi jurus yang akan adinda hadapi nanti."
Panjang lebar Mahadewi menceritakan tentang kemampuan bakal lawannya. Terlihat Suro begitu serius mendengar penjelasan Mahadewi, kepalanya terlihat menganguk-anguk.
Disaat Mahadewi sedang mencoba menjelaskan tentang kemampuan bakal lawannya agar bisa mendapatkan masukan dari Suro, ditengah lapangan pertarungan dua peserta sudah dimulai.
Perubahan jurus halilintar milik Bayu Aji telah menebar sejak awal pertarungan. Dia begitu optimis akan memenangkan pertarungan, sebab tenaga yang dia rasakan sejak meminum obat dari Suro seakan menginginkan penyaluran. Tenaganya meledak-meledak menghajar ke arah lawannya.
Datuk Bandaro Putih mengunakan ilmu silat yang bersumber dari silek Harimau, yaitu semacam ilmu silat yang meniru gerakan seekor Harimau. Senjata yang dia gunakan juga berupa kerambit digengam dikedua tangannya. Kerambit adalah senjata semacam pisau kecil yang meruncing seperti ujung celurit.
Pergerakan jurusnya benar-benar terinspirasi gerakan Harimau. Gerakannya begitu cepat menerjang, mencakar, menerkam dan menghindari serangan lawan terlihat begitu lincah.
Loncatan yang dia lakukan mampu melontarkan tubuhnya lebih dari satu tombak. Serangan yang dikerahkan Bayu Aji banyak terbuang percuma karena gerakan Datuk Bandaro Putih berkali-kali mampu menghindarinya. Bahkan terkaman cakar-cakarnya yang berupa kerambit beberapa kali hampir saja mengoyak perut Bayu Aji. Beruntung dengan sigap dia mampu menahan serangan itu dengan bilah pedangnya.
Bldaar!
Hentakan yang keras dari energi petir milik Bayu Aji menghantam Datuk Bandaro putih, membuat tubuh itu terlempar jauh.
"Jadi ini ilmu silat Harimau yang terkenal itu. Aku mendengar kalian para pengamal ilmu silat ini, mampu berubah menjadi seekor Harimau?"
Datuk Bandaro putih hanya tersenyum mendengar pertanyaan lawannya. Dia terlihat begitu misterius, bahkan sejak kedatangannya di sekte pusat tidak banyak berbicara dengan peserta lain. Ada hal yang menambah kemisteriusan dirinya yaitu jika diperhatikan diantara bibir dan hidung tidak ada lekukan yang biasanya dimiliki orang normal. Matanya menyorot dengan begitu tajam seakan mata seekor Harimau.
Tanpa kata-kata tubuhnya menerjang ke arah Bayu Aji dengan gerakan berputar seperti bor.
Trang! Trang!
Beruntung sebelum tubuhnya berlubang tertembus serangan lawannya , Bayu Aji mampu menangkis dan bergeser ke kiri menghindari serangan yang tak mampu dihentikan itu.
Cakar Harimau yang digantikan kedua kerambit dikedua tangannya menerjang dan terus mengejar, membuat Bayu Aji buru-buru tersurut langkahnya. Dalam hal tingkatan ilmu tenaga dalam mereka terlihat begitu berimbang. Tetapi perubahan kekuatan petir milik Bayu Aji begitu hebat, lebih hebat dibandingkan pada pertarungan tahap sebelumnya.
Bayu Aji bertarung dengan begitu percaya diri mengingat dia merasa ada peningkatan tenaga dalam yang berlimpah dalam tubuhnya. Tetapi kekuatan yang dimiliki lawannya juga begitu hebat seakan tidak terpengaruh dengan serangan Bayu Aji yang mengandung kekuatan petir.
Bahkan hentakan listrik yang menyambar tidak membuat dirinya tersurut. Datuk Bandaro putih merupakan sosok yang misterius, kekuatan yang dia miliki juga tidak begitu diperlihatkan pada pertarungan sebelumnya. Hal itu membuat Bayu Aji berusaha mencari tau kekuatan lawan.
Jurus-jurus yang menyerupai gerakan harimau menyerang dengan ganas ke arah Bayu Aji. Kerambit di kedua tangannya menjadi senjata yang begitu mengerikan melengkapi jurusnya yang bersifat keras.
Pertarungan mereka berlangsung dengan sengit. Pedang Kiyai Guntur Geni menerjang ke arah lawan bergerak dengan hebat. Sengatan listrik dari Pedang Kyai Guntur Geni menghantam lengannya yang ditutupi lempengan besi tebal membuat mulut Datuk Bandaro menggerung keras seperti auman Harimau.
Sepakan dan sapuan kaki Datuk Bandaro dari langkah sileknya yang khas membuat Bayu Aji benar-benar kerepotan. Beberapa kali badannya hampir saja terjengkang terkena sapuan kaki Datuk Bandaro.
Perguruan Inyiak Balang merupakan perguruan cabang yang menjadi tempat Datuk Bandaro putih menempa kemampuan bela dirinya. Konon pada tingkatan yang sudah tinggi untuk menyerap kemampuan seekor Harimau. Maka setiap murid utama yang ingin sampai pada tahap itu diharuskan bergulat dengan inyiak balang atau seekor harimau. Entah benar atau tidak mitos itu, setelah harimau itu mati sebagai tumbal maka rohnya akan menyatu dengan pesilek tersebut. Sehingga dengan bersatunya roh harimau dengan pesilek, akan memberikan kemampuan tambahan pada pesilek baik kecepatan maupun kekuatannya.
Jurusnya bergerak cepat menyambar ke arah lawannya dengan posisi kebanyakan agak merunduk. Senjata yang digunakan mengharuskannya bertarung dengan jarak yang rapat.
Bayu Aji yang tidak terbiasa bertarung dalam jarak yang begitu rapat, mencoba membuat jarak karena pergerakan pedang Kiyai Guntur Geni menjadi tak selincah yang seharusnya. Beberapa kali kakinya tersurut kebelakang mencoba membuat jarak, tetapi Datuk Bandaro tidak memberikan peluang itu segera mengejar dengan cepat
Trang!
Hantaman pedang Bayu aji mengenai lengan Datuk Bandaro. Dilengan itu dipasang sebentuk lempengan besi yang berguna sebagai perisai. Hantaman yang mengenai lengan itu tidak maksimal karena jarak yang terlalu dekat atau bisa disebut terlalu rapat dengan lawannya. Permainan kerambit mencecar tubuh Bayu aji dengan cepat membuat beberapa bagian pakaiannya tercabik melebar. Bisa dibayangkan jika itu mengenai perut lawannya, tentu akan membuat luka yang cukup serius. Kemungkinan bisa berakibat kematian.
Dua puluh lima jurus sudah mereka lewati tetapi belum mampu memperlihatkan siapa yang paling unggul diantara mereka.
Silek harimau termasuk silat garis keras yang cukup berbahaya bagi pengguna silat tersebut maupun bagi lawannya. Gerakan dalam silat ini terlihat begitu indah seperti sebuah tarian, tetapi sebenarnya adalah gerakan yang mematikan untuk lawan. Ciri khas dalam silek harimau yang cukup mematikan yakni serangan dalam bentuk gerakan kuncian dan terkaman ke arah lawan. Siapa yang tertangkap dan terkunci dalam gerakan silat maka tidak bisa bergerak dan tidak ada ampun. Kuda-kuda rendah yang digunakan juga memiliki ciri khas tersendiri seperti mengikuti gaya seekor harimau.
Dalam silat harimau memiliki gerakan khusus dan juga khas. Untuk silat harimau, teknik yang harus dikuasai ada teknik akrobatik dan juga teknik beladiri sigap. Karena gerakan silat harimau memerlukan kecekatan pesilatnya dan juga tubuh yang luwes. Dalam gerakan silat harimau seorang pesilat mampu menaiki tubuh lawannya dengan cepat meski dalam kondisi sedang berlutut seakan harimau yang sedang menerkam mangsanya.
Gerakan kuncian dalam tehnik ini terkenal cukup menyakitkan dan membuat lawan tak berkutik dengan tubuh yang tidak bisa melawan balik. Teknik serangan lainnya yang tak kalah menakutkan dalam silek harimau adalah gerakan cakaran dan pada pesilat peran cakar kadang digantikan dengan senjata kerambit. Titik-titik sasaran cakaran lebih banyak mengarah pada leher, muka dan beberapa titik vital dari lawan. Teknik ini menjadi ciri khas yang tidak ada pada silat lainnya.
Itulah mengapa di Swarnabhumi ilmu ini begitu disegani, ditambah cerita yang mengatakan mereka para pesilek ini dapat berubah menjadi harimau yang kadang disebut inyiak balang atau juga disebut si ampang limo atau juga disebut dengan sebutan penghormatan datuak.
Untuk pelatihan dasar seperti itu dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Karena akan menjadi dasar yang kokoh untuk menuju tahap selanjutnya mempelajari jurus silek harimau ini. Latihan dasar itu bisa berlangsung lebih dari tiga purnama tergantung dari perintah Tuo silek yang melihat kemajuan muridnya, pantas atau belum menuju tahap berikutnya.
Trang!
Hentakan tenaga dalam Bayu Aji dalam perubahan unsur petir yang melambari bilah pedangnya melemparkan tubuh Datuk Bandaro. Bayu Aji tidak melewatkan kesempatan itu segera dia mengulung dengan jurus pedangnya yang dilambari energi petir.
"Pedang Bersatu Bersama Angin!"
Jurus pertama dalam kitab Dewa Pedang dengan dilambari sambaran listrik dari ujung pedang Bayu Aji menerjang ke arah Datuk Bandaro dengan ganas. Beruntung tubuhnya lebih dulu berkelit dengan berguling. Tetapi itu tidak menghentikan serangan Bayu Aji yang mengejar dengan lebih ganas. Tenaga dalamnya meluap-luap seakan tidak ada habisnya.
Serangan Bayu Aji menerjang ke arah lawannya tidak memberikan kesempatan untuk bernafas. Hantaman pedangnya beberapa kali mampu dihalangi lengan Datuk Bandaro. Lempengan besi yang bentuknya sedikit misterius itu berkali-kali telah menyelamatkan tubuhnya.
Seharusnya dengan ketajaman yang dimiliki pedang yang dibuat oleh Empu Ciung Wanoro ini mampu membelah lempengan besi di lengan Datuk Bandaro tetapi entah mengapa kekerasannya mampu menahan tebasan lawan.
Sejalan dengan berlalunya jurus yang digelar dalam pertarungan mereka bertambah sengit. Entah sejak kapan wajah yang diperlihatkan Datuk Bandaro terlihat berubah mengerikan. Suara yang keluar bukan lagi suara manusia seperti gerungan Harimau. Serangan yang dia lakukan kali ini begitu mengerikan kekuatan dan kecepatannya berubah lebih kuat. Hal itu sempat membuat Bayu Aji terkejut dengan peningkatan kekuatan lawan yang justru setelah melewati lima puluh jurus berubah menjadi lebih cepat dan kuat dalam serangannya.
"Apakah muridmu itu akan berubah menjadi seekor harimau seperti cerita yang terdengar?" Tetua yang menjadi guru Mahesa Tetua Banyu Langit bertanya kepada tetua disebelahnya.
"Hahaha... itu cuma jurus yang hanya untuk menakut-nakuti bocah. Kalau berhadapan dengan jurus pedang milik Dewa pedang mengunakan tehnik itu seperti ayam menghampiri pisau sembelihannya."
Tetua yang menyahut pertanyaan itu bernama Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam sekaligus guru besar dari Datuk Bandaro Putih.
"Berarti benar kalian bisa berubah menjadi seekor harimau?"
"Setiap pendekar yang telah melewati tingkat kekuatan jiwa yang minimal setingkat dengan muridku itu mampu memangil Roh Harimau. Dengan bersatunya jiwa mereka dengan Roh Harimau maka akan membuat kekuatan mereka naik drastis, baik kecepatannya maupun kekuatannya."
"Apakah itu artinya kalian kemudian bisa berubah menjadi seekor harimau?" Tetua Banyu Langit masih terlihat penasaran dengan kabar tentang mereka yang dapat berubah menjadi wujud seekor harimau.
"Apakah tetua ingin melihat wujud Harimau jadi-jadian yang akan memakan seorang tetua sekte?"
"Hahaha...Tidak..tidak saya tarik kata-kataku tadi!" Tetua Bayu Langit yang gerakan tubuhnya seakan ketakutan tetapi wajahnya tertawa terkekeh setelah berhasil mengoda tetua disebelahnya itu. Mata tetua Datuk Rajo Mustiko Alam terlihat berubah menyala seperti bukan mata manusia yang hitam tetapi lebih mirip mata kucing tepatnya mata seekor harimau. Mata yang sama dengan kedua mata Datuk Bandaro putih yang sedang bertarung dengan Bayu Aji.
"Tetapi saya masih kagum dengan kamampuan murid tetua dia bisa menahan serangan yang dilambari kekuatan petir sebesar itu!"
"Tentu saja! Lihat saja nanti, setelah dia meningkatkan kekuatannya. Ada perubahan lain selain tehnik api yang menjadi dasar tenaga dalamnya."
Pertarungan antara Bayu aji dan Datuk Bandaro putih meningkat baik tehnik dan kecepatannya. Ketahanan Datuk Bandaro pada unsur petir akhirnya terjawab selain perubahan unsur api ternyata dirinya juga menguasai perubahan unsur petir. Sehingga serangan petir yang menerjang ke arahnya justru dia simpan dan dijadikn kekuatannya.
Bldaar!
Sebuah pukulan harimau yang unik dan dilambari energi petir meledak menghantam Bayu Aji. Menghentak dan membuatnya lengah karena begitu terkejutnya dengan serangan lawan yang tak diduganya itu.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Datuk Bandaro Putih dengan gerakan yang indah dia menyusup dari belakang dan menaiki tubuh Bayu Aji dengan cepat. Tangannya segera mengunci kepalanya dengan kedua tangannya. Satu kerambit siap menyobek lehernya. Dua kakinya dia gunakan untuk mengunci tangan Bayu Aji yang memegang pedang Kiyai Guntur Geni.
"Cukup!" Suara Dewa Rencong segera menghentikan gerakan Datuk Bandaro putih sebelum melukai lawannya.
Para penonton seakan tercekat dengan ketangkasan silek harimau yang bergerak begitu cepat dan mampu mengunci lawannya tidak sampai satu tarikan nafas.
Pertarungan mereka berakhir dengan kemenangan kepada Datuk Bandaro Putih. Para penonton masih tidak menyangka bahwa kemenangan justru di raih pendekar dari Swarnabhumi itu.
Pertarungan selanjutnya antara Arimbi dan Mahadewi akhirnya dimenangkan oleh Mahadewi. Entah saran apa yang diberikan Suro kepadanya, sebab dengan waktu yang relatif begitu cepat tidak sampai dua puluh dua jurus lawannya mampu dilumpuhkan.
"Terima kasih kakang berkat masukan yang kakang uraikan begitu gamblang membuat semua penjelasan yang seharusnya begitu rumit dapat meresap masuk dalam pemahaman adinda."
Suro hanya menganguk-anguk mendengar penjelasan wanita yang begitu cantik dan berpakaian seakan seorang putri kedaton. Agak janggal sebenarnya melihat interaksi diantara mereka. Karena wanita yang seakan putri kedaton itu bisa terlihat begitu menghormati seorang bocah yang terlihat sedikit dekil dengan pakaiannya agak kumal.
Tak ada yang tau selain Dewa Pedang dan Eyang Sindurogo, bahwa sebenarnya Suro jauh lebih muda dari yang terlihat. Karena perubahan fisiknya memang seperti anak berumur tujuh belasan tahun. Walau sebenarnya umurnya sekarang tak lebih dari sepuluh tahun.
"Dalam mengerahkan tehnik beladiri perasaan juga digunakan, sehingga tanpa berpikirpun tubuh mampu melakukan gerakan menghindar tanpa harus melihat arah datangnya serangan. Mengapa selain tenaga dalam seseorang ahli beladiri juga diharuskan melatih kekuatan jiwa dan kekuatan spiritual untuk mengasah trinetra atau mata batin."
"Sebaiknya adinda kedepannya berlatih memperkuat kekuatan spiritual dan jiwa. Aku yakin dengan meningkatnya dua sumber kekuatan dalam diri adinda akan meningkatkan juga tahap pedang yang adinda miliki."
"Sekali lagi terima kasih kakang atas wedar kaweruh yang kakang berikan."
"Tidak perlu berterima kasih, itu semua juga karena dari adinda sendiri yang memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga mampu menangkap ilmu dengan cepat. Jika tidak mana mungkin bisa mempraktekkan uraianku secepat ini."
Terlihat Mahadewi tertunduk menahan malu dengan senyum lebar karena sudah disebut memiliki kecerdasan yang tinggi.