SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 505 Reruntuhan Perguruan Pedang Surga



Setelah semua memasuki gerbang gaib, maka lorong hitam itu segera lenyap dari pandangan setiap orang. Sekejap kemudian mereka telah muncul di depan gerbang Perguruan Pedang Surga.


Tetapi pemandangan mengerikan telah terpampang didepan mata mereka semua. Gerbang Perguruan Pedang Surga yang seharusnya berdiri dengan gagah didepan mereka, kini telah hancur rata dengan tanah.


Begitu juga tembok besar yang mengelilingi perguruan aliran putih itu. Pandangan mereka kemudian menyapu ke segala arah. Terutama bagian dalam perguruan yang tidak jauh berbeda dengan kondisi gerbang.


"Apa yang terjadi? Mengapa perguruan ini hancur luluh lantah seperti ini?" Wajah Suro dipenuhi rasa terkejut dan kebingungan yang melebur menjadi satu. Betapa tidak didepan matanya kini dia menyaksikan seluruh Perguruan Pedang Surga tidak tersisa sedikitpun.


Perasaan yang sama juga meliputi mereka yang datang bersama dirinya. Raut wajah mereka sudah mampu melukiskan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Tatapan mereka kosong seakan belum mempercayai dengan apa yang terlihat didepan mata.


Kecuali Dewa Obat, walaupun dia juga kebingungan. Dia kebingungan bukan karena melihat kondisi perguruan yang hancur lebur, tetapi dia tidak mengetahui tujuan Suro membawanya muncul diantah berantah yang dipenuhi reruntuhan.


"Mengapa kalian membawaku muncul di tempat reruntuhan seperti ini?" Dewa Obat menatap ke arah Suro dengan rasa heran.


Suro tidak segera menjawab, dia justru menghela nafas beberapa kali sebelum menjawab.


"Sebelum kami pergi ke Negeri Atap Langit, Perguruan Pedang Surga ini masih berdiri. Entah mengapa sekarang tinggal reruntuhan seperti ini?" Suro menjawab dengan pandangan matanya menyapu ke segala arah.


"Benar, semua kini hanya tinggal reruntuhan. Dengan melihat kondisinya aku rasa ini sudah terjadi lebih dari satu purnama." Geho Sama juga menyahut ucapan Dewa Obat.


Geho Sama mulai berjalan menelusuri reruntuhan Perguruan Pedang Surga. Sedangkan Dewa Rencong, Dewi Anggini, Suro dan Mahadewi masih terpaku menatap reruntuhan didepan mereka. Pemandangan itu tentu sangat mengejutkan, bahkan mampu membuat seorang Dewa Rencong sekalipun matanya berkaca-kaca.


Dewa Obat mendengar jawaban Suro mulai menggaruk-garuk kepalanya. Dia mencoba mengingat-ingat nama Perguruan Pedang Surga.


"Apakah itu adalah perguruan yang didirikan Dewa Pedang?"


"Benar sekali tuan guru." Suro menjawab pertanyaan Dewa Obat sambil terus memandangi pemandangan didepannya dengan sorot mata yang penuh kesedihan.


Jawaban Suro seperti petir di siang bolong, dia tentu saja terkejut nama Dewa Pedang tentu telah didengar oleh Dewa Obat. Tetapi dia tidak bisa mempercayai jika perguruannya kini justru telah rata dengan tanah.


Mereka semua kemudian segera berjalan menyusul Geho Sama yang sudah lebih dahulu berjalan didepan.


Sepanjang kaki mereka melangkah yang ditemui hanyalah reruntuhan yang telah ditutupi debu tebal. Seperti perkiraan Geho Sama jika kejadian hancurnya Perguruan Pedang Surga memang sudah cukup lama.


Namun sepanjang mata memandang mereka tidak melihat adanya mayat para anggota perguruan. Meskipum begitu terlihat bekas genangan darah yang telah mengering tersebar diberbagai tempat. Menandakan pertempuran yang dilalui anggota perguruan pasti berdarah-darah.


Bukan hanya Perguruan Pedang Surga yang telah rata dengan tanah, tetapi sebagian besar Kademangan Caringin ikut rata dengan tanah. Bahkan Kademangan Caringin sekarang mirip sebuah kota hantu yang tidak lagi berpenghuni.


Kemungkinan besar para penduduk telah mengungsi semua. Rasa takut yang tak terbayangkan bagi para penduduk yang awam dengan dunia persilatan. Mengakibatkan para penduduk memilih untuk tidak kembali. Meskipun kejadian telah berlangsung cukup lama.


"Bagaimana mungkin Perguruan Pedang Surga yang ditakuti aliran hitam di seantero Benua Timur kini dapat dihancurkan sampai rata seperti ini? Lawan sekuat apa sehingga paman guru tidak mampu mengatasinya?" Suro menggeleng-gelengkan kepala masih tidak mampu mempercayainya.


Mahadewi yang berada disamping gurunya juga tak dapat menahan tangisnya. Dia merasa sedih dengan kondisi Perguruan pusat Pedang Surga yang tinggal cerita.


Mereka terus berjalan semakin ke dalam menelusuri area yang dulunya bagian perguruan Pedang Surga. Mereka terus menelusuri reruntuhan hingga sampai pada sebuah gundukan tanah yang menyebar dalam jumalah yang begitu banyak seperti sebuah perkuburan yang belum lama dibuat.


"Apakah ini kuburan anggota perguruan?" Suara Dewi Anggini tercekat menatap pemandangan yang seharusnya tidak ada ditempat itu sebelumnya.


Dewi Anggini sedikit tergesa berkeliling mencoba mencari tanda nisan atau semacamnya sebagai penanda siapa yang telah dikubur didalamnya. Dibelakangnya Mahadewi juga berjalan mengikuti gurunya ikut membantu mencari penanda kuburan yang berjejer memenuhi tanah lapangan didepan mereka.


Didalam ingatan mereka masih terbayang jelas jika ditempat itu dulu menjadi tempat latihan olah kanuragan bagi seluruh anggota perguruan. Kini tanah lapang itu justru menjadi tempat perkuburan mereka semua.


Tetapi tidak satupun dari gundukan tanah itu memiliki penanda. Sebagian besar juga dibuat secara tergesa-gesa.


"Aku tidak menemukan nama ketua Dewa Pedang di atas gundukan tanah yang tersebar itu," ucap Dewi Anggini setelah mencari bersama Mahadewi.


Entah itu menjadi kabar buruk atau kabar baik bagi Dewa Pedang. Tetapi dari nada ucapan Dewi Anggini tersirat, jika pendekar itu bersyukur. Karena itu artinya Dewa Pedang kemungkinan besar masih selamat bersama sisa anggota perguruan.


"Bagaimana nasib paman guru Dewa Pedang? Selain itu mengapa Eyang guru tidak bisa mencegah, sehingga semua ini terjadi?" Bukan hanya Tetua Dewi Anggini dan Mahadewi, tetapi Suro juga tak kalah khawatirnya.


Suro kemudian langsung meraih sesuatu benda dibalik bajunya. Sebuah kaca selebar setelapak tangan telah tergenggam ditangannya.


Dia lalu bertanya kepada Kaca Benggala tentang keberadaan Dewa Pedang.


"Sukurlah paman guru selamat, tetapi ini dimana?" Suro menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap gambaran yang ada di dalam pusaka Kaca Benggala.


"Aku merasa mengenalinya," Tetua Dewi Anggini ikut menatap gambaran pusaka yang berada digengaman Suro.


"Benar ini guru, ketua sedang berada diperguruan cabang kita yang ada di wilayah Medang." Mahadewi segera mengenali keberadaan Dewa Pedang sekali lihat.


"Sukurlah jika memang seperti itu, kita bisa menyusul kesana nanti. Lalu dimana Eyang guru berada yang katanya pergi bersama paman Subutai?" Kembali Suro mengedarkan pandangan keseluruh penjuru arah mata angin.


Akhirnya Suro memutuskan kembali bertanya kepada Pusaka Kaca Benggala tentang keberadaan Eyang Sindurogo. Pandangan mereka semua segera terpaku pada gambar yang muncul di dalam pusaka ditangan Suro.


"Mengapa eyang guru justru bermeditasi didalam ruang rahasia," Suro mengernyitkan dahi tangannya mulai kembali menggaruk-garuk kepalanya.


Dia tidak mengetahui mengapa gurunya justru berada disekitar Gunung Arjuna tempat pertapaannya yang dulu. Tepatnya dia bersamadhi didalam ruangan bawah tanah yang sebelumnya sudah Suro tutup jalannya agar tidak dimasuki orang yang tidak diinginkan.


"Itu nanti saja kita tanyakan, sebaiknya kita menyisir seluruh daerah ini untuk mencoba mencari tau. Mungkin saja kita akan mendapatkan sesuatu petunjuk." Ucapan Dewa Rencong membuat mereka segera bergerak menyisir seluruh reruntuhan.