SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 87 SERANGAN SILUMAN DI KADEMANGAN GELAGAH WANGI



"Kita sudah sampai di Kademangan Gelagah Wangi kakang. Jika lurus ke selatan kakang akan sampai di bumi Medang tempat tinggal adinda. Kita nanti akan langsung menuju ke utara menyebrangi selat Juwana terlebih dahulu."


Suro menganguk mendengar penjelasan Mahadewi. Sebenarnya Suro masih hafal daerah tersebut, sebab sebelumnya beberapa purnama yang lalu dia bersama Eyang Sindurogo saat turun dari Gunung Arjuno untuk menangani Naga raksasa, terlebih dahulu menyambangi beberapa daerah untuk memberikan pertolongan dan membagi-bagikan koin emas yang berasal dari hadiah Sri Maharaja Wasumurti.


Daerah yang disambangi antara lain kademangan Keling dan Kalinyamat yang masih masuk wilayah di Ujung Para atau Jepara.


"Sebelum menyebrang melewati Selat Juwana, kita sebaiknya malam ini menginap dahulu di kademangan Gelagah wangi." Dewa Rencong memecah pembicaraan Suro dan Mahadewi yang berjalan beriringan diatas pelana kudanya.


Mereka berjalan dengan santai karena hari sudah mulai gelap. Selain itu mereka tidak bisa meneruskan perjalanannya, karena didepan mereka telah menanti sebuah selat. Mereka hanya bisa melanjutkan perjalanan setelah esok hari sebab para pemilik kapal yang menyebrangkan mereka menuju Ujung Para sudah pulang semua.


"Nuwun inggih paman pendekar." Suro yang segera menyahut ucapan Dewa Rencong.


Mereka segera membelokkan arah kudanya menuju Kademangan Gelagah Wangi terlebih dahulu untuk mencari penginapan atau menumpang dirumah demang. Nama mereka sebagai Pendekar dari Perguruan Pedang Surga tentu akan membuat demang itu terbuka lebar menerima mereka semua.


"Kita sudah mendekati kota kademangan. Tetapi aneh kondisi kota kademangan begitu sepi. Padahal malam belum lama datang." Made Pasek yang sedari tadi terdiam angkat bicara karena merasakan kejanggalan.


Nama Kademangan Gelagah Wangi berasal dari tumbuhan gelagah beraroma wangi yang banyak tumbuh di rawa-rawa. Gelagah Wangi pada perkembangannya akan berubah nama menjadi Demak Bintoro. Setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit, dikemudian hari daerah itu nantinya akan berdiri sebuah Kerajaan Islam pertama di Javadwipa.


Daerah itu dulu kala berada ditepian sebuah selat yang keberadaanya masih ada pada jaman Majapahit ke belakang. Selat itu bernama Selat Juwana atau juga memiliki nama lain Selat Muria. Sebuah selat yang memisahkan pulau dimana Gunung Retawu atau Gunung Muria berada. Disekitar gunung itu dahulu kala masih terpisah dengan daratan Javadwipa. Daerah yang terpisahkan oleh selat Juwana itu diantaranya meliputi daerah Ujung Para atau Jepara, daerah Tajug atau Kudus, daerah Juwana atau Pati.


Tong.....! Tong...! Tong...!


"Tolong! Tolong....! Tolong...!


Suara kentongan bercampur dengan suara riuh orang meminta tolong semakin terdengar jelas seiring perjalanan mereka semakin masuk ke pemukiman ditengah Kademangan Gelagah Wangi. Begitu juga kekacauan yang terjadi semakin bertambah terlihat tidak terkendali. Para penduduk berlarian tidak tentu arah semuanya mencoba menyelamatkan diri.


"Ada apa kisanak kenapa para penduduk berlarian ketakutan?" Suro mencekal tangan seorang pemuda yang berlari melewatinya.


"Gawat kisanak ada siluman menyerang lagi! Cepat menjauh dari sini!" Wajah yang tersirat dari pemuda yang dipegangnya itu terlihat begitu ketakutan.


"Siluman menyerang lagi? Berarti ini bukan serangan pertamanya?" Suro segera menoleh ke arah Dewa Rencong. Mereka berempat sama-sama terkejut mendengar serangan bangsa siluman sudah sampai Kademangan Gelagah Wangi. Padahal dari Kadipaten Banyu Kuning lumayan jauh dan terpisahkan sebuah selat.


"Sudah sering kisanak dimulai sejak setengah purnama yang lalu. Sepertinya kalian para pendekar yang baru datang di kademangan Gelagah Wangi ini?" Pemuda itu mulai tenang saat memperhatikan rombongan Suro yang berpakaian seorang pendekar yang menyandang pedang dipunggungnya.


"Benar kisanak kami dari Perguruan Pedang Surga."


"Syukurlah perguruan milik Dewa Pedang ternyata. Tuan pendekar tolong kami para siluman itu sudah banyak menghancurkan rumah-rumah dan memakan sanak saudara kami. Prajurit kademangan yang mencoba melawan siluman sudah banyak yang dimakan. Sekarang mereka hanya berkumpul dirumah demang menjaga kediaman demang saja. Tak ada yang menolong kami sekarang."


"Tunjukan arahnya! Sebaiknya kisanak disini dahulu bersama rekan-rekanku yang akan melindungi kisanak dari siluman itu. Aku akan menghentikan serangan siluman itu."


Tanpa berkata-kata lagi Suro segera melesat menghilang dalam kegelapan malam menuju arah yang ditunjukan pemuda barusan.


"Kalian tunggu disini. Aku akan menyusul nakmas Suro." Dewa Rencong ikut melesat cepat mencoba menyusul Suro.


Sumber kekacauan itu berasal dari serangan beberapa siluman yang menyerupai monyet raksasa yang tidak memiliki ekor. Tubuh siluman itu begitu besar lebih dari satu tombak tingginya. Rambutnya yang panjang dan seluruh badannya ditumbuhi bulu yang begitu lebat membuat wujud itu semakin menakutkan.


Rumah penduduk banyak yang sudah dihancurkan dengan begitu mudahnya. Kemunculan para siluman itu ditandai dengan kedatangan asap hitam yang terbang seperti terbawa angin dan mulai membentuk para siluman itu.


Entah sudah berapa banyak manusia yang telah dijadikan santapan olehnya sejak awal penampakannya. Setiap orang mencoba menyelamatkan nyawanya sendiri.


Toong! Tooong....! Toooong.....!


"Toloooong! Tooolooong!"


Teriakan suara meminta tolong dan suara kentongan bertalu-talu semakin bertambah. Terjadinya keriuhan dan teriakan para penduduk dari berbagai arah karena siluman yang menyerang ternyata bukan hanya satu.


Blaaar!


Seekor siluman yang hendak memakan manusia tidak menyadari arah datangnya serangan yang datang. Sebuah sinar yang kuat menghantam kepala siluman itu dan hanya menyisahkan setengah badannya.


Lelaki yang hendak menjadi santapan siluman itu ketakutan teramat sangat melihat kengerian didepan matanya barusan. Dia juga belum mengetahui siapa yang telah menjadi Dewa penyelamatnya, karena dia keburu pingsan duluan.


"Kenapa dia bisa mati tanpa menjadi asap paman pendekar?"


"Mungkin dia tidak sempat menyadari seranganmu nakmas." Dewa Rencong yang datang persis dibelakang Suro. Segera dia memeriksa bangkai siluman didepannya.


"Bisa jadi nakmas. Ini mungkin jenis siluman kera yang waktu itu diceritakan Kakang Udan Asrep."


Para penduduk yang melihat dua orang asing telah menyelamatkan mereka segera menjura kepada Suro dan Dewa Rencong.


"Terima kasih tuan pendekar. Tolong saudara-saudara kami yang ada di sisi selatan dan barat kademangan. Siluman ini menyerang sekaligus di tiga tempat."


Suro segera menoleh ke arah Dewa Rencong dan mengangguk. Dia langsung meluncur cepat ke arah barat, sedangkan Dewa Rencong berlari ke arah selatan.


Haaaarggghhh......!


Dari kejauhan Suro melihat siluman itu mengamuk sambil mengeluarkan gerungan suara yang keras.


Tanpa menunggu lama dia kembali mengerahkan jurus kedua dari Tapak Dewa Matahari yaitu telunjuk Dewa mencari kebenaran. Seberkas sinar langsung melabrak dari jarak lebih dari dua puluh tombak.


Duuuarrrr.....!


Begitu sinar itu menghantam tubuh siluman itu hancur terbelah menjadi dua. Terlempar jauh menabrak dan menghancurkan sebuah rumah yang penghuninya telah melarikan diri.


Suro segera menghampiri tubuh siluman itu memastikan siluman itu tidak kembali hidup. Dia benar-benar waspada dengan makhluk yang masih asing baginya itu. Dia juga tidak mengetahui kemampuan para siluman ini apakah menyerupai kemampuan seperti Naga raksasa yang bisa memulihkan dirinya atau tidak.


Setelah memeriksa tubuh siluman itu tidak bisa memulihkan tubuhnya kembali, dia segera berdiri dan memperhatikan sekitaran yang sudah porak poranda.


'Siluman ini langsung mati? Mengapa tidak seperti yang telah dikatakan Eyang Udan Asrep? Mereka tidak berubah menjadi asap, air maupun api.' Dia bertanya-tanya dalam hatinya sambil memperhatikan para penduduk yang masih ketakutan dengan serangan siluman barusan.


"Terima kasih pendekar...terima kasih!" Para penduduk yang mulai menyadari kehadiran Suro yang telah menyelamatkan mereka. Segera mereka mulai mendekati dirinya yang masih berdiri didekat bangkai siluman. Ketakutan dan ketegangan masih terlihat diwajah-wajah mereka.


Suro hanya mengangguk kepada para penduduk yang melihatnya begitu asing. Mereka mulai menyadari dari gelapnya malam, bahwa pendekar yang baru saja menolong mereka adalah orang asing atau pengembara yang kebetulan lewat di Kademangan Gelagah Wangi.


Sesaat kemudian Dewa Rencong muncul dari arah selatan kademangan.


"Bagaimana paman pendekar apakah paman berhasil membunuh siluman juga?"


"Tidak nakmas dia berhasil kabur berubah menjadi asap."


"Tetapi kenapa saya dua kali menyerang siluman, dua-duanya langsung mati paman?"


"Apa karena seranganku tapak Dewa Matahari ini yang mampu membunuh para siluman? Atau karena mereka belum sempat merubah wujudnya menjadi asap, paman?"


"Aku juga kurang memahaminya nakmas."


"Karena tadi aku menyerangnya dari jarak jauh. Siluman ini bahkan belum sempat menyadari kedatanganku." Suro menambahkan penjelasannya kepada Dewa Rencong


"Bisa jadi dua-duanya nakmas. Jurus milik gurumu itu seakan bukan diciptakan oleh manusia. Karena aku juga mendengar dari kakang Udan Asrep, bahwa nakmas menyebut guru dari Eyang Sindurogo adalah Sang Hyang Ismaya."


"Dia mengatakan itu saat meminta paman menemani nakmas ke Banyu Kuning. Salah satu alasannya, karena nakmas satu-satunya pewaris tehnik Tapak Dewa Matahari yang melegenda itu. Selain itu cukup nakmas tau bahwa hanya Eyang Sindurogo yang bisa menggunakan ilmu itu karena satu dan beberapa alasan. Salah satunya adalah tehnik itu akan banyak menguras chakra yang sangat besar. Selain itu ada alasan lain yang tidak memungkinkan manusia biasa mengunakannya, karena tehnik itu juga memakan energi kehidupan seseorang."


"Karena itulah saat Eyang Sindurogo menggunakan tehnik itu dibarengi ilmu empat sage untuk menyerap energi kehidupan alam. Dengan kondisi itu dia bisa membantu meningkatkan kekuatan chakranya dan mengembalikan energi kehidupan yang terpakai oleh tehnik itu."


"Dari hal itulah mengapa paman menyebut nakmas seperti bukan manusia lagi yang mungkin keturunan demit, salah satunya karena alasan itu. Maaf jika nakmas tersinggung karena paman menyebut dengan keturunan demit."


"Hehehehe.... tidak mengapa paman. Tidak usah terlalu dipikirkan mengenai hal sepele seperti itu. Justru Suro berterima kasih telah diberitahu hal yang justru Suro belum mengetahuinya."


"Selain itu jika ilmu itu diturunkan langsung oleh Sang Hyang Ismaya atau yang memiliki panggilan lain Lurah Badranaya atau lebih dikenal dengan nama Kyai Semar maka ilmu itu sesungguhnya milik para Dewa."


"Karena dalam cerita yang ada Sang Hyang Ismaya ini adalah Dewa Kuno yang turun di marcapada karena tugas yang diembannya, yaitu menjaga marcapada dari segala ancaman besar yang akan menghancurkan seluruh tatanan jagat raya ini."


"Berarti cukup dengan ilmu tapak Dewa Matahari aku bisa mengalahkan para siluman ini paman pendekar?"


"Mungkin saja, nanti kita akan buktikan benar tidak prasangkaku. Tetapi baru kali ini ada siluman yang muncul dan menyerang perkampungan. Mungkin salah satu sebab para siluman ini menyerang karena hilangnya Eyang Sindurogo di alam lain. Kemungkinan mereka para siluman sudah mengetahui jika ilmu Tapak Dewa Matahari mampu melukai mereka."


"Aku yakin bukan di Kademangan Gelagah Wangi saja para siluman ini membuat keonaran. Agaknya jalan kita menuju Kadipaten Banyu Kuning akan lebih panjang nakmas. Karena akan banyak siluman yang nanti kita hadapi sepanjang perjalanan ini."