
"Suro? Jadi bocah itu bernama Suro bukan Sindurogo yang telah menjelma menjadi muda lagi. Baguslah kalau begitu aku punya tempat untuk melampiaskan kemarahanku. Pasti bocah ini ada hubungannya dengan si setan Sindurogo! Entah dia muridnya atau justru mungkin saja dia keturunannya? Aku tidak peduli aku pasti akan menghabisinya!"
Medusa begitu menyadari bahwa bocah yang menghancurkan barisan pasukannya seorang diri itu bukanlah Eyang Sindurogo, ketakutannya mulai menghilang. Dia lalu menghentikan langkahnya dan mulai menatap ke arah Suro yang telah bersiap menyongsong serangan para siluman yang mulai berdatangan ke arahnya.
Tetapi adegan berikutnya telah membuat tokoh aliran hitam begitu terpana menyaksikan apa yang di lakukan Suro.
"Ilmu apa itu? Apakah orang-orang yang memiliki ilmu Tapak Dewa Matahari bukan seperti layaknya orang normal lainnya? Bagaimana mungkin ada bocah memiliki kekuatan begitu mengerikan seperti itu!"
**
"Kalian ingin mengalahkanku jangan mimpi!"
'Lodra hisap chakraku sebanyak-banyaknya selagi aku menyerap kekuatan para siluman yang sebentar lagi menyerang!'
'Baiklah bocah aku ingin melihat sebanyak apa chakra yang akan kau himpun ini!'
'Jangan banyak berbicara himpun saja chakra itu dibilah pedangmu, gunakan saat nanti aku meminta! Jangan membantahku kali ini Lodra!'
'Baik bocah aku mematuhi perintahmu!'
Selesai berbicara kepada Lodra dia mulai mengunci kuda-kudanya sekokoh mungkin. Sebab kali ini dia akan mengerahkan tehnik empat sage dengan kekuatan penuh.
"Kalian para pasukan Medusa yang berwujud manusia, sebelumnya aku sudah berbelas kasihan tidak menghabisi kalian semua. Tetapi jika kali ini tidak segera minggat dari hadapanku secepatnya! Jangan tanyakan dosa padaku, kali ini akan aku habisi siapapun yang berada didekatku!"
Suara Suro terdengar jelas dihadapan musuhnya yang entah seperti tersihir atau ketakutan. Mereka semua langsung kabur lari menjauh secepatnya, seiring dengan kedatangan para siluman yang datang secara terus-menerus mengelilingi Suro.
Gelombang demi gelombang bersama lesatan asap dan api, para siluman datang dengan begitu banyaknya. Kini mereka telah menutup seluruh jalan yang tidak membiarkan ada satu celah sedikitpun yang bisa digunakan Suro untuk melarikan diri.
"Anak manusia aku akan mengabisimu, aku ingin merasakan dagingmu yang masih empuk itu! Hahahaha...!" Siluman Genderuwo yang berada didepan Suro tertawa kegirangan setelah melihat musuh yang harus dihabisi hanyalah seorang bocah.
Salah satu kegemaran siluman ini adalah memangsa anak manusia,karena memang jenis daging manusia yang paling disukai siluman itu anak-anak seumuran Suro. Dia menyeringai begitu lebar memperlihatkan taringnya yang panjang seperti pedang. Matanya yang berwarna merah menatap Suro seakan tidak sabar ingin segera menghabisinya.
"Datanglah kalian lebih dekat kepadaku agar kalian bisa mencium bau neraka tempat aku akan mengirim kalian semua!"
Selesai teriakan Suro pusaran angin yang sebelumnya terasa berputar secara sepoi-sepoi, mendadak mengila berputar kencang dan menarik seluruh siluman yang ada didekat Suro. Tersedot dalam pusaran yang bermuara pada telapak tangannya. Begitu kuatnya hisapan itu membuat para siluman hilang tidak meninggalkan bekas sama sekali.
"Apa yang terjadi? Ilmu terkutuk apa ini? Aku tidak akan semudah ini kau hisap anak manu!" Teriakan siluman genderuwo lenyap bersama lenyapnya tubuh siluman itu. Usaha terakhir yang dilakukan siluman itu hanya menganga selebarnya untuk menelan Suro. Tetapi sebelum taringnya mengenai kepala Suro, justru seluruh tubuhnya telah hancur terlebih dahulu lalu menghilang dalam pusaran yang berputar bertambah dahsyat.
"Bocah itu selalu saja memberikan kejutan yang tidak diduga-duga! Berarti benar perkataan tetua Dewi Anggini ilmu empat sage memang ampuh menghabisi para bangsa siluman. Ilmu itu memang milik siluman Geho sama seperti yang diceritakan Dewi tangan seribu."
Tetua Tunggak Semi terkejut setelah melihat begitu dahsyatnya putaran angin yang dikerahkan Suro telah menyedot seluruh siluman yang hendak mengeroyoknya. Mereka semua musnah tidak berbekas sama sekali.
Lawan dari Eyang Tunggak semi yaitu Dukun sesat dari Daha bahkan ikut berhenti menyaksikan apa yang dilakukan Suro. Hampir semuanya terkesima menyaksikan pengerahan jurus empat sage yang begitu mengerikan. Termasuk juga para tetua yang berada digaris terdepan pertempuran, mereka terpana menyaksikan Suro menghabisi para siluman dengan begitu dahsyat.
'Hahahaha...! Aku sangat menyukaimu bocah!' Lodra begitu senang setelah menghisap chakra yang berasal dari para siluman dengan begitu berlimpah. Jika tanpa adanya Pedang Pembunuh iblis tentu tubuh Suro tidak mampu menampung limpahan energi yang begitu besar.
Siluman yang berada disekitar Suro semuanya lenyap tidak menyisahkan satupun. Semua terjadi begitu cepat bahkan tidak memberikan kesempatan para siluman menyadari apa yang telah terjadi. Sehingga tidak ada satupun dari siluman itu yang mampu kabur.
Setiap orang dari pasukan Medusa yang melihat apa yang dilakukan Suro tentu saja akan menggigil ketakutan. Apalagi mereka yang tadi telah mengeroyoknya tentu sangat bersyukur tidak ikut mati terhisap oleh jurus yang dikerahkan Suro itu. Kini mereka menyadari bahwa bocah itu masih berbelas kasihan kepada mereka, sehingga tidak ikut dihabisi dengan mengusir mereka sejauh mungkin.
'Jadi kapan aku akan menggunakan api hitam ini bocah?'
"Tunggu saja Lodra aku pasti membutuhkan bantuanmu berupa api hitam milikmu. Lalu seberapa besar api hitam setelah menghisap kekuatan para siluman sebanyak barusan?" Suro setelah mengerahkan tehnik empat sage meski sebagian telah dihisap Lodra, tetapi limpahan energi masih begitu banyak tertinggal ditubuhnya.
'Aku akan memperlihatkan kepadamu api milik Batara Brama saat mengamuk! Bahkan dengan apiku ini mampu membakar khayangan jongring saloka seperti yang telah dilakukan tuanku Sang Hyang Wisangeni. Dan cukup kau tau bocah salah satu alasan aku menyukaimu karena chakramu menyerupai chakra milik tuanku yang pertama, yaitu tuanku Sang Hyang Wisanggeni.'
Mata Suro menyapu keseluruh kancah pertempuran yang terus berlangsung. Setelah kejadian barusan, barisan musuh yang sebelumnya mengroyok dirinya memilih menjaga jarak sejauh mungkin dari Suro.
Mereka belum bisa mencerna betapa mengerikannya apa yang telah dilakukan Suro. Walaupun mereka telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa menakutkannya apa yang bisa dilakukannya, tetapi mereka seakan belum bisa mempercayai yang barusan disaksikan.
Pandangan Suro tertuju ke arah sesosok wanita yang seluruh kepalanya dipenuhi ular kobra hitam dalam ukuran kecil.
Selesai berteriak satu lesatan sinar yang mengerikan menerjang ke arah wanita itu.
"Gelap Ngampar!" Melihat serangan yang menghampiri dirinya Medusa segera menyerang dengan kilat petir keluar dari telapak tangannya.
Duaar!
Ledakan hebat berjarak tidak jauh dari Medusa membuat dirinya terpental lebih dari dua tombak.
'Bagaimana mungkin bocah itu mampu membuat serangan sebesar ini?' Medusa terkejut dengan begitu mengerikannya serangan yang menerjang ke arahnya barusan.
Kekuatan tingkat shakti mampu dikalahkan oleh Suro tentu saja karena tambahan limpahan energi dari para siluman yang harus segera mendapatkan penyaluran.
"Setan alas akan aku cincang tubuhmu bocah!" Teriakan Medusa bersama kemarahannya karena telah dilecehkan oleh seorang bocah.
"Apa hubunganmu dengan setan Sindurogo?"
"Siapa yang kau sebut setan itu?" Melihat Medusa terpental Suro langsung meluncur cepat mendekati Medusa. Pasukan Medusa yang sebagian besar masih berada dibawah tingkat atas, kali ini tidak berani menghalangi langkahnya.
"Siapa yang kau sebut setan itu? Apakah kau tidak pernah berkaca wujudmu tidak mirip manusia selayaknya? Atau justru semua kaca sudah kamu hancurkan sehingga tidak ada sisa satupun. Agaknya wujudmu itu terlalu menjijikan untuk dilihat." Suro tertawa lepas tidak peduli wajah Medusa memerah.
"Setan laknat berani sekali kau! Akan aku robek-robek mulutmu sampai hancur!"
"Jika aku lihat sepertinya bukan kesalahan kaca yang membuat dirimu tidak bisa membedakan mana manusia mana setan. Tetapi matamu yang juling itu sudah terlalu parah, sehingga tidak bisa melihat jelas wujudmu sendiri!"
"Setan nyalimu sungguh besar bocah!"
"Matilah kau menjadi batu!"
Zraat!
Lesatan sinar dari kedua mata Medusa menghantam tubuh Suro dengan telak. Semua pasukan Perguruan Pedang Surga yang berada digaris terdepan berteriak melihat Suro terhantam sinar dari kedua mata Medusa. Mereka berpikir itu berarti riwayatnya sudah tamat.
"Nakmas Suro!" Teriakan histeris dari pihak Perguruan Pedang Surga terdengar setelah lesatan mata Medusa mengenai tubuh Suro.
Tetapi Medusa justru dibuat terkejut saat melihat ekspresi dari wajah Suro yang terhantam oleh serangan kedua matanya. Diujung bibir Suro tersunging sebuah senyuman.
Blaaar!
Tubuh Suro yang telah kaku terhantam sinar mata Medusa tetapi belum membuat tubuhnya menjadi batu. Dari ujung jari telunjuknya melesat sinar menghantam tubuh Medusa kali ini tubuh tokoh aliran hitam yang mendapat julukan Iblis betina itu terlempar lebih dari lima tombak.
Perut sisi kanan dari Medusa jebol dengan isinya hancur tidak berbentuk, setelah dihantam sinar milik Suro.
"Hahaha...akhirnya siasatku berhasil menghabisi iblis betina itu!"
Semua orang terkejut, bagaimana tidak Suro yang sudah terhantam sinar dari kedua mata Medusa justru masih mampu menyerang balik lawannya.
"Ah, ternyata tidak salah perkiraanku. Ilmu yang dimiliki Medusa yang mampu membuat manusia menjadi sebuah arca batu, pada prinsipnya hanya memusnahkan daya energi kehidupan dari dalam tubuh orang yang terkena serangannya. Dengan menyerap energi kehidupan disekitarku melalui tehnik empat sage, agaknya aku telah mampu menetralisir jurus milik Medusa."
Ajaibnya dengan tubuh telah hancur seperti itu seharusnya Medusa tidak bisa bangkit lagi.
'Beruntung aku telah diajari ilmu kadal cawal oleh tetua ular Puspo Kajang dan juga ilmu pancasona. Sehingga membuat diriku tidak akan mati, jika hanya terluka seperti ini.'
**
Tetap ditunggu dukungannya baik like, comment, maupun sumbangan point dan koinnya. Biar yang ngetik tambah semangat.😃😃😃😃
Untuk yang sudah memberikan dukungannya saya ucapkan terima kasih.
Suwun