
"Manusia abadi itu lebih baik mati membawa ilmunya. Jadi tidak mungkin dia memiliki murid. Karena aku juga tidak pernah sekalipun mendengarnya, jika akhirnya seorang Eyang Sindurogo memiliki seorang murid." Seorang tetua dari sebelah kiri langsung menanggapi perkataan Suro.
"Seperti juga jurus Tapak Selaksa Dewa Racun yang kau curi dari Perguruan Racun Neraka, pasti ilmu Tapak Dewa Matahari juga hasil dari mencuri!" Tidak mau kalah dengan tetua disebelah kiri, kini seorang tetua lain yang membawa tongkat yang ujungnya adalah sebuah golok besar ikut menanggapi dan menganggab semua perkataan Suro hanya kebohongan belaka. Mereka tidak mempercayai sedikitpun semua perkataan Suro.
"Apalagi dari pakaianmu ini aku mengenalnya milik Perguruan Pedang Surga. Sejak kapan Eyang Sindurogo menjadi bagian dari Perguruan Pedang Surga?"
Semua tetua mencecar Suro dengan perkataan yang hampir mirip, yaitu tidak mempercayai Suro. Bahkan mereka mengira Suro memakai trik khusus yang membuat tubuhnya awet muda, seperti Dukun sesat dari Daha yang tetap muda belia meski sudah berumur ratusan tahun.
Suro tersenyum dan menghela napas beberapa kali sebelum menjawab perkataan mereka.
"Aku tidak meminta kalian mempercayai apa yang sudah aku katakan!"
"Tujuanku datang ke perguruan ini untuk memastikan ketua perguruan ini dan juga seluruh pasukan yang ikut dengannya menuju Banyu Kuning tidak ada yang kembali, telah aku temukan jawabannya. Sekarang kalian boleh memilih. Kalian membiarkan aku pergi dan menghentikan semua pertarungan konyol yang tidak penting ini, sehingga aku tidak perlu lagi membumi hanguskan perguruan kalian, seperti nasib Perguruan Racun Neraka, itu terserah kalian. Atau kalian justru ingin tetap meneruskan pertarungan ini? Tetapi jika perguruan kalian musnah, jangan salahkan aku. Karena kali ini aku sudah tidak akan menahan lagi kekuatanku." Suro berbicara setenang mungkin di wajahnya tersungging sebuah senyum.
Sikap seperti itu tentu saja membuat lawannya bergidik ngeri. Sebab posisinya sekarang sedang dikeroyok oleh para tetua yang kekuatannya sudah ditingkat shakti. Tetapi sikap yang dia tunjukan tidak terlihat ada sedikitpun rasa takut.
Maung yang ikut mengamuk menghabisi begitu banyak orang bersama Suro, telah kembali berdiri disamping sahabatnya.
Suro menatap ke seluruh penjuru. Dalam kondisi itu entah mengapa dia teringat perkataan eyang gurunya tentang jalan hidup yang dia pilih. Jika Suro memilih menjalani hidup sebagai seorang pendekar yang terjun dalam dunia persilatan.
Menurut eyang Sindurogo ada beberapa jalan yang membuat seseorang berubah setelah menjalani kehidupan sebagai seorang pendekar. Pertama dia akan menjadi gila, karena telah membunuh orang terlalu banyak. Kedua dia akan menjadi gila karena terlalu banyak melihat orang dibunuh.
Tetapi eyang Sindurogo memberikan pilihan pada Suro agar kewarasannya tetap terjaga, yaitu menempatkan diri seperti dalam sebuah pribahasa urip kuwi mung sak dermo nglakoni(hidup itu hanya sekedar menjalani).
Segala jalan hidup sudah ada garisnya. Apapun jalan yang akan diambil semua sudah ditakdirkan. Segala sesuatu telah ditakdirkan jadi jalani saja semua sebaik yang bisa dilakukan, apapun peran yang telah dimiliki. Lakukan pilihan terbaik dari yang terbaik, meski itu tidak mudah untuk dijalani.
Perkataan itu mewakili kondisi Suro saat ini yang harus membuat pilihan sulit agar tetap hidup, yaitu dibunuh atau membunuh. Hanya pilihan itu yang dia miliki.
Selain itu untuk menjaga agar kewarasannya tidak moksa dari kesadarannya. Dia mengingat dengan baik pesan lain dari gurunya, yaitu ojo leren dadi wong apik. Kata-kata itu dia ingat terus dan dia gengam seerat mungkin.
Sebuah pribahasa yang bisa dijabarkan dalam kehidupan, apapun pendapat orang tentangmu, seburuk apapun kamu diperlakukan, sejahat apapun masyarakat memperlakukanmu, dan seberapa sering dirimu diperlakukan dengan tidak adil, jangan berhenti tetap menjadi orang yang baik.
"Jadi bagaimana apa keputusan yang kalian inginkan? Kalian akan membiarkanku pergi bersama sahabatku ini, atau kalian justru ingin tetap meneruskan pertarungan ini?"
"Enak saja! Setelah menghancurkan perguruan dan membunuh begitu banyak saudara kami, ingin kabur begitu saja. Tidak akan kubiarkan dirimu hidup lebih lama lagi! Kita habisi saja dia secepatnya!" Salah seorang tetua langsung menyahut pertanyaan Suro.
"Benar sekali, setelah sekian lama bertarung pasti tenaga dalamnya telah terkuras banyak! Dia pasti sudah merasa telah sampai batasnya, mengapa dia menawarkan pilihan seperti itu. Akan kita lihat seberapa lama lagi bocah tengik ini tetap mampu bertahan?"
'Maung aku akan mengirimmu ketempat yang aman sejauh mungkin dari sini.'
Sekejap kemudian semua tetua dibuat terkejut, bukan hanya para tetua tetapi semua ikut terkejut. Sebab mendadak tubuh Maung tenggelam ditelan bumi.
"Sebelum aku mendatangi perguruan ini, aku sudah menyelidiki segala hal yang terjadi di perguruan ini. Ilmu tongkat kalian benar-benar ilmu tongkat paling sesat yang pernah aku temui."
"Aku telah mendengar, jika ilmu itu membutuhkan tumbal manusia, tetapi aku tidak menyangka jika itu memang benar adanya."
"Karena kalian telah memilih pilihan itu, kali ini aku tidak lagi menahan kekuatanku. Apalagi dengan tidak adanya sahabatku, kalian tidak akan melihat seberapa lama aku akan tetap bertahan? Karena waktu kalian di dunia ini sebentar lagi akan habis!"
Setelah tidak adanya Maung disampingnya, kini Suro dapat leluasa mengerahkan tehnik empat sage tanpa takut sahabatnya itu akan ikut terkena dampaknya. Karena kekuatan itu selain menghisap kekuatan alam juga menghisap energi kehidupan makhluk yang masuk dalam jangkauannya.
"Salahkan pada diri kalian sendiri, jika akhirnya perguruan ini musnah!" Suro sudah bersiap melayani serangan para tetua yang mengepungnya dari empat penjuru arah mata angin.
"Banyak mulut!" Tetua yang berada disebelah kiri segera memulai serangan tongkatnya dengan sangat cepat. Serangan itu diiringi kekuatan roh gentayangan yang dijadikan tumbal ilmu tongkat mereka.
Kali ini pertarungan kembali pecah lebih dahsyat dari pada sebelumnya. Para tetua menyerang secara bersama-sama. Jurus tongkat neraka bukanlah ilmu bela diri yang bisa dianggab remeh. Sebab berkat ilmu itu Perguruan Tengkorak Merah disegani di dalam dunia persilatan.
Selain karena serangannya begitu cepat dan rapat, setiap serangan yang mereka kerahkan diiringi serbuan roh gentayangan yang membuat serangan mereka bertambah kuat. Selain itu hawa kekuatan kegelapan menjadi sumber tenaga dalam mereka membuat roh gentayangan menjadi begitu buas.
Mengapa tenaga dalam mereka begitu gelap karena jalan spiritual yang mereka tempuh adalah jalan spiritual iblis. Jalan yang mereka tempuh dapat lebih cepat di raih daripada spiritual Dewa. Tetapi akibat memilih jalan pintas tersebut, membuat mereka menjadi lebih kejam.
Kehadiran Pedang iblis diperguruan itu kemungkinan berkaitan dengan ilmu tongkat dan juga sumber tenaga dalam yang mereka miliki. Karena ilmu iblis kalipurusha milik iblis pedang selaras dengan ilmu mereka. Tujuannya tentu saja untuk memperkuat kekuatan perguruan mereka.
Kekuatan jurus tongkat walaupun sebenarnya jenis serangan jarak dekat, tetapi mereka para tetua yang telah mencapai tingkat shakti, membuat hempasan tongkat yang mereka mainkan mampu menerjang ke arah Suro yang berjarak lebih dari satu tombak.
Akibat hempasan serangan mereka kabut beracun yang mulai dikerahkan Suro langsung buyar. Salah satu alasan para tetua tidak berani mendekat ke arah Suro, karena keberadaan kabut beracun yang dikerahkan Suro.
Keputusan para tetua untuk membuyarkan kabut beracun, seperti pilihan buah simalakama. Di satu sisi jika mereka tidak membuyarkan kabut itu, maka mereka akan terancam serangan jurus Tapak Selaksa Dewa Racun yang berupa ribuan jarum beracun. Tetapi jika mereka membuat kabut beracun itu buyar, maka cakupan paparan racun semakin meluas.
Dengan tindakan mereka barusan, telah membuat malapetaka bagi orang banyak. Para jagoan dibawah tingkat tinggi yang terkena racun itu langsung mutah darah hitam dan mati.
Bahkan salah satu tetua yang terkena akibatnya, kini telah terkapar tidak mampu lagi meneruskan serangannya ke arah Suro. Walaupun nafasnya kembang kempis tetapi nyawanya masih ada.