
"Terima kasih paman, karena telah mempercayai kami. Dengan menunjukkan tempat ini dan juga memberitau tentang keberadaan relik kuno yang saya cari. Mengenai hilangnya sihir pelindung, setelah nanti relik kuno diambil, tidak perlu paman risaukan.
Sebab Suro sudah memiliki solusi agar nantinya setelah relik kuno Suro ambil, tempat ini tetap dapat dilindungi oleh segel sihir tersebut."
"Sebab Geho sama yang akan memastikan segel sihir pelindung itu tidak akan menghilang. Selain itu dia akan membuat segal sihir yang baru untuk memperkuatnya, sehingga dapat mencegah kemungkinan adanya penerobos atau penyusup,' ujar Suro sambil tetap teesenyum ke arah La Tongeq sakti.
"Bukan begitu Geho sama?" Suro menambahkan ucapannya sambil menoleh ke arah Geho sama yang berada di sisi kanannya.
Di sebelah kiri La Tongeq sakti terlihat antusias menunggu jawaban yang akan diberikan Geho sama, karena itu artinya dia tidak akan pusing dengan adanya penyusup yang masuk ke tempat itu.
"Tentu saja, aku tidak membiarkan tempat ini dimasuki oleh makhluk kegelapan. Namun untuk membentuk segel sihir yang baru, memerlukan waktu yang tidak singkat. Minimal butuh beberapa hari.
Dengan segel sihirku aku jamin tidak ada yang bisa menerobos tempat ini. Karena selain terjebak dalam sihir ilusiku, mereka juga tidak akan mampu memasuki tempat rahasia ini. Kecuali kalian mengijinkannya, atau mengetahui kunci dari segel sihir yang aku buat."
Geho sama terlihat begitu antusias, sebab Suro menyebut air suci yang akan diberikan kepadanya untuk diminum itu memiliki nama lain, yaitu air Nirvikalpa atau air ketetapan jiwa.
Dengan air ini Suro menjanjikan dirinya akan dapat mencapai penyucian jiwa lebih mudah. Sebab air itu mampu membantu menguatkan niat pemilik hati.
Jika niat adalah menuju jalan kesucian, maka akan memudahkan baginya untuk melewati prosesnya. Namun bisa juga justru kebalikannya, seperti yang terjadi pada para makhluk kegelapan.
Seperti yang disaksikan Suro dalam perjalanan sebelumnya, para makhluk kegelapan itu memiliki kecerdasan setelah merasakan air Nirvikalpa. Namun karena dalam hatinya dipenuhi sifat buas, maka yang terjadi adalah para makhluk itu semakin bertambah liar dan buas.
Seperti dalam perjalanan sebelumnya, para makhluk kegelapan itu justru saling memangsa kaum mereka sendiri. Sebab dengan cara itu mereka mendapatkan air Nirvikalpa didalam tubuh makhluk kegelapan yang dimangsanya.
Tetapi menurut La Tongeq sakti jika meminum air itu, maka tubuh yang meminum akan terlindungi dari efek buruk hawa kegelapan. Tetapi La Tongeq sakti tidak mengetahui seberapa banyak hawa kegelapan yang dapat diserap agar tetap aman dan justru tidak dikuasai jahatnya hawa kegelapan itu.
Apalagi melihat para makhluk kegelapan yang telah merasakan air itu hanya menghilangkan sebagian perubahan di tubuhnya. Salah satunya adalah hilangnya tanduk dan ekor yang sebelumnya muncul.
Tetapi saat pertempuran sebelumnya Suro melihat taring-taring makhluk kegelapan masih terlihat, justru menyerupai taring seperti seekor harimau. Kondisi itu membuat Suro menyimpulkan ada keterbatasan khasiat yang dimiliki air Nirvikalpa.
Namun dari pengalaman yang diceritakan La Tongeq sakti dia cukup aman menyerap hawa kegelapan, berkat metode menyerap hawa kegelapan akhirnya dirinya mencapai tingkat shakti.
Mendengar penjelasan tersebut Suro tersenyum ke arah Geho sama, "kau dengar sendiri bukan, air itu juga akan membantu dirimu mengatasi masalah yang kau takutkan saat menyerap hawa kegelapan."
Mendengar ucapan Suro barusan, Geho sama tersenyum cukup lebar. Sebab itu artinya dia dapat menyerap kekuatan dalam hawa kegelapan lebih banyak lagi, selama memiliki air Nirvikalpa.
"Dari pada para pendekar penasaran seperti apa rasa dan khasiatnya, mending diminum saja sekarang," ujar La Tongeq sakti.
"Ini juga sebagai bentuk permintaan maafku atas kejadian sebelumnya," imbuh La Tongeq sakti.
Suro maupun Geho sama saling berpandangan mata saat meminum air yang terasa sedikit asin itu. Namun mereka tidak merasakan sensasi apapun setelah meminumnya.
Geho sama hendak memprotes kepada Suro, sebab kondisi jiwanya tidak berubah sama sekali. Namun Suro menjelaskan yang dikatakan lewat batin menghentikan mulut Geho sama merepet. Suro hanya menjelaskan semua itu tak semudah yang disangka, sebab segala sesuatu memerlukan waktu untuk berproses. Sehingga tidak langsung bereaksi seperti yang dia harapkan.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke bawah melewati beberapa puluh anak tangga. Setelah itu mereka bertemu dengan sebuah ruangan yang juga dijaga oleh beberapa penjaga.
Melihat kedatangan La Tongeq sakti para penjaga itu langsung menjura dan membuka pintu ruangan yang mereka jaga.
"Apakah ini yang pendekar maksud dengan relik kuno?" Ditengah ruangan itu terdapat altar yang terpahat sebuah ukuran semacam lingkaran oktagonal yang rumit. Sebuah arca dari batu bercahaya dengan warna kehijuan yang terletak ditengah altar itu segera dikenali oleh Suro.
"Benar paman, memang itu yang Suro maksud."
La Tongeq sakti lalu berjalan ke tengah altar itu, lalu mengambil archa kecil itu agar Suro dapat memastikan kembali.
"Gawat, jangan diangkat paman! Kembalikan segera paman! Formasi pelindung tempat ini akan terputus! Cepat kembalikan lagi paman!" Suro berlari ke arah La Tongeq sakti untuk menghentikan tindakan itu.
Mendengar dan melihat kepanikan yang diperlihatkan Suro, maka La Tongeq sakti buru-buru menaruh kembali ke tempatnya semula.
"Geho sama bisa kau lakukan sekarang tehnik sihirmu. Aku tidak akan mengambil relik kuno itu sebelum kau selesai merampungkan tehnik sihirmu."
"Paman La Tongeq sakti sebaiknya kita memantau seluruh negeri ini, aku rasa beberapa makhluk kegelapan telah memasuki tempat ini." Suro berbicara ke arah La Tongeq sakti untuk segera ikut dengannya untuk memastikan goa besar itu aman dari serangan makhluk kegelapan.
Belum lama berselang setelah Suro berbicara terdengar dentuman keras berturut-turut yang menggelegar membuat seluruh tempat itu bergetar kuat.
Duuum!
Duuum!
Dentuman keras yang terdengar beberapa kali segera menarik perhatian mereka semua. Tanpa menunggu Suro langsung melesat menuju ke arah salah satu sumber suara yang terdengar. Ternyata dalam satu waktu muncul serangan dibeberapa tempat.
Suro langsung menuju ketempat yang terdekat, sebab sasaran makhluk itu adalah pemukiman penduduk. Makhluk kegelapan itu hendak meratakan seluruh pemukiman penduduk rata dengan tanah.
Suro bergerak cepat agar tidak ada korban jiwa, dengan langkah Maya Suro telah berada di atas makhluk yang menyerupai seekor tikus tanah. Diatas kepala makhluk itu berdiri sesosok seperti manusia yang terus memberi perintah kepada tikus raksasa sebesar lima kali gajah dewasa untuk menghancurkan segala hal yang ada.
Melihat musuh menyerang dibeberapa tempat Suro kemudian memanggil Lodra untuk dapat menghentikan serangan musuh dengan lebih cepat.
"Lodra hadapi musuh yang lain!" Sebelum menyerang lawan dia mengerahkan jurus api hitam miliknya untuk mengatasi serangan serentak itu.