SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 219 Sang Hyang Batara Narada



"Sepertinya dirimu telah melupakan kesadaranmu yang sesungguhnya. Dulu aku tidak mengetahui mengapa Sang Hyang Wenang mengutusmu hadir ke dunia dengan wadak atau raga seorang manusia? Kini aku memahami ternyata tujuannya seperti ini."


Suro menggaruk-garuk kepalanya kemudian duduk bersila berhadapan dengan sosok yang ada didepannya. Dia tidak memahami dengan segala ucapan yang dikatakan sesosok itu. Sampai saat itu dia masih belum mampu menatap wajah lawan bicaranya, karena pancaran cahayanya terlalu menyilaukan mata. Bahkan Suro sedikit perih matanya, jika sedikit lebih lama memaksakan untuk melihat wajahnya.


"Aku memahami sekarang mengapa kekuatanmu hanya bisa terbuka setelah melewati jalan arhat, jalan menuju kesucian hati ini. Ternyata berhubungan dengan kondisimu yang sekarang sebagai manusia."


"Keadaanmu yang sekarang diciptakan sebagai manusia memiliki potensi menjadi buruk dan menjadi baik. Dengan melalui jalan arhat ini akan mencegah dirimu mendapatkan kekuatan sejatimu, jika jalan yang kau pilih adalah jalan keangkara murkaan."


"Pekulun ini siapa? Mengapa seolah-olah mengetahui perjalanan hidupku yang aku sendiri tidak mengetahuinya?"


"Aku adalah wujud pancermu yang sejati. Aku selalu ada didalam dirimu jauh sebelum dirimu diutus menjadi manusia. Sehingga aku mampu memahami setiap perjalanan hidupmu meski dirimu tidak mengingatnya kembali."


"Aku yang diutus Sang Hyang Wenang untuk moksa bersatu dalam wujud sejatimu untuk mencegah kejadian seperti ini, yaitu kejadian dimana kekuatan dewa kegelapan hendak mengambil alih kesadaranmu. Ini adalah sebagai upaya perlindungan yang diberikan Sang Hyang Wenang kepadamu, agar dirimu tidak dijadikan kaki tangan oleh Dewa kegelapan."


"Karena dengan wadakmu sekarang yang seorang manusia memungkinkan dirimu menyerap kekuatan kegelapan. Jadi inilah salah satu tujuan dirimu turun ke dunia dengan wujud manusia agar dapat menyerap kekuatan kegelapan. Dengan wujudmu yang dahulu sebagai ras Aditya tidak akan memungkinkan dirimu menyerap kekuatan kegelapan."


"Apa yang sebenarnya pekulun katakan aku tidak mengerti sama sekali, apakah aku sebelumnya pernah lahir dengan wujud yang lain? Karena seolah-olah pekulun pernah mengenalku dengan kondisi yang lain?"


"Aku telah moksa bersatu dan berdiam dalam alam bawah sadarmu, sebelum dirimu turun ke marcapada. Karena hal itulah mengapa aku dapat mengenalmu dengan baik."


"Karena dirimu tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya, sebaiknya aku juga tidak mengatakan apapun. Saat aku akan muncul dihadapanmu adalah untuk membuka potensi dirimu yang sebenarnya. Karena tujuan dirimu turun di marcapada ini memiliki tugas yang sangat besar. Intinya dirimu harus menyelamatkan alam raya dan hanya dirimu yang mampu menghentikan bencana yang akan terjadi."


Suro bertambah kebingungan mendengar penjelasan sesosok itu yang arah pembicaraannya tidak bermuara.


"Lalu mengapa diriku harus ada di alam ini jika pekulun adalah sosok yang ada didalam diriku?"


"Hahahaha...! Alam ini tidak lebih dari pada alam yang ada didalam mimpimu. Jadi sebenarnya dirimu tidak sedang berada dimana-mana. Untuk menjelaskan lebih mudah, anggab saja ini hanyalah seperti mimpi. Bukankah jika dirimu sedang bermimpi dapat berkelana ke segala alam tanpa kesulitan? Seperti juga saat ini, dirimu yang sekarang hanyalah sebentuk jiwa dan sebuah kesadaran saja yang hadir disini. Sedangkan wadakmu tetap di alammu sendiri."


Suro terlihat mengangguk-anggukan kepala membenarkan perkataan sesosok makhluk didepannya itu. Sebab beberapa kali atau bahkan sering dia bermimpi berada ditempat yang sangat indah. Seperti bukan di alam yang pernah dia temui. Bahkan saat eyang Sindurogo diceritakan tentang mimpinya yang sering mendatangi tidurnya, gurunya itu menyebut tempat itu adalah khayangan jongring salaka yang berada di alam para dewa.


"Lalu apa tujuan pekulun membawa diriku ke tempat ini? Sebab sebelum aku berada di alam ini, aku sangat yakin jika suara pekulun terdengar olehku dan mengajakku pergi!"


"Aku katakan sekali lagi, tujuanku adalah membuka potensi tubuhmu yang sebenarnya. Walau ini tidak akan langsung membuat dirimu sekuat pada waktu sebelumnya, tetapi ini akan membuka peluang dan memudahkan dirimu mendapatkan kekuatanmu yang sesungguhnya. Bahkan kemungkinan akan melampaui apa yang telah dulu dirimu capai."


"Baiklah apa yang harus ditunggu aku sudah siap melakukannya?"


"Tidak sesederhana itu, sebab dirimu untuk melakukannya harus melewati delapan jalan menuju kesucian."


"Apa itu pekulun delapan jalan menuju kesucian?"


"Jika kamu mampu melewati delapan tahap itu, maka jalan untuk membebaskan eyang gurumu akan terbuka lebar. Apalagi dia sekarang sudah tidak lagi menjadi wadak pecahan jiwa kegelapan?"


Suro terkejut mendengar penjelasan sesosok yang menyebut dirinya sebagai guru sejati itu.


"Aku tentu saja mengetahuinya, bahkan diriku tau sebelum terjadi. Walau beberapa hal aku tidak mampu memahami, seperti tujuan awal dirimu diutus ke marcapada dengan wujud seorang anak manusia ini?"


"Mengenai gurumu, saat ini dia tidak mati. Tetapi tetap saja masih menjadi boneka dewa kegelapan. Kamu adalah harapan satu-satunya untuk mampu membebaskan dirinya yang masih dalam cengkraman dewa kegelapan, bahkan semuanya tergantung padamu. Dirimulah yang harus mencegah agar seluruh alam ini tidak hancur oleh kekuatan Dewa Kegelapan."


"Karena itulah sejak awal aku yang dipilih untuk menjadi pendamping jiwamu sebagai guru sejatimu."


"Baiklah guru sejati siapa sebenarnya pekulun ini? Tentu saja selain memiliki nama guru sejati pasti juga memiliki nama lain? Mungkin nama lainnya adalah Sugino, atau Tukimin, Tukiman, Parmin, Sakat, atau mungkin juga Kasidi atau entahlah? Tetapi pastinya pekulun memiliki nama lain."


"Namaku adalah Sang Hyang Batara Narada."


"Luar biasa nama pekulun memiliki nama depan seperti Sang Hyang Antaboga."


"Apakah kamu pernah mengenal nama itu?" Sesosok itu berharap banyak Suro mengenali dirinya, karena itu dia terlihat antusias menunggu jawaban dari Suro.


"Eeeemmmmmmmmm....... emmmmmmmm agaknya tidak, aku tidak pernah mendengar nama itu?" Suro mencoba mengingat-ingat nama itu, tetapi memang dia tidak pernah sekalipun mendengar nama itu.


"Padahal aku sangat terkenal. Baiklah jika nama itu tidak kamu kenal, bagaimana dengan nama lainku, yaitu Sang Hyang Kanwakaputra atau Sang Hyang Kanekaputra. Apakah dengan nama itu kamu sudah mampu mengenaliku kembali?"


"Sang Hyang Kanwakaputra atau Sang Hyang Kanekaputra, pernah tidak ya aku mendengar nama itu? Eeeeeemmmmm...Suro rasa sama, nama itu juga tidak pernah aku dengar sebelumnya. Tetapi Suro mempunyai kenalan yang memiliki awalan dengan nama Sang Hyang hanya seorang, yaitu Sang Hyang Anantaboga. Aku tidak mengetahui ada yang lain.. oh iya satu lagi Hyang Kavacha." Suro tersenyum-senyum sendiri membanggakan kenalan yang dia miliki.


"Sungguh terlalu...kwalitasku bahkan kalah terkenal dibandingkan dengan hanya sebuah rompi kavacha."


"Sudahlah itu tidak penting sekarang kamu harus menjalani latihan agar dirimu mampu melewati jalan kesucian ini."


"Jalan yang kau tempuh ini memiliki empat tahap dan setiap tahap terbagi menjadi dua. Sehingga keseluruhannya adalah delapan tahap."


"Inti dari seluruh tahap ini adalah membersihkan hati dan jiwamu dari belenggu keangkara murkaan, karena kondisimu yang sekarang sebagai manusia memiliki pancha mahabhuta yang didalamnya juga ada kemungkinan untuk menjadi buruk dan menjadi baik."


"Lalu berapa lama Suro dapat menyelesaikan seluruh tahapnya pekulun?"


"Dengan kondisimu yang memang istimewa, mungkin membutuhkan waktu sekitar satu tahun di dunia ini!"


"Apa? Gawat nanti tubuh yang aku tinggalkan apa tidak lumutan, pekulun? Jika menghabiskan waktu selama itu?"


"Aku tidak menyangka setelah dirimu menjadi manusia mengapa sifatmu yang polos bertambah semakin polos? Jangan menghawatirkan mengenai lamanya waktu sampai waktu satu tahun. Sebab di alammu hanya terjadi beberapa hari saja. Selain itu tubuhmu terlindungi energi murni yang sangat padat. Sehingga tidak akan membahayakan wadakmu. Meski selama apapun waktu yang harus kamu habiskan di alam ini."


**


Mohon maaf lahir batin buat semuanya