
Suro menggaruk-garuk kepalanya mendengar ucapan sang pertapa.
'Agaknya ucapanmu ada benarnya Geho sama, pertapa ini memang sedikit ada masalah dikepalanya.'
Geho sama yang mendengar suara batin dari Suro tertawa keras. Rasa kesalnya sedikit terobati mendengar pembenaran yang diucapkan Suro.
"Jadi apa yang kau putuskan anak muda, apakah kau menolak untuk membunuhku dalam pertarungan?"
"Keinginan tuan pertapa yang hendak moksa menuju nirwana untuk sekarang, sepertinya akan sulit untuk aku lakukan."
"Jadi kau memilih untuk tidak mau mengabulkan permintaanku? Itu artinya kalian berdua akan aku habisi sekarang juga!"
Pedang Kristal Dewa yang ada dalam genggaman pertapa mulai melambari sekujur bilah pedang dengan api hitam. Kobaran itu mulai meninggi seiring pengerahan tenaga dalam yang disalurkan ke arah pedang tersebut.
Geho sama dan Suro tentu saja terkejut melihat hal tersebut. Suro tidak mengira pertapa itu mampu mengerahkam api dari bilah pedang miliknya sedahsyat
Itu.
Geho sama sudah bersiap hendak menyerang sang pertapa. Tetapi Suro mencegahnya, dia memiliki rencana yang lebih baik dibandingkan bertarung dengan pertapa itu.
"Tunggu dulu tuan pertapa...tunggu dulu. Aku tidak mengatakan diriku menolak permintaan tuan pertapa untuk membantu moksa.
Tetapi untuk saat ini terlebih dahulu, hamba meminta tuan pertapa membantu diriku untuk memperkuat kekuatanku. Jika tidak, aku kira itu akan mustahil membuat tuan pertapa moksa."
"Apa maksudmu memintaku mengajarimu terlebih dahulu! Berarti kau bukan pemuda yang berada dalam penglihatanku!"
Suro menepuk-nepuk jidatnya. Dia lalu kembali menggaruk-garuk kepalanya.
Jawaban sang pertapa itu membuat Suro
mencari cara, agar pertapa itu bisa dia akali. Entah mengapa dia merasa lelaki itu memng sedikit ada maslah dengan isi kepalanya.
"Gagak setan ini adalah salah satu penyebab kehancuran bumi ini sebelum akhirnya berhasil digagalkan oleh para dewa." Sambil mengerahkan tenaga dalam yang melambari pedang ditangannya, pertapa itu menatap tajam Geho sama.
"Jika aku berhasil membunuh kalian saat ini, mungkin saja para dewa akan datang padaku dan membantuku moksa."
Ucapan lelaki barusan telah membuat Geho sama mulai kasak-kusuk menatap ke arah Suro agar diberikan ijin menyerang pertapa itu. Suro memahami maksud tatapan Geho sama.
Tetapi dia memiliki rencana lain yang lebih bagus. Dia memutuskan hal itu setelah melihat kekuatan dahsyat sang pertapa.
"Jangan khawatir, sesuai penglihatan yang diberikan oleh para dewa, pemuda yang mampu membantu tuan pertapa moksa itu pasti diriku tidak ada yang lain!" Suara Suro terdengar lantang mencoba meyakinkan pertapa itu.
Sebab lelaki itu terus mengerahkan kekuatannya, sehingga api hitam yang berkobar lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Api itu meninggi lebih dari satu tombak.
Kekuatan itu sesuatu yang cukup menakutkan, sebab pengerahan itu tidak melibatkan Lodra sama sekali.
"Lalu mengapa kau memintaku untuk meningkatkan kekuatanmu terlebih dahulu?"
Suro tersenyum kecil mendengar ucapan sang pertapa, sebab itu artinya lelaki itu sudah memakan umpan yang dia lemparkan.
"Jika membunuh tuan pertapa, tentu bukan sesuatu masalah. Kami berdua akan menjamin sanggup melakukan." Suto terdiam sebentar untuk melihat reaksi pertapa.
Lelaki tua itu mulai mengernyitkan dahi mendengar ucapan Suro yang terdengar begitu percaya diri mampu membunuhnya. Suro tersenyum melihat reaksi yang dia tangkap dari lawan bicaranya.
"Lalu masalahnya apa, sehingga dirimu memintaku untuk membantu meningkatkan kekuatanmu terlebih dahulu?" Pertapa itu tidak sabar, melihat Suro tidak segera melanjutkan ucapannya.
Suro tersenyum semakin lebar mendengar pertanyaan dari sang pertapa.
"Benar itu yang aku mau."
"Karena itu, untuk mengabulkan permintaan tuan pertapa ada sesuatu hal aku perlukan ...." Suro lalu menjelaskan kepada pertapa dengan penjelasan rumit.
Intinya untuk moksa maka dia harus menggunakan rapalan mantra dewa yang tidak bisa sembarangan dilakukan. Dia meminta sang pertapa mengajarkan dirinya memanggil astra-astra atau senjata gaib milik pertapa untuk digabungkan dengan mantra dewa, sehingga sang pertapa dapat moksa dan langsung menuju Nirwana.
Pertapa itu cukup lama mendengar penjelasan Suro. Dia mencoba menelaah ucapan Suro yang bagi dia sedikit janggal. Walaupun itu memang terasa masuk akal bagi dirinya yang memiliki pengetahuan luas.
"Ucapanmu dapat aku terima, setelah aku kembali menelaah penglihatan yang aku dapatkan puluhan tahun lalu. Penampakanmu dan moksaku tidak terjadi secara sekaligus. Itu artinya ada proses panjang yaang harus dilalui agar keinginanku moksa dapat terwujud."
Dia tidak segera melanjutkan ucapannya, karena Sang pertapa itu merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tetapi dia tidak juga menemukan apanya yang janggal.
Suro berharap-harap cemas menunggu ucapan dari sang pertapa. Tetapi dia cukup pintar untuk menyembunyikannya. Senyumnya terus menghiasi wajahnya seperti dia tidak berharap pertapa itu mau mengajarinya memanggil senjata gaib yang kekuatannya setara senjata dewa.
"Baik aku akan mengajarimu cara mendapatkan astra-astra atau senjata gaib milikku. Tetapi awas, jika kau tidak juga sanggup membuatku moksa, maka aku tidak akan mengampunimu."
"Hamba akan menepati apa yang telah diucapkan."
Sang pertapa itu mengangukkan kepala, dia cukup puas dengan jawaban Suro, "sebaiknya kau tepati, jika tidak kau akan menyesal. Akan kubuat kau mati hingga jiwamu pun tidak mampu bereinkarnasi kembali!"
Geho sama tidak mengerti pada awalnya, mengapa tuannya menghalangi dirinya menyerang sang pertapa. Kini dia mendapatkan sedikit petunjuk apa yang sebenarnya hendak direncanakan Suro.
Geho sama lalu tersenyum lebar mengetahui rencana cemmerlang yang dimiliki Suro.
Sebab dengan cara itu dia akan mendapatkan kesaktian dari ciranjiwin yang ada dihadapan mereka. Kekuatan yang berasal dari anugerah para dewa berupa senjata gaib.
"Tetapi sebelum tuan pertapa mengajariku, sebaiknya saya akan melanjutkan pengejaran musuh yang melatikan diri terlebih dahulu. Sebab kabarnya mereka memiliki senjata pusaka iblis yang bernama kunci langit."
Pertapa itu mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Suro.
"Aku tidak ada urusannya dengan musuh yang kalian kejar. Tetapi pusaka iblis kunci langit yang kau ucapkan membuat diriku sepertinya harus ikut serta.
Pusaka itu sesungguhnya milik Mahabali salah satu Ciranjiwin yang merupakan bagian dari bangsa Asura atau para raksasa. Aku memang pernah mendengarnya, jika dia memiliki pusaka itu untuk merebut khayangan dan berhasil mengusir para dewa."
Suro tersenyum ceria akhirnya umpan yang dia berikan dimakan semua oleh pertapa. Geho sama sampai kehabisan kata-kata melihat Suro dapat mengakali musuh yang begitu kuat, sehingga mau menuruti apa yang diinginkan pemuda itu.
Setelah itu mereka bertiga segera melesat lurus ke arah timur untuk mengejar pasukan Elang Langit.
**
"Aku sudah tidak mungkin mundur kembali, aku sudah kepalang basah memihak kalian. Karena itu sebaiknya walikota Yang Tiazu memberitahukan adanya ancaman besar kepada Kaisar Yang Guang." Semua yang berada didalam ruangan diam mendengarkan penjelasan Subutai. Prnjelasan itu mengenai detail pergerakan pasukan yang telah masuk ke dalam wilayah kekaisaran Yang.
Diantara yang berkumpul itu walikota Yang Taizu, Yang xiaoma, eyang Sindurogo, Dewa Rencong, Dewi Anggini dan Jendral Zhao, Mahadewi dan beberapa pejabat kota Shanxi.
Mereka sedang memikirkan langkah berikutnya, setelah Subutai menjelaskan kondisi sebenarnya dari rencana besar Khan Langit dan juga Kerajaan Goguryeo.
Ditambah dengan keikut sertaan pasukan Elang Langit dari Negeri Wajin, maka kondisi itu sesuatu ancaman besar yang harus segera diatasi. Sebab itu akan dapat mengancam keselamatan seluruh rakyat Negeri Atap Langit.
Mendengar penjelasan panjang membuat gurat wajah walikota Shanxi berubah menjadi lebih tua lima tahun. Yang Taizu segera menyadari bahaya besar, jika semua kejadian itu tidak dicegah sedini mungkin.
"Baiklah aku akan menjelaskan kondisi dan ancaman ini kepada kaisar Yang."
Walikota Yang Taizu merupakan bagian keluarga besar bangsawan Yang. Sehingga secara tidak langsung dia memiliki kedekatan emosional dengan Kaisar Yang Guang.
Bersama dengan Dewi Anggini dan Dewa Rencong beserta pasukan penjaga kota. Akhirnya mereka nemutuskan segera menuju kota kerajaan yang berada di kota Luoyang. Tepatnya ditimur dari kota Shanxi, tetapi lebih ke arah tenggara.