SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 462 Kemunculan Musuh Lain



Serangan hewan yang muncul dan meloncat dengan kecepatan tinggi dalam sekejap telah memakan korban para pendekar berjumlah belasan. Padahal kekuatan para pendekar itu sudah ditingkat langit.


Serangan itu berlangsung begitu cepat. Bahkan kecepatan lesatan terbang para pendekar yang sudah berada pada tingkat langit, tidak mampu menghindari ataupun mampu mengantisipasi serangan yang akhirnya merengut nyawa mereka.


Suro tidak menduga kejadian barusan. Sesuatu yang tidak diperkirakan, jika makhluk itu justru mengambil kesempatan untuk menyerang secara serentak, sesaat setelah para pendekar memutuskan melesat terbang untuk menyingkat waktu.


Sebenarnya Suro sudah berusaha menghentikan serangan makhluk yang muncul dari kawah di sebelah kanan dan kiri jalan yang dilewati. Tetapi karena serangan itu secara serentak, sehingga dia tidak mampu menyelamatkan semua pendekar.


Mahadewi yang berlari di atas jalan yang membentang justru selamat dari terjangan makhluk yang berlompatan menyambar tubuh para pendekar yang menyebrang dengan cara terbang.


Geho Sama, Dewa Rencong, para pendekar yang sudah ditingkat surga sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka juga berusaha mencegah, apalagi memang mereka ikut serta bersama mereka yang melesat.


Kecuali tetua Dewi Anggini, dia memilih menggunakan langkah kilat bersama Mahadewi. Dia memiliki perhitungan sendiri setelah sebelumnya dia melihat cara binatang itu meloncat tinggi dari sisi kanan ke sisi kiri atau sebaliknya melintasi jalan yang mereka lalui.


Perhitungan pendekar itu juga yang membuat muridnya Mahadewi selamat sampai ke seberang.


Jumlah Shurala yang keluar dari dalam kawah itu mirip dengan kadal yang dulu dihadapi Suro saat pertarungan di negeri bawah tanah. Kekuatan yang diperlihatkan kemungkinan lebih kuat.


Kemampuan unik dari kadal itu yang membuatnya mampu bertahan hidup di dalam kawah panas bergejolak. Berenang seperti ikan didalam magma tentu sesuatu hal yang sangat janggal.


Mereka mampu hidup didalam kawah yang mengelegak dengan suhunya sangat panas, karena kadal itu memiliki kemampuan yang menyerupai tehnik perubahan api khusus.


Tubuhnya mampu menyesuaikan dengan panasnya kawah. Kulit luar dari kadal itu menyerupai besi yang dibakar dalam suhu yang tinggi, sehingga berwarna merah membara.


Tetapi di bawah kulitnya yang panas, justru bersuhu sangat dingin sedingin es. Sehingga panas dari kawah itu tidak dapat melukai hewan tersebut. Sebab panasnya lahar hanya tertahan pada kulit luarnya saja.


Suro berhasil membabat leher kadal yang muncul pertama kali, sebelum giginya menacap dan mencabik tubuhnya yang sedikit jangkung. Pedang Kristal Dewa kembali membuktikan ketajamannya.


Senjata kapak besar milik Geho Sama juga berhasil membelah para kadal yang melesat hendak menangkap tubuh para pendekar didekatnya. Berkat tindakannya banyak pendekar telah berhasil diselamatkan olehnya, jika tidak tentu berpuluh-puluh pendekar akan berakhir riwayatnya masuk ke dalam perut kadal api.


Tehnik Langkah Maya yang dikerahkan Geho Sama dan Suro berhasil menghadang para kadal yang melesat begitu cepat. Meskipun begitu mereka berdua tetap tidak mampu menghentikan semua kadal.


Sebab kadal api bergerak serempak menyerang pendekar. Jumlahnya lebih dari lima puluh ekor.


Para pendekar sebenarnya tidak begitu saja mau dilahap para kadal. Karena kejadian belangsung secara tiba-tiba dan sangat cepat, sehingga mereka tidak sempat menghindar.


Dewa Rencong dan Pendekar Zhang Yuan juga berusaha membantu, tetapi senjata yang mereka gunakan untuk membunuh tidak cukup tajam untuk menembus kulit para kadal api sejenis Shurala atau makhluk kegelapan.


Setelah mereka berhasil menyebrang, para kadal itu tidak lagi muncul. Mereka semua telah masuk ke dalam kawah yang panas.


"Sialan, bagaimana mereka bisa hidup dilahar yang panas tak terkira itu?" Geho Sama meruntuk kesal setelah sampai diseberang.


Pandangan Geho Sama masih tertuju pada kawah tempat hidup para Shurala yang barusan menyerang. Begitu juga para pendekar, mereka menatap kejadian barusan dengan tatapan kengerian yang susah untuk diceritakan dengan kata-kata. Tubuh mereka bergetar menyaksikan kejadian yang telah merengut nyawa para pendekar barusan.


Suro paling akhir menyusul karena dia memastikan tidak ada lagi kadal yang muncul dari kawah dan naik ke atas untuk menghabisi mereka.


"Kadal itu mirip seperti yang aku hadapi sewaktu diriku berada di alam kegelapan. Tepatnya saat dirimu sedang memperbaiki segel perlindungan di negeri bawah tanah, Geho Sama.


Waktu itu dirimu tidak menyaksikan kehebatan kadal itu. Kalau kamu melihatnya, tentu kamu bisa mengerti mengapa mereka bisa hidup di tempat sepanas itu!" Suro berbicara ke arah Geho Sama yang masih meruntuk kesal.


Suro menjelaskan mengapa para kadal itu dapat hidup di dalam lahar. Dia menjelaskan dengan menggunakan pengalamannya saat bertarung di negeri bawah tanah.


Pendekar Zhang tertegun mendengar penjelasan suro, "aku tidak mengira ada makhluk yang memiliki kemampuan seperti itu. Tetapi serangan barusan telah menewaskan para pendekar dalam jumlah yang tidak sedikit."


"Beruntunglah, para makhluk itu tidak mengejar kita. Jika tidak, tentu akan lebih banyak korban yang menyusul," Dewa Rencong juga ikut menimpali ucapan Pendekar Zhang Yuan.


Mahadewi tidak mengucapkan sepatah katapun, jantungnya masih berdetak dengan kencang seperti habis berpacu dengan kuda. Keadaannya sama persis seperti para pendekar yang beruntung dapat selamat tidak sampai menjadi santapan para kadal.


"Kalian tidak perlu memikirkan para kadal yang sudah menghilang didalam kawah. Justru kita kali ini harus memasang mata dan telinga untuk menghadapi musuh yang memilki aura sesat di depan. Aku yakin musuh kali ini lebih kuat dari lawan kita sebelumnya." Geho Sama menatap ke arah lorong di depan yang bersiap menyambut kedatangan mereka semua.


"Benar, aura ini terlalu pekat. Bagaimana mungkin ada aura semacam ini, makhluk apa yang tinggal didalamnya?" Dewa Rencong kini dapat merasakan aura sesat seperti yang telah dirasakan Geho Sama.


Bulu kuduk pendekar itu berdiri, karena begitu sesatnya aura yang dirasakannya. Belum berhenti dari ucapan Dewa Rencong, satu bayangan melesat dengan cepat dari lorong yang ada didepan mereka.


"Biarkan aku yang menghadapinya!" Geho Sama melesat mendahului Suro memapak makhluk hitam yang semakin mendekat dengan cepat.


Dentang!


Geho Sama menggunakan tehnik Langkah Maya untuk memapak dan berhasil membuat musuh terkejut. Kapak besar yang mendadak muncul tergengam ditangan Geho Sama dihantamkan dengan sebegitu kuatnya.


Tetapi kapak itu justru seperti menghantam sesuatu yang sangat keras. Sehingga berbunyi cukup kencang. Tetapi sosok yang barusan dihantam merasakan kekuatan yang melambari serangan Geho sama.


Tubuh musuh berhasil dilemparkan Geho Sama kembali ke belakang cukup jauh dan menghantam dinding goa dengan begitu keras.


"Manusia jenis apa sebenarnya mereka itu? Bagaimana mungkin dengan tangan kosong mampu menahan serangan kapakku ini?" Geho Sama menatap tubuh musuhnya yang belum bangun setelah menghantam dinding goa.


Tangannya memeriksa kembali kapak yang digunakan untuk menyerang. Dia meyakini kapak miliknya sangatlah tajam, dia tidak mampu memahami mengapa kulit manusia yang diserang memiliki kekerasan seperti sisik Kirin Neraka.


"Itu adalah manusia yang telah berada dalam kendali kekuasaan benih iblis. Tetapi aku juga tidak memahami, mengapa kulit mereka bisa sebegitu keras." Pendekar Zhang Yuan menjawab ucapan Geho Sama sambil bersiap menghadapi gelombang serangan musuh yang sesungguhnya.


"Sebaiknya kalian semua bersiap menghadapi para manusia yang telah ditelan kesadaran dan tubuhnya dalam kendali benih iblis!" Pendekar Zhang Yuan menatap tajam ke arah pendekar yang ada di belakangnya.


Sriiiing...


Hampir serempak ratusan pedang tercabut dari sarungnya. Suasana berubah menjadi menegangkan.


Bukan hanya Suro yang segera mencabut Pedang kristal Dewa setelah mendengar perkataan Pendekar Zhang Yuan, begitu juga para pendekar lainnya yang ikut bersamanya.


Para manusia yang dikendalikan benih iblis datang menyeruak dari lorong didepan mereka. Mereka datang tidak dengan cara yang biasa.


Dengan kemampuan mereka yang rata-rata telah setara dengan pendekar tingkat langit, maka bukan suatu yang sulit untuk berjalan miring di dinding, merayap seperti cicak dan terbang cepat melesat seperti burung sriti atau walet.


Jumlah musuh yang terus berdatangan itu tidak kurang dari seratus orang dengan kulitnya yang menghitam dan berkilat mirip kulit seekor ular kobra hitam. Kekuatan mereka juga tidak jauh berbeda dengan para pendekar yang sudah ditingkat langit.


Mahadewi merapatkan tubuhnya ke arah Suro yang telah mencabut pedangnya.


"Tenang adinda, aku tidak membiarkan para makhluk itu melukai dirimu," Suro tersenyum manis ke arah dara yang mulai berkeringat dingin.


Agaknya setelah melihat kapak besar milik Geho Sama dapat ditahan hanya dengan menggunakan tangan kosong, Mahadewi segera menyadari, jika jurus pedang miliknya kali ini tidak akan mampu melukai lawannya.


Sebab senjata milik Mahadewi kwalitasnya jauh dibawah kwalitas kapak besar milik Geho Sama.


**


tetua Dewi Anggini wajahnya kira-kira seperti ini.