SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 36 Tujuh Pedang Terbang



Setelah pertarungan antara Rithisak Somnang melawan Basudewa selesai dengan hasil dimenangkan oleh Rithisak, maka pertarungan berikutnya segera dimulai.


"Berikutnya sesi keenam pertarungan tahap seleksi Mahesa melawan Asoka." Terdengar wasit memanggil nama peserta berikutnya.


Mahesa merupakan murid utama dari perguruan cabang yang berada di Blambangan atau sekarang daerah itu lebih dikenal dengan nama Banyuwangi. Perguruan tempat asal Mahesa berada bernama " Perguruan Pedang Suci."


Tehnik Pedang mereka sangat istimewa yaitu saat bertarung mereka dapat mengunakan tujuh bilah pedang sekaligus. Dalam dunia persilatan tehnik pedang mereka dikenal sebagai "Tujuh Pedang Terbang."


Terlihat Mahesa telah memasuki arena pertarungan dengan begitu gagah. Dipunggungnya menggantung sarung pedang yang lain dari biasanya. Sebab sarung pedang itu berbentuk kotak dan lebih tebal.


Perawakan dari Mahesa adalah tegap tinggi. Meskipun dia memiliki sifat yang murah senyum dan sedikit periang.


"Kisanak! Perkenalkan nama saya Mahesa!" Dengan senyumnya yang ramah dia mulai memperkenalkan dirinya kepada lawannya sambil menjura.


“Perkenalkan juga diriku bernama Asoka, kisanak!" Asoka menjawab sambil ikut menjura.


Asoka merupakan murid utama dari Perguruan pusat. Salah satu jenius yang dimiliki Perguruan pusat. Mereka berdua berusia sekitar dua puluhan tahun.


Asoka yang memegang dua bilah pedang ditangannya sedikit kebingungan dengan sikap Mahesa. Lelaki tinggi besar itu masih bersedekap padahal sebentar lagi pertarungan akan dimulai. Jarak mereka hanya terpisah sekitar empat depa


Setelah aba-aba dimulainya pertandingan, maka Asoka segera bergerak menyerang lawannya. Mahesa masih tetap bersedekap dan wajahnya juga masih tersenyum. Asoka merasakan keganjilan dengan sikap lawannya. Tetapi dia cukup waspada dengan rencana yang disembunyikan lawannya.


Dan benar saja seperti yang dikhawatirkan Asoka. Saat jarak mereka tinggal dua setengah depa, dua tangan Mahesa bergerak. Sejalan dengan gerakan tangan Mahesa berturut-turut bilah pedang meluncur keluar dari sarungnya yang berbentuk kotak. Tujuh bilah pedang langsung menyerang Asoka.


Trang..! Trang...! Trang...!


Bilah-bilah pedang yang bergerak menyerang Asoka seakan memiliki pikiran sendiri. Pedang terbang milik Mahesa sebenarnya digerakan melalui benang istimewa yang dapat membuat gerakannya menjadi begitu halus.


"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari"


Segera Asoka mengelar jurus bertahan. Dua bilah pedangnya bergerak melindungi seluruh sisi tubuhnya. Karena saat itu ketujuh bilah pedang lawanya sudah mengurung dirinya.


Walaupun sedikit kewalahan tetapi gerakan Asoka mampu memblokade semua serangan Mahesa. Asoka yang berasal dari Perguruan pusat begitu lihai memainkan dua pedang gandanya. Ketrampilannya begitu terasah berkat bimbingan dan petunjuk tetua pusat.


Sebenarnya kemampuan Asoka dalam ilmu meringankan tubuh cukup baik, sehingga dengan itu berkali-kali dapat meloloskan diri kepungan pedang terbang Mahesa. Walaupun memang semua itu juga didukung ilmu pedangnya yang cukup tinggi.


"Camar menyambar menembus ombak!" Mahesa merubah jutus serangannya.


Seketika itu serangan ketujuh pedang Mahesa menjadi begitu rumit bergerak seperti burung camar. Menyambar-nyambar dari berbagai sisi. Namun Asoka dapat menahan serangan itu dengan jurus pedang ganda miliknya.


Kemampuan pedang Mahesa terlihat begitu mengagumkan. Sorakan penonton begitu riuh melihat pertarungan yang terlihat berat sebelah. Sebab Asoka terlihat terus terdesak dengan jurus tujuh pedang terbang milik Mahesa.


"Mahesa..! Mahesa...! Mahesa...!"


Mereka begitu mengagumi kemampuannya sehingga berteriak-teriak menyebut namanya. Bahkan teriakan yang membahana mengalahkan teriakan murid-murid Perguruan pusat yang sedari awal meneriakan nama Asoka.


Kemampuan pedang terbang Mahesa memang sehebat namanya yang telah tersohor. Apalagi setelah bergabung dengan Dewa Pedang perkembangan jurus mereka bertambah dahsyat.


Sambil menangkis dan menghindar, Asoka sedang berusaha keras mencari cara agar bisa keluar dari formasi serangan Mahesa. Serangan yang begitu bertubi-tubi seakan tidak membiarkan dirinya bernafas. Membuat peluh keringat mengucur begitu deras membasahi pakaiannya.


"Sialan! Sialan! Serangan ini begitu deras tanpa jeda!"


Asoka merundukkan tubuhnya menghindari satu pedang yang berputar menyerang ke arah lehernya. Tubuhnya dilemparkan kekiri dan berjungkir balik diudara ke arah samping.


Dia kemudian membuat gerakan tendangan memutar beberapa kali. Tendangan yang begitu cepat dan tepat mengenai tengah-tengah bilah pedang yang meluncur ke arahnya. Tendangan berikutnya juga mampu menghalau satu pedang lainnya yang mengejarnya.


Kemudian dia bersalto kedepan beberapa kali. Sambil menepis serangan pedang dengan kedua pedang di tangannya. Satu hentakan keras dan begitu cepat telah berhasil melontarkan tubuhnya mendekati Mahesa.


Satu tusukannya yang mengarah keleher membuat Mahesa terperanjat. Tinggal satu ruas jari lagi ujung pedang Asoka menembus lehernya. Segera dia surut tiga langkah. Seluruh pedangnya segera dia tarik menghajar Asoka dari arah belakangnya.


Asoka tak membiarkan buruannya kabur. Secepatnya dia mengejar dengan cepat membabat dan menusuk ke arah Mahesa. Sebuah tendangannya berhasil mendarat di dagu Mahesa. Setelah berhasil menendang tubuhnya bersalto membalik wajahnya ke belakang. Setelah bersalto dalam posisi diudara, tubuhnya berputar secara horisontal. Gerakan pedangnya ikut berputar seakan pusaran menghadang tujuh bilah pedang yang menyasar ke arahnya.


Tendangan Asoka yang begitu keras tak mampu dia hindari membuatnya terjengkang kebelakang. Mahesa terlalu sibuk menghindari sabetan dan tusukan pedang yang terus menyasar ke arah organ vitalnya sehingga perhatiannya teralihkan.


Tendangan Asoka yang mengenai dagu Mahesa telah mengakibatkan kepalanya sedikit pening. Akibat dari hal itu juga telah membuat tujuh bilah pedang terlepas dari kendalinya.


Sehingga ketujuh bilah pedangnya dapat ditangkis dengan mudah oleh Asoka. Tebasan Asoka yang begitu kuat membuat tujuh bilah pedang itu terlempar lumayan jauh.


Asoka kemudian kembali mengejar lawannya. Mahesa yang tidak memegang satupun bilah pedangnya, terpaksa terus menghindar.


Dalam satu kesempatan saat dia terus menghindar, akhirnya satu bilah pedang yang berada tidak jauh darinya dapat dia kendalikan kembali. Segera bilah pedang itu digunakan untuk menyerang Asoka.


Mendapat serangan lawan dari arah yang tidak disangka membuatnya terpaksa menghindar dengan cepat. Kemudian dia bergerak mundur menghindari serangan susulan yang mungkin saja datang.


Setelah mundur Asoka tidak segera meneruskan serangan. Dia mencoba mengatur nafasnya yang telah memburu. Satu senyuman tersungging dibibir Asoka setelah berhasil mematahkan ketujuh bilah pedang lawannya.


"Majulah kisanak!"


Suara Asoka yang menatap Mahesa yang justru menunggu kedatangannya.


"Hahahaha...! Sepertinya nafasmu belum sepenuhnya pulih kisanak?" Satu bilah pedang yang sebelumnya menyerang Asoka kini telah tergenggam ditangan Mahesa.


Melihat enam pedangnya terlempar jauh bukan membuatnya cemas justru kembali bibirnya tersenyum lebar. Darah sempat menetes dari pinggir bibirnya. Akibat begitu keras kaki Asoka menghantaman dagunya.


"Hahahaha....! Nafasku tidak perlu menunggu pulih untuk menghancurkan formasi pedang terbangmu kisanak!"


Asoka hanya bisa tersenyum kecut melihat wajah Mahesa yang tidak terlihat kelelahan seperti dirinya. Kemampuan pedang terbang memang tidak bisa diremehkan. Dia yang mengalami sendiri bagaimana susahnya keluar dari kepungan pedang membuatnya seolah-olah sedang berhadapan dengan tujuh orang sekaligus.


Tanpa diketahui Asoka sebenarnya Mahesa sedang mencoba terhubung kembali dengan keenam pedang yang terlepas dari kendalinya.


Para penonton bersorak sorai melihat kemampuan Asoka yang begitu hebat mampu menundukan tujuh bilah pedang terbang Mahesa.


**


Suro yang melihat jurus Mahesa membuat dia begitu terkesan.


"Luar biasa tehnik yang mengagumkan."


Dia cukup tertarik dengan tehnik pedang milik Mahesa yang begitu unik. Dia mencoba mempelajari tehnik pedang tersebut dengan melihat gerakan yang diperlihatkan Mahesa.


"Tehnik tujuh pedang terbang ini aku kira sejak awal berasal dari tingkat pemahaman pedang yang telah mencapai jiwa pedang. Sehingga dengan pemahaman itu dia dapat memerintahakan pedang bergerak lewat pikirannya."


"Ternyata sesuatu yang sangat berbeda. Aku sebut ini sebagai sebuah tehnik khusus yang mampu memanipulasi gerakan pedang. Tetapi Tehnik ini tetap luar biasa. Membuat pergerakannya begitu lincah dan halus seolah pedang-pedang itu memiliki pikirannya sendiri. Sungguh sebuah tehnik yang mengagumkan."


Dalam tingkatan ilmu pedang, setelah mencapai tingkatan tertentu seseorang dapat mengerakkan bilah pedangnya tanpa menyentuhnya. Tingkat pemahaman pedang itu masuk dalam tahap jiwa pedang.


Pendiri dari Perguruan Pedang Suci menciptakan tehnik khusus yang membuat pengunanya seolah-olah telah mencapai tingkat jiwa pedang. Mereka dapat mengendalikan bilah pedangnya tanpa menyentuhnya.


"Aku kira hanya Dewa Pedang yang sudah melewati tahap tingkatan jiwa pedang. Tetapi entah kenapa selama beraksi dengannya aku tak melihat dia mempergunakan kemampuan itu."


"Tetapi dengan melihat tehnik ini telah memberikan sebuah inspirasi bagiku untuk meniru jurus ini."


"Dengan kemampuanku sekarang aku rasa mampu mengendalikan seratus buah bilah pedang sekaligus!" Suro terus berbicara sendiri tanpa menyadari seseorang didekatnya juga mendengarnya.


"Apa seratus bilah pedang?"


Seorang murid utama yang duduk disebelah terkejut dengan rencananya mencoba menjiplak tehnik tujuh pedang terbang. Kemudian dia ubah kembali, sehingga tercipta jurus baru yang mampu mengerakan seratus bilah pedang sekaligus.


"Jangan bermimpi bocah! Kamu kira otakmu sepintar apa? Mahesa yang terkenal jenius di Perguruan Pedang Suci perlu belasan tahun. sampai sekarang pun dia masih kerepotan mengendalikan tujuh bilah pedangnya!" Rithisak langsung melotot ke arah Suro begitu mendengar rencananya.


"Ups!"


Suro menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Dia baru menyadari setiap orang yang berada didekatnya telah mendengar ucapannya barusan. Mereka menatap ke arahnya seakan mencoba meyelidiki kebenaran ucapannya yang barusan didengar.


Kemampuan Suro yang telah menelanjangi tehnik pedang lentur Made Pasek telah menjadi pergunjingan diantara para peserta lain. Apalagi perkataanya yang entah sok pintar atau memang benar-benar pintar.


Bahkan dengan sesumbar akan memberikan jurus pedang lentur yang lebih hebat dan lebih sempurna dari yang dimiliki Made. Tentu perkataan Suro bagi mereka hanya sebuah lelucon. Banyak dari mereka mulai mencemooh bocah yang terlihat begitu muda dibandingkan dengan yang lainnya.


Walaupun rasa penasaran masih mengeluti pikiran sebagian mereka. Apalagi mendengar pengakuan Made saat berhadapan dengannya. Ditambah kejadian yang dilakukan Suro yang dengan mudahnya membanting Rithisak somnang, membuat mereka menjadi kasak-kusuk antara percaya dan tidak.


Mereka sedang menerka bocah ini memang begitu kuat dan jenius atau sedang beruntung. Untuk sementara mereka belum mampu mengambil kesimpulan kebenaran perkataan Suro. Sebab bagi mereka sangat susah mempercayai ucapan Suro yang tidak begitu meyakinkan.


Made pasek yang ikut mendengar perkataan Suro ikut melotot terkagum-kagum. Dia masih penasaran dengan janji Suro yang akan memberikan jurus yang lebih sempurna daripada yang telah dia pelajari bertahun-tahun.


"Maaf senior! Sepertinya benar, saya sedang bermimpi! Heheheh..!"


"Tutup mulutmu bocah! Tidak usah mengoceh! Ocehanmu mengganggu konsentrasiku melihat pertarungan mereka! Dan ingat! Urusan kita belum selesai! Akan aku pastikan seluruh pakaianmu yang menempel dibadanmu terbakar! Nanti jika kita bertemu di arena! Dan jika tidak bertemu di arena maka diluar arena aku pasti akan menghabisimu!"


Rithisak somnang ikut mengoceh sepertinya kemarahannya belum terlampiaskan.