SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 76 PENGAKUAN MENGEJUTKAN



"Keputusanku sebagai Ketua pusat Perguruan Pedang Surga, akan melakukan misi penyelamatan Eyang Sindurogo setelah nakmas Suro menyelesaikan tehnik Sembilan Putaran Langit. Apakah ada tetua yang merasa keberatan dengan keputusan saya kali ini?"


Dewa Pedang menatap keseluruh sisi ruangan dimana para tetua sedang duduk menghadap ke arahnya.


"Saya tidak keberatan mengenai misi penyelamatan yang Ketua pusat akan lakukan, hanya saja seperti yang kakang Udan Asrep katakan, sebaiknya sebelum melakukan misi itu kita sudah memiliki solusi terlebih dahulu untuk mengatasi kekuatan yang mampu menghisap tenaga dalam kita di alam, dimana Eyang Sindurogo terperangkap." Eyang Tunggak Semi angkat bicara setelah tidak ada tetua lain yang berbicara.


"Mengenai hal itu semoga nakmas mampu menemukan solusinya, karena dia juga memiliki tehnik tersebut. Jika dia belum menemukan solusi akan kita pikirkan bersama sambil menunggu nakmas Suro menyelesaikan latihannya. Selain itu selama waktu itu kalian semua akan aku latih tehnik tebasan sejuta pedang. Agar kekuatan serangan kalian meningkat drastis."


"Mengingat lawan yang akan kita hadapi kemungkinan bukanlah layaknya manusia biasa. Kemungkinan sebentuk makhluk dari jaman kuno yang kekuatanya pasti sudah sangat tinggi, minimal sudah di tahap langit. Semoga jagat Dewa Batara berpihak kepada kita. Karena sejatinya aku sendiri belum memahami kekuatan mereka sebesar apa. Tetapi dari pengalaman saat aku masuk ke alam itu, kekuatan penghisapnya begitu kuat."


"Selain itu sebentuk aura kekuatan atau entah apa? Mampu menjelma menjadi tangan-tangan raksasa yang sebesar gajah, bukan sesuatu yang mudah dihadapi. Menurut perkiraanku itu adalah bentuk formasi sihir pertahanan. Karena saat aku mencoba memotong-motongnya dengan dilambari energi pedang milikku justru seperti menebas udara saja, sama sekali tidak mengenai atau melukainya"


Pertemuan itu akhirnya berakhir dengan keputusan hampir seluruh tetua akan ikut dalam misi untuk menyelamatkan Eyang Sindurogo. Tidak ada satu pun tetua yang membantah. Apalagi Dewa Pedang akan menjanjikan kepada mereka semua sebelum berangkat menjalankan misi itu, mereka semua akan diajarkan tehnik Tebasan sejuta pedang.


***


Setelah pertemuan itu Suro memulai berlatih tehnik sembilan putaran langit di sebuah bangunan rumah yang berbentuk joglo. Tetapi agaknya memang bangunan itu memang dikhusukan untuk latihan saja karena tempatnya berada agak jauh dibelakang rumah Dewa Pedang.


"Apakah kali ini kita bisa membebaskan Eyang Guru paman?"


Dewa pedang menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Suro.


"Jika kenyataan yang kita hadapi nanti adalah lawan yang berupa makhluk-makhluk kuno seperti yang diceritakan Dewi Anggini, aku rasa tidak akan mudah menghadapi mereka. Tetapi selama masih ada harapan, akan kita hadapi meskipun begitu berat."


"Karena itu jangan sia-sia kan kepercayaan Guru nakmas yang menaruh harapan besar. Segera selesaikan latihan tahap ke sembilan dalam tehnik sembilan putaran langit. Aku kira setelah nakmas mampu melewati tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit, kekuatan nakmas Suro setara dengan pendekar tingkat tinggi."


"Tetapi tenaga dalam dalam tehnik ini memiliki keistimewaan tersendiri. Hal ini dikarenakan kondisi kanda disetiap individu yang melakukan tehnik ini memiliki sembilan anasir alam. Sehingga kekuatan yang dihasilkan dengan tehnik tenaga dalam ini, setiap tingkatnya setara dengan sembilan kali lebih kuat dari tingkatan tenaga dalam orang pada umumnya."


"Hanya saja kondisi nakmas sangat berbeda dari orang lainnya. Entah seberapa besar sebenarnya kekuatan yang nakmas miliki setelah tehnik ini sudah diselesaikan oleh nakmas."


"Sebuah kekuatan yang sangat tidak masuk di akal jika melihat tingkatan tenaga dalam yang nakmas miliki dan melihat pengerahan kekuatan yang nakmas tunjukan, sangat berbeda jauh. Mungkinkah tehnik yang nakmas sebut dengan nama tehnik empat sage itu yang menyebabkan pengerahan kekuatan nakmas begitu mengagumkan?"


Suro tidak segera menjawab pertanyaan Dewa Pedang justru seperti ragu-ragu untuk menjawabnya.


"Mengenai kekuatan yang Suro kerahkan mampu begitu besar, sebenarnya ada berbagai tehnik yang Suro lakukan secara bersamaan saat menghimpun tenaga dalam paman. Bukan hanya bersumber dari tehnik empat sage yang memasok tenaga tambahan dalam tubuhku. Ini aku katakan kepada paman saja karena Eyang Guru tidak mengijinkanku mengatakan kepada siapapun, tetapi bagiku paman guru sekarang secara tidak langsung adalah guruku juga, maka aku akan mengatakannya. Rahasia ini sebelumnya hanya diketahui oleh Eyang guru dan diriku saja. Karena itu, Suro memohon paman guru untuk tidak mengatakan apa yang akan aku katakan ini."


Dewa Pedang terkejut mendengar penuturan Suro, bahwa dia mampu menghimpun tenaga dalam melalui berbagai tehnik secara bersamaan. Selain itu dia juga bertambah terkejut setelah mengetahui bukan hanya tehnik empat sage yang begitu menakutkan yang dimiliki Suro, ternyata ada tehnik lain yang membuat pengerahan tenaga dalamnya bisa membuatnya menjadi begitu kuat. Dewa Pedang mulai mengaruk-garuk kepalanya sebelum menjawab permintaan Suro.


Dia tidak habis pikir bagaimana mungkin Suro yang masih begitu muda bisa menguasai tehnik tenaga dalam sebegitu banyaknya. Apalagi cara pengerahan tenaga dalam yang dilakukan Suro begitu luar biasa. Sebab dia mengumpulkan chakra dengan berbagai macam tehnik sekaligus. Entah bagaimana dia bisa melakukan itu.


"Tentu saja nakmas aku pasti tidak akan mengatakan apapun kepada orang lain mengenai tehnik tambahan yang akan nakmas katakan."


'Agaknya tehnik ini sebegitu pentingnya sehingga nakmas mewanti-wanti untuk tidak mengatakan kepada orang lain? Apakah ini tehnik Dewa yang seorang pun boleh mengetahuinya?' Dewa Pedang membatin sambil mengusap-usap jengotnya.


"Sebenarnya selain Tehnik Empat Sage yang mampu menyerap energi alam, Suro juga mengunakan kemampuan khusus yang mungkin hanya Suro sendiri yang memilikinya. Sebab dengan kemampuan khusus ini, Suro mampu menghimpun kekuatan tenaga dalam dengan cara menyerap kekuatan matahari menjadi energi chakra melalui tehnik tenaga dalam tapak Dewa Matahari."


"Luar biasa! Aku tak pernah mendengar seseorang yang memiliki kekuatan seperti nakmas. Bahkan aku tidak menyangka ada kekuatan seperti itu. Aku mengira nakmas ingin mengatakan tehnik yang berasal dari Sang Hyang Nagasesa. Ternyata sesuatu yang baru, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku dengar ada orang yang memiliki kemampuan seperti milik nakmas."


"Apakah kemampuan ini ada sangkut pautnya dengan asal-usul dari mana nakmas berasal?" Setelah mendengar kemampuan unik Suro Dewa Pedang mencoba menyelidiki asal-usul Suro yang bagi dia terasa misterius. Semakin banyak mengenali Suro, semakin dirinya menemukan banyak keunikan yang tidak dimiliki seorangpun. Bahkan sejak awal dia mengenal kemampuan Suro bukanlah kemampuan yang bisa dimiliki oleh seorangpun yang pernah dia temui. Mengingat tehnik bumi yang diperlihatkan dalam pertempuran melawan Naga raksasa adalah kemampuan yang begitu mengerikan. Tetapi setelah mengetahui ilmu itu berasal dari Sang Hyang Anantaboga, maka dia bisa memaklumi karena dia adalah Dewa yang menguasai tujuh lapis bhumi. Konon katanya istananya berada dikedalaman bumi, hanya saja dia mendengar cerita itu berasal dari dongeng saat dia masih kecil.


"Mengenai hal itu Suro kurang memahami paman guru. Karena Suro juga tidak mengetahui darimana saya berasal. Sejak kecil saat Suro bisa mengingat hanya tangan Eyang guru yang membesarkan diriku sampai sebesar ini. Tetapi mengenai kemampuan yang Suro katakan barusan sudah aku sadari sejak sedari kecil. Setiap aku berjemur dibawah terik matahari, sebuah bentuk kekuatan seakan berebutan ingin memasuki ke dalam tubuhku. Membuat tubuhku penuh dengan tenaga."


Dewa Pedang dalam beberapa saat dia terdiam, tidak mampu mengucapkan kata-kata mendengar perkataan Suro. Dia begitu terkejut dengan kemampun yang sebelumnya tidak pernah dia dengar itu.


Suro hanya menyengir kuda saat tau bahwa pencapaiannya jauh melampau Dewa Pedang saat pertama kali melatih tehnik ini.


"Mungkin saja paman, karena pelatihan tenaga dalam sembilan putaran langit melalui meditasi membuat penyerapan chakra yang terhimpun dari kekuatan matahari ikut membantu menjebol Granthi atau simpul energi pada setiap tahapnya."


"Pantas saja, pantas saja kemampuan nakmas bahkan melewati penemu tehnik ini. Beliau Mahaguru memerlukan waktu sembilan purnama untuk melewati keselurahan tahap."


"Baiklah kalau begitu, sekarang nakmas akan memulai latihan. Sebelum memulai latihan ini akan paman jelaskan kembali untuk mengingatkan nakmas pada tahap kesembilan ini yang dulu sudah paman jelaskan. Pada tahap sebelumnya nakmas telah membuka granthi atau simpul kekuatan yang berada di chakra muladhara dan chakra anahata. Maka pada tahap kesembilan ini ada satu granthi lagi yang akan terbuka, yaitu berada di chakra ajna."


"Biasanya akan terjadi ledakan energi begitu simpul itu terbuka. Besarnya ledakan energi yang tercipta tergantung seberapa besar energi murni yang nakmas mampu himpun."


"Dengan terbukanya tiga granthi ini akan paman pastikan kekuatan tenaga dalam nakmas akan meningkat pesat."


"Pada meditasi tahap kesembilan nakmas menggunakan mudra(isyarat tangan) seribu kelopak mahkota.


Suro yang mendengar perkataan Dewa Pedang mengangguk-anguk mencoba memahami apa yang dikatakannya itu.


"Chakra ajna bukankah itu yang paman guru sebut sebagai chakra mata ketiga yang mampu meningkatkan kekuatan spiritual?"


"Benar sekali nakmas. Ternyata nakmas masih mengingat apa yang paman katakan. Salah satu sebab paman memiliki kemampuan ilmu pedang yang begitu kuat, karena tehnik tenaga dalam yang paman gunakan sejak awal telah mampu membuka mata ketigaku. Sehingga dari awal paman telah mampu membangkitkan kekuatan spiritualku. Dengan bangkitnya kekuatan spiritualku energi pedang dan hawa pedang meningkat drastis, berikut tehnik pedang yang paman kuasai ikut meningkat. Dengan semakin kuatnya kekuatan spiritualku juga menggugah tahap pedang. Sehingga paman mampu melewati setiap tahapnya dengan lebih mudah."


"Wow luar biasa paman, aku tidak menyangka tehnik sembilan putaran langit ini begitu istimewa. O, iya paman, kenapa paman tidak membiarkanku melewati tahap sembilan sebelum aku ikut pemilihan tetua muda kemarin lusa? Bukankah dengan kemampuan itu aku bisa memperlihatkan tehnik pedangku menjadi lebih baik?"


"Tehnik pedang nakmas sudah sangat baik dibandingkan seluruh peserta lain."


"Benar paman, tetapi apa paman guru tidak menyaksikan saat aku melawan tetua Tunggak Semi, bahkan dengan menggunakan lima puluh bilah pedang sekaligus. Suro masih tidak sanggup menembus pertahannnya. Bagaimana Suro bisa menolong Eyang Guru jika hanya menembus pertahanan tetua saja tidak sanggup? Heeeemmmm!" Suro menatap Dewa Pedang sambil mengusap-usap wajahnya.


Diwajah Suro terlihat beban yang begitu berat mencoba dia angkat. Karena setiap saat dia berusaha menjadi lebih kuat lagi agar mampu menolong Eyang Sindurogo, tetapi setelah melihat hasil pertarungannya melawan tetua Tunggak Semi, membuat dia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.


Sebab selama ini pikirannya selalu digelanyuti perasaan bersalah karena tidak mampu menolong Eyang Sindurogo keluar dari alam lain. Beban itu terlalu berat untuk bocah yang masih seumuran dia, meskipun tubuhnya sudah seperti anak yang berumur tujuh belasan tahun.


Dewa Pedang tidak langsung menjawab dia memandangi wajah Suro yang terlihat lesu setelah mengatakan keluh kesahnya mengenai pertarungannya terakhirnya.


"Mengenai hal itu nakmas tidak perlu kecewa. Mungkin bagi nakmas itu suatu hasil yang mengecewakan, tetapi yakinlah bahwa itu sesuatu hal yang sangat luar biasa. Bahkan aku sendiri tidak bisa melakukan seperti nakmas lakukan. Menyerang dengan menggunakan seratus bilah pedang sekaligus, aku pikir bahkan Eyang Sindurogo sendiri pun tidak akan sampai berpikiran sejauh itu! Apakah nakmas tidak melihat kakang Tunggak Semi sampai harus menggunakan kemampuan ditahap bersatu dengan pedang? Sudah jangan dipikirkan mengenai pertarungan sebelumnya."


"Mengenai mengapa paman tidak membiarkan nakmas menyelesaikan tahap kesembilan terlebih dahulu, alasannya adalah karena ledakan energi yang akan terjadi pada tahap terakhir. Sesaat setelah nakmas nanti membuka granthi di chakra ajna. Jika tubuh nakmas belum siap, maka ledakan itu akan mengakibatkan suatu resiko yang sangat fatal. Oleh karena itu paman menunggu kesiapan dari tubuh nakmas terlebih dahulu. Akan tetapi setelah melihat hal yang nakmas lakukan dalam pertarungan terakhir, paman rasa tubuh nakmas sudah kuat menerima efek ledakan energi."


"Sekarang silahkan nakmas memulai latihan! Aku rasa rumah ini kuat menahan ledakan energi yang nanti terjadi!" Dewa Pedang menatap ke atap bangunan yang terlihat begitu kokoh. Karena keseluruhan bangunan yang berbentuk joglo itu terbuat dari kayu jati yang berbentuk balok-balok besar. Tiangnya dari kayu yang besarnya hampir secakupan tangan orang dewasa.


"Ingat pada meditasi tahap ini mengunakan mudra(isyarat tangan) yang sudah aku berikan contoh tadi."


"Nuwun inggih paman guru."


"Mungkin sampai satu purnama kedepan, nakmas akan terus berlatih sampai menembus tahap kesembilan."


Suro mengangguk pelan.


"Nuwun inggih(Baik) paman guru Suro akan secepatnya menyelesaikan latihan ini."


'Tunggu Eyang Guru satu purnama kedepan.'


Suro mengumam pelan sambil mengepalkan ke dua tangannya.