SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 91 MENUJU KADEMANGAN KALINYAMAT



Melihat Dewa Rencong mengejar siluman ke arah utara, segera Suro ikut melesat ke arah barat. Dia ikut mengejar siluman yang terpental jauh setelah terkena imbas energi tebasan angin milik Dewa Rencong.


Begitu kuatnya terjangan energi tebasan angin milik Dewa Rencong membuat Siluman Banaspati terpental sampai sejauh dua belas tombak.


Sampai ditempat yang dituju Suro tidak menemukan apapun. Tetapi jelas saat dia mengejar arah jatuhnya siluman itu persis tepat dihadapannya.


'Kemana siluman tadi? Perasaan tadi aku melihatnya jatuh disekitar sini." Beberapa kali Suro menengok kekanan-kekiri mencari makhluk api yang barusan terlempar, tetapi ternyata memang tidak ada makhluk yang dia cari disekitar situ.


Belum selesai dia dengan kebingungannya, mendadak serbuan panah menerjang dengan cepat dari arah sebelah kiri. Dia begitu kaget dengan serangan mendadak itu, sebab sebelumnya Suro sudah sangat yakin bahwa tidak ada makhluk apapun. Hal itu dikarenakan Suro tidak merasakan pergerakan apapun melalui getaran tanah yang dia tangkap.


"Tujuh Gerbang Neraka!"


Seluruh anak panah yang menerjang itu langsung dihentikan oleh Suro, melalui dinding tanah yang dia kerahkan. Sambil berlindung dari balik dinding tanah yang dia ciptakan Suro mencoba mendeteksi keberadaan lawannya. Dari jarak hampir sepuluh tombak disebelah kiri sekumpulan pasukan berada diatas pohon terus menghujaninya dengan anak panah.


'Pantas saja mereka tidak mampu aku rasakan keberadaannya ternyata diatas pohon.'


Kini dia paham mengapa dia tidak mampu mendeteksi keberadaan mereka sebelumnya. Dari jarak jauh segera dia mengerahkan jurus dari kitab bumi miliknya untuk menyingkirkan para musuh yang sedang bersembunyi dibalik pepohonan. Tidak terlihatnya mereka karena memang didukung kondisi malam yang sudah mulai datang dan matahari sudah hilang tenggelam diufuk barat.


"Jurus Naga Bumi!"


Braaak!


Lawan yang menyerang Suro tidak menyangka dengan serangan balik yang dilakukan Suro. Sebab setelah dia mengerahkan jurus Naga Bumi maka tanah dan pohon-pohon tempat mereka bersembunyi bergetar hebat.


Duuum! Duuum!


Mereka belum menyadari apa yang terjadi sebab hanya dalam waktu satu seruputan teh, naga raksasa yang dibentuk dari tanah menerjang dengan cepat menghancurkan pepohonan tempat dimana mereka bersembunyi.


Lebih dari seratus orang mampu dia lumpuhkan semua hanya dalam sekali libas. Musuhnya langsung berjatuhan dari atas pohon. Mereka belum menyadari apa yang telah terjadi dengan serangan balik yang telah mengenai mereka. Sebab setelah tubuh mereka berjatuhan ketanah, karena terhantam naga bumi kebanyakan langsung pingsan. Dan setelah itu tubuhnya dibenamkan oleh Suro sampai sebatas perut atau lebih.


Setelah semua dapat dia lumpuhkan segera dia kembali ke arah Mahadewi dan Made Pasek. Dia segera berbalik karena dua puluh tombak dari arah selatan, orang -orang yang entah dari mana datangnya sedang bergerak secara diam-diam menuju tempat dimana Mahadewi dan Made Pasek berada.


Dengan langkah kilatnya di meluncur cepat mencoba menyelamatkan teman-temannya itu.


"Hati-hati adinda Mahadewi disebelah selatan ada pasukan panah!"


Teriakan Suro terdengar keras mengagetkan pasukan yang sedang bergerak diam-diam itu. Mengetahui keberadaan mereka telah diketahui, segera anak-anak panah yang sudah siap itu langsung menghujani Mahadewi dan Made Pasek.


Beruntung dengan peringatan Suro, mereka berdua telah bersiap akan datangnya serangan.


Trang! Trang! Trang!


Tarian pedang Mahadewi dengan jurus Dewi Tangan Seribu miliknya mampu menangkis ratusan anak panah yang menghujani mereka. Begitu juga yang dilakukan Made Pasek jurus pedang lenturnya tidak mau kalah, apalagi setelah disempurnakan oleh Suro membuat gerakannya semakin dahsyat. Tidak ada satupun serangan anak panah yang mampu menembus pertahanan mereka yang rapat.


Blaar!


Dari arah utara dibelakang Mahadewi sebuah sosok melompat tinggi diatas mereka berdua. Kemudian dia melancarkan sebuah serangan yang mampu meratakan seluruh daratan dimana para pasukan pemanah sedang menyerang Mahadewi dan Made Pasek.


Serangan dahsyat itu ternyata berasal dari Dewa Rencong. Sebelumnya dia sedang mengejar para siluman yang terkena energi tebasan angin miliknya. Setelah sampai ditempat dimana kira-kira para siluman itu tergeletak, sama seperti Suro dia juga tidak menemukan apapun disana. Begitu mendengar teriakan Suro yang memberi peringatan ke arah Mahadewi, dia segera berbalik. Jurus tebasan angin miliknya segera menghajar musuh yang masih menyerbu dengan ratusan anak panahnya.


Kali ini sabetan yang dia lakukan bukan dengan gerakan vertikal dari atas ke bawah. Tetapi dia menebaskan bilah rencongnya dari kanan ke kiri seperti menyapu sampah. Terjangan kekuatan yang begitu dahsyat langsung menerbangkan dan menghancurkan pepohonan yang terkena hempasan energi itu.


Lawannya tidak mengira musuh yang dia hadapi memiliki tenaga seperti monster. Mereka hanya mendapatkan perintah untuk menghabisi empat pendekar yang akan melewati hutan itu.


Mereka sebenarnya telah bersembunyi sebelum kedatangan Dewo Rencong bersama Mahadewi dan Made Pasek. Sesuai dengan perintah dari pimpinan pasukan, mereka di tugaskan untuk menghabisi empat pendekar yang sedang dalam perjalanan menuju ke Kademangan Kalinyamat.


Saat mereka melihat yang datang hanya tiga orang mereka mendiamkan saja. Karena perintahnya jelas bahwa yang harus mereka habisi adalah kelompok pendekar yang terdiri dari empat orang. Tetapi begitu Suro datang mereka kini yakin bahwa kelompok pendekar inilah yang diperintahkan untuk dihabisi. Keyakinan mereka bertambah dengan serangan siluman yang mendadak datang dan langsung memulai serangan. Tetapi mereka merasa kecewa ternyata siluman itu segera kabur setelah mengetahui musuh yang dihadapi bukan manusia sembarangan.


"Bagaimana apa kalian baik-baik saja?"


"Terima kasih tetua Suro sudah memberi peringatan kepada kami!" Made Pasek menganggukan kepalanya ke arah Suro sebagai bentuk rasa terima kasih.


"Terima kasih kakang sudah memperingatkan kami." Mahadewi juga ikut mengucapkan terima kasih. Pedang yang dia cabut masih dia pegang dengan erat.


Suro hanya menganguk kecil sambil memandang hasil tebasan Dewa Rencong yang membuat hutan itu rata tak meninggalkan bekas apapun, bahkan tunggak pohon bersama akarnya ikut tercabut, seperti dibabat habis.


'Sangat mengerikan kekuatan seseorang yang berjuluk Dewa Rencong ini.' Dia hanya bisa menatap semua itu dengan decak kagum.


"Siapa mereka sebenarnya paman kenapa tiba-tiba menyerang kita?"


"Kurang tau juga nakmas! Paman tentu akan kesulitan jika harus menanyakan hal itu kepada mereka, tentang asal-usul dan tujuan mereka menyerang kita. Sebab mereka semua sudah menghadap Sang Hyang Yamadipati"


Suro tertawa mendengar jawaban Dewa Rencong yang bernada ketus itu. Agaknya dia masih kesal gara-gara Suro, membuat mereka akhirnya malah menjadi sasaran serangan musuh yang datang tiba-tiba.


Dewa Rencong sebenarnya agak terkejut dengan kedatangan musuh yang datang secara tiba-tiba seperti sudah direncanakan.


"Tenang paman disebelah barat masih ada orang-orang yang paman bisa bertanya langsung kepada mereka semua tanpa harus berurusan dengan Sang Hyang Yamadipati. Aku sudah menengelamkan mereka ke dalam tanah sebagian tubuhnya."


"Bagus kalau begitu, kita bisa tau alasan apa yang membuat mereka menyerang kita? Tetapi sepertinya kita akan kesulitan meneruskan perjalanan. Lihatlah! Kuda-kuda kita telah mati terkena hujan anak panah barusan."


"Ini kesalahan nakmas Suro karena tidak melindungi para kuda ini dengan benar."


'Orang tua gila kenapa aku lagi yang disalahkan!' Suro langsung merutuk dengan keras begitu mendengar Dewa Rencong menimpakan kesalahan matinya para kuda kepada dirinya. Tentu saja dia meruntuk itu hanya dalam hati. Karena setelah kesalahan ditimpakan kepadanya, Suro justru memasang wajah tak bersalahnya dengan menunjukan seluruh gigi-gigi depannya kepada Dewa Rencong, membentuk ekspresi menyengir.


Mereka segera menuju ke tempat dimana Suro telah mengubur setengah badan semua musuh-musuh yang menyerangnya barusan.


Setelah mendengar penuturan dari orang-orang yang telah ditenggelamkam Suro, diketahui bahwa mereka adalah prajurit Gelang-gelang yang mendapat perintah dari Senopati mereka, yaitu adipati Mahesa Jenar.


Siluman yang menyerang Suro barusan menurut mereka adalah atas perintah Medusa Hitam. Mereka sebelumnya sedang berada diposisi paling dekat dengan Kademangan Kalinyamat. Sehingga mereka yang mendapat tugas itu.


Setelah mendapatkan perintah itu mereka segera membuat rencana untuk menghabisi target yang sudah dititahkan kepada mereka. Mereka bergerak menuju lokasi dimana kemungkinan rombongan empat pendekar yang telah membunuh para siluman ular lewat. Dari kabar yang diterima bahwa target sedang menuju Kademangan Kalinyamat. Jalan satu-satunya menuju kademangan itu adalah melalui hutan dimana sekarang mereka berada.


"Tolong ampuni kami pendekar, kami hanya prajurit yang mendapatkan titah dari senopati kami!"


"Tolong ampuni! Kami memiliki keluarga, anak anak kami masih kecil! Ampuni kami!


Semua merengek-rengek meminta ampun. Semua prajurit Gelang-gelang yang masih hidup itu lebih dari seratus prajurit.


"Kalau kalian aku ampuni lalu apa yang akan kalian berikan kepadaku?" Suro bertanya kepada mereka dengan bersedekap tanpa menunjukan sikap jemawa.


Mereka sebelumnya tidak menyangka anak muda yang masih belia seperti dirinya memiliki kekuatan yang melebihi monster.


"Ampuni kami tuan pendekar kami tidak memiliki apapun kecuali apa yang ada di badan kami!"


"Bagaimana paman apa yang akan kita lakukan pada mereka?" Suro ragu untuk mengambil keputusan. Dia dari awal memang tidak tega jika harus membunuh mereka semua, karena itulah dia hanya melumpuhkan saja.


"Itu bukan urusan saya nakmas. Kalau nakmas ingin melanjutkan memasukan mereka ke dalam dasar bumi silahkan saja!"


"Ampuuuuun tuan pendekar! Ampuuuuuun...jangan pendekar, tolong jangan kubur kami hidup-hidup!"


"Jika kalian tidak mampu memberikan kepadaku apapun, untuk apa aku harus membiarkan kalian semua tetap hidup!" Suro kembali mengertak mereka semua yang memang sudah ketakutan karena tubuh mereka tinggal sedikit lagi bakal terkubur hidup-hidup.


"Ampun tuan pendekar kami hanya prajurit yang hanya ingin mencari sesuap nasi untuk makan anak istri kami."


Suro menghela nafas panjang kemudian dengan satu gerakan telapak tangannya ke atas, semua prajurit yang terpendam terangkat ke atas.


Mereka segera bersujud kepada Suro setelah selamat dari kemungkinan akan dikubur hidup-hidup.


"Kalian aku beri satu kesempatan untuk tetap hidup dengan syarat kalian sebutkan semua rencana yang telah dibuat Medusa Hitam. Dan aku juga ingin tau mengapa Kadipaten Gelang-Gelang bisa berpihak kepada Medusa Hitam apa yang melatar belakangi keputusan itu? Setelah itu kalian jangan pernah kembali. Pulang kalian semua ke keluarga kalian. Jika tidak jangan salahkan jari jemariku ini akan mengirim tubuh kalian sampai ke dasar bumi!"


"Ampuni kami tuan pendekar kami akan melaksanakan apa yang tuan pendekar minta, asal nyawa kami diampuni!"


Setelah melalui penjelasan panjang lebar akhirnya diketahui bahwa kemungkinan benar Adipati Mahesa Jenar telah terkena ilmu gendam dari Dukun Sesat dari Daha. Sehingga membuat Adipati dari Gelang-Gelang itu menurut apapun yang diminta nenek sihir itu.


Kemungkinan para adipati lain yang ikut kraman atau pemberontakan kepada Kerajaan Kalingga dalam kondisi yang sama, karena telah dibawah pengaruh ilmu gendam yang dimiliki Dukun Sesat dari Daha.


Kabar mengejutkan lainnya adalah bergabungnya perguruan besar aliran hitam yang berada di Kerajaan Champa atau sekarang masuk dalam negara Vietnam. Nama dari perguruan itu adalah Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Sebuah nama perguruan yang mampu menggetarkan semua aliran apapun yang mendengarnya.


Nama sembilan racun diambil dari sembilan aliran racun yang bergabung dalam satu perguruan. Perguruan itu memiliki segala reputasi terburuk sekalipun itu menurut pandangan golongan hitam sendiri.


Keahlian racun yang mereka miliki menjadi hal yang paling menakutkan bagi lawan yang ingin berurusan dengan perguruan ini. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi Dewa Rencong adalah Ketua perguruan itu terkenal paling susah diajak berkerjasama dengan pihak manapun, meskipun itu adalah sesama aliran hitam.


"Bagaimana bisa Medusa Hitam menjadikan Perguruan Sembilan Selaksa Racun itu menjadi sekutunya? Sangat mengejutkan langkah-langkah yang dia lakukan itu."


"Mohon ampun tuan pendekar saya tidak tahu menahu mengenai hal itu. Karena itu sudah jauh dari jangkauan kami yang hanya prajurit rendahan."


"Tetapi secara tidak sengaja saya beberapa kali mendengar Ratu Medusa menyebut nama Sang Hyang Junjungan. Entah siapa yang dimaksud? Tetapi dengan mendengar mereka menyebut nama itu saya menyimpulkan bahwa dialah yang berada dibalik berkumpulnya dukungan tokoh-tokoh aliran hitam itu."


"Warta yang sangat menarik." Dewa Rencong mendengarkan sambil mengusap-usap dagunya.


"Menurut paman siapa itu junjungan yang dimaksud?" Suro yang sebelumnya diam ikut-ikutan mengusap dagunya, tetapi sampai dagunya panas dia tidak merasa ada yang menarik dengan berita yang diucapkan para prajurit itu.


"Entahlah siapa nakmas? Tetapi sedikit banyak kita jadi tahu bahwa pergerakan ini bukan Medusa saja yang menjadi tokoh utama dibalik ontran-ontran (kekacauan) ini."


"Berarti siapa sebenarnya yang harus saya habisi paman? Ratu Ular Medusa Hitam, para siluman, Sang Hyang Junjungan atau justru ontran-ontran ini?" Suro bertanya dengan mimik serius


Dewa Rencong melotot dan mendengus kesal mendapat pertanyaan yang terkesan tidak serius atau memang pertanyaan bodoh. Tetapi jika dia melihat Suro saat bertanya mimik mukanya terlihat begitu serius.


"Mereka!" Dewa Rencong menjawab sambil menunjuk ke arah prajurit yng sejak tadi menundukkan kepala menyentuh tanah.


"Ampuuuuuuunnnnnn...... jangan habisi kami tuan pendekaaaaarrrr!" Para prajurit itu menangis meraung-raung mendengar perintah dari Dewa Rencong kepada Suro.


"Hahahahaha tidak itu bukan perintah serius itu hanya lelucon dari paman pendekar. Tenanglah, kalian bisa pergi sekarang juga. Dan jangan kembali kebarisan pasukan kalian lagi atau nanti akan aku kubur hidup-hidup kalian semua."


"Terima kasih pendekar! Terima kasih!" Mereka semua bersujud sebagai tanda terima kasih dan langsung kabur secepatnya menghilang digelapnya malam.


Dewa Rencong menahan marah sambil menggemeretakkan giginya sampai terdengar keras.


"Suro kalau melihat paman seperti ini jadi ingat teman Suro yang bernama Maung, giginya suka berbunyi seperti milik paman."


"Apa sebaiknya paman aku panggil paman maung saja?"


Dewa Rencong akhirnya menepuk jidatnya beberapa kali dengan kelakuan Suro yang tidak tau jika dirinya sudah menahan marah sejak tadi.


'Sepertinya urat takutnya bocah ini sudah putus.' Dewa Rencong hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat Suro justru tertawa mendengar suara giginya yang beradu menahan marah terdengar seperti suara dari Maung


Mahadewi dan Made Pasek sampai kesulitan menahan tawanya melihat Suro dengan santainya mengoda Dewa Rencong tanpa rasa bersalah.


"Karena nakmas sudah lalai melindungi para kuda, maka tugas nakmas adalah memanggul semua perbekalan yang dibawa kuda!" Dewa Rencong mengucapkan itu sambil bersungut-sungut dengan kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubunnya.


"Tenang paman sebagai lelaki tentu saja tanpa paman perintahpun, tidak akan aku biarkan adinda Mahadewi memanggul beban berat seperti itu."


Mendengar jawaban Suro yang merasa tidak terbebani membuat Dewa Rencong muntab(marah besar).


"Malam ini juga kita jalan menembus hutan ini."


"Tenang paman dengan mata tertutup pun Suro bisa berjalan tanpa salah melangkahkan kaki. Tidak akan bakal salah menginjak, meski ada seekor tikus seperti yang ada didepan adinda Mahadewi."


"Apa?! Tikuuuus! Waaaaaaaa....!" Mahadewi menjerit keras langsung naik ke tubuh Suro yang memang sedang berada paling dekat dengannya.