
"Syarat dan rencana yang tuan pendekar Dewa Rencong jabarkan sesuatu hal yang sangat bagus. Saya tidak akan keberatan dengan hal itu.'
"Paduka Mahapatih Lembu Anabrang pernah mengutarakan kepada saya, jika serangan ke Banyu Kuning kembali dilakukan, maka pilihan terbaik untuk menuju kesana adalah melawati kademangan ini. Memutari Gunung Retawu sesuai dengan jalur yang diinginkan tuan pendekar. Karena memang penjagaan di daerah Juwana begitu ketat tentu sangat berbahaya jika kita melewati jalur itu."
"Mengenai permintaan tuan pendekar mengenai bantuan kami kepada pasukan yang dibawah pimpinan Dewa Pedang. Sebenarnya tanpa permintaan tuan pendekar sekalipun untuk membantu Dewa Pedang, tentu kami akan siap membantunya. Tetapi itu tergantung dari Dewa Pedang sendiri bersedia atau tidak bergabung dengan pasukan Kerajaan Kalingga. Karena sebenarnya sudah ada utusan dari Paduka Mahapatih kepada Dewa Pedang untuk berniat menyatukan kekuatan melawan Medusa. Dengan kondisi itu jika Dewa Pedang setuju, tentu artinya kita juga akan bahu-membahu melawan musuh yang sama."
"Sebab kami juga mengetahui kondisi yang dihadapi Dewa Pedang saat ini. Mereka hanya bisa bertahan tanpa bisa menyerang balik."
"Posisi mereka sebelumnya sebenarnya sudah sangat diuntungkan dengan peperangan yang terjadi antara pasukan kami melawan seluruh kekuatan Medusa. Sehingga mereka hanya diserang oleh para pasukan siluman. Sebab seluruh pasukan Medusa lain yang terdiri dari koalisi besar perguruan aliran hitam dan juga beberapa kadipaten dikerahkan semua untuk melawan kami."
"Sebenarnya dalam penyerangan kami yang pertama, jika tanpa ada bantuan pasukan siluman, tentu kami sudah mampu membumi hanguskan Perguruan Ular Hitam. Walaupun saat itu mereka sudah didukung pasukan dari beberapa kadipaten yang membangkang. Sebab dengan kedatangan para siluman itu telah merubah kancah peperangan. Memang aku akui kekuatan para siluman itu sangat mengerikan. Mereka datang menyerbu pasukan kami seperti air bah."
"Setelah kedatangan para siluman, pasukan kami dapat dipukul mundur. Bahkan membuat pasukan kami harus mundur jauh sampai ke daerah Tajug."
"Kami sempat bertahan lama didaerah Rahtawu tetapi kondisi pertempuran berubah menjadi begitu mengerikan. Belasan ribu pasukan kami akhirnya gugur. Dengan kejadian itu membuat Mahapatih Lembu Anabrang dengan berat hati memerintahakan seluruh pasukan untuk mundur."
"Pertempuran di daerah Rahtawu benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Daerah itu benar-benar banjir darah sesuai dengan namanya."
"Aku juga tidak mampu memahami bagaimana mungkin para adipati yang setia itu bisa berkhianat kepada Baginda Sri Maharaja Wasumurti? Termasuk adipati Gelang-gelang. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia memutuskan melakukan kraman? Apa keuntungan buat mereka?"
"Mohon maaf sebelumnya Gusti Senopati Aryo Seno. Dalam perjalanan kami menuju kademangan ini, kami sempat dihadang oleh pasukan dari Kadipaten Gelang-gelang. Sebagian dari mereka yang kami biarkan hidup, membocorkan sebagian dari rencana Medusa yang mereka ketahui. Dari mereka juga kami mengetahui sebab-sebab para adipati itu memilih mendukung Medusa."
Mendengar Senopati Aryo Seno membicarakan para adipati ikut melakukan pemberontakan membuat Dewa Rencong teringat perkataan para prajurit Gelang-gelang yang berhasil mereka lumpuhkan.
"Menurut perkataan mereka para adipati yang mendukung Medusa semua dalam pengaruh Ilmu hitam Dukun Sesat dari Daha. Ilmu Gendam Pengunci Sukmo miliknyalah yang telah menguasai mereka semua."
"Benarkah? Kabar yang sangat mengejutkan. Tetapi bisa jadi, sebab sebelumnya mereka semua adalah para adipati yang sangat setia kepada Baginda. Sangat masuk akal. Kabar ini harus diketahui paduka Mahaprabu."
"Semoga saja nanti Dewa Pedang bersama pasukannya ikut membantu menyerang Medusa Hitam. Sebab dengan bantuannya kemungkinan besar mampu mengalahkan musuh. Apalagi dengan adanya nakmas Suro dan juga tuan Pendekar Dewa Rencong tentu akan semakin memperkuat pasukan dan mampu mengatasi serangan siluman. Dengan kekuatan gabungan itu, tentu akan mampu membumi hanguskan Perguruan Ular Hitam."
"Jangan khawatir Senopati Aryo Seno, aku yakin Dewa Pedang akan sependapat. Sebab hanya dengan kekuatan gabungan yang dimiliki kedua belah pihak, aku yakin baru bisa mengalahkan semua pasukan Medusa hitam. Tetapi setelah saya pikir ulang apapun yang akan terjadi saya bersama nakmas Suro akan tetap ikut serta menumpas pasukan siluman yang telah membuat kekacauan dimana-mana itu."
"Terima kasih, dengan kesedian nakmas dan tuan pendekar akan membantu Kerajaan Kalingga. Segala bantuan yang nanti tuan pendekar berikan tentu tidak akan kami lupakan."
"Mohon maaf sebelumnya tanpa bermaksud kurang ajar atau tidak menghormati gusti senopati, sebaiknya pengerahan pasukan Kalingga menuju Banyu Kuning dilakukan secepatnya. Karena saya khawatir dengan keselamatan para anggota Perguruan Pedang Surga yang hanya bisa bertahan itu."
"Tidak mengapa tuan pendekar. Tentu saja saya akan berusaha secepatnya mengerahkan pasukan yang berada di Tajug bisa segera sampai disini. Tetapi tentu saja semua itu setelah mendapatkan ijin dari paduka Mahapatih Lembu Anabrang. Menurut perkiraanku perjalanan dari Kademangan Kalinyamat ke Tajug sekitar setengah hari. Saya kira besok sore semua pasukan dari Kerajaan Kalingga sudah berada disini. Kemudian nanti secara bersama-sama kita akan menuju ke Kadipaten Banyu Kuning."
"Baik terima kasih pengertian Gusti Senopati Aryo Seno. Saya bersama nakmas Suro akan tetap menunggu disini sampai kedatangan pasukan Kerajaan Kalingga."
Dewa Rencong kemudian mengantar Senopati Aryo Seno dan sembilan pengawalnya sampai didepan halaman Kediaman Demang Kalinyamat. Senopati bersama pengawalnya itu langsung memacu kudanya dengan kencang mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu terbuang percuma. Apalagi setelah mendengar Dewa Rencong dan Suro menyanggupi ikut dalam barisan pasukan Kerajaan Kalingga, tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebab dengan adanya kedua pendekar itu, bisa menjadi kunci kemenangan Pasukan Kerajaan Kalingga dalam pertempuran berikutnya.
Dengan kemampuan yang mereka miliki Senopati Aryo Seno merasa sangat yakin jika para siluman kali ini bukan lagi menjadi ancaman yang sangat berbahaya dengan keberadaan mereka berdua.
Semua pihak sedang diburu waktu untuk secepat mungkin bisa menumpas Medusa Hitam yang mencoba melakukan kraman (pemberontakan). Sebab sudah terlalu banyak kehancuran dan korban jiwa yang sudah tidak terhitung jumlahnya akibat serangan siluman yang meminta tumbal hidup.
Sepeninggal Senopati Aryo Seno Dewa Rencong segera menemui Demang Kalinyamat. Dia ingin menggunakan waktu menunggu Pasukan Kerajaan Kalingga yang berada di Kademangan Tajug dengan membantu para penduduk menghabisi para siluman yang telah menyerang desa disekitar Kademangan Kalinyamat.
"Sebenarnya ada berapa desa yang terpaksa ditinggalkan penduduk akibat serangan siluman, Ki Demang?"
"Sekitar lima belas desa yang ditinggalkan para penduduknya. Mereka terpaksa mengungsi karena serangan yang dilakukan para siluman itu. Kebanyakan kampung itu berada di sebelah selatan dan timur yang berbatasan dengan daerah Tajug dan Rahtawu."
"Baiklah karena kami harus menunggu kedatangan pasukan Kerajaan Kalingga ,maka waktu yang kosong ini akan kami pergunakan untuk menumpas para siluman yang menyerang Kademangan Kalinyamat ini."
"Saya mewakili seluruh masyarakat Kademangan Kalinyamat mengucapkan beribu terimakasih yang tak terhingga atas kesedian tuan pendekar membantu menghentikan serangan siluman dari daerah ini."
"Bisakah Ki Demang membantu saya menyediakan perbekalan dengan lauk ayam goreng?" Suro yang berada disamping Dewa Rencong akhirnya yang menjawab pertanyaan Ki Demang itu. Tentu saja Dewa Rencong matanya langsung melotot ke arah Suro.
"Dikampung itu nanti tidak ada yang jualan makanan paman. Perburuan itu pasti akan sangat menguras tenaga. Perut saya cepat lapar jika harus mengerahkan Jurus Tapak Dewa Matahari." Suro mencoba membuat alasan sambil mengaruk-garuk kepalanya.
"Tentu saja nakmas saya akan segera menyiapkan bekal seperti yang nakmas minta." Ki Demang buru-buru menjawab melihat Dewa Rencong yang sudah merasa tidak enak hati dengan permintaan Suro yang terasa memalukan itu.
"Digoreng garing ya paman demang, jangan lupa! Malam ini juga kami akan berangkat."
"Baik nakmas jangan khawatir saya akan menyiapkan sesuai permintaan nakmas."
Dewa Rencong hanya bisa menepuk jidatnya berkali-kali melihat kelakuan Suro yang terlalu jujur itu. Melihat kepolosan Suro kadang rasanya dia ingin berteriak meruntuk ke bocah itu dengan sekencang-kencangnya. Dia kadang juga tidak mengerti bocah ini sedang menguji kesabarannya atau memang tidak mengerti jika dirinya sudah sangat marah.
Tetapi entah mengapa dengan berjalannya waktu tanpa dia sadari, sebenarnya dia justru ikut menikmati kepolosan Suro yang kadang terasa sangat konyol.
Tetapi tetap saja kekesalan itu memerlukan pelampiasan. Segera setelah perbekalan sudah disiapkan Nyi Demang, maka mereka segera melesat cepat menuju perkampungan yang telah ditunjukkan Demang sebelumnya.
**
Saat Suro dan Dewa Rencong bergerak memburu para siluman hari sudah menjelang malam. Matahari benar-benar sudah tenggelam diufuk barat. Tetapi malam itu cahaya bulan lebih terang daripada malam sebelumnya, sehingga sedikit banyak mereka telah terbantu.
Kali ini mereka hanya berdua saja dalam misi memburu para siluman tanpa mengajak Mahadewi maupun Made Pasek. Alasan pertama karena memang hanya mereka berdua untuk saat ini yang mampu membunuh para siluman. Selain itu Dewa Rencong juga tidak ingin membahayakan keselamatan mereka berdua.
Alasan lainnya mereka tidak memiliki banyak waktu yang ada, hanya sampai para pasukan Kerajaan Kalingga sampai di Kademangan Kalinyamat. Karena itulah dia ingin secepatnya menghabisi para siluman itu sampai pasukan Kalingga datang dari Tajug.
Dengan alasan itulah dia hanya mengajak Suro. Sebab hanya dia yang bisa mendekati kecepatan meringankan tubuh miliknya. Tentu saja karena Suro telah menguasai jurus langkah kilat yang ada dalam ilmu meringankan tubuh saifi angin.
'Luar biasa bocah ini kecepatannya mampu mengimbangi diriku.' Dewa Rencong sampai mengeleng-gelengkan kepala saat Suro berlari tanpa beban dipundaknya.
Tujuan Dewa Rencong selain ingin membantu penduduk mengusir dan menghabisi para siluman, dia juga sebenarnya ingin memastikan seberapa kuat dan seberapa banyak tenaga dalam yang diperlukan untuk membentuk pedang cahaya yang dia miliki mampu menghabisi para siluman.
Karena semakin kuat pedang cahaya yang dibuat juga akan memerlukan pasokan tenaga dalam yang lebih besar. Pedang cahaya sendiri memiliki beberapa tingkatan tergantung kekuatan yang membentuknya.
pada tingkat pertama cahayanya beraura warna kuning kemudian merah, lalu biru, putih dan yang terakhir pedang cahaya terkuat yaitu beraura hitam. Setiap tingkatan itu akan memerlukan pasokan tenaga dalan yang besar dan semakin besar tenaga dalam yang diperlukan untuk menuju tingkatan selanjutnya.
Setelah melewati dua perkampungan yang kosong, mereka akhirnya telah sampai di Desa Kedung Gede. Di dua desa sebelumnya yang telah mereka lewati tidak ditemukan satu pun siluman.
Begitu memasuki gerbang desa itu sebuah serangan yang tidak terdeteksi sebelumnya menghajar dengan keras.
Jdaaaar!
Mendadak sebuah ledakan keras menghantam mereka berdua. Beruntung serangan itu mampu mereka hindari. Asal serangan itu berasal dari langit.
Wujud dari siluman ini bentuknya menyerupai kelelawar tetapi memiliki kepala mirip kepala manusia lengkap dengan rambutnya yang panjang.
"Siluman apa lagi ini paman pendekar bentuknya tidak mirip dengan para siluman yang kita hadapi sebelumnya?"
"Kemungkinan ini adalah siluman Wewe Gombel nakmas. Hati-hati nakmas biasanya dia menculik pemuda yang tampangnya buruk rupa." Dewa Rencong segera bersiap dengan pedang cahaya yang memancar dari jari jempolnya. Cahaya dari pedang itu kini berwarna biru berbeda dari sebelumnya yang berwarna merah.
"Untung saja aku ganteng paman jadi siluman itu pasti tidak akan menculikku. Sebaiknya paman lebih berhati-hati, takutnya siluman itu akan menculik paman." Suro langsung tertawa-tawa keras melihat raut muka Dewa Rencong yang langsung berubah.
"Bocah gemblung, ini bukan waktunya bercanda. Cepat habisi siluman itu!"