
"Bagaimana cara membuka segel dewa yang memenjarakanmu? Ditubuhmu tidak ada rantai atau tali yang mengikat tubuhmu?" Suro menatap tubuh ilusi milik Gagak setan.
"Aku tidak mengira jika dirimu begitu bodoh. Tentu saja kamu tidak akan menemukan apapun dalam tubuh ilusiku. Kamu hancurkan punden berundak itu didalamnya, nanti ada kelenting kecil, kurang dari segengaman orang dewasa berwarna keperakan."
"Baiklah!"
Suro berjalan mendekati punden berundak didepannya. Tinggi dari punden berundak itu secara keseluruhan setinggi kurang dari dua tombak.
"Aku tebas atau aku hancurkan?" Suro bertanya kepada tubuh ilusi Gagak setan yang sudah berada disampingnya.
"Hancurkan saja undak-undakan ini."
Setelah mendengar perkataan Gagak setan kemudian Suro bersiap menghantam dengan tangan kosong.
Duk! Duuk! Duuuaaar!
Dengan kekuatan pukulan miliknya punden berundak didepannya akhirnya hancur berantakan. Agaknya setelah menyerap kekuatan dari batu giok dewa telah membuat kekuatan fisiknya bertambah sangat pesat.
Bersamaan dengan hancurnya punden berundak itu, hawa kegelapan yang sebelumnya keluar dari puncak teratas punden berundak, kini menyebar ke segala arah.
"Gawat...mingiiiir semua!"
Suro segera berteriak keras meminta semua orang yang ikut mendekat segera menjauh dari pusaran hawa hitam yang begitu pekat menerjang ke segala arah. Suro segera mengerahkan tehnik bumi miliknya.
Kali ini dia menempelkan telapak tangan di atas permukaan tanah, dengan posisi tubuh seperti orang hendak bersiap lari kencang.
Dum! Duum! Duuuum!
Suara dentuman berturut-turut dan menghentak keras secara beruntun. Sehingga membuat permukaan tanah berguncang hebat. Bahkan istana ikut berbunyi berderak seakan mau rubuh. Bersamaan dengan itu hawa kegelapan yang menyembur keluar dari dalam tanah, akhirnya berhenti dan menutup.
Gagak setan yang melihat apa yang dilakukan Suro sampai melongo tidak percaya.
"Kau manusia setengah apa bocah? Bagaimana mungkin kau mampu melakukan hal seperti itu, bahkan hanya dalam waktu sekejap?"
"Asal kau tahu, jika Batara Karang dan Hyang Antaga untuk membuat retakan kecil sampai ke dasar bumi, butuh waktu yang bertahun-tahun. Apa aku tidak salah melihat, bagaimana caranya dirimu mampu melakukannya? Kau berhasil menutup semua retakan sampai ke dasar bawana?"
"Mengesankan...! Aku tidak percaya jika ada manusia yang mampu melakukannya. Tehnik bumimu sangat menajubkan mungkin hanya ilmu milik Sang Hyang Anantaboga penguasa unsur bumi terkuat yang mampu mengalahkannya."
Suro terkejut jika Gagak setan mengaitkan ilmu miliknya dengan Sang Hyang Anantaboga. Sebelum Gagak setan melanjutkan ucapannya Suro buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang punden berundak sudah hancur, dimana segel dewa yang kamu maksud? Dimana rantai atau tali yang telah menyegel dirimu sehingga tidak bisa kemanapun!"
"Manusia bo...tidak kamu bukan bodoh cuma nalarmu tidak sampai. Ah sudahlah. Sudah aku katakan segel dewa yang aku maksud tidak ada kaitannya dengan rantai ataupun tali apapun. Karena aku disegel bukan diikat seperti kambing, manusia bo...ah sudahlah. Sekarang kamu cari kelenting kecil berwarna keperakan!"
"Apa urusannya kelenting dengan segel dewa?" Suro mengaruk-garuk pipinya mencoba mengkait-kaitkan hubungan sebuah segel dewa terkuat dengan kelenting kecil.
"Sudah kami cari saja kelenting yang aku maksud!"
"Bukankah dirimu dikurung didalamnya? Bagaimana kamu sendiri tidak mengetahui dimana posisinya?"
"Sebenarnya segel itu mengikat kekuatanku dan juga ragaku. Mengenai jiwaku, walaupun masih terikat dengan segel itu, kesadaranku dapat berada diluar. Karena alasan itulah mengapa empat ksatria kebingungan menempatkan segel tubuhku. Sebab aku masih mampu mempengaruhi orang, disekitar sampai jarak tertentu, sehingga akan mampu menebar bencana."
"Sudah, kamu cari saja seperti apa yang aku katakan!" Kali ini Gagak setan hendak murka, namun dia teringat, jika hanya Suro harapan satu-satunya yang dapat membebaskan dirinya dari segel dewa.
Suro bersama yang lain kemudian mencoba mencari diantara puing-puing bekas punden berundak yang telah dihancurkannya.
"Apakah kelenting kecil yang dimaksud seperti ini?" Bekel Astawa berteriak mencoba menunjukkan temuannya.
Dia yang ikut mengais-ais diantara puing menemukan sebuah kelenting kecil yang berukuran kurang dari kepalan lelaki dewasa. Tetapi kelenting itu masih menyatu dengan bongkahan puing.
"Benar seperti itu!" Gagak setan langsung mengenalinya.
"Kurang ajar jaga mulutmu! Kelenting itu terbuat dari batu giok dewa. Tidak akan ada yang mampu menghancurkannya, kecuali senjata dewa sendiri." Gagak setan murka mendengar Suro menyebut segel dewa yang berupa kelenting kecil itu disebut barang rongsokan.
"Benarkah?" Suro terkejut mendengar kelenting kecil ditangannya terbuat dari batu giok dewa.
Suro memeriksa dengan teliti setiap bangiannya. Secara keseluruhan bentuknya seperti kelenting, namun ukurannya saja yang kecil. Di atas kelenting itu memiliki penutup, kemungkinan bahannya sama. Namun karena semua dilapisi perak, membuat bahan yang didalamnya tidak terlihat.
"Apa itu batu giok dewa, bocah?" Dewa Rencong yang berada disamping Suro menjadi ikut penasaran. Dia baru pertama kali mendengar nama itu.
Suro yang ada disampingnya menoleh sambil tersenyum sebelum menjelaskan.
"Menurut pengetahuan yang Suro tahu, batu itu hanya ada di alam dewa. Jenis batuan ini sangatlah langka dan sangat kuat. Sehingga batuan ini sering digunakan sebagai bahan pembuatan senjata dewa. Termasuk perisai ditubuhku ini paman."
Dewa Rencong terkejut mendengar ucapan Suro. Gagak setan tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Suro barusan.
"Apa?! Kau punya perisai terbuat dari batu giok dewa! Sesuai dugaanku kau bukan manusia biasa, kau seseorang yang istimewa. Tetapi mengapa isi kepalamu begitu bo...ah lupakan. Cepat gunakan bilah pedangmu untuk menebas tutupnya. Didalam kelenting itu ada mustika jiwaku.
Suro kemudian menebas bagian atas dari kelenting kecil itu.
Trang!
Saat Suro menebas tutup itu tidak hancur hanya terlepas begitu saja, ketika bilah pedang itu menyentuhnya.
"Akhirnya aku terbebas!" Bersamaan dengan suara barusan, sesosok keluar dari dalam kendi kecil itu.
"Bagaimana ada dua wujudmu?" Suro terkejut sampai tersurut dua langkah, sebab didepannya Geho sama memiliki dua tubuh. Walau yang pertama terlihat transparan dan yang baru datang terlihat lebih nyata.
"Hahahaha...! Aku adalah Geho sama si tuan penyihir!" Kemudian dia menjentikkan jarinya.
"Ini adalah bagian kecil dari sihirku yang akan menjadi milikmu!" Gagak setan tersenyum melihat Suro matanya terbelalak.
"Waowww hebat!" Kedua mata Suro terlihat berbinar-binar, saat menatap ke berbagai penjuru. Suro begitu takjub menyaksikan pertunjukan sihir didepan matanya. Sebab ada lebih dari sepuluh tubuh Gagak setan mengelilingi dirinya dan Dewa Rencong. Selain Suro mereka justru menatap dengan ngeri.
"Sesuai janjiku akan aku berikan mustika jiwaku kepadamu" Gagak setan kemudian memberikan sebuah bola kecil seukuran kuku orang dewasa, berwarna merah delima.
"Lalu harus aku apakan mustika ini?" Suro menatap bola kecil di tangannya dengan takjub, sebab kemilaunya mirip sebuah berlian.
"Serap agar menyatu denganmu. Setelah itu semua pengetahuanku dan kekuatanku akan menjadi milikmu!"
Suro ragu-ragu untuk melakukannya, dia takut jika nanti Gagak setan justru menguasai jiwanya.
'Apakah kau mengecilkan keberadaan kami berdua bocah?!' Suara Lodra meninggi, sebab mereka tidak ditanya pendapat.
"Maaf aku lupa dengan kanjeng Lodra." Suro tertawa-tawa sendiri mendengarkan ceramah Lodra dengan nada kesal. Dua jiwa pusaka itu berani menjamin, jika apa yang dia khawatirkan tidak akan terjadi. Apalagi ada Hyang Kavacha yang menjadi pelindungnya, tentu tidak akan dibiarkan hal itu terjadi.
"Apa yang kau katakan anak manusia? Siapa Kanjeng Lodra?" Geho sama menatap Suro dengan curiga karena berbicara sendiri dan tertawa-tawa sendiri dengan tatapan matanya seperti sedang menerawang.
Sebelum Suro menjawab, tatapan Geho sama beralih ke arah Dewa Rencong yang berada disampingnya.
"Apa kau yakin anak manusia ini waras? Akan jadi apa harapanku untuk menyelamatkan dunia, jika aku titipkan kepada manusia yang tidak waras?"
"Bocah ini tidak gila hanya gemblung dan mungkin sedikit gendeng." Dewa Rencong menjawab dengan asal dengan mimik serius.
Suro tertawa terkikik mendengar jawaban Dewa Rencong barusan.
"Mungkin perkataanmu ada benarnya, hanya seorang gemblung yang sudah sedikit gendeng, mau menerima janji seorang siluman sepertiku. Sudahlah lakukan saja serap mustika jiwaku, ini sudah menjadi janjiku. Walaupun dulu aku dikenal sebagai seorang siluman terbengis, tetapi aku adalah siluman yang selalu menepati janjiku."
"Karena sifatku yang selalu menepati janjikulah empat ksatria mampu mematahkan semua ilmu sihirku. Itu terjadi karena sebelumnya aku sudah berjanji menurunkan ilmu sihirku kepada mereka berempat." Gagak setan menerawang mengingat kembali kejadian yang sudah terjadi ribuan tahun lalu.
Suro kemudian mulai duduk bersila sambil tangannya membentuk segel dhyana mudra. Dia bersiap menyerap mustika jiwa milik Gagak setan.