
"Gawat ketua, ada kabar dari pasukan telik sandi."
"Hal gawat apa yang kamu maksud tetua Kudungga?"
"Ampun ketua, saat ini sedang ada penerobos yang telah berhasil menghancurkan formasi hutan ilusi!"
Seorang lelaki paruh baya yang bernama Kudungga itu menjura dengan dalam kepada seorang wanita yang berparas cantik dan terlihat cukup muda. Jika dilihat dari parasnya, wanita itu masih berumur sekitar tiga puluhan. Namun ada sesuatu rahasia yang mengerikan yang dimiliki wanita itu.
Wanita itu memiliki jurus bernama Setan Pemangsa Jasad. Dengan ilmu itu membuat tubuhnya akan selalu terlihat muda. Meskipun dia sudah berumur hampir dua ratus tahun. Dia adalah tokoh aliran hitam yang berjuluk Dewi Kematian dan juga ketua dari Perguruan Sembilan Selaksa Racun.
"Mengagumkan, siapa yang telah berhasil menghancurkan formasi yang dibuat guruku Raja siluman Lebah iblis?" Wanita itu tersenyum dan tidak memperlihatkan rasa khawatir mengetahui formasi sihir hutan ilusi yang melindungi perguruannya telah dihancurkan.
"Laporan yang saya terima dari pasukan mata-mata, diketahui mereka berjumlah empat orang. Dua diantaranya memiliki kekuatan yang sudah pada tingkat surga dan sisanya berkekuatan tingkat langit. Salah satu dari mereka yang berkekuatan tingkat surga adalah Sindurogo, monster dari Yawadwipa. Selain itu ada makhluk lain yang berupa manusia burung ikut menemani Sindurogo."
"Menurut informasi yang dihimpun, orang yang berhasil menghancurkan dua batu mantra dimana formasi sihir hutan ilusi ditanam, justru bukan Sindurogo. Namun yang melakukannya justru rekan lainnya. Salah satunya adalah manusia burung itu."
"Tidak aku sangka lelaki dungu itu telah mencapai tingkat surga. Sepertinya keberuntungan selalu menyertai nasibnya. Meskipun begitu dia tidak berubah. Asalnya memang manusia dungu, kejadian di waktu lampau yang hampir saja membuat dirinya menjadi tumbal bagi formasi sihir, tidak membuatnya jera."
"Jika saja waktu itu tidak ada yang membantunya dengan memandunya melalui suara seruling yang aneh, aku yakin dirinya akan tamat riwayatnya. Dan kekuatannya akan terserap habis menjadi tumbal bagi formasi sihir yang melindungi perguruan kita."
"Tetapi ada yang tidak biasa monster dungu itu melakukan sesuatu yang janggal. Melakukan sesuatu yang bukan menjadi sifatnya, sebab baru kali ini aku mendengar dia bertarung dengan membawa bala bantuan."
"Agaknya pengalaman dirinya kala itu telah memberikan pelajaran untuk tidak mengandalkan dirinya sendiri."
"Lalu bagaimana apakah mereka berhasil menghancurkan formasi sihir Hantu Kutukan milik guru Hantu Laut?"
"Untuk saat ini mereka masih kewalahan menghadapi tiruan mereka." Lelaki itu tetap bersimpuh didepan wanita yang cantik itu dengan penuh rasa hormat.
"Aku ingin melihat apakah hari ini seorang Sindurogo monster dari Yawadwipa itu akan berakhir riwayatnya atau tidak."
"Biarkan, jangan merusak formasi sihir milik guru Hantu laut dengan masuk kedalam kancah pertempuran. Kalian kirim saja pasukan telik sandi agar memantau pertempuran mereka dari jauh."
"Jika mereka tidak berhasil menghancurkan formasi sihir itu, maka hari ini kita akan mendapat pancingan ikan besar. Dengan kematian mereka, maka formasi hutan ilusi juga akan kembali pulih. Bahkan dengan kekuatan mereka akan membuat formasi itu semakin bertambah kuat."
"Sudah ribuan nyawa pendekar berhasil diserap formasi sihir hutan ilusi. Dan baru pertama kali inilah terjadi peristiwa dimana formasi sihir hutan ilusi berhasil dihancurkan. Dengan kejadian tersebut membuat kita memiliki kesempatan untuk menyaksikan keampuhan formasi hantu kutukan milik guru Hantu Laut. Aku tidak tahu sehebat apa formasi sihir itu, tetapi hari inilah akan diuji seberapa hebat kekuatannya. Seharusnya dengan keunikannya formasi sihir itu mustahil ditembus, meskipun oleh pendekar tingkat surga sekalipun."
"Tetapi untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, jika monster dari Yawadwipa dan bala bantuannya berhasil menghancurkan formasi sihir milik guru Hantu Laut, perintahkan para tetua dan seluruh anggota perguruan untuk bersiap menghadapi pertempuran."
"Aku juga akan mengabarkan kepada sembilan guru besar pelindung perguruan ini untuk bersiap menghadapi musuh. Jika monster dari Yawadwipa itu berhasil menghancurkan formasi sihir pelindung perguruan ini, maka bukan perkara mudah menghadapi dua pendekar tingkat surga."
"Siap ketua, saya mohon undur diri untuk melaksanakan perintah." Lelaki itu kemudian melesat hilang dari pandangan dengan begitu cepat.
**
Di hutan dimana Suro dan lainnya sebelumnya berada masih bertarung menghadapi musuhnya. Meskipun sebenarnya pertempuran mereka terlihat cukup janggal. Sebab mereka seperti bertarung melawan dirinya sendiri.
Mereka berempat sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghancurkan makhluk tiruan itu. Namun tiruannya selalu saja mematahkan semua jurus mereka. Ilmu simpanan mereka yang jarang diperlihatkan sekalipun dapat dengan mudah dipatahkan oleh tiruannya.
Bahkan makhluk yang meniru jurus mereka melakukan sesuatu yang sangat luar biasa mengagumkan. Sebab mereka mampu meniru jurus dan melakukannya dengan lebih lihai di bandingkan pemilik asli dari jurus tersebut.
Wujud tiruan itu juga tidak memiliki rasa lelah sedikitpun. Wajah mereka begitu datar dan entah bagaimana mereka juga seperti tidak memiliki rasa sakit.
Beruntung untuk menghadapi makhluk yang tidak memiliki rasa kelelahan itu, mereka telah mempersiapkan bekal untuk membuat tubuh tidak akan kehabisan tenaga, meski bertarung dalam waktu yang panjang. Sebab mereka membawa Pill tujuh bidadari. Dengan Pill pemulih tenaga dalam itu saat ini mereka tidak khawatir akan ambruk kehabisan tenaga. Namun kondisi itu tentu tidak selamanya dapat bertahan.
Karena itulah mereka berempat terus mencoba mencari solusi lain agar dapat mematahkan formasi sihir yang sangat merepotkan tersebut. Meski mereka berbicara sambil bertempur, namun kondisi itu tidak akan membuat mereka menurunkan kewaspadaan. Kebanyakan segala pertanyaan itu akhirnya bermuara kepada sang ahli sihir yang masih pusing menghadapi tiruannya.
''Aku hanya pernah mendengar jika kekuatan sihir ini mampu meniru kemampuan lawan. Namun aku tak menyangka jika kekuatan sihir ini begitu mengerikan.'' Geho sama berusaha menjelaskan kepada Suro dengan sebaik mungkin. Mereka berdua berbicara dengan sedikit berteriak, agar Dewa Rencong maupun eyang Sindurogo dapat ikut mendengarnya.
''Geho sama apa lagi yang kamu ketahui tentang sihir ini selain hal yang barusan kamu ceritakan? Ini sudah gawat, secepatnya kita harus segera mematahkan formasi sihir ini, Geho sama!" Suro seperti kehabisan akal untuk menghadapi makhluk tiruan dirinya.
Sebab ilmu Tapak Dewa Matahari, tehnik perubahan tanah dan juga tehnik api hitamnya, termasuk Naga Taksaka entah bagaimana caranya dapat ditiru dengan sangat sempurna. Bahkan Pedang Kristal Dewa yang berada ditangan Suro, juga dimiliki makhluk tiruannya.
Suro sendiri tidak dapat memahami bagaimana makhluk tiruan itu dapat memiliki kekuatan yang sama persis dengan yang dia miliki. Bukan saja satu bilah pedangnya, tetapi puluhan bilah pedang yang dia simpan di pundaknya pun ikut ditiru.
''Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, yang aku ketahui dari sihir milik siluman yang berjuluk Hantu Laut itu dapat meniru lawan dengan sama persis. Sihir itu akan membuat tubuh tiruan yang akan menjiplak dengan begitu sempurna baik dari segi wajah, kekuatan, maupun seluruh ilmu yang telah dikuasai saat kita terkena formasi sihir kutukan itu.'' Geho sama berusaha tetap berpikir jernih untuk dapat mencari cara agar formasi sihir yang mereka hadapi dapat dipatahkan.
''Jadi begitu, mereka meniru semua ilmu yang telah kita kuasai. Bagaimana jika kita menguasai ilmu baru? Apakah mereka dapat meniru ilmu yang baru kita dapatkan?"
''Benar juga, sebuah pemikiran yang tidak pernah terbesit olehku. Usulan tuan Suro patut dicoba.''
''Jika begitu, sampaikan kepada eyang guru, agar kalian saling bertukar kemampuan. Aku sendiri akan bertukar ilmu dengan paman Maung.''
Mereka berempat kemudian bergegas saling bertukar ilmu yang mereka kuasai.
Suro memilih ilmu petir yang dikuasai Dewa Rencong. Suro pernah melihatnya dan cukup tertarik untuk mempelajarinya. Kesempatan itu dia gunakan untuk meminta diajari tehnik yang cukup mengagumkan itu.
Dewa Rencong sendiri meminta Suro mengajarinya dengan tehnik tapak Dewa Matahari jurus pertama, yaitu Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi. Begitu juga Gagak setan dia memilih meminta diajari jurus itu kepada Eyang Sindurogo.
Belajar tehnik tingkat tinggi ditengah pertarungan tentu bukan sesuatu yang mudah. Apalagi musuh yang mereka hadapi sesuatu yang sangat kuat.
**
"Akhirnya aku menguasai tehnik perubahan petir ini!" Suro yang selesai mendengar intrukasi dari Dewa Rencong segera menggunakannya. Tetapi apa yang dilakukan Suro sedikit dirubah dengan pemahamannya.
Dengan tehnik perubahan petir yang kini telah dia kuasai akhirnya membuat dia unggul. Lawannya yang berusaha menyerangnya kini tidak mampu meniru serangan petir yang dikerahkan Suro. Segera dia mengerahkan serangan penutup untuk mengakhiri tubuh tiruan dirinya. Setelah mengerahkan tehnik perubahan petir menemani jurus tebasan pedang yang diambil dari tehnik milik Dewa Rencong, maka terbentuklah seekor naga raksasa dari kilat petir yang mengerikan. Tubuh naga petir itu melesat mengejar tubuh lawannya.
Duuuuuuuuum!
Naga yang berasal dari petir raksasa itu menghantam tubuh tiruannya sehingga seantero hutan itu bergetar hebat. Sejak Suro mengerahkan jurus simpanan milik Dewa Rencong, makhluk tiruannya hanya bisa menghadapinya dengan jurus Maha Naga Taksaka tiruan.
Suro yang memahami jurus api hitam itu tentu mengetahui kecepatannya dapat ditandingi oleh naga petirnya. Karena itulah dia sengaja membuat celah agar naga petirnya dapat menghajar tubuh lawannya dengan telak, tanpa sempat dilindungi jurus api hitam tiruannya.
"Selesai sudah, aku berhasil menghancurkannya." Suro segera memberitahukan kepada Geho sama setelah berhasil mengalahkan makhluk tiruannya.
Dewa Rencong setelah berhasil menguasai jurus Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi, akhirnya berhasil memotong-motong musuhnya dengan mudah. Begitu juga Geho sama dia berhasil mengalahkan lawannya dengan jurus itu. Dia berhasil melakukannya selang beberapa saat setelah Suro berhasil.
**
"Geho sama bagaimana caranya menguasai ilmu yang kamu miliki ini? Mengapa aku tidak bisa melakukannya?" Eyang Sindurogo berkali-kali tidak berhasil mengerahkan sembilan tubuh ilusi setelah mendengar penjelasan Geho sama.
"Memalukan sekali muridmu saja sudah berhasil mematahkan sihir ini, bagaimana kamu sebagai gurunya tidak dapat mengalahkannya?" Geho sama tertawa melihat Eyang Sindurogo yang tidak juga berhasil mengerahkan jurus tubuh ilusi. Karena itulah dia harus kalang kabut menerima serangan tubuh tiruannya.
"Bantu aku!"
"Tidak tuan guru, jika aku ikut membantumu, maka musuhmu itu akan menggandakan tubuhnya. Lalu kembali aku harus menghadapi tiruanku sendiri. Daripada aku harus kembali bersusah payah tanpa habisnya seperti itu, mending aku menonton saja."
"Tetapi, tenang tuan guru, aku akan tetap membantumu meski tidak secara langsung. Aku akan membantu memberi semangat kepada tuan guru agar bisa mematahkan formasi sihir ini, seperti yang telah kami lakukan."
Geho sama lalu duduk dengan tanpa rasa bersalah di sebuah batang pohon yang rubuh akibat pertarungan dirinya. Geho sama sesuai janjinya mulai berteriak-teriak memberi yel-yel dengan penuh semangat tinggi kepada eyang Sindurogo.
"Membantu apanya, siluman sialan jelaskan kembali tentang ilmu itu, daripada bersorak-sorak seperti burung gagak yang sudah tidak waras!"
Geho sama tertawa cukup keras melihat Eyang Sindurogo mendengus kesal. Tidak beberapa lama kemudian Suro juga muncul didekat Geho sama bersama Dewa Rencong.
"Apa yang kau lakukan Geho sama mengapa kau tidak memberikan pertolongan kepada eyang guru?"
"Berhenti tuan Suro! Jangan menyerang...! Jika tuan Suro ikut membantunya, maka makhluk itu akan kembali memecah tubuhnya dan akan meniru siapapun yang hendak menyerangnya."Geho sama langsung mencegah Suro yang hendak melesat membantu gurunya. Beruntung Geho sama berhasil mencegah tindakan Suro.
"Baik, baik, aku akan jelaskan secara sempurna. Penjelasanku sebelumnya masih kurang satu bagian!"
Geho sama kemudian menyelesaikan penjelasannya kepada eyang Sindurogo.
"Siluman sialan!" Eyang Sindurogo mendengus kesal mengetahui Geho sama bercanda bukan pada tempatnya
"Aku hanya mengikuti saran tuan guru untuk banyak bercanda! Hahahaha ...!"
"Gagak setaaaaaaaaan! Ini bukan waktunya bercanda!"
Setelah mendapatkan wedar kaweruh atau penjelasan ilmu dari Geho sama, akhirnya dia bisa melakukan sesuai arahan manusia setengah burung itu.
Tidak beberapa lama kemudian lawannya dapat dihancurkan dengan penggabungan tehnik sembilan perubahan alam yang dikerahkan seluruh kembarannya.
"Akhirnya kita berhasil menghancurkan formasi sihir yang merepotkan ini."
"Semua, segera kita hancurkan Perguruan Sembilan Selaksa Racun sampai tidak tersisa. Aku akan tetap menghancurkan perguruan itu, meskipun mereka tidak bergabung dengan pasukan kegelapan."
"Kalian tau mengapa aku berbicara seperti itu?" Eyang Sindurogo menatap ke arah tiga sosok didepannya.
"Apakah gara-gara tuan guru terjebak dihutan ini hampir satu purnama dan terpaksa memakan tokek?"
Eyang Sindurogo menggaruk-garuk kepalanya mendengar ucapan Gagak setan atau lebih dikenal dengan nama Geho sama.
"Bukan itu siluman sialan, memang waktu itu aku kesal karena terpaksa harus memakan tokek. Tetapi bukan karena alasan itu. Dulu maupun sekarang alasan diriku hendak membumi hanguskan perguruan ini, karena mereka telah menghabisi manusia tidak berdosa dalam jumlah yang sudah tidak terhitung lagi. Salah satunya karena ketua perguruannya memiliki ilmu dari salah satu tiga sesat. Tumbal nyawa manusia itu digunakan untuk meningkatkan kekuatan tubuhnya."
**
Mereka kemudian melanjutkan rencananya menuju Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Mereka memilih terbang menuju perguruan yang sudah dapat mereka temukan keberadaannya, setelah sihir yang menyelubungi perguruan itu dapat dihancurkan. Mereka sengaja terbang tinggi, agar dapat membaca situasi perguruan terlebih dahulu.
Duuum! Duuuuum! Duuuum! Duuuum!
Mendadak entah datangnya dari mana dengan kecepatan mengagumkan mereka diserang makhluk yang belum mereka sadari bentuknya. Sebab tubuh mereka berempat yang sedang terbang telah menghantam bumi dengan sangat keras.