
Perkataan Dewa Obat bukan tidak didengarkan oleh Suro. Pemuda itu sedang menimbang apa yang dikatakan sambil melayani setiap serangan para pendekar dari dua aliran yang berseberangan itu.
Tetapi dia tidak berniat menghabisi orang-orang yang menyerang dirinya. Karena dia masih mengira, jika semua itu hanyalah bentuk kesalah pahaman belaka.
Dia mengira semua itu terjadi akibat Geho sama yang tidak sengaja mengerahkan aura sesat setelah kemarahannya tidak dapat dia tahan.
Tetapi seperti perintah Dewa Obat, dia tidak membiarkan beberapa pendekar yang sudah memiliki kekuatan tingkat langit mengejar Dewa Obat yang terbang tinggi. Pedang terbang miliknya segera melesat dan menyerang para pendekar itu, sehingga mereka menghentikan niatnya dan kembali menyerang dirinya.
Setelah semua musuh hanya berkonsentrasi menyerang dirinya, maka rencana berikutnya yang dimiliki segera dia lakukan. Sejak awal pertarungan itu, Suro memang sengaja menyembunyikan kekuatannya.
Sehingga musuh tidak mengetahui seberapa kuat dirinya. Karena itu mereka dibuat begitu penasaran seberapa kuat, sebenarnya musuh yang mereka hadapi.
Sebab serangan mereka tidak ada satupun yang mampu berhasil menembus pertahanan Suro maupun Geho sama. Tidak kurang dari empat puluh orang telah mengepung mereka.
Tetapi jumlah itu terus bertambah dengan kedatangan para pendekar yang tertarik melihat keributan yang dari berbagai arah. Keributan besar itu telah memancing para pendekar untuk datang dan bergabung menyerang Suro.
Diantara pasukan yang mengepung, ada salah satu tetua dari Perguruan Lembah Beracun yang bernama Hong Dong. Kekuatan pendekar itu telah mencapai tingkat langit.
Pendekar itu lah yang sejak awal memimpin pasukan aliran hitam hendak membunuh Dewa Obat. Selain dirinya dalam pasukan aliran hitam ada dua orang lain lagi yang telah mencapai tingkat langit lapisan pertengahan.
Selain Hong Dong ada dua pendekar dari aliran putih yang juga telah mencapai tingkat langit. Salah satunya memiliki julukan Pendekar Pedang Giok.
Kekuatan dua pasukan yang mengepung itu seharusnya dapat menghancurkan pasukan penjaga kota He Bei. Namun sejak awal tidak ada satupun yang berhasil melukai mereka berdua.
Suro bukan mengulur waktu, tetapi menunggu saat yang tepat agar dapat melumpuhkan mereka semua sekaligus. Dia memiliki cara yang ampuh untuk melumpuhkan semua itu, yaitu dengan racun pelumpuh tulang.
Setelah mampu membuat para pendekar itu berkumpul mengepung dirinya, maka dia memulai rencananya. Tehnik perubahan air mulai dia kerahkan dengan sangat cepat.
Hasilnya terbentuklah kabut tebal melingkupi seluruh area pertempuran mereka.
Musuh mengira kabut pekat yang dikerahkan Suro hanyalah tehnik perubahan air biasa. Beberapa pendekar yang berasal dari Perguruan Lembah Beracun, telah memastikan jika tidak ada racun terkandung didalam kabut tersebut.
Karena itu para pendekar dari Lembah Beracun cukup percaya diri memilih meneruskan serangan mereka. Meskipun saat itu Suro sudah tidak lagi mampu dilihat secara kasat mata, sebab begitu pekatnya kabut yang di buat oleh pemuda itu.
Tetapi mereka tidak kehilangan akal, seluruh pendekar laku menghujani dengan serangan berupa senjata rahasia. Tidak terhitung berapa banyak senjata yang melesat secara serentak ke arah kabut tebal itu.
Mereka mengira serangan itu dapat melukai musuh. Namun seluruh senjata rahasia milik para pendekar itu berhasil dihalau oleh pedang terbang milik Suro. Sejak awal bilah-bilah pedang itu juga yang menghalangi mereka dapat mendekat.
Melihat serangan mereka dapat dipatahkan, maka para pendekar dari Lembah Beracun kali ini menyerang Suro dan Geho sama dengan jurus beracun.
Melihat pengerahan ilmu beracun, maka para pendekar aliran putih yang dipimpin seseorang yang berjuluk Pendekar Pedang Giok, akhirnya memilih menyingkir.
Disaat para pendekar Lembah Beracun mulai menyerang dengan racun dari empat sisi yang berbeda, maka Suro juga mulai mengerahkan racun pelumpuh tulang. Tetapi serangan racun yang dikerahkan Suro digabungkan dengan tehnik perubahan air-racun.
Beberapa saat setelah ledakan kekuatan yang dikerahkan Suro, para pendekar belum menyadari apa yang telah terjadi.
Pandangan mereka masih terpaku kepada dua makhluk yang tertawa-tawa kecil. Sebab keduanya sedang bertaruh seberapa cepat racun pelumpuh tulang itu beraksi.
"Tiga hembusan nafasku mereka semua akan segera merasakan racun pelumpuh tulang milikku.." Suro tertawa, sebab Geho sama menyangkal ucapannya dan berani membelikan ayam goreng kepadanya, jika perkiraannya itu salah.
Persis seperti yang telah diucapkan Suro, mendadak seluruh pendekar itu ambruk tanpa mengetahui apa yang telah terjadi. Kaki mereka lemas tidak mampu menyangga tubuhnya.
"A..apa yang telah terjadi? Apakah ini racun pelumpuh tulang! Kurang ajar! Berarti kau adalah bagian kelompok pembunuh bayaran Mawar Merah!" Hong Dong tetua dari Perguruan Lembah Beracun yang pertama kali mengetahuinya.
Pendekar itu merupakan salah satu guru besar dalam Perguruan Lembah Beracun. Dengan posisinya itu tentu pemahamannya mengenai ilmu racun sangat luas.
Karena itulah dia segera mengetahui, sesaat setelah tenaga dalam miliknya mendadak melemah dengan cepat dan menghilang.
Saat mereka menyadari hal itu, semua sudah terlambat. Sebab mereka kini tak ubahnya seperti orang lumpuh.
Suro mengetahui, jika racun itu dapat melukai orang-orang yang tidak bersalah. Karena itu untuk mencegah sebelum terjadi, dia telah menarik dan mengumpulkan semua kabut beracun kembali kepadanya.
Dia lalu mengubah semua kabut yang menyebar berkumpul. Dia berhasil memisahkan kandungan air dan racun yang terkandung dalam kabut. Semua racun itu lalu dimasukan ke dalam botol.
"Selesai sudah...Geho sama, ingat ayam goreng untukku jangan kau lupakan," ucap Suro sambil memasukan botol kebalik bajunya.
Dia tidak ingin mensia-siakan racun yang bahannya sangat susah dicari itu. Melihat tehnik perubahan air yang dilakukan Suro barusan, Hong Dong yang seorang ahli racun sekalipun dibuat terkejut. Sebab apa yang dilakukan, dia tidak akan berani melakukannya.
Tindakan itu seperti melakukan bunuh diri, sebab jika tehnik yang dilakukan tidak sempurna maka akan mencelakai dirinya sendiri. Hong Dong segera menyadari, jika pemuda belia itu memiliki tehnik tingkat tinggi yang dia sendiri tidak sanggup melakukannya.
Tetapi yang membuat Hong Dong cukup terkejut, adalah serangan racun yang mereka kerahkan sebelumnya tidak berdampak sedikitpun. Suro maupun Geho sama tetap dapat tegak berdiri tanpa ada reaksi keracunan.
Seharusnya racun miliknya dapat membunuh gajah sekalipun dalam hitungan jari dan akan terkapar tak bernyawa. Tetapi dua musuhnya itu justru terlihat segar bugar tanpa kekurangan sedikitpun.
"Kau...kau pasti bekas pasukan kelompok Mawar Merah yang telah dibubarkan, berani sekali membuat kekacauan di kota He Bei!" Hong Dong memaksakan suara berteriak keras ke arah Suro.
**
"Pemuda itu cukup menarik, dia mampu bertahan dari serangan racun milik Perguruan Lembah Beracun. Bahkan mampu menyerang balik. Menggunakan racun untuk melawan racun sebuah strategi yang tidak biasa." Dewa Obat cukup terkejut melihat hasil dari jalannya pertarungan.
Tangannya tidak berhenti mengusap-usap jangutnya. Dari ketinggian dia dapat melihat jelas, jika kemampuan pemuda itu memang tidak mengecewakan.
"Pemuda yang menarik..."
Tetapi lelaki tua itu tidak puas melihat Suro tidak segera menghabisi para pendekar yang telah berhasil mereka lumpuhkan. Karena itu dia segera melesat turun.