
Setelah memastikan pasukan yang ikut masuk ke dalam goa sudah berada pada tingkat langit, maka Suro segera memimpin para pendekar itu memasuki goa tempat sarang Kirin Neraka.
Mereka berjalan beriringan memasuki goa besar yang berada di bagian dinding tebing. Di sebelah agak ke atas dari mulut goa itu berdiri patung yang sangat besar. Tinggi dari patung itu lebih dari empat tombak.
Terlihat dinding goa itu begitu licin dan menghitam karena sering dilewati makhluk Kirin Neraka yang sekujur tubuhnya diselimuti kobaran api.
Para pendekar yang berada pada tingkat langit memilih berada di bagian paling belakang. Mereka cukup berhati-hati memasuki mulut goa.
Apalagi sebelumnya Suro sudah memperingatkan mereka semua mengenai aura sesat yang keluar dari dalam goa. Kemungkinan goa itu menjadi tempat tinggal bangsa Shurala. Atau makhluk yang tercipta karena teracuni oleh kekuatan Dewa Kegelapan.
Dari pengalaman Suro dalam menghadapi para makhluk kegelapan itu tidak semudah menghadapi pendekar paling kuat sekalipun. Kekuatan pemulihan para Shurala yang sangat cepat membuat makhluk itu mustahil dibunuh.
"Paman Zhang, sebelumnya paman menyebut didalam goa besar ini ada banyak telur dari benih iblis, apa maksudnya telur dari benih iblis?" Suro menatap Pendekar Zhang Yuan yang berada disampingnya.
"Bibit iblis...," Pendekar Zhan Yuan menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.
"Istilah itu hanyalah sebutan untuk sesuatu yang pernah di gambarkan oleh seorang yang dulu katanya pernah memasuki goa ini."
Pendekar Zhang Yuan berbicara sambil menatap dinding goa. Dia seperti tidak mempercayai telah masuk ke dalam goa yang menjadi sarang para Kirin Neraka.
"Pendekar yang berhasil masuk pertama kali dan keluar dengan selamat, karena memiliki ilmu meringankan tubuh cukup tinggi dan juga ilmu perubahan es yang sanggup menahan hawa panas di dalam goa ini." Pendekar Zhang Yuan kembali menatap Suro memastikan jika pemuda itu mendengar ucapannya.
Dari penjelasan panjang Pendekar Zhang Yuan diketahui jika Bibit Iblis merupakan cikal bakal dari makhluk yang mampu mengambil alih tubuh manusia dan menjadikannya sebagai inangnya. Makhluk itu hidup dengan menyerap hawa kehidupan seseorang, hingga habis.
Maka dia dapat berpindah kepada tubuh manusia lain dan mengendalikan seluruh kekuatan dan kesadaran manusia itu secara penuh. Tetapi telur dari bibit iblis itu tidak akan menetas, jika hawa sesat yang melingkupi tidak cukup pekat.
Konon katanya Kaisar Qing Shi Huangdi berhasil menyatukan Negeri Atap Langit menjadi satu kekaisaran dan menjadikan kaisar pertama adalah berkat peran dari bibit iblis.
Kunci Langit yang dia miliki menjadi pemicu bagi telur dari bibit iblis dapat menetas. Sebab kemampuan unik dari pusaka iblis itu salah satunya adalah mampu menarik hawa kesesatan dalam radius yang sangat jauh.
Dengan adanya pusaka itu disekitar telur itulah yang memancing para bibit iblis terlahir ke dunia. Pasukan dari manusia yang dirasuki bibit iblis lah yang akhirnya mengantarkan seorang raja dari Kerajaan Qing menjadi kaisar pertama di Negeri Atap Langit, yang tak lain adalah Kaisar Qing Shi Huangdi.
"Jadi seperti itu," Suro menganggukkan kepala selesai mendengar penjelasan Pendekar Zhang Yuan.
"Bisa dikatakan aku memang mengaitkan cerita itu, setelah mendengar tentang pusaka Kunci Langit dari pendekar muda Suro," jawab Pendekar Zhang Yuan mengikuti langkah Suro yang berada didepan memimpin seluruh pasukan memasuki goa.
Mereka terus memasuki goa itu, namun langkah mereka terhenti dengan cabang terowongan didepan mereka.
"Kemana arah yang akan kita tuju?" Dewa Rencong bertanya kepada Suro yang berjalan berada didepannya.
Suro tidak segera menjawab, dia mulai mengerahkan empat sage untuk mendeteksi aura sesat yang sebelumnya sudah dirasakan Suro saat masih berada di mulut goa.
"Aura kekuatan ini terasa tidak asing lagi. Aku yakin ini semacam Shurala atau makhluk kegelapan."
Setelah memastikan dengan tehnik empat sage, Suro lalu melangkahkan kaki ke arah lorong besar yang ada disebelah kanan.
Selain itu secara kasat mata dengan melihat dinding yang begitu halus dan lebih gilap dibandingkan sisi yang lainnya, dengan mudah diketahui jika jalan yang mereka lewati adalah yang sering digunakan para Kirin Neraka untuk berlalu-lalang.
Setelah masuk ke dalam lorong itu disebelah dalam alih-alih gelap gulita, justru terlihat lebih terang. Namun hawa panas segera menyeruak keluar. Selain itu aura kekuatan yang sempat dijelaskan Suro di awal juga mampu dirasakan para pendekar yang lain.
"Berarti memang tidak salah dari cerita yang ada, jika para Kirin Neraka itu menyerap kekuatan api dari panasnya api neraka didalam bumi." Pendekar Zhang Yuan menggumam pelan sambil menatap ke arah depan.
Didepan mereka sebuah lubang kawah besar yang berisi magma bergejolak ditengah-tengah ruangan yang berada didepan mata. Jalan yang mereka lalui membentang membelah kawah besar itu.
"Hati-hati kalian semua, aku curiga di dalam kawah ini ada makhluk yang hidup didalamnya!" Sebelum mulai meneruskan jalan Suro memberi peringatan kepada yang lain.
"Benar, sebaiknya kalian waspada. Aku juga merasakan aura kekuatan dibawah kawah ini, entah makhluk apa yang mampu hidup didalam kawah panas menggelegak seperti ini?" Geho Sama membenarkan ucapan Suro.
Pandangan semua mata langsung tertuju ke arah kawah yang membara. Keringat mulai membasahi tubuh para pendekar. Entah karena panas yang timbul dari kawah atau karena mereka ketakutan.
Tapi yang jelas jalan yang akan mereka lewati membentang cukup jauh membelah ditengah kawah berjarak lebih dari sepuluh tombak. Karena memang diameter dari kawah yang ada dalam goa itu sangatlah lebar.
Kawah itu mirip kolam raksasa penuh dengan magma yang merah membara. Letupan-letupan api yang muncul seperti suara gerungan hewan buas, membuat suasana semakin menakutkan.
Satu langkah dua langkah tidak terjadi apa-apa. Suro sempat ragu untuk meneruskan langkahnya. Melalui getaran yang ditangkap telapak kakinya, dia sempat menangkap gerakan di kawah sebelah kanan yang cukup janggal.
Setelah dia perhatikan kembali itu adalah gelembung udara yang terperangkap dan meletup cukup keras. Suro bahkan sampai menoleh ke arah Geho Sama yang ada dibelakangnya.
"Kau yakin gerakan barusan bukan dari makhluk yang aura kekuatannya berhasil kita rasakan?"
Geho Sama hanya menganggukkan kepala. Tehnik Empat Sage dia dikerahkan dengan jangkauan lebih luas untuk memastikan kembali, jika memang tidak ada makhluk yang ada didalam kawah itu.
"Bagaimana kau tidak yakin bocah, bukankah sebelumnya kau mampu mendeteksi aura dari tempat yang jauh? Bukankah sekarang area yang kau deteksi berada didepan matamu?" ucap Dewa Rencong yang menganggap pertanyaan Suro terasa aneh, sebab sebelumnya dia sanggup merasakan aura ditempat yang cukup jauh.
Suro tidak segera memjawab pertanyaan Dewa Rencong, justru yang menyahut adalah Geho Sama. Sebab memang ilmu itu berasal dari Geho Sama, sehingga yang pantas menjawab pertanyaan itu adalah dirinya.
"Tehnik empat sage pada dasarnya menyerap semua energi alam. Termasuk diantaranya adalah energi makhluk hidup. Dengan adanya kawah ini membuat rancau diriku untuk memastikan keberadaan makhluk di dalam kawah," gumam Geho Sama sambil melanjutkan langkahnya dibelakang Suro.
"Apalagi aura sesat diseberang sana terasa begitu kuat. Agaknya lawan kuat yang akan kita hadapi ada diseberang sana." imbuh Geho Sama.
Belum genap mereka sampai ditengah jalan yang membelah kawah itu, mendadak sekilas sosok melesat diatas mereka dengan warna merah membara. Sosok itu hendak menerkam rombongan para pendekar.
"Merunduk! Lodra!"
Teriakan keras dari Suro membuat semua berebutan untuk tiarap.
Suro segera melesat menghadang sesuatu yang barusan muncul di tengah kawah. Pedang Kristal Dewa sendiri telah mendahului tuannya dan melesat menerjang ke arah sosok barusan.
Sambil melesat Suro berteriak keras, "kalian cepat menyebrang ke arah sana, aku akan menahan makhluk ini!"
Mendengar teriakan itu mereka langsung melesat cepat menuju ke sisi lain. Tetapi karena tidak sabar para pendekar memilih melesat terbang untuk menyingkat waktu.
Tetapi cara seperti itu justru bukan langkah yang tepat. Tujuan Suro mengajak mereka melangkah satu demi satu adalah mengantisipasi serangan yang tidak terduga dari dalam kawah.
Dengan berpikir mampu terbang melintasi kawah itu mereka merasa aman, tetapi siapa sangka itu justru berbuah malapetaka.
Wuuusssh...wuuushh...wuuuushhh
Graup...graup..
Aaaaarrrggghhh...
Aaaarrrrgggghhh...
Tanpa mereka duga tindakan mereka yang melesat tinggi itu justru memancing kawanan dari makhluk yang berusaha ditahan oleh Suro barusan. Akhirnya kejadian mengerikan tidak dapat lagi dihindari.
Seperti sebuah pembantaian makhluk yang muncul dari dalam kawah itu melesat menangkap tubuh pendekar dengan mulutnya. Mereka semua dalam satu terkaman langsung amblas ditelan masuk ke dalam perut hewan itu.