SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 101 SERANGAN SILUMAN DI PERGURUAN PEDANG HALILINTAR part 4



Siluman api yang menyerang bukan hanya ada satu, tetapi ada lima siluman yang menyerang secara serentak dibagian utara. Mereka kemudian bergerak memencar menghancurkan segala hal yang mereka temui.


Tubuhnya yang terbuat dari api menjulang tinggi sekitar dua tombak. Sebenarnya wujud itu bukan tubuh asli dari siluman itu. Tetapi hanyalah bagian dari perwujudan rambutnya yang terbuat dari api. Siluman ini sejenis yang dihadapi Suro saat akan memasuki hutan. Mereka menyebutnya siluman banaspati.


Siluman itu menyembunyikan tubuh aslinya didalam kobaran api yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Kobaran api yang begitu tinggi seakan wujud raksasa dari neraka yang akan membakar apapun yang dilewati dan apapun yang ditemui.


Selain kebakaran yang ditimbulkan oleh kobaran api yang berasal dari wujud tubuhnya yang terbentuk dari api, para siluman itu juga menyerang ke segala arah dengan melontarkan bola-bola api yang terlihat keluar dari mulutnya. Ledakan bola-bola api itu sangat dahsyat, seperti hantaman sebuah meriam mampu meledakkan rumah dan membakar habis.


Bola api itu adalah bentuk energi yang di padatkan, sehingga mampu meledak dan menyemburkan api yang besar ke segala arah. Banyak anggota perguruan yang harus meregang nyawa terkena serangan itu.


Tanpa menunggu lama kepanikan segera melanda seluruh sisi utara dari Perguruan Pedang Halilintar. Area kebakaran juga semakin meluas membuat suasana menjadi bertambah kacau. Tanpa ada lawan yang mampu menghentikan langkah para siluman membuat serangan mereka semakin menjadi-jadi.


Para tetua yang berjaga di bagian sisi utara datang agak terlambat beberapa seruputan teh. Tetapi dalam waktu yang sebentar itu telah membuat kekacuan dan kehancuran yang besar. Para tetua segera bergerak cepat untuk menghentikan serangan siluman semakin meluas.


Pertarungan langsung pecah begitu para tetua telah berhadapan satu lawan satu dengan para siluman itu. Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam juga Eyang Baurekso yang merupakan guru besar Perguruan Pedang Halilintar segera mengerahkan kekuatan mereka untuk menyerang para siluman.


Tiga sisa siluman yang ada, dihadapi oleh tetua lainnya. Mereka salah satunya dari Champa dan dua yang lainnya berasal dari daerah Malaka.


Hantaman energi sabetan pedang mereka tidak mampu melemparkan tubuh api yang menyala begitu tinggi. Justru mereka berkali-kali diserang balik dengan berbagai bentuk serangan yang tak lazim.


Serangan bola-bola api bagi para tetua bukan masalah besar bisa dengan mudah mereka patahkan. Tetapi cambuk-cambuk api yang mucul disekujur tubuh siluman itu begitu merepotkan.


Seperti yang sedang terjadi pada tetua yang merupakan guru besar Perguruan Inyiak Balang. Walaupun terlihat kerepotan tetapi gerakannya yang menyerupai seekor harimau itu mampu menghindari terjangan cambuk api yang mengejarnya.


Jdaaar!


Sebuah hantaman cambuk api hampir saja mengenai tubuhnya, tetapi dengan lincah dia dapat menghindarinya dengan baik. Meskipun serangan yang datang bertubi-tubi agaknya tidak membuat Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam kelihatan panik. Dia justru terlihat begitu tenang menghadapi setiap serangan siluman yang datang.


Tubuhnya berjumpalitan menghindari setiap serangan yang begitu mematikan. Saat dia mendapatkan posisi yang pas dia segera memberikan serangan balik. Serangan yang dia kerahkan berupa pukulan harimau yang dilambari kekuatan petir yang sangat kuat.


Hentakan kekuatan pukulan itu dilambari kekuatan tingkat shakti tahap pertengahan. Begitu pukulan itu dilepaskan maka kekuatannya begitu mengerikan menghantam tubuh siluman Banaspati.


Kekuatan pukulan yang begitu besar ternyata tidak mampu melemparkan tubuh siluman yang berwujud api yang berkobar. Dari bekas pukulan sebuah lobang menganga lebar menembus kebelakang, kemudian dengan cepat bagian yang berlobang itu tertutup oleh kobaran api.


Tubuh siluman yang asli berhasil menyingkir menuju bagian tubuh lainnya, sehingga dia bisa selamat dari terjangan pukulan itu. Tubuh palsunya yang berupa kobaran api tidak terpengaruh sama sekali dengan kuatnya pukulan yang dilepaskan tetua.


"Apa itu barusan?"


Pergerakan tubuh asli dari siluman sempat tertangkap oleh mata Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam yang begitu tajam, menyala selayaknya mata seekor harimau.


'Akan aku pastikan makhluk apa yang barusan sekilas terlihat bergerak.'


Dan benar saja, begitu gerakan yang sempat tertangkap matanya berhasil dipukul, maka sesosok tubuh yang bajang dengan kulit hitam legam terlempar keluar.


"Makhluk apa itu?"


Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam terperanjat setelah makhluk itu terlontar dari tubuh api yang berkobar. Dia segera bergerak menyusul, tetapi siluman itu tidak membiarkan lawannya mengejar dirinya. Serangan beruntun segera menghajar Tetua Datuk Rajo Mustiko. Baik bola-bola api yang langsung meledak begitu menghampiri dirinya juga hantaman cabuk api membuat tetua itu terpaksa menghentikan langkah pengejarannya.


"Aku tidak mengira raksasa yang berwujud api itu, bukanlah wujud yang sebenarnya. Ternyata dibelakangnya sosok kerdil itu yang merupakan wujud aslinya.'' Tetua Datuk Rajo Mustiko hanya memandang tubuh siluman itu menghilang. Dia menyadari hal itu sebab begitu manusia bajang itu terpukul dan melontarkan tubuhnya cukup jauh, raksasa yang berwujud api itu juga langsung menghilang.


"Sebaiknya aku memberitahukan hal ini kepada para tetua lainnya." Melihat musuhnya kabur, dia segera berbalik mencoba membantu para tetua yang masih bertarung dengan para siluman.


"Serangan kalian pusatkan pada tubuh aslinya! Jika kalian perhatikan didalam tubuh api yang menjulang tinggi itu ada bayangan hitam. Pusatkan serangan kalian pada titik itu!" Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam berteriak ke arah rekan-rekan nya yang masih berjibaku dengan para siluman yang mengamuk.


Mendengar teriakan dari Datuk Rajo mereka segera melakukan seperti yang didengar. Setelah mereka memperhatikan kedalam kobaran api yang menghajar mereka tanpa henti, sekilas terlihat sesosok yang terus bergerak mengatur arah serangan api miliknya.


"Benar, aku menemukannya!" Eyang Baurekso segera menemukan sosok yang dimaksud.


Blaaar! Blaar!


Setelah itu secara berturut-turut mereka semua berhasil melemparkan wujud asli dari siluman tersebut dengan energi tebasan pedang milik mereka.


"Kita kejar mereka! Jangan biarkan kali ini mereka lolos!" Eyang Baurekso yang merasa telah mampu mengalahkan para siluman segera bergerak cepat mengejar para siluman sampai keluar dari padepokan. Di belakangnya para tetua bergerak cepat mengikutinya.


Siluman itu melesat cepat, sehingga jika dilihat dari jauh seperti empat obor yang terbang. Kecepatan para siluman itu sangat mengagumkan. Kondisi itu memaksa para tetua bergerak dengan kecepatan maksimal.


Dalam satu seruputan teh mereka telah jauh dari Padepokan. Beruntung walaupun dalam kondisi gelap mereka terbantu dengan penampakan para siluman yang menyala seakan obor besar, sehingga masih terlihat meski sudah berjarak cukup jauh dari para tetua.


"Kita habisi mereka sebelum bergerak lebih jauh lagi! Secara bersama-sama kita mengerahkan jurus Tebasan Sejuta Pedang!" Eyang Baurekso memberi intruksi sambil berlari mencoba menyatukan serangan dengan para tetua lain yang berlarian disampingnya. Dia berpikir jika serangan dapat dilakukan serentak tentu keberhasilannya lebih besar.


Untuk memperlambat gerakan siluman Eyang Baurekso mengerahkan energi tebasan angin dengan kekuatan penuh.


Blaaar!


Siluman itu terlempar sejauh lima tombak membuat mereka terkapar ditanah. Dalam satu seruputan teh siluman itu kembali bangkit mencoba melarikan diri.


Blaaaar!


Saat siluman itu mencoba bangkit kembali serangan susulan dari para tetua segera menghajar mereka. Kekuatan serangan susulan kali ini menggunakan Jurus Tebasan Sejuta Pedang. Ribuan sinar yang membentuk pedang raksasa menghancur leburkan segala hal yang ada dihadapan mereka sejauh lebih dari dua puluh tombak.