SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 131 Mata Kutukan



"Akhirnya kita mampu menembus pertahanan pasukan Medusa." Dewa Pedang tersenyum dengan lebar.


Dihadapannya seluruh pasukan dari Perguruan Pedang Surga yang bertahan digerbang terakhir akhirnya dapat dia selamatkan.


"Aku tidak menyangka jika masih diberi kesempatan untuk melihat ketua." Eyang Tunggak Semi tersenyum lebar melihat Dewa Pedang telah hadir tidak jauh dari hadapannya.


Tetapi senyuman itu langsung sirna, sebab tubuhnya telah ambruk setelah bertahan mati-matian menahan serangan dari Dukun sesat dari Daha. Serangan jarum yang tak terhitung jumlahnya sebagian mengenai tubuhnya. Hanya tekadnya yang membuat raganya tetap berdiri untuk tetap memberikan perlawanan.


Lawannya telah kabur begitu rombongan dari pasukan Kalingga berhasil menghancurkan barisan pasukannya dari arah belakang. Dia juga melihat kedatangan Dewa Pedang dan dua orang yang menyertainya memporak porandakan pasukan yang mencoba menghalanginya.


Apalagi beberapa saat kemudian Medusa memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur ke arah timur. Dia dan juga seluruh pasukan Medusa yang berada digaris terdepan segera mengikuti perintah itu.


Melihat tetua Tunggak Semi ambruk membuat Dewa Pedang mengejarnya untuk menangkap tubuhnya.


"Cepat berikan pertolongan kepada tetua Tunggak Semi!"


Sebelum Dewa Pedang mendekati tubuh itu Eyang Sinar Gading telah memberikan jawaban.


"Tetua Tunggak Semi sudah pergi ketua." Eyang Sinar Gading langsung memberikan jawaban kepada Dewa Pedang setelah memastikan tidak ada lagi denyut nadi ditubuh yang lunglai itu.


Dia yang berada paling dekat dengan tetua Tunggak Semi segera menangkap tubuh rekannya itu. Sebelumnya secara bersama-sama mereka berdua menghadapi Dukun Sesat dari Daha. Musuhnya yang dikenal sebagai ahli racun memang sangat merepotkan dan terbukti racunnya sangat mematikan membuat tetua Tunggak Semi tak mampu bertahan lebih lama.


"Hmmmm...!"


Dewa Pedang ikut memeriksa tubuh tetua Tunggak semi. Dia hanya bisa menghela nafas panjang mengetahui salah satu tetuanya akhirnya pergi menyusul rekan-rekan lainnya.


"Berapa banyak yang tidak selamat dari seluruh pasukan kita yang ada?" Dewa Pedang langsung bertanya ke arah Tetua La Patiganna yang datang menghampirinya.


"Lebih dari sepertiga pasukan kita tewas dalam pertarungan ini!" Tetua La Patiganna terlihat lesu memberikan laporan kepada Dewa Pedang.


"Terima kasih kakang Tunggak Semi yang telah mempertaruhkan nyawamu demi keselamatan para anggota perguruan yang lain.


"Terima kasih kakang Patiganna telah memimpin pasukan, sehingga membuat pasukan perguruan ini mampu menahan serangan musuh yang begitu banyaknya."


"Lalu apa yang akan kita lakukan ketua?" Tetua La Patiganna bertanya ke arah ketua perguruannya yang telah berdiri, setelah memastikan tetua Tunggak semi sudah tidak mampu untuk diberikan pertolongan.


"Kita musnahkan biang keladi dari kejadian ini. Kita harus bisa memancung kepala Medusa."


" Benar saya setuju dengan pendapat pendekar Dewa Pedang. Kita harus menumpas habis perlawanan Medusa kali ini. Saya mewakili pasukan kerajaan Kalingga mendukung penuh niat tuan pendekar Dewa Pedang." Mahapatih Lembu Anabrang yang sedari tadi disamping Dewa Pedang segera memberikan dukungan.


"Baik! Selain yang terluka dan yang memberikan perawatan, semuanya ikut mengejar pasukan Medusa yang mundur ke arah timur!"


Begitu perintah Dewa Pedang turun semua pasukan langsung melaksanakan perintah tersebut. Mereka langsung bergerak mengejar pasukan Medusa ke arah timur.


**


Setelah sampai di hutan larangan Medusa memerintahkan seluruh pasukannya untuk terus menembus ketengah hutan itu. Awalnya mereka bertanya-tanya dengan maksud Medusa. Tetapi begitu mereka sampai ditengah hutan lebat itu mereka segera menyadari bahwa ada pintu gaib yang begitu besar.


Pintu itu mampu mengirim seseorang ke alam lain. Begitu besarnya pintu itu bahkan sebuah jung atau kapal besar sekalipun mampu melewatinya. Kondisi alam sekitar yang berada disebuah celah yang dihimpit oleh gunung besar membuat tempat itu tidak terlihat oleh dunia luar.


Tempat tersebut semakin jarang yang mampu menemukannya, karena diantara celah tersebut dari ujung ke ujung telah dijaga siluman yang tidak membiarkan sembarangan orang memasukinya.


Medusa yang memiliki akses ketempat itu dibiarkan lewat bersama seluruh pasukannya.


Terlihat tiga sosok melesat dengan cepat turun dari langit. Mereka bertiga kekuatannya telah mencapai tingkat langit, sehingga mampu membuat tubuhnya terbang.


Medusa segera menyadari siapa yang telah datang itu. Salah satunya dia mengenalinya dengan sangat baik. Sebab orang itulah yang memerintahkan dirinya untuk datang dan menjadi kepanjangan tangan dirinya di tanah Javadwipa.


Sudah puluhan tahun dirinya tidak melihat sosok itu. Tetapi dia tidak melihat perbedaan saat dirinya bertemu dengan paras yang dia lihat sekarang. Seperti tidak bertambah tua sedikitpun. Justru menurut Medusa sosok itu terlihat lebih muda.


"Aku paham sekarang atas semua hal yang terjadi. Kini aku juga memahami mengapa Sindurogo justru menyerang muridnya dan hendak menghabisinya. Ternyata selama ini semua adalah dalam rencana Sang Hyang Junjungan Batara Karang. Berarti termasuk juga membiarkan Lembu Jahanam alias Banteng iblis itu dibunuh Sindurogo." Medusa seperti baru memahami apa yang selama ini terjadi dari kedatangan mereka bertiga


Medusa segera mendekat dan menyambut ke arah tiga sosok yang diantaranya adalah Eyang Sindurogo hitam. Sang Hyang Antaga dan yang terakhir adalah Batara Sarawita.


"Sang Hyang Junjungan Batara Karang hamba sowan memberikan sembah pangabekti kepada sinuwun." Medusa menjura sangat dalam dihadapan ketiga orang tersebut.


"Siapa yang memerintahkanmu untuk mundur Medusa? Dan justru berani membocorkan lokasi ini kepada seluruh pasukanmu! Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Hyang Antaga keputusanku untuk memilihmu menjadi kepanjangan tanganku ditanah Javadwipa adalah salah satu kesalahan terbesarku. Lihatlah rambut ularmu yang aku anugerahkan kepadamu tidak bisa kau jaga dengan baik, bahkan sampai terpangkas habis seperti itu. Sungguh menjijikan memiliki anak buah sebodoh dirimu!" Batara Sarawita yang dipanggil oleh Medusa sebagai Batara Karang berbicara dengan penuh kemarahan.


"Apakah ini anak buahmu Sarawita?" Eyang Sindurogo hitam menghardik ke arah Batara Sarawita.


"Benar Sang Hyang Junjungan Sukmo Ngalemboro!"


"Kau tau Sarawita Apa hukumannya bagi siapapun yang berani mencoba menodai alam suciku?"


"Ampun Sang Hyang Sukmo Ngalemboro ini hanya kesalah pahaman belaka."


Medusa kebingungan melihat junjungannya dihardik oleh Eyang Sindurogo hitam seolah dia adalah bawahannya. Dan dari kalimatnya seolah Batara Karang atau Batara Sarawita ketakutan dengan perkataan Eyang Sindurogo.


Dia juga tidak memahami apa yang dimaksud hukuman dan alam suci yang disebut Eyang Sindurogo barusan. Kepalanya masih menunduk kebawah tidak berani mengangkat sedikitpun.


"Apakah aku peduli ini kesalah pahamanmu atau bukan?"


Batara Sarawita menarik nafas panjang dan mulai berjalan ke arah Medusa. Tanpa berkata apapun dia merengkuh kepala Medusa dan menebasnya. Medusa tidak sempat bertanya atau memahami apa yang terjadi karena sudah terpisah dari badannya.


"Berikan mata kutukan itu padaku Sarawita!" Eyang Sindurogo hitam menunjuk ke arah kepala Medusa yang masih berada ditangan Batara Sarawita.


Mata dari Medusa yang mampu membuat seseorang menjadi batu itu dengan kekuatan yang dimiliki Eyang Sindurogo hitam diambil dan dimasukan ke dalam lobang matanya yang selalu terpancar sebuah jilatan-jilatan api merah.


"Hahahahaha...! Mata ini sungguh bagus Sarawita anak buahmu ternyata masih ada kegunaanya, selain kebodohannya yang tidak memiliki obatnya itu."


"Nuwun inggih Sang Hyang Sukmo Ngalemboro." Batara Sarawita atau nama lainnya Batara Karang itu tertunduk didepan Eyang Sindurogo hitam.


Melihat pimpinannya dihabisi oleh Batara Karang para jagoan yang mendukung Medusa murka mereka segera menyerang. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh para tetua ular mereka justru menundukan kepalanya sampai menyentuh tanah, seperti orang yang sedang bersujud kepada seorang maharaja besar.


"Setan alas kau telah membunuh pimpinan pasukan kami! Aku pasti akan membunuhmu!" Teriakan kemarahan dari pasukan Medusa langsung pecah.


Tiga ratus orang lebih langsung menyerang Batara Karang dari berbagai sisi.


Duuuuum!


Suara seperti ledakan dalam radius hampir tiga tombak disertai sebuah terjangan api yang hanya berupa kilatan cahaya putih begitu terang menerangi hutan yang begitu lebat.


"Aku adalah Batara karang kalian kira dengan jumlah yang begitu banyak dapat mengalahkanku. Rasakan ilmu karang milikku!"


Ilmu karang yang dikerahkan Batara Sarawita sangat mengerikan karena mampu melepaskan kekuatan api yang dilepaskan secara konstan dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga semua orang yang mengeroyok dirinya langsung terhantam lesatan pancaran hawa yang sangat panas. Maka dalam sekejap itu juga membuat mereka semua terbakar menjadi abu.