SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 470 Keputusan khan Langit



"Kemana hilangnya pasukanku?" Khan Langit menatap tajam ke depan dimana pegunungan yang menjulang tinggi terpampang dengan jelas.


"Mereka kemungkinan masuk melewati lorong yang terlihat terus mengepulkan asap itu!" Seorang lelaki menjawab pertanyaan Khan Langit sambil menunjuk kepulan asap yang terlihat dari kejauhan.


Lelaki yang menjawab pertanyaan Khan Langit adalah salah satu dari empat Jendral tangan kanan Khan Langit. Lelaki itu memiliki nama kehormatan Jendral utusan selatan. Tetapi nama aslinya adalah Chagatai.


"Kemungkinan mereka telah mati semua dibantai pasukan kekaisaran yang memang menjebak pasukan kita sedari awal." Chagatai kembali meneruskan ucapannya.


Chagatai lah yang memberi saran kepada Khan Langit untuk tidak lagi mengejar pasukan yang sebelumnya terus mengejar pasukan Jendral Yuwen Huaji. Sebab kemungkinan besar mereka telah mati semua.


Mereka kemudian mendiskusikan jalan terbaik untuk menuju wilayah berikutnya tanpa melewati lorong yang membelah dua tebing besar penuh asap yang berjarak cukup jauh dari mereka berdiri.


Tetapi semua pilihan berjalan buntu. Sebab jika mencari jalan lain mereka harus memutar ke arah selatan sangat jauh. Bahkan membutuhkan waktu berhari-hari. Usul itu tidak diterima oleh Khan Langit.


"Apakah keberanianmu sudah sirna Chagatai?" Seorang lelaki gemulai berbicara sambil menutupi mulutnya dengan kipas ditangannya.


Lelaki gemulai itu dikenal sebagai utusan Timur. Tetapi nama aslinya adalah Yim Lan. Dia juga memiliki sebutan iblis bermuka dua.


Chagatai mendengus kesal mendengar sindiran Yim Lan.


Saat Khan Langit mencapai Tebing Besar Yangu, malam sudah mulai merangkak. Bahkan matahari sudah tidak lagi nampak. Kondisi itu akhirnya memaksa mereka menjadikan lembah di depan Tebing besar Yangu menjadi tempat pasukan Khan Langit untuk mendirikan


tenda.


Didalam tenda itulah tempat Khan Langit bersama orang-orang kepercayaannya sedang mendiskusikan berbagai masalah terkait peperangan. Terutama mereka sedang mencari pilihan terbaik selain melewati lorong di Tebing Besar Yangu.


"Maafkan hamba yang mulia raja segala penguasa padang rumput Khan Langit yang agung. Ijinkan hamba bersama beberapa pasukan hamba meneliti terlebih dahulu tentang perkiraan awal kita tentang nasib seluruh pasukan kita di lini terdepan setelah mengejar pasukan kekausaran.


Kami juga akan mencari tau tentang kondisi sekitar lorong Yangu yang terlihat penuh asap. Selain itu kami akan mencoba mencari jalan lebih aman terdekat dari sini selain melewati lorong Yangu." Lelaki yang barusan berbicara berbeda dari seluruh orang yang ada didalam tenda.


Sebab sekujur tubuhnya berwarna hitam. Seperti juga pasukan yang sebelumnya ikut mengejar pasukan kekaisaran.


Lelaki itu adalah seseorang yang sebelumnya bersama Batara Karang mendatangi Perguruan Seribu Hantu. Dia lah Jendral utusan utara yang bernama Jendral Ulagan.


"Jangan khawatir, kekuatan hamba sudah ditingkat surga, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bergerak seaman mungkin, sehingga tidak akan diketahui pasukan kekaisaran."


Khan Langit yang duduk di singgasana kebesarannya tidak segera menjawab permintaan Jendral Ulagan. Setelah agak lama terdiam dia lalu menganggukan kepala sebagai pertanda setuju memberi ijin kepada Jendral Ulagan yang hendak menyelidiki.


**


Pasukan yang dipimpin Jendral Yuwen Huaji tidak menyangka, hingga malam tiba, justru pasukan Khan Langit tidak bergerak dari tempat mereka berhenti. Alih-alih memutuskan mencari jalan lain, mereka justru mendirikan tenda.


"Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?" Kali ini Jendral Yuwen Huaji terlihat kusut memikirkan langkah musuh yang membingungkan.


"Sebaiknya kita tunggu saja Jendral Yuwen, aku rasa jika mereka bergerak menuju arah lain, maka kita dapat dengan mudah merek akan melewati jalur mana. Kita akan mempersiapkan jebakan sebelum mereka sampai.


Tetapi jika mereka memutuskan melewati lorong Yangu, maka sangat kebetulan sekali, kita pasti akan menghabisi mereka semua." Jendral Tian Bai memberikan jawaban yang membuat Jendral Yuwen Huaji tersenyum dengan begitu lebarnya, sehingga gigi hitamnya terlihat jelas.


Jendral itu memilih tetap berada diatas tebing tinggi sambil bersembunyi bersama pasukan pemanah dan juga pasukan Macan Hitam miliknya. Tetapi banyaknya pasukan yang tersebar di atas tebing, sehingga musuh akan mudah menemukan mereka jika mereka naik ke atas tebing itu.


Kondisi itu juga langsung diketahui Jendral Ulagan. Sebab tangan kanan dari Khan Langit itu menatap dari ketinggian yang tidak disadari oleh pasukan kekaisaran.


Setelah itu dia mencoba mencari jejak keberadaan pasukan terdepan mereka yang mendadak menghilang. Walaupun jejaknya dapat mereka pastikan mengarah menuju ke lorong Yangu bercampur dengan pasukan kekaisaran.


Tetapi setelah menemukan fakta pertama Jendral Ulagan memastikan pasukan lini terdepan mereka telah dihabisi di lorong Yangu.


Setelah itu dia terbang diatas udara untuk membaca seluruh daerah sekitar pegunungan yang menjadi tempat beristirahat pasukan Khan langit. Dia mencoba mencari alternatif lain menuju ke wilayah He Bei tanpa harus melewati lorong Yangu.


Tetapi setelah sekian lama dia terbang bersama beberapa pasukan miliknya yang sudah mencapai tingkat langit, akhirnya mereka memiliki kesimpulan seperti apa yang telah dibicarakan di awal, yaitu jalan untuk melewati paling dekat selain lorong Yangu berada sangat jauh.


Setelah itu mereka kembali menuju ke tenda dimana Khan Langit dan yang lain sedang menunggu cukup lama.


**


"Mengapa kau lama sekali Ulagan? Apakah saat kau terbang menemukan wanita yang membuatmu sayang untuk meninggalkannya?" Suara cempreng milik Yim Lan yang sengaja di buat semirip mungkin seperti seorang perempuan, justru semakin menegaskan jika dia sebenarnya adalah seorang lelaki.


"Kau pikir kipasmu itu mampu melindungi dari tanganku, jika hendak merobek mulutmu manusia jadi-jadian!"


Suara Jendral Ulagan terdengar pelan tetapi menyiratkan kebengisan dan teror yang membuat si mulut beracun Yim Lan terkunci dengan rapat.


"Apa yang kau temukan Jendral Ulagan?" Suara Khan Langit menghentikan tatapan tajam dari Jendral Ulagan kepada Yim Lan.


Lelaki itu lalu menjelaskan kepada semua tentang informasi yang dia kumpulkan bersama anak buahnya.


Dengan penjelasan itu membuat urat dahi semua kepercayaan Khan Langit mengerut penuh kecemasan.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan Ulagan? Apakah kau hendak mengiring kami masuk ke lorong ditebing besar itu, sehingga mati dibakar seperti nasib para pasukan kita yang sebelumnya terus mengejar musuh?" Ucapan Yim Lan memang pelan tetapi lebih tajam dibandingkan pisau.


Karena itulah kali ini Jendral Ulagan tidak menahan diri. Seperti ucapannya dia sebelumnya. Tanpa berbicara tubuh lelaki itu telah melesat mendekat ke arah Yim Lan dan melancarkan bogem mentah tepat ke mulut tajam itu.


Kipas besi sekelas pusaka bumi itu hancur dan menghantam mukanya sendiri terhantam oleh kuatnya pukulan Jendral Ulagan.


Sura tawa keras dari Chagatai langsung pecah, setelah sebelumnya dia juga dibuat kesal oleh Yim Lan.


"Hahaha...kali ini mukamu menyerupai setan, sangat pas sekali dengan julukanmu! Hahaha...!"


"Hentikan!" Khan Langit menggebrak meja batu didepannya hingga hancur.


Teriakan itu juga membuat tawa Chagatai langsung berhenti. Bahkan Yim Lan yang hendak membalas langsung mematung dan menarik kembali serangan yang hendak dia lancarkan.


"Apa kalian hendak mencoba kekuatanku!" Mata melotot dari Khan Langit menyapu keseluruh orang yang ada didalam ruang tenda besar itu.


"Akan aku putuskan, besok pagi buta kita akan menyerbu lorong Yangu. Tetapi sebelum itu dimulai, Jendral Ulagan harus menghabisi seluruh pasukan kekaisaran yang berada di atas tebing."


"Siap, titah Khan Langit yang agung akan hamba laksanakan." Jendral menjawab sambil menjura cukup dalam.


Kali ini Jendral Ulagan harus menelan ludah demi mendengar titah terakhir dari Khan Langit. Sebab perintah itu tidak mudah dilaksanakan dengan melihat jumlah dan kekuatan musuh yang menanti.


Apalagi sebelumnya dia menyaksikan sendiri, jika di atas tebing Yangu pasukan kekaisaran yang sedang menunggu pasukan Khan Langit melewati lorong, banyak yang sudah ditingkat langit.