SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
PERTARUNGAN TAHAP FINAL part 4



Setelah Azura mampu menembus pertahanan Tetua La Patiganna, maka dia telah dianggab memenangkan pertarungan. Dengan kemenangan itu dapat dipastikan posisinya telah aman untuk meraih jabatan tetua muda.


Kemenangan yang mengantarkan dirinya untuk mendapatkan jabatan tetua muda bukan satu-satunya hal yang membuat Azura terlihat begitu bahagia. Wajah Azura justru tersenyum sumringah setelah mendapatkan tawaran Tetua La Patiganna untuk menjadi muridnya.


"Beruntung kamu kisanak mendapatkan tawaran tetua La Patiganna yang seorang Dewa Rencong pun segan padanya." Datuk Bandaro yang duduk didekat Azura membuka percakapan.


Azura terkejut mendengar perkataan sesama murid utama itu. Beberapa saat dia terdiam tidak menjawab. Dia tidak terkejut dengan apa yang dikatakan kepadanya tetapi dia tidak menyangka orang yang sedari awal berada didekatnya itu tidak berbicara kepada siapapun, kini dia mengajaknya berbicara.


"Benar sekali kisanak, seperti mendapatkan durian runtuh saja rasanya. Aku juga sudah mendengar sejak lama kiprahnya tetua itu di dunia persilatan. Membuat kemenanganku kalah membahagiakan dibandingkan dengan janji tetua La Patiganna akan mengangkatku menjadi muridnya." Azura ingin mengajaknya berbicara lebih banyak, tetapi seperti sebelumnya sorot matanya yang begitu tajam kembali mengacuhkan dirinya. Mulut Datuk Bandaro kembali terkunci diam seribu bahasa, tidak memberi tanggapan apapun atas ucapan lawan bicaranya. Azura hanya bisa mengaruk-garuk kepala melihat perubahan sikap peserta yang susah ditebak itu.


Eyang Kaliki terlihat berjalan ke arah arena pertarungan sepertinya giliran dia untuk menunjukan kebolehannya. Dewa Rencong yang disodori bumbung berisi nama para peserta segera mengambil satu gulungan untuk dia baca.


"Peserta berikutnya yang akan berhadapan dengan tetua Kaliki adalah....! Widura! Silahkan peserta yang disebut namanaya segera turun ke arena pertarungan!"


Widura segera turun ke arah arena dimana Tetua Eyang Kaliki telah menunggu bersama Dewa Rencong. Setelah sampai dihadapan mereka, dia segera menjura ke arah dua pendekar itu.


"Murid sudah hadir tetua! Mohon petunjuk selanjutnya dari para tetua!" Widura kembali menjura.


"Nakmas sudah tahu bukan aturan dibabak ini?"


"Nuwun injih tetua! Murid hanya diberi tiga kali kesempatan untuk menyerang. Jika sampai pada kesempatan ketiga tidak mampu menembus pertahanan tetua dan justru serangan murid mampu dipatahkan oleh tetua, maka murid dianggab kalah."


"Bagus jika nakmas sudah memahami aturannya. Silahkan nakmas bersiap!"


"Nuwun injih tetua!" Widura kemudian mencabut bilah pedang dari warangkanya.


"Bukankah itu pusaka Pedang Nujum yang terkenal itu?"


"Benar tetua!"


"Hahahahaha....! Memang gurumu masih tidak mempercayai kemampuan muridnya sendiri yang mampu melewati setiap tahap dengan begitu mudahnya. Sampai memberikan pusaka Pedang Nujum itu untuk bisa melalui tahap ini! "


"Tentu saja, guru hamba mempercayai kemampuan yang murid telah kuasai. Tetapi beliau juga telah memahami seberapa mengerikan kekuatan seseorang yang telah diangkat menjadi tetua Sekte Pedang Surga."


"Hahahaha...Sepertinya wakil ketua Udan Asrep tidak ingin kehilangan muka dalam perebutan jabatan tetua muda ini!"


Pedang Nujum adalah salah satu pusaka yang dimiliki Eyang Udan Asrep. Kehebatan pusaka ini begitu menggetarkan karena kekuatannya yang mampu membuat pengunanya memiliki kekuatan yang berkali lipat dari sebelumnya. Jika mampu bersatu dengan roh pedang itu maka akan membuat setiap serangan yang dilakukan pengunanya bisa begitu menakutkan.


Hal itu dikarenakan kekuatan dari Pedang Nujum tersebut mampu membuat kejernihan berpikir. Sehingga penggunanya seakan mampu membaca gerakan lawan dan mampu memprediksi langkah berikutnya. Hal yang paling menakutkan dari kekuatan itu adalah kemampuan pengunanya bisa memperkirakan gerakan lawan selanjutnya. Dan membuat serangan mematikan ke arah lawannya. Dari kemampuan itulah mengapa pedang pusaka itu memiliki julukan Pedang Nujum.


"Silahkan nakmas mulai menyerang jika sudah siap!"


Widura mengangguk kemudian mulai bergerak cepat ke arah tetua. Serangan Widura terlihat begitu bertenaga, karena memang sejak awal dia berencana akan mengunakan setiap kesempatan yang ada dengan kekuatannya yang maksimal.


Setelah melalui latihan tiga purnama membuat dirinya sepenuhnya bisa menguasai pusaka tersebut. Dengan penguasaan pedang itu membuat setiap serangannya lebih terarah. Serangan yang dilakukan Widura walaupun terlihat lebih hebat dari babak sebelumnya, tetapi kemampuan lawannya adalah seseorang yang telah berada di tingkat shakti. Dengan kemampuan yang hebat itu tentu bukan masalah yang terlalu besar untuk menangkis maupun menghindari serangan Widura.


Ujian terberat dalam seleksi ini memang terletak pada tahap terakhir. Sebab benteng penguji mereka adalah para tetua yang sudah berada ditingkat shakti. Mengapa istilah benteng ini digunakan karena mereka para peserta diibaratkan sebutir telor yang harus berhadapan dengan sebuah batu karang.


Sejak awal Widura menyadari bahwa lawan yang dia hadapi tak seperti lawan pada babak yang sebelumnya. Maka tanpa menahan kekuatannya lagi sejak awal serangan dia sudah melakukan dengan kekuatan penuh.


Rahasia dari begitu mudahnya dia mengalahkan lawannya sedikit banyak karena kekuatan pedang nujum yang dia gengam, selain kekuatannya memang diatas rata-rata. Tetapi saat berhadapan dengan lawan yang selevel seorang tetua, efek kemampuan yang dia perlihatkan pada babak sebelumnya seakan menghilang.


Widura adalah seorang murid terbaik disekte pusat. Kemampuan tempur dan kecerdasannya diatas rata-rata. Tingkat pedangnya sudah hampir melewati tahap hawa pedang. Ditambah dengan pedang nujum ditangannya telah membuat kemampuan dia setingkat seseorang yang telah mencapai tahap hati pedang tingkat awal.


Serangan Widura menyusup disetiap celah pertahanan tetua yang terbuka. Tetapi berkali-kali itu juga serangannya mampu ditangkis dengan mudah. Melihat serangan yang dia lakukan selalu dapat dipatahkan maka Widura menambah kecepatan serangannya. Tetapi setiap kecepatannya bertambah begitu pula yang dilakukan Tetua Eyang Kaliki.


Widura adalah murid dari wakil ketua Sekte Pedang Surga, Eyang Udan Asrep yang merupakan tokoh terkuat setelah Dewa Pedang. Dengan kondisi itu tidak mengherankan jika dia telah mencapai tingkat yang begitu luar biasa. Tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi tahap kelima. Satu tingkat lebih tinggi dibandingkan apa yang telah dicapai Azura yang sudah mencapai tingkat tinggi tahap keempat. Hal itu tidak terlepas dari bakat dan juga bimbingan gurunya yang melatihnya dengan begitu baik.


Selama ini tidak ada seorang muridpun yang mampu mengalahkan dirinya dalam latihan tanding. Pertarungannya dibabak-babak sebelumnya juga dia lalui dengan begitu mudah. Lawan yang dia hadapi bukan lawan yang seimbang untuk menjadi lawannya.


Tetapi kini saat menghadapi lawan yang selevel para tetua dia baru menyadari dan telah membuka wawasannya. Kekuatannya yang dia bangga-banggakan selama ini dihadapan para tetua seakan sebutir telur yang berhadapan dengan batu karang. Sekeras apapun dia melakukan perlawanan semua serangannya mampu di tangkis dan dihindari dengan begitu mudah.


Setelah beberapa kali dia mencecar bilah pedangnya ke arah tetua tak membuahkan hasil membuat dia merasakan frustasi. Sebuah perasaan yang mungkin sama, seperti yang telah dirasakan Mahesa saat menghadapi Eyang Sinar Gading.


Hantaman keras dari serangan balik Eyang Kaliki membuat Widura terlempar cukup jauh. Tetapi alih-alih gentar dengan kekuatan tetua yang begitu kokoh, justru dengan terlempar memberi kesempatan bagi dirinya untuk mengambil nafas untuk mengumpulkan tenaga. Dia segera bangkit berdiri. Matanya menatap tetua Eyang Kaliki dengan tajam, mewaspadai gerakan lawan jika meneruskan serangannya.


"Bagaimana rasanya tulang tua ini anak muda? Hahahaha....!"


"Terima kasih atas petunjuk dari tetua, membuat murid bisa mengukur kembali kemampuan yang sudah dicapai. Ternyata tidak lebih dari seujung kuku dibandingkan kekuatan para tetua yang begitu mengerikan."


"Benar tetua, tetapi untuk menghadapi kekuatan tetua yang begitu hebat, seperti tak ada artinya!"


"Mohon petunjuk lebih banyak lagi tetua!"


Selesai berbicara tubuhnya segera menerjang cepat memulai serangannya kembali.


"Muridmu kali ini tidak semulus pada babak sebelumnya. Menurut Wakil ketua, apakah muridmu kali ini mampu menembus pertahanan tetua Kaliki?"


Tetua Dewi Anggini bertanya ke arah Eyang Udan Asrep yang terlihat serius menatap jalannya pertarungan. Dia hanya menoleh sebentar dan kembali menatap jalannya pertarungan.


"Jangan khawatir tentu saja dia akan membuat rencana untuk membuat peluang itu. Apalagi aku sudah memberinya modal tambahan Pedang Nujum ditangannya. Aku sudah melatihnya selama tiga purnama untuk mampu menyatukan jiwanya dengan roh pedang tersebut. Dia seorang yang pintar membuat strategi. Apalagi dengan kejernihan berpikir setelah bersatu dengan roh Pedang Nujum pasti akan mudah baginya untuk membuat serangan kejutan. Tetapi memang Tetua Kaliki tidak akan mudah dihadapi oleh seorang yang tingkat kemampuannya jauh dibawahnya."


Dewi Anggini menganguk-anguk mendengar penjelasan Wakil Ketua Eyang Udan Asrep. Pandangannya kembali mengarah ke tengah lapangan. Mendengar penjelasan Wakil ketua membuat dia mengingat muridnya. Dia juga berharap banyak pada muridnya Mahadewi.


Pada babak kedua sebenarnya dia terkejut melihat kemampuan anak didiknya itu. Karena begitu banyak perbedaan kemajuan yang telah dicapainya setelah sehari sebelumnya dia banyak berbicara dan berlatih dengan Suro. Dia yang melihat dari jauh antara Suro dan Mahadewi begitu akrab berbincang-bincang, dalam hati dia ikut senang. Karena sejak dia kenal dengan murid Dewa Pedang itu ada banyak perubahan sikap yang ditunjukan kepadanya. Baik sikapnya yang sekarang tidak mudah emosi dan terlihat bahagia entah kenapa. Tetapi yang paling mencolok adalah kemampuannya dalam ilmu pedangnya mengalami kemajuan pesat. Bahkan dia yang melihat pada pertarungannya dibabak kedua seakan dibikin tidak percaya dengan apa yang dilakukan anak didiknya itu.


Serangan Widura kembali menerjang ke arah tetua. Dia berusaha keras menembus pertahanan tetua. Dari jurus pertama dalam kitab Dewa Pedang dia gunakan sampai jurus ke lima pusaran pedang Dewa, seluruh serangannya tak ada yang mampu menembus pertahanan tetua Eyang Kaliki, meskipun hanya ujung pedangnya saja.


Akhirnya satu kesempatan Widura telah pupus ditandai dengan dirinya yang justru terhantam dadanya dengan telak, oleh jurus


Tapak Tiga Puluh Enam Langkah milik tetua.


"Bagaimana anak muda rasanya jurus tapakku!" Eyang Kaliki tersenyum ke arah Widura yang belum bangun dan masih memegangi dadanya. Beruntung ini hanya pertarungan yang tidak untuk membunuh lawan.


Sebab jika jurus tapaknya itu dilambari tenaga dalam dengan perubahan unsur api maka dipastikan dadanya telah gosong. Seperti yang terjadi pada luka di punggung Mahadewi. Meskipun sebagian besar energi yang menghantam mampu dinetralisir, tetapi tetap mengakibatkan luka yang tidak ringan. Bahkan jika tidak segera ditolong Suro, pasti akan berakibat yang kemungkinan besar mampu membahayakan jiwanya.


Widura kemudian bangkit sambil tersenyum ke arah tetua.


"Terima kasih tetua, serangan tapak yang tetua lancarkan tidak dilambari perubahan unsur api! Kalau tetua melambari dengan tehnik api, tentu dadaku sudah gosong!" Widura menjura ke arah tetua.


"Tentu saja, aku disini untuk menguji keteguhanmu bukan untuk membunuhmu! Hahahaha...! Seranganmu sungguh luar biasa nakmas. Sudah lama otot tuaku tidak digunakan sampai berkeringat sebanyak ini."


"Pantas saja Wakil Ketua mengangkatmu menjadi murid utamanya! Pencapaianmu sungguh mengagumkan!"


Para penonton awam terkesima dengan kekuatan para tetua. Mereka sebelumnya telah melihat kedahsyatan para peserta yang kekuatannya begitu menakutkan. Tetapi pada saat para peserta telah bertemu dengan para tetua, menjadikan kekuatan mereka seakan seperti bukan apa-apa.


'Jika caranya seperti ini aku tak akan mampu menembus pertahanan tetua ini. Pertahanannya begitu kokoh. Baik dari segi tenaga dalam dan tahap pedangnya jauh diatasku. Seperti melakukan pekerjaan yang mustahil berhasil.'


Widura memandang tetua yang menjadi lawannya. Dia mencoba berpikir mencari solusi agar bisa membuat celah, sehingga serangannya mampu menembus pertahanan lawan.


Setelah beberapa saat tenaganya mampu sedikit terkumpul kembali setelah digunakan habis-habisan untuk melakukan serangan. Dalam diamnya dia sedang mengumpulkan kembali kekuatannya. Dia sedang merencanakan sebuah serangan pamungkasnya yang membutuhkan seluruh kekuatannya. Widura mempertaruhkan semuanya harapannya pada serangannya kali ini.


"Apakah nakmas masih ingin melanjutkan kesempatan yang nakmas miliki?" Tetua Eyang Kaliki bertanya menyelidik ke arah Widura yang masih terdiam tidak segera melakukan serangan ke arahnya.


"Tentu saja tetua, murid akan mengunakan kesempatan yang ada!" Widura terlihat tersenyum. Setelah merasa kekuatannya kembali terhimpun dia segera melakukan serangan.


"Pedang Tanpa Wujud!"


Jurus Pedang Tanpa Wujud adalah jurus Dewa Pedang mendekati tahap pamungkas. Jurus itu adalah jurus terkuat kedua setelah jurus pamungkas. Dibentuk dari inti sari seluruh jurus Dewa Pedang selain jurus pamungkas. Satu serangan kali ini adalah kekuatan pamungkas yang dihimpun dari seluruh kekuatan Widura. Keunikan dari serangan ini adalah pemusatan seluruh niat pedang dan kekuatan hawa pedang yang dihentakkan pada gerakan terakhir.


Serangan Widura kali ini dilancarkan dengan dilambari seluruh kekuatan tenaga dalam Widura dan semua inti sari semua jurus Dewa Pedang yang akan berkumpul dalam serangan cepat ini. Jurus ini dikhususkan untuk menghadapi lawan yang kuat. dan mengandalkan kegesitan penggunanya.


Walaupun dalam hal efek kehancuran jurus ini kalah dibandingkan pada jurus pamungkas yaitu Jurus Seribu Pedang Menyatu. Tetapi pada jurus Pedang Tanpa Wujud kekuatannya seakan banteng mengamuk yang tidak akan bisa dihentikan dengan mudah.


Kerumitannya begitu tinggi membuat seseorang yang telah mencapai tahap pamungkas dalam kitab Dewa Pedang, belum tentu penguasaannya pada jurus ini sudah sempurna.


Seiring dengan suaranya yang menyebut nama jurus yang akan dilancarkan, tubuh Widura meluncur cepat ke arah tetua Eyang Kaliki. Seluruh panca indra hening menyatu dalam bilah pedang. Ratusan gerakan pedang menyertai kelebat tubuh Widura.


'Edan bocah ini menyerangku dengan jurus yang terkenal kerumitannya. Apa gurunya tidak mengatakan jika tahap penguasaanya belum sempurna justru hanya akan mengakibatkan cidera pada dirinya sendiri.' Tetua Eyang Kaliki terhenyak melihat jurus pedang yang digunakan Widura untuk menjebol pertahanannya.


Segera dia mempersiapkan pertahanan terkuatnya. Melihat inti serangannya telah terbaca dan akan beradu keras melawan keras. Widura dengan gerakan tubuh yang cantik, sehingga membuat tubuhnya berbelok kesamping kiri dan menyarangkan ujung pedangnya ke pinggang tetua tanpa melukai.


"Sontoloyo baru kali ini aku diperdaya anak muda. Hahahaha...!"


Widura yang telah mengetahui bahwa inti serangannya sudah terbaca oleh tetua, tentu tidak berani beradu keras melawan tetua yang tingkatan tenaga dalamnya jauh diatas dirinya. Tetapi memang sejak awal justru jurus Pedang Tanpa Wujud itu jika telah terbaca hanya akan dia gunakan untuk mengecoh lawan.


"Terima kasih tetua pelajaran yang telah tetua berikan." Widura menjura kearah tetua yang menjadi lawannya setelah menembus pertahanan yang begitu kokoh. Dia tersenyum penuh kemenangan. Tetua Eyang Kaliki sampai mengeleng-gelengkan kepala tidak mempercayai gerakan Widura yang begitu lincah.