
Jambul geni terkejut melihat semua serangan jarum miliknya dapat dipatahkan dengan mudah oleh Suro. Pedang yang bilahnya begitu bening melebihi kaca menangkis semua serangannya. Dia bertambah terkejut saat Suro menyebutkan sebuah gelar pendekar yang sangat menakutkan baginya
"Kau boleh memanggilku dengan sebutan Pendekar Tapak Dewa Matahari!" Suro berkata dengan pelan tetapi dengan dilambari tenaga dalam yang cukup kuat. Ucapan itu membuat seluruh kawanan perampok terkejut mendengarnya, apalagi tenaga dalam yang menerjang bukan lagi milik seseorang yang berada di bawah tingkat tinggi. Atau kemungkinan justru telah berada di tingkat shakti.
Lelaki yang berjuluk Jambul geni itu juga tak kalah terkejutnya. Tetapi semua sudah terlambat tidak ada lagi kesempatan buat dirinya menyelamatkan diri.
Sebab bersama dengan ucapan itu sebuah serangan menerjang ke arahnya dengan sangat cepat dan tak sempat untuk di hindarinya.
Serangan itu bahkan menembus hempasan api yang menerjang ke arah Suro. Jurus telunjuk Dewa mencari kebenaran mengakhir riwayat Jambul geni dengan kepala yang hancur.
Melihat pimpinanya telah dihabisi dengan begitu mudah, membuat kawanan perampok yang tersisa segera menyadari, jika mereka menemukan lawan yang salah. Tanpa aba-aba mereka semua berhamburan hendak melarikan diri kesegala arah.
Tetapi tidak satupun dari mereka dapat melarikan diri, sebab Suro telah menghentikan langkah mereka semua. Dengan cara ditenggelamkan ke dalam tanah. Sebagian lagi justru telah dihabisi oleh Maung.
Suro kemudian melangkah pelan ke arah para gadis yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Suro segera memutuskan setiap tali yang mengikat tangan dan tubuh para gadis itu. Tali itu diikat sedemikian rupa sehingga antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
"Terima kasih den mas...!"
Para gadis yang telah terlepas sambil menangis segera berlari berhamburan ke arah keluarganya. Para gadis itu tidak menyangka, jika akhirnya ada dewa penolong yang datang menyelamatkan nyawa dan kehormatan mereka.
"Ampuni kami tuan pendekar!" Para perampok itu menggigil ketakutan saat Suro berjalan melewati mereka. Meskipun begitu mereka tetap merengek mencoba meminta ampun kepadanya. Ketakutan mereka semakin bertambah saat Maung yang berjalan dibelakang Suro menggerung dengan begitu keras sambil membuka mulutnya cukup lebar.
"Kalian salah jika meminta ampun kepadaku, sebab bukan diriku yang sudah kalian sakiti." Pandangannya menyapu ke seluruh perampok yang sudah tidak berdaya itu.
"Siapa sebenarnya kalian ini?" Suro menatap tajam ke salah satu perampok yang hanya terlihat kepalanya saja. Leher kebawah telah hilang ditelan bumi.
"Ampuni kami tuan pendekar kami anggota dari Perguruan Racun Neraka. Kami hanya disuruh oleh petinggi perguruan untuk mengambil upeti atas jasa perlindungan perguruan pada kampung ini." Orang itu berharap dengan menyebutkan nama besar perguruan itu Suro akan melepaskan nyawa mereka.
"Upeti atas jasa perlindungan perguruan kalian? Apa aku tidak salah mendengarnya? Isi kepala kalian yang salah atau memang seluruh isi kepala perguruan kalian tidak ada yang benar? Bagaimana ini kalian sebut perlindungan? Justru kalian ini yang menjadi ancaman atas kampung ini, sehingga membuat hidup penduduk kampung ini tidak merasa nyaman dengan keberadaan kalian!"
"Sepertinya ada yang salah dengan cara pandang kalian dan juga perguruan kalian! Aku tahu perguruan kalian beraliran hitam. Tetapi baru kali ini aku melihat langsung betapa buruknya kalian memperlakukan sesama manusia. Sebaiknya aku musnahkan saja perguruan seperti itu!" Terlihat Suro berbicara dengan sorot mata penuh dengan kemarahan.
Lelaki yang baru saja berbicara hanya bisa menelan ludah. Dia tidak menyangka justru kalimat itu yang keluar dari mulut Suro membuat dirinya bertambah ketakutan.
Pandangan Suro berpindah ke arah penduduk yang tak kalah ketakutannya, dibandingkan para perampok yang sudah dia lumpuhkan itu.
Tentu saja mereka para penduduk ikut menggigil ketakutan, sebab dalam tempo yang tidak butuh waktu lama semua perampok telah dapat dikalahkan. Cara Suro melumpuhkan para kawanan perampok bukan kemampuan yang pernah mereka saksikan. Bahkan para perampok itu juga tidak pernah melihat seorang pendekar pun yang memiliki kemampuan seperti yang dilakukan Suro.
Para penduduk itu semakin ketakutan karena telah menyaksikan sendiri bagaimana ganasnya Maung menghabisi puluhan perampok dengan begitu brutal, sehingga menambah kengerian mereka kepada Suro
Walaupun kini para perampok telah dikalahkan semua dan anak gadis mereka akhirnya terselamatkan, tetapi mereka hanya penduduk biasa yang tidak mengerti dunia persilatan. Mereka tetap menggigil ketakutan dengan kekuatan yang diperlihatkan Suro dan Maung barusan.
"Kalian tidak perlu takut kepadaku, aku datang bukan untuk mencelakai kalian. Aku hanya ingin menolong kalian. Aku bukanlah orang jahat seperti mereka, jadi kalian tidak perlu ketakutan seperti itu!" Suro mencoba berbicara kepada penduduk yang masih mengigil ketakutan.
"Anak muda sepertinya kau memaksa kami harus meninggalkan kampung ini. Jika tidak maka nyawa seluruh penduduk ini akan dibantai karena perbuatanmu ini!"
Suro terkejut mendengar bapak tua yang ada dihadapannya. Dia tidak menyangka jika apa yang dilakukan, justru mendapatkan balasan yang tidak mengenakan seperti itu. Tetapi Suro tetap tersenyum menanggapi perkataan bapak tua itu.
'Sepertinya ada masalah besar yang tengah terjadi didaerah ini.' Suro menggaruk-garuk pipinya mendengar perkataan penduduk lainya yang mirip dengan perkataan bapak tua sebelumnya.
"Aku yakin pasukan dari kelompok mereka akan mendatangi kampung ini sebentar lagi, begitu mendengar peristiwa ini. Dan pada saat itu terjadi, dirimu sudah tidak ada dikampung ini!"
"Bala bantuan dari mana yang simbok maksud?" Suro terkejut mendengar perkataan perempuan yang terlihat berumur lebih dari setengah abad itu.
"Kalian tetaplah tinggal dikampung ini aku akan memastikan hal itu tidak akan terjadi." Suro berbicara dengan tetap tersenyum.
"Aku akan menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Selain itu aku juga punya urusan dengan ketua perguruan itu!"
Mendengar nama Perguruan Racun Neraka membuat Suro teringat kepada tokoh dibalik berdirinya perguruan itu, yaitu Dukun Sesat dari Daha.
Saat peperangan di Banyu Kuning tetua Tunggak semi telah tewas, setelah terkena racun dari tokoh golongan hitam tersebut. Menurut Dewa Pedang dia sempat terlihat berlari mundur bersama pasukan Medusa yang tersisa.
Suro ingin mengetahui penyebab hilangnya ribuan pasukan Medusa yang tersisa. Firasatnya mengatakan jika tokoh golongan hitam itu mengetahui cerita dibalik peristiwa tersebut.
Para penduduk meskipun ketakutan dengan datangnya harimau yang menyerang para perampok, mereka memilih tidak ikut kabur seperti yang dilakukan para perampok, karena memang harimau besar yang menyerang itu tidak menyentuh mereka sedikitpun. Selain itu mereka tidak mau bernasib sama dengan para perampok yang tenggelam ke dalam tanah sebatas dada, sesaat setelah mereka berusaha melarikan diri.
Tidak satupun kawanan perampok itu yang tetap hidup. Mereka semua telah dihabisi oleh Maung. Kecuali yang telah ditenggelamkan ke dalam tanah oleh Suro sampai sebatas leher dan dada.
”Apakah kalian tidak mengingat wajahku? Aku yang selalu menemani guruku memberikan pengobatan kepada kalian semua!"
Mendengar perkataan Suro barusan membuat mereka saling pandangan dan mencoba mengingat-ingat wajah Suro.
"Aku mengingat, bukankah den mas yang biasa ikut bersama pertapa yang biasa memberikan kami pengobatan secara gratis?"
Suro mengangguk saat salah satu penduduk itu mengingat wajahnya.
Para penduduk itu segera mengenali wajah Suro. Mereka mengenalinya sebagai anak dari pertapa yang memberikan pengobatan kepada mereka pada waktu-waktu tertentu. Tetapi mereka sudah tidak melihat pertapa itu hampir sepuluh purnama.
"Terima kasih den mas kami sangat berterima kasih atas pertolongan yang den mas baru saja berikan! Semoga den mas menepati janjinya. Jika tidak nyawa kami yang akan menjadi taruhannya. Mereka pasti akan membantai seluruh penduduk kampung ini, jika mendengar peristiwa ini." Para penduduk kali ini bersujud ke arahnya sebagai bentuk terima kasih yang tidak terkira banyaknya.
"Sudah-sudah kalian tidak perlu melakukan seperti itu. Aku ini bukan Dewa ataupun para raja jadi tidak perlu melakukan hal seperti itu. Aku memastikan perguruan itu tidak akan menyerang kampung ini selamanya!"
Suro menyuruh Maung agak menjauh selagi dirinya berbincang-bincang dengan para penduduk. Suro menyuruhnya menjaga kawanan perampok yang masih hidup. Meskipun tanpa adanya Maung para perampok itu tidak bisa pergi kemanapun. Sebab tubuh mereka sudah tenggelam sebatas dada, atau sebagian justru sebatas leher. Jangankan melarikan diri bergerak saja mereka kesusahan.
Dengan kondisi seperti itu, agaknya para perampok tersebut nasibnya akan lebih buruk daripada para temannya yang telah mati dibunuh Maung.
"Apa yang terjadi pada nasib kawanan perampok yang masih hidup itu aku serahkan nasibnya kepada kalian semua." Suro menunjuk ke arah orang-orang yang sebagian tubuhnya telah tenggelam ke dalam tanah.
"Suro tidak ikut campur dengan apa yang akan kalian putuskan kepada nasib mereka. Tetapi jika kalian membiarkan mereka tetap hidup hanya akan membuat nasib kalian berakhir tragis."
Setelah membagi-bagikan kepeng emas kepada seluruh penduduk, Suro segera melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia tidak menutup-nutupi kemampuannya.
Para penduduk dan para perampok terkejut dengan apa yang dilakukan Suro. Sesuatu yang jarang mereka saksikan atau justru tidak pernah mereka saksikan sama sekali.
Dengan mengangkat tubuh Maung diatas dua pundaknya dia kembali melesat terbang menaiki bilah pedangnya. Suro kali ini tidak langsung menuju ke arah Perguruan Pedang Surga.
Sesuai dengan perkataannya kepada para penduduk, tujuannya kali ini menuju daerah Daha. Kebetulan arah yang dituju menuju Perguruan Pedang Surga melewati daerah tersebut. Jadi menurut Suro tidak ada salahnya mampir, sekaligus memastikan hal yang mengganjal dalam hatinya.
"Aku ingin mengetahui bagaimana Tetua Tunggak semi bisa tewas oleh serangan racun Dukun sesat itu?"
Secara kebetulan gunung Arjuno berada tidak jauh dari Dahanapura atau lebih sering disebut dengan nama Daha saja. Dahanapura artinya kota api, dikemudian hari namanya berubah beberapa kali diantaranya dengan nama Kadiri atau Kediri atau juga pernah dikenal dengan nama Panjalu. Tergantung pada masa kerajaan yang berkuasa pada saat itu.
Tujuan perjalanan yang dia lakukan kali ini adalah menuju Perguruan Racun Neraka, tempat dimana tokoh golongan hitam yang berjuluk Dukun Sesat dari Daha berasal.