
'Hamba akan hadapi yang lain tuan Suro! Masalah mereka semua, serahkan saja padaku. Cukup pikirkan saja bagaimana caranya agar ingatan guru tuan dapat kembali lagi!' Geho sama sempat mengirim suara batinnya kepada Suro sebelum menyerang manusia yang memiliki tanduk dibelakang Eyang Sindurogo.
Dia mulai menyerang terlebih dahulu sebelum mereka bergerak. Sembilan tubuh ilusi milik Geho sama telah terlihat sejak dia hendak menyerang musuh. Kemudian melalui Langkah Maya, secara serentak telah menghantarkan mereka berada didekat musuhnya dan kemudian langsung memberikan serangan mematikan.
'Guru tuan belum memiliki tanduk, karena raganya yang istimewa itu diberkati tirta amerta. Sehingga membuatnya sangat kuat, bahkan kekuatan kegelapan yang telah dia serap tidak langsung mempengaruhi tubuhnya!' Sambil menghabisi lawannya, Geho sama terus memberi tau Suro melalui ruang kesadaran yang dimiliki tuannya itu.
Serangan Geho sama yang begitu cepat tidak sempat diantisipasi oleh musuhnya. Sepuluh lawannya akhirnya dapat dia bunuh. Kemudian dia segera menyerap habis seluruh tubuh lawannya melalui tehnik empat Sage.
Dia terpaksa melakukan itu, karena mereka dapat pulih dengan cepat. Meski dalam kondisi normal sebenarnya lawannya pasti mati, setelah menerima serangan yang dilakukan barusan. Namun mereka bukan lagi manusia normal setelah menyerap kekuatan kegelapan.
Selain itu untuk menghadapi lawan yang banyak dan sekuat mereka tentu memerlukan kekuatan yang besar. Salah satu cara tercepat untuk memperoleh kekuatan itu, adalah menyerap kekuatan lawannya hingga habis tidak tersisa. Jadi anggap saja satu kayuh dua pulau terlampaui.
Mereka semua terkejut dengan serangan yang dilakukan Geho sama. Dengan mengandalkan kecepatan Langkah Maya miliknya, dia kembali mencoba menghabisi mereka semua.
Kali ini sepuluh orang yang tersisa telah cukup waspada dengan serangan yang akan diberikan. Para manusia yang memiliki tanduk itu sebenarnya bukan lawan yang lemah, sebab mereka sudah ditingkat langit. Walaupun tingkat langit yang mereka capai masih di tingkat langit lapis pertengahan dan awal.
Tetapi tetap saja mereka bukan lawan yang dengan mudah dihabisi. Namun sayang lawannya adalah Geho sama sang ahli sihir yang memiliki kekuatan tingkat langit lapis kedelapan. Sehingga serangan mematikan miliknya yang dikombinasikan dengan jurus Langkah Maya, berhasil menghabisi sepuluh lawannya dengan sekali libas.
'Tuan Suro, meski tubuh guru tuan tidak berubah seperti pasukan kegelapan yang lain, tetapi penjara semesta kegelapan membuat gurumu tidak akan mengingat apapun tentang tuan!' Kembali Geho sama memperingatkan Suro yang masih saja berusaha menggali ingatan gurunya yang sudah tidak dia ingat.
**
Melihat serangan dari Geho sama barusan, Eyang Sindurogo terkejut. Karena dia mengenali tehnik yang diperlihatkan Geho sama saat menghabisi anak buahnya. Serangan terakhir yang berhasil membuat sepuluh anak buahnya itu musnah, adalah jurus yang dia kenal, yaitu ilmu empat Sage.
"Bagaimana kalian memiliki ilmu empat Sage?" Eyang Sindurogo terkejut dan mulai tersulut kemarahannya.
Setelah melihat kekuatan Geho sama yang sudah berada pada tingkat langit lapis delapan. Dan juga ilmunya yang mampu memecah menjadi sepuluh orang. Kali ini Eyang Sindurogo tidak lagi menahan kekuatannya yang sesungguhnya.
Dulu kekuatan eyang Sindurogo telah mencapai tingkat langit, maka setelah dia menyerap kekuatan kegelapan dalam jumlah besar, kini dirinya berubah dengan cepat menjadi sangat kuat. Sebab saat ini dia telah mencapai kekuatan tenaga dalam tingkat surga.
"Jika kalian tidak aku habisi sekarang , maka akan menjadi penghalang Dewa Kegelapan untuk dapat membebaskan kekuatannya dengan sempurna! Jika kalian tidak dapat aku jadikan pasukan kegelapan, maka kalian juga tidak akan aku biarkan hidup lebih lama lagi!" Suara keras eyang Sindurogo dengan penuh kemarahan menggema keseluruh tempat bersalju itu.
Sebab suara itu dilambari dengan Tenaga dalam miliknya yang mengerikan. Suro tentu saja tidak mau mengalami kejadian seperti saat dia diserang oleh Pujangga gila melalui gelombang suara.
Dia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi indera pendengarannya dari suara yang menggelegar begitu keras itu. Tetapi akibat suara keras itu ada hal lain yang tidak sanggup menanggungnya, yaitu salju yang berada di lereng gunung.
Karena begitu kerasnya suara itu membuat salju yang berada di tempat yang curam bergetar. Kemudian mulai longsor dan meluncur cepat ke bawah.
Satu lesatan sinar dari telunjuk eyang Sindurogo menerjang ke arah Suro.
Blaar!
Sinar itu lurus menghajar tempat dikejauhan. Suro sendiri telah menghilang dari pandangan eyang Sindurogo dan muncul dibelakangnya.
"Maaf eyang guru!"
Sebuah tendangan berputar mengenai gurunya itu. Tidak ada cara lain bagi Suro kecuali harus melawan balik. Apalagi gurunya telah kehilangan ingatannya, membuat lelaki itu kini telah menjadi budak dari Dewa Kegelapan.
Walaupun serangan yang dilakukan Suro bertujuan untuk melumpuhkan gurunya. Tetapi dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Sebab gurunya yang akan dia lumpuhkan itu kekuatannya jauh lebih kuat darinya. Beberapa rencana telah dia susun agar niatnya itu berhasil.
Rencana yang dia susun sangat sederhana, yaitu menenggelamkan gurunya ke dalam tanah dan membuatnya pingsan. Jika tidak berhasil, entah bagaimana caranya dia harus mampu melumpuhkannya. Setelah itu dia akan melanjutkan tehnik yang pernah dia lakukan kepada prajurit Dahanapura yang sebelumnya menjadi makhluk kegelapan. Sebab tehnik yang dia kerahkan waktu itu berhasil membuat mereka mendapatkan ingatannya kembali.
Itu hanyalah rencana yang sekilas terlihat sederhana. Sebab melumpuhkan itu lebih susah daripada menghabisi, apalagi lawannya adalah seseorang yang jauh lebih kuat darinya.
Tendangan Suro barusan tidak membuat tubuh eyang Sindurogo cidera. Kekuatan tubuhnya yang telah mencapai tingkat surga sangat mengerikan. Tendangan Suro dibalas dengan beberapa lesatan sinar dari ilmu Tapak Dewa Matahari.
Serangan dahsyat itu terus mencoba menghabisi Suro dengan cepat. Serangan yang dikerahkan Eyang Sindurogo itu disebut sebagai tarian kematian. Sebab sinar yang memancar dari kesepuluh jarinya menghajar segala arah dan menghancurkan semua yang ada dalam jangkauannya.
Namun berkat Langkah Maya yang mampu melenyapkan tubuhnya dalam sekejap dan kembali muncul ditempat lain tanpa bisa diduga, terbukti dapat menyelamatkan dirinya dari serangan mengerikan itu.
Saat mereka bertarung, salju yang telah longsor meluncur dengan jumlah yang luar biasa besar. Longsoran itu bergerak dari dua arah yang berbeda dari sisi kanan dan kiri. Kondisi itu akan membuat mereka semua pasti terkubur hidup-hidup jika tidak segera menyelamatkan diri.
Geho sama langsung bereaksi cepat dia bersama kembarannya memilih melesat ke atas menghindari longsoran salju itu. Lawan yang dia hadapi juga ikut menyusul melesat cepat ke atas. Mereka kemudian kembali terlibat pertarungan diatas udara.
Suro maupun Eyang Sundurogo, sepertinya tidak mempedulikan dengan gelombang longsoran salju yang telah mendekati mereka berdua.
Empat kembaran dirinya yang menguasai empat unsur alam utama telah muncul. Mereka adalah sedulur papat yang telah dipanggil datang. Salah satu sedulur papat yang merupakan pengendali air menjadikan longsoran salju itu justru sebagai kekuatan tambahan untuk menyerang eyang Sindurogo.
Rencana utama yang hendak dia lakukan adalah mengurung pendekar itu. Salah satunya adalah dengan tehnik perubahan es yaitu penjara es abadi. Kebetulan alam sangat mendukung jurus yang dikerahkan itu.
Gelombang salju yang longsor dari dua arah, lalu ditarik dan segera membentuk pusaran badai es yang besar. Pusaran salju itu kemudian memadat membentuk kristal es abadi. Kini terlihat sebuah sebuah gunung es diatas tubuh eyang Sindurogo. Suro memahami jika itu saja tidak akan cukup untuk berhasil mengurung kekuatan yang telah mencapai tingkat surga.
Karena itu saat kembarannya berusaha mengurung dengan badai es, secara bersamaan Suro juga mengerahkan tehnik perubahan tanah dibantu kembarannya yang lain.
Dibawah serangan badai es yang menyerang bagian atas, maka di bagian bawah Suro menyerang gurunya dengan serangan para naga dari tehnik perubahan tanah. Tentu saja semua itu dapat dilibas habis dengan cepat. Tetapi berkali-kali itu juga para naga muncul kembali silih berganti terus menyerang eyang Sindurogo tanpa henti. Tujuan Suro mengerahkan para naga adalah berusaha membuat gurunya itu sibuk.
Kondisi itu memang sudah menjadi bagian rencana Suro, sebab saat itu tanah yang di injak gurunya semakin dalam, entah di sadarinya atau tidak. Tetapi saat itu juga Suro terus membuat dinding berlapis-lapis diatas kepala gurunya. Suro terus berusaha mengirim gurunya masuk kedalam tanah semakin dalam, hingga gurunya itu pingsan kehabisan udara.
Duuuuuum!
Sebuah ledakan energi yang sangat kuat menghancurkan segala hal yang mengurung eyang Sindurogo. Tanah dan gunung es yang menghalangi dirinya hancur. Sehingga sebuah kawah yang cukup besar terbentuk oleh ledakan energi barusan.
Kemudian dari dasar kawah melesat beberapa kali sinar menghajar ke arah Suro. Tetapi pemuda itu sudah mengantisipasi hal tersebut. Dengan Langkah Maya miliknya dia berhasil menghindari semua serangan itu.
"Gerbang Neraka Tujuh Lapis!"
Duum! Duum! Duuum!
Suro tidak membiarkan gurunya dapat lepas begitu saja. Sebelum gurunya melesat ke atas, dia kembali mengerahkan tehnik perubahan tanah. Berlapis-lapis dinding tanah muncul dan membuat eyang Sindurogo kembali terkurung didalam kawah itu.
Di waktu bersamaan dia kembali mengerahkan Naga dari pengendalian tanah. Dia tidak ada rencana lain kecuali berupaya mengurung gurunya seperti sebelumnya.
Mengetahui jika dinding yang dia buat tidak cukup kuat untuk menahan kekuatan gurunya, akhirnya dia mengubah rencana. Dia hendak melumpuhkan gurunya dengan serangan yang kemungkinan mampu membuat gurunya hilang kesadarannya, yaitu dengan mengerahkan jurus beracun dari Kitab Dewa Racun.
Dia sudah bulat hendak mencoba menaklukkan gurunya dengan jurus beracun. Apalagi setelah usahanya untuk mengurung, justru dapat dihancurkan oleh gurunya. Walaupun dia hendak meracuni gurunya agar dapat dilumpuhkan, tetapi dia memiliki penawarnya. Sehingga dia cukup yakin tidak akan membuat gurunya celaka, meski nanti kemungkinan gurunya akan keracunan hebat.