
Suara auman mengerikan dengan aura yang begitu berwibawa, menggetarkan udara dan merontokkan nyali para binatang-binatang liar. Suara itu mengawali kemunculannya dari balik semak dan pepohonan.
"Grrrrrrrrrr!"
Harimau itu membuka mulutnya dengan lebar sambil menggerung keras. Dua taring atasnya terlihat memanjang, seakan dua pedang yang mencuat keluar dari mulutnya. Dengan ukuran badannya hampir menyamai seekor sapi dewasa semakin membuat penampilannya begitu menakutkan. Matanya yang mencorong menatap Suro lekat-lekat.
Suro segera tersenyum melihat teman sepermainannya sejak kecil tertegun melihat dirinya memakai zirah perang menutupi seluruh bagian tubuhnya.
'Hyang Kavacha sepertinya sahabatku ingin melihat wajah tampan ini.'
Wajah Suro yang masih tertutup oleh zirah secara perlahan terbuka dan entah bagaimana caranya seolah zirah itu masuk kedalam kulit Suro.
"Apakah kau lupa dengan bau harum tubuhku ini Maung?" Suro tersenyum sambil membuka tangannya lebar-lebar.
Begitu melihat wajah yang sangat dikenalinya, harimau itu langsung meloncat ke arah Suro.
"Heek!" Bukan terkaman, tetapi harimau yang hampir sebesar sapi itu langsung memeluk tubuh Suro. Dua tangan Maung menggantung dipundak Suro.
Mendapat pelukan makhluk lebih dari sembilan kali lipat tubuhnya, membuat Suro sampai tersurut kakinya dua langkah ke belakang menahan beratnya tubuh harimau itu.
"Perasaanku saja atau memang tubuhmu bertambah berat Maung?" Suro mengelus-elus leher Maung yang masih bermanja dengannya.
"Grrrrrr!"
"Apakah dirimu sudah begitu kangen setelah hampir sepuluh purnama tidak berjumpa dengan diriku, Maung? Hahahaha...!" Harimau bertaring pedang itu terus memeluk tubuh Suro, seakan tidak ingin lepas. Membuat dia tertawa lepas, meski tubuh besar harimau itu mengelanyuti tubuhnya seakan sedang menahan berat seekor sapi dewasa.
Kemudian sambil mengusap-usap kepalanya ke tubuh Suro dia mulai mengelilingi tubuh sahabatnya, dia lakukan itu setelah puas memeluknya cukup lama.
"Sekarang perutmu ingin dielu-elus Maung? Hahahaha...!"
Kini harimau itu tiduran terlentang, sambil mengapai-gapai tangannya ke arah Suro menyuruhnya untuk segera mengelus perutnya, dia kembali menggulingkan tubuhnya mendekati Suro. Perilakunya seperti seekor kucing yang ingin dimanja tuannya.
"Ghrrrrrr...!" Kembali Maung menggerung tidak sabar ingin dielus-elus perutnya.
"Baiklah, baiklah, jika ingin dielus-elus perutmu!"
Harimau bertaring pedang itu terus mengajak bermain untuk melepas rindunya kepada Suro. Bahkan mereka berdua sampai berguling-guling diatas rumput yang terhampar cukup luas.
Setelah cukup lama mereka bermain-main, akhirnya Suro bangkit berdiri dan diikuti oleh si Maung.
"Maung antarkan aku ke padepokan eyang guru, ada urusan yang aku harus kerjakan, sahabat!" Suro menepuk-nepuk punggung harimau yang telah berdiri dengan gagahnya itu.
Kemudian seperti mengerti perkataan Suro, segera Maung melompat jauh dan mulai berlari ke arah padepokan milik gurunya.
Letak padepokan Eyang Sindurogo berada dikaki gunung Arjuno diantara tempat yang bernama pelawangan dan juga cemoro sewu. Berada lebih jauh ke atas, jika dari alas lali jiwo.
Hari itu sekitar gunung Arjuno udara terasa lebih dingin dari biasanya. Selain itu kabut juga telah turun dengan begitu tebal. Karena memang saat itu, hujan gerimis belum lama turun. Tetapi bagi mata seekor raja hutan kondisi itu tidak menghalangi laju kecepatannya berlari. Maung terus berlari melewati semak-semak yang begitu lebat.
Maung terus berlari tanpa henti, hingga akhirnya mereka tiba didepan sebuah rumah yang dibuat dari bongkahan batu utuh. Walau tidak terlalu besar, tetapi bangunan itu berdiri dengan begitu megahnya.
Didepan bangunan itu Suro tertegun agak lama menatap padepokan gurunya. Dia merasa sedikit asing dengan kondisinya yang berbeda seperti biasanya. Sebab biasanya halaman dan sekitaran padepokan begitu terawat dan bersih dari rerumputan. Kini setelah ditinggal cukup lama rerumputan, ilalang dan semak-semak tumbuh dengan begitu lebat.
"Hmmmmm!"
Dia menghela nafas panjang sebelum mulai memasuki rumah itu. Meskipun padepokan itu ditinggal, tetapi tidak seorangpun yang memasukinya. Selain karena memang berada ditengah hutan yang terkenal wingit, ada hal lain yang membuat rumah itu tidak bisa dimasuki sembarang orang.
Karena Eyang Sindurogo membuat pintu masuk ke dalam padepokan menggunakan sebuah batu persegi yang sangat besar. Dengan pintu yang harus digeser seberat dan sebesar itu, tentu tidak sembarangan orang bisa memasukinya.
Bahkan dibutuhkan seorang pendekar yang minimal setara tingkat shakti untuk mampu membukanya. Itupun jika dia tau cara membuka batu besar yang menghalangi pintu masuk ke dalam padepokan itu.
Ditambah kondisi jika padepokan itu, selalu dijaga oleh seekor hewan buas yang tidak mudah untuk dihadapi. Karena hewan itu telah dilatih dan diperkuat oleh Eyang Sindurogo sendiri, sehingga membuat kulitnya tidak akan mempan jika ditebas oleh senjata biasa.
Hewan buas yang tak lain adalah si Maung, memang sudah sangat lama dilatih oleh Eyang Sindurogo menjadikannya penjaga yang sangat menakutkan.
Bahkan terbukti saat peperangan kerajaan Kalingga pasukan Lembu Jahanam hampir semuanya dihabisi oleh Maung. Meski saat itu kondisi mereka memang sedang terluka, setelah terjatuh dari ketinggian.
Tetapi jika dia bukan harimau petarung yang dilatih oleh jagoan sekelas Eyang Sindurogo, tentu dia tak akan sanggub menghabisi pasukan naga dari pengikut Lembu Jahanam.
Suro mulai menggeser pintu raksasa itu, setelah menggerahkan tenaga dalam yang sangat besar. Setelah menggerahkan ilmu yang berasal Sang Hyang Anantaboga, yaitu ilmu yang berasal dari tehnik perubahan bumi, maka batu besar itu secara perlahan mulai bergeser.
"Kekuatan Eyang Sindurogo memang mengerikan. Meskipun tidak menguasai tehnik perubahan bumi, tetapi hanya dengan mengandalkan tenaga dalamnya dapat dengan mudah membuka pintu besar ini!" Suro menatap batu besar yang telah dapat dia geser setengah jalan.
Setelah berhasil membuka batu besar itu, Suro segera memasuki padepokan gurunya itu. Dia memandangi ukiran yang menghiasi seluruh dinding batu didalam rumah itu sambil tersenyum. Sebab setiap inchi dari bangunan itu hanya akan membuat dirinya teringat kembali kepada gurunya.
"Eyang Sindurogo memang luar biasa dapat mengontrol energi chakra yang keluar dari ujung jarinya dengan sangat mengagumkan. Sehingga dapat membuat ukiran ini begitu rapi dan halus." Suro meraba dinding itu dengan kedua telapak tangannya.
Suro terus berjalan masuk ke dalam bangunan itu. Tidak lama kemudian dia berhenti didepan sebuah ruangan yang tertutup oleh batu besar yang menjadi pintunya. Batu itu dia geser seperti sebelumnya saat hendak memasuki padepokan gurunya.
Setelah terbuka dia lalu memasuki ruangan teesebut. Dipojok ruangan itu satu peti yang berisi koin emas pemberian Maharaja Wasumurti, karena peran besar Eyang Sindurogo menghentikan perang masih tergeletak seperti saat terakhir kali ditinggalkan.
Suro terus berjalan kepojok lain masuk ke sebuah lorong yang ada didalam ruangan itu. Lorong itu berisi anak tangga yang menjorok ke bawah. Sejak masuk ke dalam padepokan gurunya yang gelap, zirah kavacha bersinar kehijauan membuat Suro tidak kesulitan melewati lorong yang begitu gelap. Dia mulai menuruni lorong yang terus menurun.