
"Kalian sudah kembali? Jangan katakan, jika kalian kembali tidak membawa berita penting mengenai Pasukan Elang Langit." Dewa Obat menatap keseluruh mantan anggota Mawar Merah yang telah berkumpul didepan matanya.
Mereka terlihat ketakutan menatap Dewa Obat yang baru saja selesai memberikan pengobatan gratis kepada para penduduk.
"Benar kami telah kembali, tetapi kami membawa berita besar yang sebaiknya pendekar harus mengetahuinya." Feng Hen cukup berhati-hati dalam berbicara agar lawan bicaranya tidak tersinggung.
Dewa Obat mengernyitkan dahi mendengar ucapan Feng Hen. Dia lalu bangkit dari duduknya.
"Berita sepenting apa yang kau maksud?"
"Peperangan besar akan melanda seluruh negeri ini. Dan pasukan Elang Langit yang pendekar cari ikut terlibat serta dalam pertempuran itu." Feng Hen lalu mulai bercerita kepada Dewa Obat mengenai beberapa kabar yang dia dapatkan selama lebih dari seminggu ini.
Kabar yang dia ceritakan kepada Dewa Obat berkaitan erat dengan pertempuran di utara dan timur laut. Peperangan antara pasukan penjaga beberapa wilayah yang berada dalam wilayah kekaisaran menghadapi serangan dari Kerajaan Goguryeo dan pasukan Khan Langit.
Feng Hen juga menceritakan pergerakan pasukan kekaisaran yang langsung dipimpin Mahapatih atau panglima besar Jendral Yuwen Huaji hendak menghadapi serangan dua kerajaan tetangga itu.
Mendengar penjelasan dari Feng Hen yang panjang lebar, Dewa Obat sempat tertegun sebentar sebelum akhirnya dia memberikan obat penawar racun seribu semut api kepada para pendekar yang ada didepannya.
"Ini sebagai imbalan kalian, karena sudah memberikan informasi ini seperti yang pernah dijanjikan muridku kepada kalian." Dewa Obat lalu melemparkan sekantong koin emas kepada Feng Hen.
"Aku merasa kabar ini adalah awal dari kekacauan di seluruh Negeri Atap Langit ini dan juga negeri-negeri lainnya, seperti dalam mimpiku. Jika perang besar terjadi, maka mau tidak mau kita harus terlibat. Lalu disisi mana kalian akan berdiri?" Pandangan Dewa Obat menyapu ke arah pendekar didepannya. Terutama tatapan itu berubah menjadi begitu tajam ke arah Feng Hen dan Feng Lei bersaudara.
Tentu saja dua pendekar itu berkeringat dingin. Tatapan mereka berdua penuh kebingungan karena belum memahami dari maksud ucapan Dewa Obat.
"Mohon maafkan kami yang bodoh ini, memang pihak siapa saja yang terlibat dan sisi mana yang pendekar pilih?"
Dewa Obat menggaruk-garuk kepalanya sebelum berbicara, "akan banyak pihak yang terlibat. Intinya kalian akan berada satu pihak denganku atau tidak?" Sambil berbicara sebuah gandewa mendadak muncul ditangan Dewa Obat.
Tentu saja Feng Hen yang mengetahui kekuatan Gandewa Wijaya ditangan Dewa Obat langsung bertambah deras keringat dingin yang mengucur. Karena itu dia buru-buru menjawab pertanyaan Dewa Obat, "tentu, tentu saja..aku pastikan kami semua akan berpihak kepada pendekar Dewa Obat. Kami akan berdiri tegak mendukung apapun keputusan pendekar."
Dewa Obat tersenyum kecil mendengar jawaban Feng Hen. Tetapi itu hanya sekilas. Sebab setelah itu matanya mencorong dengan begitu tajam menyapu keseluruh pendekar didepannya yang berjumlah ratusan.
Semua bergidik melihat tatapan mata Dewa Obat seperti mata harimau yang akan siap menerkam kepala mereka.
Apalagi aura kekuatan yang keluar dari tubuhnya yang ditujukkan kepada mereka, membuat para pendekar itu begitu ketakutan.
Karena begitu takutnya sekedar bernafas saja hampir tidak berani mereka lakukan. Kecuali mereka lakukan secara pelan-pelan sampai mereka sendiri hampir tidak mendengar hembusan nafasnya.
"Mengapa mulut mereka terkunci tidak mau menjawab pertanyaanku barusan. Apa yang hendak ditunggu mulut mereka yang terkunci itu? Apakah mereka ingin melihat dahsyatnya kekuatan Gandewa Wijayaku ini?"
Mendengar ancaman Dewa Obat, tentu saja para pendekar itu hampir saja terkencing-kencing ketakutan. Mereka hampir serempak langsung memberikan dukungan dan sumpah setia kepada Dewa Obat sisi apapun yang dia pilih atau jalan manapun yang akan dia tempuh.
"Hahaha...aku suka sekali mendengar jawaban kalian yang penuh dengan semangat mengebu mendukungku!"
Dewa Obat terus tertawa agak lama. Dia sepertinya begitu puas mendengar jawaban mereka yang dia sebut penuh semangat. Walaupun sebenarnya wajah para pendekar itu tidak mensiratkan seperti ucapan Dewa Obat. Wajah mereka justru terlihat penuh dengan rasa takut.
"Karena kalian telah bersumpah setia kepadaku, maka aku juga tidak akan mensia-siakan kesetiaan kalian. Aku akan meningkatkan kekuatan tempur kalian, agar hidup kalian lebih berguna. Sehingga kalian cukup kuat untuk dapat menjadi kekuatan pendukung bagiku."
Para mantan pasukan Mawar Merah itu tidak memahami dengan ucapan Dewa Obat yang hendak meningkatkan kekuatan mereka. Feng Hen sekalipun juga tidak mengerti.
Dewa Obat lalu memperlihatkan sebutir pill ditangannya kepada para pendekar. Pill itu berkilau dengan aroma yang cukup kuat.
Tetapi mereka tidak mengerti dengan maksud Dewa Obat memperlihatkan pill itu kepada mereka. Mereka tidak mengetahui tujuan pendekar itu. Karena itu mereka kasak-kusuk penuh tanya.
"Pill ini bernama Bahavana Sahasra Nirwana."
Feng Hen terkejut mendengar nama pill yang dipegang Dewa Obat. Sebab itu adalah salah satu pill yang melegenda. Walaupun dia pernah mendengar namanya cukup lama, tetapi baru kali ini dia melihatnya langsung.
Dia memahami keistimewaan pill tersebut. Seperti dirinya, para pendekar yang lain juga mengetahui tentang nama pill yang barusan disebutkan oleh Dewa Obat.
"Jumlah pill ini tidak banyak, karena itu aku akan menyeleksi siapa saja diantara kalian yang pantas untuk aku berikan. Karena sebenarnya pill itu bukan buatanku, tetapi milik muridku.
Bukan aku tidak mampu membuatnya Tetapi itu terkait dengan bahan baku untuk membuat pill ini sangatlah langka. Aku tidak menyangka jika muridku satu-satunya yang kini aku miliki justru mempunyai bahannya."
Dewa Obat tersenyum-senyum sendiri menatap pill yang berada diujung kedua jarinya. Dia sebagai ahli pengobatan tentu saja mengetahui seberapa bagus kwalitas pill tersebut.
Di saat Dewa Obat asik dengan pill bening berwarna biru tembus padang yang sedang dia amati, para pendekar yang berada didepannya seperti tersambar gledek kegirangan mendengar ucapan pelan Dewa Obat yang hendak memberikan pill sakti itu kepada mereka.
Mata mereka berbinar-binar penuh rasa gembira tak terkatakan. Keadaan mereka jika digampar sekalipun belum tentu membuat senyum mereka buyar.
Mereka begitu gembira sampai hanya bisa tersenyum dan melongo tanpa ada kalimat yang keluar dari mulut mereka. Belum mereka reda dari rasa senang yang tak terkira karena memiliki peluang mendapatkan pill Bahavana Sahasra Nirwana, kembali Dewa Obat melanjutkan ucapannya.
"Bagi kalian yang tidak mendapatkan pill ini, maka aku tetap akan memberikan gantinya. Walaupun khasiatnya tidak sehebat pill ini, namun percayalah, kekuatan kalian akan meningkat drastis."
Mulut para pendekar itu ternganga mendengar ucapan Dewa Obat yang tidak masuk akal. Sebab kedatangan mereka sejak awal menemui Dewa Obat selain memberikan kabar dari informasi yang mereka kumpulkan, tujuan utama mereka tentu saja adalah untuk meminta penawar kepada Dewa Obat atas racun Seribu Semut Api yang telah bersarang pada tubuh mereka agar tidak kembali kambuh.
Mereka diberikan obat penawar racun saja sudah senang tidak kepalang tanggung. Walaupun penawar itu tidak menyembuhkan secara permanen, tetapi itu sudah lebih dari cukup dibandingkan harus merasakan kembali rasa sakit yang tak terperi ketika reaksi racun itu kembali muncul.
Kini mereka justru hendak diberikan sesuatu yang bahkan tidak pernah terbesit dalam pikiran atau dalam mimpi sekalipun.
Feng Hen sampai menampar beberapa kali mukanya untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi, "be..be..benarkah Pendekar Dewa Obat akan membantu meningkatkan kekuatan kami dengan menggunakan pill sakti milik tuan pendekar?"
"Apakah aku terlihat seperti orang yang suka bercanda?" Mata Dewa Obat kembali mencorong menatap tidak suka ke arah Feng Hen.
"Tidak, tidak.. mohon jangan salah paham. Mohon maaf jika ucapanku telah menyinggung pendekar. Tentu saja pendekar tidak pernah bercanda, selalu mengatakan hal yang penting saja." Serta merta pendekar itu menggigil ketakutan dan langsung meminta maaf atas ucapannya yang membuat Dewa Obat tersinggung.
"Aku tidak memberikan bantuan ini secara percuma, ada harga yang mahal atas bantuan yang aku berikan. Pertama adalah aku akan menuntut kesetiaan kalian.
Nanti saat aku membutuhkan kekuatan kalian, maka jangan sekalipun pernah terlintas dalam pikiran kalian. Tidak, bahkan dalam mimpi pun jangan pernah untuk tidak mematuhi perintahku. Aku akan membutuhkan kekuatan kalian untuk melawan musuh yang hendak aku hadapi nantinya.
Secara tidak langsung aku akan meminta kesetiaan kalian sampai pada titik dimana nyawa kalian menjadi taruhannya. Tetapi jika kalian tidak menepati janji, maka saat itu juga nyawa kalian aku ambil.
Begitu juga jika kalian tidak mau menerima niat baikku yang hendak meningkatkan kekuatan kalian, maka saat ini juga nyawa kalian akan aku cabut. Jadi bagaimana keputusan kalian?"
Kali ini semua pendekar itu hanya bisa menelan ludah demi mendengar ucapan Dewa Obat. Sebab pendekar didepan mereka tidak memberi peluang bagi mereka untuk menolak.
"Aku harus memastikan kalian berada dipihakku. Sebab jika kalian tidak berada dipihakku, aku yakin dalam peperangan besar nanti kalian akan menjadi lawanku."
Mendengar ucapan Dewa Obat mereka tanpa pikir panjang langsung bersedia dan menerima keputusan pendekar itu yang hendak meningkatkan kekuatan mereka.