
Suro setelah berhasil meratakan markas milik Mawar Merah segera bergegas ke arah Gunung Tian Shan. Demi menghemat waktu dia segera mengerahkan jurus Langkah Maya.
Sebab dari Padang Rumput Neraka, puncak gunung Tian Shan sudah dapat terlihat dari kejauhan. Puncak gunung itu selalu diselimuti salju. Begitu juga seluruh daerah yang ada diarea sekitar pegunungan itu selalu dipenuhi salju abadi yang cukup tebal.
Tehnik Langkah Maya yang dikerahkan Suro, sebenarnya memerlukan kekuatan tenaga dalam yang besar. Semakin jauh jarak yang ditempuh, maka tenaga dalam yang diperlukan juga semakin besar.
Namun itu terbayarkan dengan waktu yang dapat dipersingkat hanya dalam waktu sekejap mata. Karena daerah yang ditempuh itu cukup dingin dan bersalju, maka Suro maupun Mahadewi menggunakan pakaian dari kulit binatang yang tebal.
Dia meminta pakaian itu kepada tetua kelompok Mawar Merah sebelum dia berangkat. Keputusan Suro untuk meratakan markas Mawar Merah menjadi akhir riwayat kelompok itu dalam kiprahnya didalam dunia persilatan selama puluhan tahun.
Kelompok Mawar Merah menjadi momok menakutkan dalam dunia persilatan. Terutama bagai pendekar aliran putih. Semua itu karena kiprahnya yang menisbatkannya sebagai bagian kelompok para pembunuh bayaran.
Karena begitu kuat dan besarnya kelompok tersebut, sehingga setara dengan perguruan tingkat atas. Bahkan tidak mudah dihancurkan, karena ada keberpihakan penguasa dibelakangnya.
Namun kini para tetua dan seluruh anggota kelompok tersebut tidak menyangka sama sekali akhir riwayat dari kelompok mereka. Mereka masih belum mempercayai dengan semua yang telah terjadi.
Bermimpi pun tidak, jika markas mereka dapat dihancurkan sedemikian mudah. Markas itu telah rata dengan tanah tanpa mengisahkan apapun. Bahkan semua itu hanya dilakukan oleh seorang pemuda saja.
Bahkan sampai markas itu hancur lebur tidak tersisa selain puing-puing batu yang diselimuti api, mereka tidak mengetahui nama pendekar yang telah menghancurkan tempat itu. Mereka hanya mengetahui, jika pendekar itu adalah bagian dari Perguruan Pedang Surga di timur jauh yang masuk wilayah Benua Timur.
Selain itu mereka juga mengetahui, jika pemuda itu memiliki hubungan dengan seorang pendekar yang memiliki ilmu Tapak Dewa Matahari. Hal itu diperlihatkan saat Suro menghancurkan seluruh markas dan beberapa gunung batu disekitar markas mereka.
"Kakang kemana kita akan mencari guru, semua tempat ini dipenuhi hamparan salju?" Mahadewi menatap ke seluruh penjuru arah mata angin yang terlihat hampir semuanya hamparan salju yang putih.
Suro tidak segera menjawab pertanyaan dara tersebut, sebab dia berusaha bertanya kepada pusaka Kaca Benggala untuk mencari sedikit petunjuk yang mampu menemukan orang-orang yang dicarinya.
"Sebaiknya kakang merasakan keberadaan manusia di sepanjang pegunungan yang ditutupi salju ini. Aku yakin selain para binatang liar, tidak akan ada yang hidup di daerah ini.
Jadi seandainya ada makhluk yang berada disekitar tempat ini, itu kemungkinan adalah orang-orang yang telah menyekap guruku."
Setelah gagal mendapatkan petunjuk dari pusaka Kaca Benggala, Suro lalu melakukan seperti yang disarankan oleh Mahadewi.
"Bagaimana, apakah kakang mampu menangkap atau merasakan adanya gerakan disekira daerah ini?"
"Tidak adinda, entahlah mungkin karena adanya tumpukkan salju ini, sehingga membuat kakang sulit untuk menangkap getaran tanah. Selain itu wilayah peggunungan ini sangat luas. Jadi tidak akan mudah bagi kakang menemukannya." Suro berdiri menatap ke sekeliling, setelah tidak berhasil menemukan apa yang dicari.
"Apa yang adinda lakukan?"
"Eeee anu kakang Mahadewi baru kali ini melihat hamparan salju seperti ini." Mahadewi tertawa malu saat ketauan dirinya sedang bermain-main dengan salju yang terhampar didepan matanya.
"Kita telusuri pegunungan ini dengan berjalan kaki saja. Mungkin dengan berjalan kaki kita akan menemukan sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk untuk menemukan guru adinda."
Walaupun saat menelusuri itu mereka berdua tidak benar-benar berjalan kaki. Tetapi mereka berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, yaitu ilmu saifi angin. Sehingga tebalnya salju yang menyelimuti langkah mereka bukan suatu halangan yang berarti.
"Apakah tetua Dewi Anggini selama ini tidak bercerita kepada adinda tentang masa lalunya sebelum ikut eyang guru pergi ke Yawadwipa?" Sambil berlari dan mencoba menangkap getaran yang ditangkap telapak kakinya, Suro mencoba memecah keheningan.
"Guru tidak banyak bercerita tentang Negeri Atas Langit tempat dia berasal. Tetapi memang guru beberapa kali pernah bercerita sedikit, tentang masa lalunya itu saat dia memberikan adinda sebuah belati kecil bernama belati peninggalan kaisar Gong."
Suro menjadi tertarik dengan apa yang diceritakan dara cantik yang berlari disampingnya. Bibir tipisnya yang indah itu menari-nari lemah gemulai menceritakan perihal gurunya.
Pemuda itu tanpa sadar tersenyum melihat paras ayu milik dara itu yang bercerita dengan lancar.
'Saat Mahadewi sedang tidak menampilkan sosok Batari Durga dalam dirinya, memang mengasikan untuk dipandang, tetapi langsung berubah menakutkan saat dia sudah tri wikrama.'
"Kakang...kakang...menyebalkan...saat aku bercerita kakang malah mengalamun...huuuuftttttt!"
Suro tertawa melihat tingkah Mahadewi yang terlihat sedikit kekanakan. Dara yang sebenarnya memiliki garis keturunan darah biru itu memang tidak bisa menutupi kebiasaannya sebagai putri bangsawan dan sebagai anak satu-satunya seorang akuwu.
Ada sisi manja yang tidak bisa serta Merta dihilangkan, walau dia telah dididik seorang guru yang keras kepada muridnya. Tetapi sisi manja itu jarang diperlihatkan kepada siapapun, apalagi didepan gurunya.
Mungkin dara itu memang sudah terpaut hatinya kepada pemuda didepannya. Meskipun Mahadewi memahami, jika Suro tidak mau tau atau memang tidak memahami bahasa tubuh yang mencoba menggambarkan perasaannya.
Tetapi Suro tetaplah Suro dia tidak melihat seperti yang di rasakan dara itu, dia justru merasa jika tingkah dara didepannya itu seperti Lodra yang suka berteriak-teriak tanpa sebab. Seperti yang dia saksikan sekarang ini.
"Pasti kakang sedang mengalamunkan gadis yang bernama Luh Niscita itu bukan? Ayo jawab, pasti kakang sedang memikirkan dara yang kulitnya putih seperti sapi itu kan? Menyebalkan!" Mahadewi kali ini menghentikan langkahnya dan berkacak pinggang ke arah Suro.
Kali ini Suro tidak dapat menahan tawanya karena Luh Niscita yang putihnya tidak ketulungan itu justru disamakan dengan seekor sapi.
"Kakaaaangggggg!"
Sriiiing...sriiing...sriiing...
Wusss...wusss...wusss
Trang! Trang! Trang!
"Tunggu! Tunggu! Tunggu Mahadewi, biarkan kakang jelaskan dahulu!" Suro menepuk jidatnya setelah tanpa ba bi bu Mahadewi mengerahkan sepuluh pedang yang tergantung di pundaknya.
"Ayo kakang mengaku! Pasti kakang sedang membayangkan dara berkulit sapi itu kan? Sudah Kakang tidak usah menutup-nutupi mengenai hal itu!"
'Dasar...' Suro hanya bisa membatin sambil menangani serangan yang dikerahkan Mahadewi.