
Wujud Geho Sama telah berubah ke bentuknya yang semula. Kali ini dia tidak lagi bersenjatakan kipas besar tetapi sebuah kapak. Wajahnya telah memerah seakan api sedang menyelimuti sekujur tubuhnya.
"Apakah kalian ketakutan melihat wujudku yang mengerikan ini? Hahahaha...!" ucap Geho Sama sambil mendengus kesal karena melihat musuh yang terus bertambah berkali-kali lipat.
"Ini belum seberapa, bagaimana jika aku gandakan, hingga kalian mengompol dicelana, karena ketakutan menyaksikan kekuatanku?" Geho Sama lalu membuat simbol tangan untuk memulai jurus pemanggil.
Setelah itu tubuh Geho Sama memecah menjadi sembilan wujud yang sama. Kesembilan tubuh itu adalah bagian dari pengerahan jurus tubuh ilusi miliknya.
Walaupun tehnik itu sangat menguras seluruh tenaga dalamnya. Itu memang pilihan sulit, namun Geho Sama harus melakukannya. Sebab dia tidak akan mampu melindungi Suro dari berbagai sisi jika hanya sendirian.
Tenaga dalam miliknya yang telah terkuras oleh jurus barusan secepatnya harus dia pulihkan. Bagi Geho sama itu bukan masalah besar. Dengan menelan pill yang berasal dari Suro, maka kekuatannya dapat segera dia pulihkan.
Apalagi unjuk kekuatan yang diperlihat dirinya pada serangan Brahmastra sebelumnya telah membuat Geho Sama kehilangan begitu banyak tenaga dalam.
Sesaat setelah satu butir pill masuk ke dalam mulutnya, maka ledakan kekuatan kembali memenuhi setiap aliran nadi dalam tubuhnya.
"Perasaan ini begitu menyenangkan setiap kali menelan pill dari bocah gendeng itu," sebuah senyuman tersungging dipojok mulut Geho Sama.
Dihadapannya pasukan kekaisaran belum melakukan gerakan untuk kembali menyerang. Sepertinya serangan Brahmastra telah membuat musuh harus berpikir berkali lipat jika hendak menyerang kembali.
Meskipun pada saat itu dari empat penjuru arah mata angin, musuh telah menutup jalan, sehingga orang biasa tidak akan mampu melarikan diri.
Tetapi itu tidak berlaku terhadap Geho Sama dan Suro. Dengan Langkah Maya urusan melarikan diri bukan perkara yang sulit.
Tetapi alih-alih melarikan diri, mereka justru memutuskan untuk tetap bertahan demi menolong para pendekar yang sebelumnya tidak sadarkan diri. Termasuk diantaranya adalah tetua Dewi Anggini dan juga Dewa Rencong.
Suro terus berusaha agar para pendekar dapat dia selamatkan semua. Karena itu lah Geho Sama juga tidak membiarkan siapapun mengganggu Suro. Dia akan tetap bertahan sekuat mungkin menjaga sampai Suro selesai mengobati para pendekar.
Kesembilan wujud Geho Sama terus memaki sambil berteriak untuk membuat lawan bertambah ketakutan. Dia berharap dengan tindakannya itu akan membuat musuh tidak berani menyerang kembali. Seperti juga alasan dirinya berubah dengan bentuknya yang begitu menyeramkan.
Cara berpikir untuk membuat musuh ketakutan tidak sepenuhnya salah. Tetapi itu tidak cukup jika musuh yang dihadapi berjumlah puluhan ribu.
Satu musuh seperti mereka mungkin akan jatuh pingsan ketakutan. Tetapi dengan jumlah yang sedemikian banyak telah merubah mereka tidak akan begitu mudahnya ditakuti dengan kekuatan dan wujudnya yang seperti itu.
Begitu juga yang dirasakan para jendral dari kekaisaran Yang. Melihat Geho Sama bertambah banyak dengan wujud yang sama menakutkan, justru telah membuat mereka penasaran untuk mencari tau kekuatan sebenarnya dari jurus tersebut.
Mereka menduga jurus milik Geho Sama hanyalah sejenis dengan sihir ilusi biasa. Para jendral dari kekaisaran lalu memerintahkan pasukannya untuk membuktikan hal tersebut dengan menyerang kembali.
Dengan satu perintah serbu, maka dari segala arah pasukan musuh menerjang dengan ganas.
"Kalian semua tidak tau diuntung seperti pangeran mahkota sontoloyo yang hendak menjebak kami! Kalian ingin mati, baiklah aku kabulkan permintaan kalian! Tetapi jangan salahkan diriku yang akan bertindak kejam!"
Melihat pasukan kekaisaran kembali menyerbu, Geho Sama kali ini menjadi begitu murka. Serangan balasan dari Geho Sama bersama kesembilan wujud ilusinya kali ini sudah tidak dia tahan lagi.
Musuh tentu saja terkejut melihat serangan balasan itu. Rasa takut yang tidak mampu digambarkan semakin pekat menyelimuti jiwa mereka semua.
Perasaan itu bukan hanya dialami oleh pasukannya, tetapi juga para jendral merasakan hal yang sama. Karenanya mereka segera memberi perintah mundur secepatnya sebelum semakin bertambah korban di pihak pasukan yang mereka pimpin.
Sebab serangan dari sembilan tubuh ilusi Geho Sama berlangsung secara serentak. Mereka mengerahkan kekuatan dari sembilan unsur alam yang berbeda.
Seperti Kaisar Api, tubuhnya yang telah berubah wujud diselimuti api membakar musuh yang menyerbu ke arahnya. Semburan api raksasa keluar dari mulut Kaisar Api.
Begitu kuat dan besarnya serangan itu mampu meluluh lantakan pasukan musuh. Semburan api itu seperti badai yang mampu menerbangkan kuda beserta penunggangnya lalu terlempar dan jatuh sudah dalam bentuk arang gosong.
Hempasan semburan api itu mampu mencapai radius tidak kurang dari sepuluh tombak.
Serangan dari kaisar api bukanlah serangan satu-satunya yang menakutkan. Sebab dari tempat yang tidak jauh darinya, wujud tubuh ilusi Geho Sama yang lain bernama kaisar angin tidak kalah mengerikan serangannya.
Sebuah badai dengan dilambari tehnik tebasan angin seperti mewakili jutaan bilah pedang menghajar barisan musuh. Tak khayal barisan pasukan itu terjungkal dan terlempar kembali kebelakang.
Tetapi kondisi mereka tidak lagi utuh seperti semula. Mereka kini telah menjelma menjadi gunungan mayat akibat jutaan tebasan energi pedang yang menghantam.
Semua itu terjadi dengan sangat cepat dan tidak mampu ditanggung oleh pasukan yang sebagian masih ditingkat kelas satu dan paling kuat tidak sampai mencapai tingkat tinggi.
Karena itu untuk membuat musuh bertambah jirih kepadanya, dan mencegah agar tidak kembali menyerang, kali ini Geho Sama memilih berteriak bersama sembilan tubuh ilusinya.
Namun teriakan itu bukan sembarangan teriakan. Sebab teriakan itu adalah jurus Auman Singa yang dahsyat, apalagi saat itu dilambari dengan kekuatan tenaga dalam tingkat surga.
Sehingga kekuatannya sangatlah mengerikan. Dengan satu teriakan saja, seluruh barisan pasukan yang berada didepan langsung berjatuhan.
Pasukan musuh yang hanyalah prajurit baru tidak lebih dari pendekar setingkat kelas bawah dan menengah langsung jatuh tidak sadarkan diri. Pasukan yang berada ditingkat tinggi langsung mutah darah karena luka dalam.
Sebagian lagi juga ikut ambruk dan tidak sadarkan. Pasukan yang berada ditingkat shakti ke atas yang cukup tangguh menghadapi serangan tersebut.
Cara yang dilakukan Geho Sama memang cukup banyak membuat mereka pingsan tidak sadarkan diri. Tetapi tetap saja itu tidak cukup mengurangi jumlah pasukan musuh secara signifikan.
Sebab pasukan kekaisaran terlalu banyak dan terus bertambah, berdatangan dari segala arah mengepung mereka.
Segala upaya terus dilakukan Geho Sama, sampai Suro selesai menyembuhkan para pendekar. Jumlah pendekar yang berusaha disembuhkan oleh Suro secara keseluruhan mencapai empat ratusan orang.
Suro berniat menjadikan mereka pasukan yang akan ikut bertarung dipihaknya. Apalagi kekuatan para pendekar itu tidak ada yang rendah, paling lemah sekalipun sudah berada pada tingkat shakti. Bahkan beberapa sudah mencapai tingkat surga.
Namun kebanyakan mereka telah berada ditingkat langit. Dengan kekuatan sebesar itu tentu akan mampu menjadi daya tawar untuk membuat pasukan kekaisaran Yang mau mendengarkan ucapannya.
Walaupun pada saat itu kekuatan dirinya dan Geho Sama cukup kuat, tetapi menghadapi hampir seluruh pasukan kekaisaran lain ceritanya. Apalagi dari awal Suro juga tidak berniat melawan mereka justru hendak bekerja sama.
Dia tidak menyangka urusan menjadi begitu rumit setelah mereka sampai di kota Luoyang. Tetapi Suro masih memiliki harapan, agar mampu mendesak kaisar Yang untuk bersedia mendengarkan ucapannya.
Tetapi hal pertama yang dia lakukan adalah menyelamatkan Dewi Anggini, Dewa Rencong dan juga para pendekar lain yang berada pada kondisi sama, yaitu tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk bertarung.
Kondisi para pendekar memang sangat memprihatinkan. Setelah kesadarannya kembali, justru lebih buruk keadaannya dibandingkan saat mereka tidak memiliki kesadaran.
Sebab setelah kesadarannya telah dikembalikan oleh Suro tidak berbeda dengan orang yang sehabis dicabut nyawanya dan dikembalikan lagi. Tubuh mereka lemas tidak berdaya.
Demi membuat mereka kembali pulih dengan cepat, Suro memilih menggunakan Sharkara Deva miliknya. Tetapi dia mencampur terlebih dahulu dengan air yang cukup banyak.
Setelah itu mereka diberikan setiap orangnya dengan satu tegukan air yang telah dicampur Sharkara Deva. Hasilnya mereka dengan cepat pulih kekuatannya.
Tetapi kepada tetua Dewi Anggini dan Dewa Rencong, Suro memberikan tambahan pill Bahvana Sahasra Nirwana. Dengan bantuan itu mereka kembali mencapai kekuatan puncaknya.
Tubuh mereka berdua langsung segar bugar. Kekuatannya juga meledak-ledak meminta pelampiasan. Tetapi Suro menahan mereka untuk melampiaskan kemarahannya.
"Tunggu dulu tetua dan paman Maung, bisakah diceritakan runut cerita, sehingga kalian berdua berakhir nasibnya menjadi pasukan nenek sihir yang berhasil Suro habisi?"
Tetua Dewi Anggini akhirnya berhenti melanjutkan niatnya menyerang pasukan kekaisaran. Dengan dimulai menghela nafas panjang, pendekar itu mulai bercerita." Jadi seperti ini awal mulanya..."
Dewi Anggini tidak menyangka jika kedatangannya ke istana kaisar Yang, justru dituduh hendak melakukan pemberontakan. Bahkan mereka menuduh salah satu pendukungnya adalah walikota Yang Taizu dan jendral Zhou.
Mereka tidak menyangka sama sekali dengan tuduhan tidak berdasar itu. Walikota Yang Taizu bersama jendral Zhou sendiri, akhirnya justru dipenjara dan menunggu eksekusi.
Penjelasan walikota yang mengabarkan tentang adanya serangan dari beberapa kerajaan tidak dianggap oleh sang kaisar. Mereka berdua tetap akan dijatuhi hukuman pancung.
Sedangkan nasib Dewi Anggini dan Dewa Rencong setelah melewati pertempuran akhirnya berhasil dilumpuhkan. Alasan mereka tidak segera dibunuh karena satu hal, yaitu kekuatan yang mereka miliki.
Sebab Kekuatan putri Yifu Yuan atau tetua Dewi Anggini dan juga Dewa Rencong membuat Nenek Yin tertarik untuk menjadikan mereka berdua sebagai bagian dari pasukannya.
"Kita akan membuat perhitungan dengan kaisar kampret dan Pangeran sontoloyo itu!" ucap Suro dengan geram.
Suro cukup geram dengan cerita Dewi Anggini, dia juga belum memaafkan perlakuan dari Pangeran Mahkota Yang Jian. Pangeran itulah yang telah menipu dirinya.
Setelah semua pulih dan memiliki kembali kekuatan mereka, maka Suro juga tidak mau kalah dengan Geho Sama yang telah berubah menjadi sepuluh. Setelah menelan pill Bhavana Sahasra Nirwana dia juga mengerahkan empat penjaga gaib miliknya.
Ditambah kekuatan para pendekar yang baru di selamatkan, kini Suro dan yang lain bersiap untuk memaksa musuh mau mendengarkan niat baik atas kedatangan mereka.
Walaupun kekuatan pasukan kekaisaran berjumlah ratusan kali lipat lebih banyak. Secara keseluruhan kekuatan kekaisaran yang telah mengepung kini tidak kurang dari dua puluh ribu pasukan.