
"Apa kalian masih saja keras kepala dan berniat terus bertarung denganku?" Pemuda itu mengedarkan pandangannya keseluruh lawan yang tersisa dengan begitu tajam
"Atau setelah aku berhasil membunuh lelaki ini kalian berubah pikiran, dan mau aku ajak berbicara?"
Para tetua yang melihat hasil pertarungan antara Naga Hitam dan Suro, seakan tidak mampu mempercayai apa yang telah mereka lihat. Setelah pertarungan itu selesai, mereka justru masih mematung memandang tubuh Naga hitam yang tergeletak tak bernyawa itu.
Kini mereka memandang Suro dengan pandangan lain tidak seperti sebelumnya. Ketakutan menyelimuti wajah mereka, setelah melihat bagaimana cepatnya Suro menghabisi Naga Hitam.
Suro menyerang Naga Hitam dengan satu gerakan yang tidak mampu ditangkap oleh mata lawannya. Saat Suro berpindah tempat dan menebas leher lawannya, semua berlangsung dalam waktu yang sangat cepat. Bahkan lebih cepat dibandingkan kedipan mata mereka.
Pandangan Suro beralih ke arah Mahadewi. Dengan perlindungan dari Lodra yang mengendalikan Maha Naga Taksaka, maka tak satupun dari ratusan musuh yang mengepung dapat melukai dara tersebut. Bahkan dengan jurus sepuluh pedang terbang miliknya dia mampu mencecar habis lawannya, meski itu dilakukan dari jarak jauh.
Salah satu yang berhasil dia bunuh adalah Setan Seribu Wajah. Dia cukup kesal kepada wanita yang telah menyamar menjadi gurunya itu. Karena itu lah sejak awal dia memang tidak berniat melepaskannya.
"Apakah adinda Mahadewi baik-baik saja?"
'Tidak ada satu rambut pun yang terjatuh, karena ada aku didekatnya yang selalu menjaganya,' Lodra membalas pertanyaan Suro, sebelum dara itu menjawab. Lodra ingin menunjukkan kepada tuannya atas hasil kerja yang dia lakukan dengan senyum bangga.
"Tidak mengapa kakang, aku baik-baik saja, hanya saja rambutku sebagian ada yang terbakar karena naga yang diselimuti api itu terlalu dekat denganku. Apalagi kini aku telah basah kuyup oleh peluh, karena panasnya api itu.
Beruntung tehnik perubahan es yang kakang dulu ajarkan kepada adinda telah meningkat pesat, seiring dengan peningkatan kekuatanku ini kakang. Jika tidak, tentu aku sudah terpanggang hidup-hidup.
Atau ini memang kakang lakukan dengan sengaja? Apakah ini salah satu cara yang kakang lakukan agar aku tidak terlihat cantik lagi. Sehingga aku akan kalah bersaing dengan dara yang kakang bawa ke kediaman yang berada di Kademangan Cangkring itu?" Mata Mahadewi kini melotot ke arah Suro.
Dara itu tidak terima dengan penampilannya yang berubah, setelah Suro mencoba melindunginya dengan naga api yang dikendalikan Lodra.
Melihat Mahadewi memelototi dirinya, maka Suro juga memelotot ke arah Lodra. Tetapi jiwa pedang itu buru-buru kabur dan bersembunyi dibalik bilah pedang tempat dia bersemayam. Suro akhirnya hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil menyengir mendengar omelan Mahadewi.
"Jika kakang tidak segera menarik naga api ini, maka kakang akan aku gunduli! Gara-gara kakang rambut indahku menjadi keriting seperti ini." Mahadewi berbicara sambil menggigit gerahamnya menahan kesal.
Kedua kakinya menghentak-hentak sehingga tempat itu bergetar. Dia tidak terima rambut panjang yang dia rawat susah payah justru terbakar.
Mendengar itu Suro hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil membayangkan kepalanya plontos setelah digunduli oleh Mahadewi.
'Sompret Lodra, beres apanya? Lihat gara-gara dirimu Batari Durga bangun dari tidurnya!' Suro memaki ke arah Lodra. Tetapi jiwa pedang itu justru membalas dengan makian yang lebih panjang.
Membayangkan betapa mengerikannya ancaman yang dilakukan Mahadewi, maka pemuda itu segera buru-buru menarik api hitam kembali kedalam bilah pedangnya. Dia juga segera mengembalikan naga bumi kedalam tanah.
"Trala...sudah selesai bukan? Tenang saja adinda. Ditangan kakang semua masalah dapat diatasi dengan tanpa meninggalkan masalah." Sambil berbicara jari kelingkingnya diputar-putar di lubang kupingnya.
Karena saat itu Lodra terus memaki-maki, setelah pertolongannya kepada Mahadewi tidak dianggap sama sekali oleh dara tersebut. Kepala Suro sudah mulai terasa nyut-nyutan setelah Lodra memaki begitu panjang kali lebar.
'Kurang ajar bocah itu, benar-benar tidak tau diuntung. Setelah dengan susah payah aku lindungi, justru dengan mudahnya menyalahkanku!
Dasar sontoloyo! Jika tau seperti itu mendingan sedari tadi aku buat dara itu kepalanya gudul!'
Memang sebelumnya sebagian besar musuh yang mencoba mengepung Mahadewi telah musnah dilahap Maha Naga Taksaka yang dikendalikan oleh Lodra. Tetapi sebagian kecil lainnya mereka tewas karena diterjang jurus sepuluh pedang terbang milik Mahadewi.
Meski Maha Naga Taksaka telah ditarik oleh Suro, tidak ada satupun yang mencoba menyerang Mahadewi, salah satunya adalah karena kekalahan Naga Hitam. Apalagi dara itu telah bersiap dengan jurus pedang andalannya yang masih melayang diudara. Dara itu menjaga kemungkinan musuh akan menyerang dirinya secara mendadak.
Setelah menarik Maha Naga Taksaka, pandangan Suro kembali beralih ke arah para tetua Mawar Merah. Mereka tidak mampu menutupi rasa takutnya kepada pemuda yang memiliki wajah putih bersih seperti bulan purnama itu.
"Aku ingin mendengar keputusan kalian...sekarang juga!" ujar Suro dengan nada sengaja ditinggikan.
Dia menatap ke arah tetua yang justru saling berpandangan. Mereka terlihat ragu untuk menjawab.
Dengan melihat pertarungan antara Naga Hitam dan Suro, mereka segera menyadari, jika Suro sebenarnya sedari awal dapat membantai mereka, seperti membalikkan telapak tangan saja.
"Jika kalian tidak ada yang mau menjawab, maka akan aku habisi kalian semua...jangan meragukan atas apa yang aku katakan ini!" Suro sebenarnya hanya menggertak, agar nyali mereka ciut, jika tidak tentu dia terpaksa harus menurunkan tangannya lagi.
Dengan sedikit gertakan itu memang lebih manjur, daripada harus bersusah payah menurunkan tangannya kembali.
"Tunggu sebentar pendekar, bukan kami tidak mau menjawab pertanyaan pendekar. Hanya saja mengenai orang-orang yang tuan pendekar tanyakan itu hanya diketahui oleh ketua kami."
"Lalu dimana ketua kalian berada?"
Sebab itu masuk wilayah yang berada tidak jauh dari Perguruan Pedang Surga. Jika tidak salah mereka menyerang suatu daerah yang memiliki nama Swarnadwipa.
Sejak keberangkatannya itu lah ketua dan pasukan yang bersamanya belum pernah kembali ke markas ini. Jadi kami tidak mengetahui dimana ketua kami sekarang ini berada. Kami juga tidak mengetahui hubungan kelompok kami dengan nama-nama yang tuan pendekar sebutkan!" lelaki itu berbicara sepelan dan sejelas mungkin agar Suro memahami setiap perkataannya dan tidak tersinggung.
"Kalian jangan mencoba membodohiku! Kalian adalah kelompok pembunuh bayaran yang memiliki kemampuan mengumpulkan informasi yang sangat luas. Jadi tidak mungkin, jika kalian tidak mengetahui keberadaan ketua kalian.
Bukankah keputusan ketua kalian menculik tetua Dewi Anggini ada hubungannya dengan Batara Karang? Jangan berbicara kalian juga tidak memiliki hubungan dengan Batara Karang.
Aku mengenali tehnik peningkatan kekuatan kalian, salah satunya adalah tehnik Kundalini jalur iblis. Selain itu, aku mampu merasakan dalam chakra lelaki yang baru saja aku bunuh ini terdapat energi yang dapat aku hubungkan dengan sosok yang merupakan tuan dari Batara Karang!"
Lelaki yang mencoba berbicara dengan Suro hanya menelan ludah, setelah ucapan Suro berhasil menelanjangi beberapa hal yang hendak ditutup-tutupinya.
Suro mendecak kesal melihat reaksi lelaki itu, karena itulah pandangannya berpindah ke arah lelaki jangkung yang berada disebelahnya.
"Siapa nama paman?"
"Yan Fuhu tuan pendekar."
Suro lalu melemparkan satu pill ke arah lelaki jangkung itu
"Telan pill itu...jika apa yang dikatakan nanti berbeda dengan apa yang barusan diucapkan oleh lelaki disampingmu, maka kalian akan menanggung akibatnya."
"Aku beri satu kesempatan kepadamu sebelum aku mulai bertanya kepadanya." Lelaki pertama yang sebelumnya berbicara hanya menganggukkan kepala.
"Leher kami tak ubahnya sudah berada diujung pedang tuan pendekar, setelah apa yang tuan pendekar lakukan kepada Naga Hitam dan juga Kaki Petir. Jika mereka saja tidak sanggup lepas dari ujung pedang milik tuan pendekar, apalagi kami. Tentu kekuatan kami yang terpaut jauh tidak akan sanggup menghindarinya."
"Baiklah saya akan berterus terang. Memang Batara Karang telah memberi perintah khusus kepada ketua. Tetapi secara detail kami tidak dilibatkan..."
Lelaki itu lalu mulai bercerita panjang lebar kepada Suro. Dia sepertinya cukup ketakutan dengan apa yang diancamkan Suro barusan.
Setelah mendengar cerita barusan Suro beralih kepada lelaki disebelahnya yang sekarang terlihat seperti teler karena menelan Pill yang diberikan sebelumnya. Lelaki yang bernama Yan Fuhu itu mulai bercerita kepada Suro.
Segala hal yang ditanyakan Suro dijawab dengan jawaban kurang memuaskan. Karena itulah beberapa kali dia menyuruh tetua yang lain, terutama yang sudah berada ditingkat surga untuk menelan pill miliknya.
Dari apa yang dikatakan mereka semua memang tidak jauh berbeda dengan apa yang diucapkan lelaki pertama. Namun Suro menemukan sesuatu petunjuk yang sengaja ditutup-tutupi.
Mereka mengetahui keberadaan Eyang Sindurogo dan Dewa Rencong. Sebab mereka sebelumnya memang sempat dilihat oleh Suro melalui pusaka Kaca Benggala sedang berada di Padang rumput neraka.
Dari perkataan salah satu tetua, pasukan khusus milik kelompok Mawar Merah yang bertugas mengumpulkan informasi sempat bertemu dengan dua pendekar tersebut. Salah satu dari mereka justru berhasil disandera dan dibawa pergi.
Menurut penjelasan dari sisa pasukan yang berhasil melarikan diri dan datang melaporkan hal itu ke markas mereka, diketahui, jika ketua mereka iblis racun sedang berada di Gunung Tian Shan.
Mendengar penjelasan itu Suro segera mengeluarkan kaca benggala dari balik bajunya. Namun setelah bertanya kepada Kaca Benggala tempat guru dan yang lainnya berada, pusaka itu tidak menunjukkan hal apapun.
'Jadi seperti itu, agaknya tempat itu memiliki segel sihir yang membuat pusaka ini tidak mampu membacanya.' Suro membatin sambil memasukan kembali pusaka kaca benggala kebalik bajunya.
"Apa yang sebenarnya disembunyikan digunung itu?"
Pandangan Suro berpindah ke arah lelaki yang pertama kali menjawab pertanyaan Suro.
"Aku akan bertanya sekali lagi kepada paman, jika paman masih saja berbohong kepadaku, maka aku tidak akan menahan tanganku untuk berlaku kejam kepada kalian."
"Bertanyalah tuan pendekar, kali ini aku akan menjawab sebaik mungkin."
"Siapa diantara kalian yang memiliki sihir penyegel? Sebab tempat ini telah disegel dengan cara tertentu, sehingga tidak mudah untuk ditemukan."
"Seseorang yang memiliki kemampuan itu hanyalah ketua kami seorang. Sebab selain sebagai ahli racun, dia juga dikenal sebagai ahli sihir."
"Karena jawaban paman, aku membiarkan kalian tetap hidup. Tetapi dengan syarat, jika kalian harus membubarkan kelompok kalian. Jika nanti aku menemukan kalian tetap menjalani kehidupan kalian seperti ini, maka aku tidak akan mengampuni."
Sebelum melanjutkan perjalanan, seperti janjinya di awal Suro meratakan tempat itu dengan kekuatan Tapak Dewa Matahari jurus keempat. Mata kelompok Mawar Merah kini dapat terbuka lebar seberapa kuat sebenarnya pemuda yang telah meratakan markas mereka.
Tujuan berikutnya yang akan didatangi Suro adalah Gunung Tian Shan yang memiliki arti pegunungan surga atau gunung surgawi. Dari daerah Padang rumput neraka tempat yang akan dituju itu berada disebelah Utara.