SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 45 KEMARAHAN BIDADARI KHAYANGAN



"Anakmas! Anakmas!" Kolo weling mengoyang-goyang tubuh Suro yang tergeletak di lantai.


"Cilaka dua belas! Kenapa dengan anakmas?" Terlihat kecemasan tergambar diwajahnya. Kupingnya segera ditempelkan di atas dada Suro sebelah kiri.


"Oh,Paman. Ada apa paman Kolo weling?" Suro tergagap bangun dari tidurnya sedikit kaget melihat Kolo weling memiringkan kepala ditaruh diatas dadanya seperti ingin mendengar detak jantungnya.


"Sukurlah anakmas! Paman kira ada apa-apa dengan anakmas. Tergeletak dilantai tidak bergerak-gerak."


"Hahaha! Tidak apa-apa paman jangan khawatir. Suro hanya sedang ketiduran saja. Mungkin Suro terlalu kecapekan saja paman. Akibat tenaga dalamku hampir terkuras habis terpakai untuk berlatih 100 pedang terbang."


"Lalu Bagaimana anakmas Suro, apakah latihannya sudah berhasil?"


"Susah paman Kolo Weling! Benar-benar susah! Ternyata tidak segampang yang ada dalam pikiran! Padahal kemarin aku sangat yakin bisa melakukannya!"


"Lha itu pikiran gemblung anakmas! Ide siapa itu mau menerbangkan seratus pedang sekaligus?"


"Hahahaha...! Ya itu idenya orang gemblung paman. Pikirannya wong edan paman!" Suro menjawab sambil tertawa.


"Hahahaha...! Kenapa anakmas tidak bertanya langsung saja kepada dewanya pedang. Mungkin dia bisa memberikan masukan!"


"Benar juga apa yang paman katakan! Kenapa aku tidak langsung bertanya kepada Dewa Pedang saja? Barangkali dia bisa memberikan solusi."


"Baiklah sekarang saja aku akan menemui Dewa Pedang. Paman mau ikut? Mungkin saja Dewa Pedang akan memberikan masukan juga untuk kemajuan ilmu pedang paman yang tidak maju-maju itu? Apa karena mungkin paman terlalu sibuk jadi tukang jamu membuat paman tidak sempat berlatih?"


"Hahaha...! Bisa saja anakmas. Memang benar paman akhir-akhir ini terlalu sibuk mengobati para penduduk sampai mereka menyebut paman sebagai tabib. Beruntung mereka tidak mengenal latar belakang paman sebagai ahli racun."


"Kalau sebelumnya mereka tau aku ahli racun tentu tak ada yang mau aku obati. Takut dijadikan kelinci percobaan racun buatanku. Hahaha...!"


"Tetapi keahlian racunku ternyata berguna juga. Beberapa kali penduduk keracunan bisa aku obati dengan pengetahuan tentang racun yang aku miliki. Bahkan berkali-kali aku mampu mengobati orang yang terkena racun. Beruntung setelah itu mereka tidak mengubah panggilanku menjadi tukang racun."


"Hahaha...! Bisa saja paman melucu."


Setelah berkali-kali melakukan ujicoba sepertinya Suro tidak menemukan solusi yang tepat untuk mewujudkan jurus 100 pedang terbang. Bahkan sebelumnya dia sudah mendapatkan sebuah inspirasi dari seekor laba-laba ternyata setelah dipraktekan tak semudah membalikan tangan. Bahkan setelah hampir semua energi chakranya terkuras habis tetap belum berhasil.


Kala sang surya yang sudah mulai menarik dirinya dan mulai bergulir ke arah barat. Mencoba secara perlahan berusaha mendekati tempat peraduannya. Di saat itu pula ditempat lain seseorang yang terkenal kecantikannya sedang berusaha mengorek kabar tentang seseorang dengan tanpa memeperlihatkan keinginannya itu.


Dia adalah Dewi Anggini yang sedang berkunjung kekediaman Dewa Pedang. Dia sengaja mendatangi Dewa Pedang hanya empat mata saja karena sang ketua sekte itu memang dikenal dekat dengan seseorang yang ingin dia cari tau kabarnya. Tentu saja hal itu dia lakukan dengan samar. Dengan membuat alasan lain.


Bahkan muridnya disuruh menunggu diluar. Dia beralasan datang mengenai perkembangan praktek anak didiknya yang sepertinya tidak membuat dia puas. Walaupun sudah membuat murid utamanya itu sudah lolos ke tahap berikutnya.


"Seharusnya Dewi Anggini sudah cukup bangga dengan kemampuan murid utama tetua. Dia sudah mencapai kemampuan sehebat itu dalam umur yang masih semuda dia. Tentu tidak setiap orang bisa mencapainya."


"Benar tetua tetapi saya rasa masih kalah dengan kemampuan murid utama tetua! Aku mendengar selentingan kabar bahwa dia murid yang luar biasa. Seseorang yang hanya ada dalam seratus tahun sekali. Perbandingan satu persejuta bayi lahir."


"Tetapi para tetua pusat tidak mau menyingung tentang kabar itu. Entah apa yang dimaksud luar biasa, bahkan mereka hanya diam saja saat aku menanyakan hal itu. Mereka hanya mengatakan jika ingin bertanya bisa langsung kepada Ketua Perguruan"


"Menurut kabar pemilihan tetua muda ini juga ada kaitannya dengan murid utama Dewa Pedang yang tiba-tiba ada."


"Tetapi aku tak melihat keistimewaan dia saat bertarung. Memang saat bertarung dia memperagakan jurus Dewa Pedang dengan begitu sempurna. Tetapi tidak terlalu istimewa muridku pun juga bisa melakukannya. Justru apa yang dia lakukan diwaktu dan tempat yang salah, adalah suatu tindakan yang terlalu percaya diri atau terlalu bodoh. Itu bukan waktu berlatih tetapi waktunya bertarung."


Dewa pedang hanya menganguk-anguk dengan pembicaraan Dewi Anggini menyinggung tentang Suro. Dia masih menebak-nebak apa arah pembicaraan tetua yang terkenal kecantikannya itu.


"Saya rasa murid tetua perlu istirahat apa lagi dia baru saja bertarung yang cukup menguras tenaga. Selain itu luka dibagian punggungnya perlu diobati terlebih dahulu." Dewa pedang mencoba mengingatkan tetua yang selain terkenal kecantikannya juga terkenal keras kepalanya. Muridnya yang berada diluar ruangan menunggu dengan setia. Karena agak lama dia mengunakan waktu itu dengan berlatih pedang dihalaman.


"Jangan khawatir lukanya sudah aku periksa bukan hal yang serius."


"Apakah hanya kabar tentang muridku sampai membuat tetua datang secara pribadi? Atau ada hal lain yang membuat tetua terlihat gelisah?" Dewa Pedang tidak menjawab mengenai Suro. Justru dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Saat Dewa Pedang mengatakan gelisah wajah Dewi Anggini langsung bersemu merah.


Kini Dewa Pedang tau kemana arah pembicaraan Dewi tangan seribu ini akan bermuara. Sepertinya dia mencoba mengorek kabar tentang Eyang Sindurogo. Tetapi karena dia juga dikenal sebagai wanita yang terkenal keangkuhannya tentu saja di tidak akan sudi mengakui jika dia penasaran dengan kabar Eyang Sindurogo.


"Gelisah tentang apa? Apakah wajahku sedang terlihat gelisah?"


"Tentu saja tetua, mataku belum rabun. Aku masih bisa melihat perbedaan wajah tetua yang sekarang terlihat merona merah. Gejolak batin tetua yang sedang gundah gulana yang seakan sedang mencoba memendam sedalam mungkin sesuatu yang ingin diutarkan."


"Aku tau tetua ingin menanyakan kabar seseorang yang lain yang membuat tetua terlihat gelisah!" Perkataan Dewa Pedang semakin membuat rona diwajah Dewi Anggini semakin memerah. Karena kulit yang putih mulus itu semakin memperlihatkan dengan jelas betapa dia sedang menahan malu. Melihat gelagat itu Dewa Pedang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Mengenai muridku tetua juga melihat sendiri dia memang tidak bisa dilihat istimewa. Bahkan sangat tidak berbakat untuk berlatih olah kanuragan karena kondisi bawaan lahirnya. Sebab dalam kandanya memiliki begitu banyak unsur sehingga sangat menyulitkan perkembangan kemajuan olah kanuragannya."


"Sembilan putaran langit sudah lama aku tidak mendengar tehnik itu. Berarti dia memiliki kondisi seperti Ketua Perguruan. Apakah itu juga yang menjadikan alasan Ketua Perguruan mengangkatnya menjadi murid ketua?" Dewi Anggini yang mendapatkan peluang untuk mengalihkan pembicaraan segera menjadikan topik itu sebagai bahan pembicaraan. Dia akhirnya menutup keinginannya untuk mencoba mengali kabar perihal Eyang Sindurogo.


"Bukan itu alasan yang menjadikan aku mengangkatnya sebagai seorang murid. Tetapi takdir sepertinya yang membuat aku harus melatihnya."


Saat Dewa Pedang selesai berbicara dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Seperti ada beban berat yang dia coba lepaskan.


Karena memang sudah berhari-hari bahkan sudah beberapa purnama dia sedang digelanyuti pikiran. Pikiran tentang bagaimana cara untuk menyelamatkan Eyang Sindurogo. Tetapi bahkan sampai sekarang pun dia belum menemukan cara apapun untuk menyelamatkannya.


Diluar ruangan Suro baru saja sampai didepan kediaman Dewa Pedang. Dia datang sendirian tanpa ditemani Kolo weling. Karena saat akan berangkat salah seorang penduduk datang meminta tolong kepadanya untuk segera mengobati anaknya yang sedang keracunan makanan.


Langkah Suro terhenti karena penampakan wanita cantik yang justru terlihat mengerikan sedang menatap dirinya dengan tajam.


"Kisanak mau kemana?" Mahadewi yang sedang berlatih pedang menjadi terhenti saat kedatangan Suro. Dia menatap dengan tajam membuat Suro jadi kikuk tidak percaya diri.


Suro yang selesai mengikat kudanya memeriksa beberapa kali pakaian yang dia kenakan seperti ada yang salah dengan cara dia berpakaian. Sebab dia merasa ada yang aneh dengan tatapan wanita cantik yang ada didepannya itu. Dia menatap Suro dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki naik turun sampai beberapa kali.


"Kisanak jangan menguji kesabaranku. Kisanak mau kemana dan mau bertemu dengan siapa?"


"Lha! Siapa yang sedang menguji? Aneh sekali dengan perempuan ini. Baru kali ini aku datang dirumah ini ada macan betinanya!" Suro ngedumel agak pelan seperti berbicara pada diri sendiri sambil mengecek pakaiannya. Dia masih merasa ada yang salah dengan pakaiannya. Karena perempuan cantik itu masih menatapnya dengan sorot mata menyelidik.


"Bicara apa kisanak barusan? Jangan sampai pedangku ini yang akan membalas perkataan kisanak barusan!"


Suro semakin bingung dia menatap lawan bicaranya dengan menyengir sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Aneh!" Suro menjawab perkataan lawan bicaranya sambil masih dengan mengaruk-garuk kepalanya.


"Maksudnya apa kisanak bicara aneh? Apanya yang aneh dengan diriku sampai kisanak menyebut diriku dengan mengatakan aneh?"


"Bukan apa-apa, maksud saya bicara aneh itu karena perilaku nisanak ini mengingatkanku pada peliharaanku yang bernama maung. Jika dengan orang lain sifat buasnya dan sifat liarnya bisa membuat orang lain ngompol dicelana. Tetapi sepertinya sifat maung yang begitu galak sudah kalah dengan nisanak!"


"Apa yang kisanak katakan? Aku disamakan dengan binatang? Ternyata tidak punya ungah unguh(tatakrama) sampean kisanak!"


"Biar aku ajari kisanak tentang tatakrama!" Seiring Mahadewi berbicara serangan pedangnya menyasar Suro. Suro yang diserang dengan begitu ganas tidak membalas hanya berlompatan menghindari.


Tetapi semakin dihindari semakin membuat serangan Mahadewi seperti kesetanan.


"Apa yang salah dengan diriku nisanak? Tidak ada angin tidak ada hujan menyerangku seakan aku sudah rudo pekso(memperkosa) nisanak?"


"Tutup mulutmu salahkan pada mulutmu yang tidak punya tatakrama itu!"


Serangan Mahadewi semakin mengila apalagi saat jurus andalannya tangan seribu dihindari Suro dengan mudah. Seakan dirinya semakin dilecehkan. Emosinya yang sedari tadi ditahan karena omelan gurunya yang tak ada jeda serasa mendapatkan tempat melampiaskan.


"Pengerahan jurus pedang Nisanak belum sampai tahap menjiwai dalam setiap gerakannya. Jika nisanak berhadapan dengan lawan yang diatas nisanak itu bisa berakibat fatal."


"Tutup mulutmu! Aku tidak memintamu untuk mengajariku tentang jurus pedang dengan mulut tidak punya tatakrama itu!"


"Siap yang nisanak sebut tidak punya tatakrama itu. Saya atau justru nisanak sendiri?"


"Mulutmu yang lancang itu tidak tau tatakrama menyebut seorang perempuan disamakan dengan binatang!"


Sabetan pedang Mahadewi yang begitu ganas berkali-kali seakan hanya menebas angin. Diam-diam dia kagum dengan sosok Suro yang bergerak dengan begitu cepat. Tetapi kemarahannya yang meledak-ledak perlu pelampiasan.


Karena omelan sang guru Dewi Anggini yang mencecar dia dari selesai pertarungan hingga dia sampai di kediaman Dewa pedang seakan tanpa jeda. Dan gurunya juga menyebutnya belum mampu menjiwai setiap gerakan jurusnya. Hal yang sama seperti yang dikatakan Suro tetapi itu justru semakin membuat dia marah.


Mahadewi menyerang Suro semakin bertambah kesetanan. Apalagi melihat reaksi Suro yang masih tenang-tenang saja. Melayani setiap serangannya tetap dengan gerakan menghindar. Apalagi dengan tampangnya tanpa rasa bersalah sambil cengar-cengir semakin membuat darahnya mendidih.


***


MOHON BANTUANNYA REKAN-REKAN PEMBACA SEKIRANYA MAU MEMBERIKAN SUMBANGAN POIN UNTUK VOTE NOVEL INI DIAPLIKASI NOVEL TOON


TERIMAKASIH SEMUA YANG SUDAH SUDI MELUANGKAN WAKTU MEMBACA NOVEL INI DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN JUGA MEMBERIKAN SUMBANGAN VOTE UNTUK NOVEL INI DI APLIKASI NOVEL TOON


SUWUN