
Siang itu Setelah memberikan makan untuk Maung, Suro kemudian berangkat ke perguruan pusat Pedang Surga. Dia berangkat dengan menaiki Maung. Sepanjang perjalanan orang-orang terlihat begitu terpesona dan juga ketakutan melihat besarnya harimau yang terlihat tidak wajar.
"Tetua!" Seorang penjaga pintu gerbang menyapa Suro.
Suro mendongakkan kepala lalu mengangguk. Sebab dua penjaga gerbang itu berlari ketakutan naik ke atas dinding, setelah melihat dari kejauhan Maung berjalan kearah mereka. Walaupun mereka berdua melihat Suro duduk diatas punggungnya. Tetapi wujud harimau itu terlalu menakutkan bagi mereka berdua.
"Harimau jenis apa itu? Mengapa ukurannya sebegitu besarnya?" Salah satu penjaga bertanya ke arah rekannya yang juga ikut naik ke atas dinding gerbang.
"Itu yang disebut harimau taring pedang. Lihatlah taringnya yang begitu panjang. Itu yang membedakan dari harimau jenis lainnya." Penjaga yang satunya menjawab sambil turun dari atas dinding.
Beberapa kali Suro menganggukkan kepala ke arah beberapa murid perguruan yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Tetapi mereka menyapa Suro dari kejauhan.
Meskipun dia hanya tetua muda, tetapi seluruh perguruan sudah mengetahui kedekatan Suro dengan ketua maupun wakil ketua perguruan, membuat mereka memandang Suro dengan rasa hormat.
Mereka semua terkejut dengan penampilannya yang baru. Tidak ada yang berani mendekat. Walaupun harimau itu terlihat jinak dinaiki Suro, tetapi saat ada yang mencoba mendekati berubah menjadi sedikit buas.
Salah satu peserta seleksi tetua muda dari perwakilan perguruan pusat, yaitu Widura mengurungkan niatnya mendekati Suro, saat harimau yang dinaikinya menggerung keras. Dia kemudian hanya bisa menyapa Suro dari kejauhan.
"Bagaimana kabarnya tetua muda Suro? Sudah lama aku tidak melihat tetua, katanya tetua pulang untuk menengok pertapaan eyang Sindurogo. Sejak kapan tetua sudah kembali?" Widura menyapa dengan suara agak berteriak.
Melihat Widura menyapa dari jauh Suro turun dari punggung Maung dan berjalan mendekat ke arah Widura.
"Bagaimana kabarnya saudaraku Widura? Aku mendengar beberapa murid masih membantu Perguruan Pedang Halilintar di Banyu Kuning?" Suro menatap Widura dengan ramah.
"Sebagian sudah kembali ke perguruan pusat. Tetapi sebagian lagi masih ikut menjaga perguruan cabang itu." Widura menjawab sambil tersenyum lebar.
Dia begitu senang melihat Suro, karena dialah dirinya seakan diberikan kesempatan ke dua untuk bisa tetap hidup. Semua tetua menyebut kunci kemenangan di Banyu Kuning adalah karena perannya Suro yang sangat besar, sehingga semua siluman yang seakan tiada habisnya dapat dimusnahkan semua sampai ke akar-akarnya.
Mereka kemudian berbincang-bincang cukup lama. Made pasek yang melihat Suro bercakap-cakap dengan Widura, membuat dia cukup terkejut. Karena dia tidak mendengar akan kedatangan Suro yang telah selesai pulang dari pertapaan gurunya.
Dia kemudian ikut bergabung dalam percakapan mereka berdua. Made Pasek memilih tetap berada di perguruan pusat, salah satu alasannya karena guru besarnya dari perguruan di Klungkung ikut menjadi salah satu korban peperangan di Banyu wangi.
Dari mereka Suro baru mengetahui bahwa banyak murid utama yang menjadi peserta pemilihan yang ikut tewas dan ada juga yang justru memilih tetap tinggal di perguruan pusat.
Salah satunya yang memilih tetap tinggal di perguruan pusat, adalah Made pasek, Rhitisak somnang, Datuk Bandaro Putih dan juga termasuk diantaranya adalah Mahadewi. Tetapi dara itu memilih tetap berada di perguruan pusat karena mengikuti gurunya Dewi anggini yang memilih tetap berada di perguruan pusat.
Menurut kabar Dewi Anggini memutuskan tetap tinggal di perguruan pusat, terkait keinginannya untuk ikut serta dalam misi mencari tau penyebab Eyang Sindurogo bisa hilang ingatan. Kabarnya guru dari Mahadewi itu juga sedang melakukan latihan tertutup.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, Suro lalu melanjutkan perjalanannya menuju tempat pelatihan Dewa Pedang dan Dewa Rencong.
**
"Nakmas Suro bagaimana kabarnya?" Eyang Udan Asrep yang kebetulan sedang berada ditempat pelatihan Dewa Pedang terkejut melihat kedatangan Suro.
"Kebetulan paman ada disini ada hal penting yang ingin saya utarakan." Suro berjalan ke arah wakil ketua Udan Asrep.
"Mengenai apa nakmas Suro?" Eyang Udan Asrep mengrenyitkan dahi mendengar ucapan barusan. Dia kemudian mengajak Suro duduk berbincang-bincang dipendopo yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Eee.. dari mana sebaiknya Suro mulai bercerita? Begini paman saat saya kembali dari gunung Arjuno saya tidak sengaja menolong penduduk sekitar anak kaki gunung arjuno. Mereka ternyata diperas dan dirampok oleh Perguruan Racun Neraka."
"Mendengar nama itu Suro lalu teringat Dukun sesat dari Daha. Seperti yang telah paman ketahui, bahwasannya seluruh sisa pasukan Medusa mendadak menghilang semua dan hanya meninggalkan mayat Medusa sendirian."
"Maka tidak ada salahnya jika Suro mencoba berinisiatif untuk menyelidiki keberadaan sisa pasukan Medusa. Tujuan pertama saya tentu saja adalah Dukun Sesat dari Daha yang merupakan ketua Perguruan Racun Neraka. Karena letak perguruan itu kebetulan sejalur dengan arah Suro kembali ke sini."
Suro kemudian mulai bercerita hingga di akhir perjalanannya, yaitu di Perguruan Tengkorak Merah.
"Bagaimana nakmas bisa selamat setelah menyerang seorang diri Perguruan Racun Neraka dan juga Perguruan Tengkorak Merah? Apalagi ada Pedang iblis disana!"
"Tindakan nakmas terlalu nekat. Beruntung nakmas tidak kehilangan nyawa." Eyang Udan asrep hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Tetapi dengan tindakan nekat itu akhirnya Suro bisa memastikan, bahwa tidak satupun sisa pasukan Medusa ada yang kembali. Selain itu akhirnya Perguruan Racun Neraka mampu Suro taklukan, sehingga mereka bersedia bergabung dengan aliansi besar Pedang Surga "
Eyang Udan Asrep kembali terkejut dia tidak mampu berkata apapun. Untuk menerima sebuah perguruan aliran hitam menjadi bagian aliansi tentu akan menjadi perdebatan yang sengit diantara para tetua.
"Jadi mulai hari ini Perguruan Racun Neraka akan bergabung dengan aliansi besar Pedang Surga!" Suro menegaskan kembali perkataannya, karena dia melihat eyang Udan asrep justru sibuk mengurut keningnya.
"Urusan ini agaknya paman harus membahasnya dengan para tetua terlebih dahulu nakmas. Agak sulit kiranya mereka akan setuju, jika perguruan aliran hitam masuk aliansi Pedang Surga."
Didalam perguruan Pedang Surga hanya Suro seorang yang memanggil ketua dan wakil ketua dengan panggilan paman.
"Suro telah memastikan jika Perguruan Racun Neraka yang sekarang sudah berubah. Mereka benar-benar telah berubah tidak lagi menjadi bagian dari aliran hitam. Mereka telah berpindah haluan tidak lagi menjadi bagian aliran hitam. Mereka membangun kembali perguruannya yang baru untuk dijadikan bagian sebuah perguruan aliran putih."
"Suro hanya memberikan solusi terbaik untuk kemajuan dan memperkuat aliansi. Seluruh perguruan yang bergabung tidak ada yang memiliki ke ahlian racun. Sekarang terbuka kesempatan untuk mendapatkan dukungan para ahli racun terbaik."
"Suro hanya tidak ingin kejadian yang menimpa eyang Tunggak semi terulang kembali." Suro kemudian menghela nafas panjang.
"Bahkan sebagai bukti bentuk ketundukan mereka kepada Suro dan juga kepada perguruan ini, mereka memberikan kepada Suro kitab Dewa Racun." Suro kemudian memperlihatkan kitab racun terkuat itu kepada Eyang Udan asrep.
"Selain itu Suro juga membawa penawar racun milik perguruan mereka."
Eyang Udan asrep menatap kitab dewa racun dengan perasaan yang sulit di ungkapkan. Karena kitab itu adalah pusaka yang menjadi rebutan dunia persilatan, karena kekuatan racunnya sangat lah mengerikan.
"Mengenai bergabungnya Perguruan Racun Neraka, paman tidak mempermasalahkannya. saya menyetujuinya."
"Tetapi paman tetap harus mendiskusikan masalah ini terlebih dahulu dengan seluruh tetua. Apalagi ketua belum menyelesaikan latihannya. Mungkin setengah purnama lagi atau lebih mereka berdua baru menyelesaikan latihan."
Suro menganggukkan kepala memahami posisi eyang Udan Asrep sebagai wakil ketua Perguruan Pedang Surga.
"Kemungkinan satu purnama kedepan ketua perguruan yang baru, yaitu paman Tohjaya akan datang ke perguruan ini. Dia datang sebagai bentuk kesediaannya bergabung dalam aliansi besar Pedang Surga."
"Baiklah nakmas, semua yang nakmas utarakan akan paman jelaskan kepada para tetua. Itu usul yang sangat baik sekali. Paman berjanji akan membuat mereka menerima usul nakmas, agar Perguruan Racun Neraka yang baru dapat menjadi bagian aliansi besar Pedang Surga." Eyang Udan asrep kemudian mengembalikan kitab dewa racun kepada Suro.
"Sebaiknya nakmas sendiri yang menyimpannya dan mempelajarinya. Paman percaya dengan kemampuan nakmas dalam mempelajari kitab ini pasti akan lebih baik dari siapapun di perguruan ini. Apalagi nakmas pernah mempelajarinya bersama ahli racun dari Perguruan Racun Neraka."
"Selain itu, berkat nakmas Suro yang memiliki catatan milik eyang Sindurogo, tentang cara menembus tenaga dalam sampai tingkat langit akan membuat perguruan ini semakin kuat. Sebab untuk saat ini di tanah Javadwipa, kecuali Eyang Sindurogo, maka Dewa Pedang akan menjadi orang kedua yang mampu mencapai tingkat langit."
"Terima kasih banyak paman, jika paman dapat menjamin para tetua mau menerima usulan Suro yang sudah saya kemukakan. Saya kira itu saja yang ingin Suro sampaikan kepada paman. Kedatangan Suro selain karena ingin melihat apakah latihan paman Dewa Pedang dan paman Dewa Rencong sudah selesai apa belum, Suro juga ingin membicarakan hal yang tadi saya ceritakan. Suro akan kembali pulang untuk mempelajari kitab dewa racun lebih dalam lagi bersama paman Kolo weling sampai latihan paman Dewa Pedang selesai."
Eyang Udan Asrep sejak kedatangan Suro yang menaiki Maung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak ini selalu membuatku terkejut. Bagaimana mungkin dia mampu menghancur leburkan Perguruan Racun Neraka seorang diri? Seberapa kuat sebenarnya kekuatan bocah?"
Eyang Udan Asrep saat peperangan di Banyu kuning tidak ikut hadir hanya mendengar aksi Suro yang mengagumkan yang diceritakan para tetua lain dan juga oleh Dewa Pedang. Dia cukup terkagum-kagum mendengarkan cerita itu. Kini dia mendengar langsung dari Suro sendiri, jika dia telah menghancurkan dua perguruan besar aliran hitam ditanah Javadwipa hanya seorang diri.
Apalagi dengan tindakan itu, justru mampu membuat sebuah perguruan aliran hitam berpindah haluan. Bahkan mereka melakukan itu demi bisa bergabung dengan Pedang Surga.
"Bagaimana caranya bocah itu merubah pendirian seorang ahli racun mau tunduk dengannya? Anak itu memang memiliki banyak keunikan dan daya tarik yang membuat setiap orang mau mengikuti kemauannya tanpa merasa dipaksa."
Eyang Udan Asrep mulai mengaruk-garuk kepalanya karena tadi dia sempat berjanji akan meluluskan keinginan Suro, menjadikan Perguruan Racun Neraka bagian dari aliansi besar Pedang Surga.